Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 133


__ADS_3

"Lelah?"


Fabian menumpu kepala dengan satu tangan sembari berbaring miring, menyibak anak rambut yang berurai di wajah sang isteri.


"Iya." Khey mengangguk.


"Lapar?"


"Enggak. Ngantuk." Khey dengan mata terpejam.


Fabian tersenyum memandangi wajah isterinya yang terpejam. Tangannya dengan lembut mengusap sisa peluh yang masih membasahi wajah isterinya.


Pastilah tubuh Khey yang tidak sebanding dengan tubuh Fabian itu sangat kelelahan setelah aksinya yang berkali kali memasukinya.


Entah berapa kali Fabian menghentak tubuh ramping itu untuk memuaskan tuas panjang pabrik kecebongnya.


Apalagi Khey yang tidak mau memberi sedikit pun jarak pada tubuh mereka, membuat tuas panjangnya berkali kali menegang dan butuh pelampiasan.


"Sini... pakek tangan gue buat bantal." Fabian menyusupkan lengan kirinya di bawah kepala Khey dan merengkuh tubuh sang isteri ke dalam pelukannya.


Tak ada penolakan dari Khey. Justru gadis itu kembali mendusel dan mencari posisi ternyaman memeluk tubuh sang suami.


"Tidurlah, biar tubuhmu beristirahat." Fabian mengusap punggung Khey dengan lembut, serta menumpukan dagunya pada kepala sang isteri.


Hm...


Khey hanya menggumam, mengeratkan pelukan pada tubuh Fabian.


Fabian sungguh tidak menyangka jika dirinya dan Khey telah melewatkan malam pertama dengan penuh gairah beberapa saat lalu, disaat usianya masih berumur belasan.


Usia dimana remaja seperti mereka, sangat rawan melakukan pergaulan bebas. Bahkan banyak pasangan remaja di luar sana yang rela membohongi kedua orang tuanya untuk melakukan hal mesum bersama kekasihnya tanpa memikirkan akibatnya.


Sedangkan Fabian dan Khey dapat melakukannya setiap saat tanpa takut dosa ataupun merasa takut jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.


Senyum membingkai wajah Fabian saat ia mengingat bagaimana isteri barbarnya itu dengan cepat belajar mengimbangi setiap sentuhan yang diberikan olehnya.


Masih terasa dengan jelas bagaimana Khey melesakkan lidahnya, menyusuri setiap inchi rongga mulut Fabian. Bahkan bertukar saliva.


Setiap gesekan pada permukan kulit tubuhnya dan Khey membuat Fabian melayang merasakan nikmat yang semenjak hari ijab qabulnya dia tahan.


Wangi tubuh Khey membuat Fabian tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuhnya.


Merasakan deru nafas halus pada kulit dada telanjangnya, Fabian sedikit menjauhkan tubuhnya. Menunduk, memandangi wajah lelap di pelukannya dengan senyum kecil membingkai wajahnya.


Perlahan Fabian menyentuh pipi khey, mengusapnya dengan lembut. Memuaskan pandangan matanya menelisik wajah cantik Khey yang terlihat pulas.


Wajah putih itu bersih tanpa noda, permukaan kulit wajahnya lembut, kenyal bak pantat bayi. Alis mata yang tidak tebal juga tidak tipis, memliki bentuk yang sempurna dengan ujungnya yang hampir menyatu. Bulu matanya lentik serta hidung mancungnya pas menyempurnakan raut wajah cantik itu bak boneka barbie.


Bibir tipis berwarna pink lembut jika tanpa pemerah bibir itu saat ini terlihat membengkak, memerah.

__ADS_1


Fabian menggeser tangannya, menyentuh bibir bengkak itu seraya mengusap dengan ujung ibu jarinya .


Pergerakan tangan Fabian membuat Khey perlahan membuka matanya.


Khey mengerjap saat mendapati wajah Fabian menatapnya dengan tersenyum.


"Ngapain bangun, tangan gue ganggu ya?" Fabian dengan menarik tangannya.


"Enggak kok." Khey dengan serak khas bangun tidur.


"Lo belum lama tidur, bobok lagi aja." Fabian mengeratkan tubuh seraya mengusap lembut punggung halus sang isteri.


"Enggak. Gue mau bangun." Khey mendorong pelan dada Fabian.


"Mau ngapain? Ini masih tengah malam yang."


"Gue mau pipis." cicit Khey.


"Oh." Fabian menarik tangan dengan sedikit menyingkirkan tubuhnya.


"Ada kamar mandi nggak di sini? tanya Khey dengan mendudukkan diri sembari menarik selimut untuk menutupi dada telanjangnya.


