
"Ra... Ara..." Fabian memanggil Khey saat baru saja memasuki kamar hotel dimana dirinya meninggalkan Khey beberapa jam yang lalu.
Tidak terdengar jawaban dari empunya nama. Fabian pun tergesa mencari keberadaan sang isteri.
Fabian mengerutkan kening saat melihat selimut tebal yang menggunung di atas ranjang.
"Ra elo nggak kepanasan...?" tanya Fabian sembari menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh Khey.
Meskipun kamar tersebut memiliki pendingin ruangan namun Fabian merasa jika yang dilakukan oleh Khey sangatlah tidak lazim. Kalau gadis itu merasa kedinginan seharusnya dia mematikan pendingin ruangan dan mengganti dengan pemanas ruangan, bukan dengan cara menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal seperti itu.
"Ra..." Fabian dengan raut wajah terkejut saat mendapati tubuh Khey yang meringkuk. Bahkan terdengar rintihan lirih keluar dari bibir gadis tersebut.
"Ara... elo sakit?" Fabian dengan menyentuh kening sang isteri.
Saat ini Khey terlihat menggigil namun disertai dengan keringat yang mengucur pada tubuhnya.
"Ra..." Fabian menepuk pipi Khey lembut. Terlihat kecemasan pada raut wajah Fabian.
Hemm... Khey menggumam masih dengan mata yang terpejam.
"Buka mata lo..." Fabian mendekatkan wajahnya dengan wajah Khey, meniup lirih agar mata gadis itu terbuka.
Perlahan kedua mata Khey pun mengerjap.
"Di mana yang sakit?" tanya Fabian penuh dengan perhatian. Fabian yakin gadis itu merasakan sakit yang sangat saat ini, entah karena apa.
"Perut gue sakit Bi..." Khey dengan masih tetap berada di posisi semula, yaitu meringkuk sembari memegangi perutnya.
"Elo tadi nggak makan?" Fabian dengan mengalihkan pandangan pada piring dia atas nakas, yang terlihat masih menyisakan banyak makanan.
"Sedikit. Gue nggak nafsu makan."
"Harusnya elo paksain Ra biarpun nggak nafsu. Kalau kek gini sakit kan rasanya..."
"Perut gue sakit bukan karena itu Bi..."
"Terus kenapa? Kita ke rumah sakit ya, biar elo dapat infus..."
"Nggak perlu. Gue biasa kek gini kalau period gue datang."
Fabian mengerutkan keningnya. Beberapa saat setelahnya terlihat memahami maksud sang isteri.
Fabian pun beranjak dari ranjang, berjalan menuju rak kotak obat yang tersedia di sana.
Setelah mendapati minyak kayu putih yang dicarinya, Fabian kembali mendekati Khey. Fabian cukup tahu mengenai sakit perut sang isteri karena dirinya pernah membantu bundanya saat beliau merasakan hal yang sama.
Fabian membuka tutup botol berwarna hijau di tangannya lalu menunggu ke telapak tangannya.
Set...
Telapak tangan kekar Fabian menelusup perut Khey tanpa permisi, membuat Khey terjengit kaget.
"Elo ngapain Bi?"
"Buat mengurangi rasa sakit perut lo." Fabian dengan tetap menyusup dan meraba perut rata Khey meskipun gadis itu terlihat tidak nyaman. Bahkan terlihat melakukan penolakan dengan menahan tangan Fabian bergerilya di balik kaus yang dipakainya.
"Gue cuma ngolesin ini Ra, nggak bakal aneh aneh." Fabian dengan mengacungkan botol hijau ditangannya untuk ditunjukkan pada Khey.
__ADS_1
Melihat itu, perlahan Khey melemaskan tubuhnya yang sempat menegang karena tangan Fabian yang meraba perut ratanya.
Jujur saja usapan tangan Fabian yang disertai dengan minyak kayu putih tersebut membuat rasa sakitnya perlahan menghilang.
Fabian pun tersenyum tipis.
"Punggungnya sekalian ya biar hangat." Fabian dengan sedikit mendorong tubuh Khey menyamping untuk memudahkan dirinya mengoles minyak pada punggung Khey.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Khey, namun tubuh gadis itu bergerak memberikan kemudahan bagi Fabian untuk mengakses punggungnya.
Dengan lembut tangan kekar itu mengusap dan mengelus punggung Khey, memberikan kenyamanan dan kehangatan yang mulai menjalari seluruh punggung Khayyara.
Rileks
Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi tubuh Khey yang beberapa saat lalu menegang akibat rasa sakit yang mendera perutnya. Bukan hanya perut, bahkan seluruh tubuhnya seolah tegang setiap kali tamu bulanan itu datang.
"Sudah lebih baik?" tanya Fabian lembut yang disertai dengan anggukan oleh Khayyara.