Meski Fabian telah melihat dan menikmati setia inchi tubuhnya, namun tetap saja Khey masih merasa malu jika saat ini harus telanjang di depan suami tengilnya.


"Ada. Tuh..." tunjuk Fabian sembari mendudukkan tubuhnya.


"Baju gue dimana?!" desis lirih Khey memindai kasur.


"Nih pakek baju gue." Fabian mengangsurkan kemeja putih yang sedari awal tergeletak di atas nakas samping ranjangnya.


Fabian tahu Khey pasti malu jika pergi ke kamar mandi dengan telanjang bulat.


Khey meraih kemeja putih dati tangan Fabian lalu memakainya.


"Rok gue..." Khey sedikit menyingkap selimut untuk menemukan roknya.


"Udah gitu aja yang, rok lo tau kemana. Tadi gue lempar sembarang."


"Masak cuma pakek baju doang?" Khey memandang Fabian dengan bersungut. Khey merasa kemeja Fabian yang melekat pada tubuhnya terlalu pendek. Tidak bisa menutupi inti tubuhnya.


"Gapapa cuma sama gue doang kan."


"Tapi kan..."


"Gue udah lihat semuanya, nggak usah malu yang..." potong Fabian.


Khey mendengus.


Namun mau tak mau dia mendudukkan diri, menyibak selimut yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya.

__ADS_1


Rasanya sudah kuat untuk menahan panggilan alamnya lebih lama lagi.


"Gue bantui yang..." Fabian menggeser tubuhnya mendekat. Posisi tubuh Fabian duduk tepat di belakang Khey.


"Nggak usah gue bisa sendiri." Khey segera menepis tangan Fabian yang hendak merengkuh tubuhnya.


"Ntar kalau sakit buat jalan gimana?" Fabian khawatir.


"Enggaklah. Orang gue baik baik aja kok." Khey ngeyel sembari menurunkan satu persatu kaki jenjangnya dari ranjang.


"Auwch..." pekik Khey disertai ringisan saat merasakan nyeri pada inti tubuhnya saat melangkah. Ternyata sesakit itu rasanya, Khey benar benar hampir tidak bisa berjalan.


"Kenapa rasanya sakit sekali." rintih Khey menghentikan langkahnya, sedikit membungkuk sembari menahan nyeri pada inti tubuhnya.


"Sakit kan.. udah dibilangin jugak, ngeyel." Fabian bergegas turun dari ranjang tanpa peduli jika tubuhnya tidak terbalut sehelai benang pun.


Segera membopong tubuh Khey dan menggendongnya.


"Bbi..." Khey tersentak kaget karena Fabian melakukannya dengan cepat.


"Pegangan, biar nggak jatoh." titah Fabian pada Khey saat Khey sudah berada dalam gendongannya.


Khey pun segera mengalungkan kedua tangannya pada leher Fabian. Menyusupkan wajahnya pada bahu Fabian dengan menahan degub jantungnya yang berdegub kencang.


Fabian mendudukkan Khey di atas toilet duduk yang masih tertutup bagian atasnya.


"Ditungguin apa ditinggal?" Tanya Fabian membuat Khey mendongakkan kepala.


Akkhh....


Khey berteriak dengan menutup wajah memakai kedua telapak tangannya karena mendapati tuas panjang pabrik kecebong Fabian tepat di depan wajahnya


"Bian!! Kenapa lo nggak pakek celana sih!!" Khey berseru kesal dengan masih menutup wajahnya. Sudah dipastikan jika wajah Khey saat ini, merah padam karena malu.


Bukannya malu atau segera pergi dari hadapan isterinya. Fabian malah terkekeh.


"Nggak usah pakek nutupin wajah segala. Elo tadi udah lihat semuanya kan yang..." Fabian berusaha menyingkap telapak tangan Khey dari wajahnya, masih dengan terkekeh.


Khey semakin mengeratkan tangan di wajahnya.


"Bian keluar!!"


"Nggak mau, gue mau nemenin lo." Fabian enggan beranjak dari tempatnya. Dia sengaja menggoda Khey.


"Keluar atau gue yang keluar." Khey mengancam hendak berdiri.


"Iya iya gue yang keluar." Fabian mengalah, keluar dari kamar mandi.


"Dasar cowok tengil nggak punya malu, nggak sopan. Telanjang di tempat umum." Khey mengumpat Fabian setelahnya. Dengan geram Khey menghentakkan kedua kakinya ke lantai kamar mandi.

__ADS_1


"Gue masih denger, lagian gue nggak telanjang di tempat umum." seru Fabian disertai kekehan.


😍😍😍😍


__ADS_2