"Mau makan lagi?"
Khey menggeleng.
"Gue ngantuk, pengen tidur aja."
"Yakin nggak mau makan?"
"Enggak Bi..."
"Yaudah tidur gih..." Fabian dengan merebahkan tubuhnya sembari merentangkan tangan kanannya.
"Ngapain elo kek gitu?" ucap Khey dengan memandang tangan Fabian yang menumpu pada bantal yang hendak digunakan olehnya.
"Buat bantal lo, biar ntar tidurnya nyenyak." Fabian dengan menyunggingkan senyum tengil.
πππ
Eughmm...
Khey menggeliat sembari mengerjapkan kedua bola matanya.
Entah mengapa Khey merasa tidurnya terasa nyaman, rasa sakit yang biasa menyerang perutnya telah menghilang seketika.
Khey pun melirik perutnya yang terasa tertindih beban berat. Keningnya mengernyit saat tangan kekar Fabian masih menyusup nyaman di balik kausnya. Sepertinya cowok tengil yang telah sah menjadi suaminya tersebut tidak mengendurkan pelukannya.
Perlahan Khey berusaha menyingkirkan tangan itu, namun gagal. Sepertinya tangan Fabian melilit kuat tubuhnya.
Khey pun membalik tubuhnya dengan susah payah, menghadap Fabian yang memeluknya dari belakang.
Hek...
Tenggorokan Khey tercekat saat mendapati wajah tampan itu terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Wajah tengil itu terlihat sangat tampan dan menggemaskan saat ini.
Bibir Khey perlahan naik membentuk senyum tipis.
"Ternyata elo sangat tampan Bi..."
Dengan tidak memupus senyumnya, Khey memperhatikan wajah putih bersih yang dihiasi dengan alis mata yang tebal serta hidung yang mancung bak perosotan tersebut.
__ADS_1
Perlahan tangan Khey meraba bibir merah muda Fabian yang sepertinya tidak pernah tersentuh oleh tembakau.
Meskipun bibir yang sedikit terbuka tersebut mengeluarkan bunyi yang cukup aneh namun hal itu tidak menyurutkan ketampanan Fabian.
"Elo ngorok aja tetep ganteng..." Khey menggumam lirih.
"Gue emang ganteng dari orok Ra..." Fabian dengan membuka kedua kelopak matanya.
Hek...
Wajah Khey pias, dengan segera menarik tangannya, menjauhkan tubuhnya karena merasa terpergok oleh Fabian.
Namun dengan cepat tangan Fabian menahannya.
"Nggak usah malu... gue suka kok dapat pujian dari lo." Fabian dengan menerbitkan senyum tengilnya.
Khey membola, tidak menyangka jika Fabian mendengar ucapannya.
"Bi elo deng... nger..." Khey terbata.
"Iyalah... gue kan punya kuping."
Khey semakin melebarkan kedua matanya, menggigit bibir bawahnya. Sungguh malu rasanya.
"Baru sadar kalau suami lo ini ganteng?" Fabian dengan mendekatkan wajahnya. Sontak membuat Khey refleks memundurkan wajahnya, gugup.
"Nggak usah narsis." Khey pura pura sewot untuk menyembunyikan gugup yang terima mendera.
"Gue nggak narsis... bini cantik gue yang ngomong." Fabian dengan mengeratkan tubuh keduanya.
Khey semakin salah tingkah atas tindakan Fabian. Khey tidak mampu menyembunyikan rasa gugup serta jantung yang tetiba berdegub kencang saat ini.
"Bi... jangan kek gini... sesak..." kedua tangan Khey menahan dada bidang Fabian.
Hek...
Lagi dan lagi kedua mata Khey melebar saat tangannya merasakan sentuhan kulit tanpa pelapis.
"Bi... elo nggak pakek baju!" Khey dengan berseru karena kaget melihat Fabian yang bertelanjang dada.
Khey pun segera menelisik tubuhnya, takut jika dirinya berada di posisi yang sama.
Huh...
Khey merasa lega ketika tubuhnya masih terbalut dengan baju lengkap, tidak seperti yang dibayangkan olehnya.
Meskipun Fabian adalah suami sahnya, namun Khey merasa belum siap jika harus menyerahkan tubuh polosnya pada si tengil.
"Takut banget sih Ra... elo pikir gue ngambil kesempatan dalam kesempitan gitu..." Fabian dengan mengerucutkan bibir.
"Eng... nggak... gitu Bi..." Khey dengan nada bersalah karena merasa membuat Fabian tersinggung.
"Gue lebih suka ngelakuinnya barengan, saat lagi sama sama sadar dan saling menginginkan... Itu lebih asyik..." Fabian beranjak dari ranjang dengan mengerlingkan salah satu matanya.
"Dasar tengil..." umpat Khey lirih.
ππππ
__ADS_1