Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA67


__ADS_3

"Namanya siapa ya... kok gue lupa sih... Haduh siapa sih yak..." Alya menggaruk pelipisnya berusaha mengingat nama gadis itu.


"Masak lupa sih..." Khey terdengar tidak sabar. "Bukane baru kemarin kalian ketemu?" lanjut Khey penasaran.


"Iya, tapi gue beneran lupa sama nama cewek itu." Alya masih terlihat berusaha mengingatnya.


"Rhe! Sini cepetan..." Alya memekik nama sahabatnya dengan tangan yang melambai saat melihat sosok Rhea memasuki kelas.


"Cepetan ihh..." Alya masih dengan memekik seolah tak sabar dengan jalan Rhea yang terlihat santai menurutnya.


"Apaan sih, nggak sabar banget jadi orang." Rhea dengan mendaratkan bokongnya pada kursi miliknya.


"Rhe, elo inget gak nama cewek yang jalan sama Fabian kemarin?" Alya dengan segera menanyakan pada Rhea.


Sesaat kening Rhea bertaut.


"Siti." Rhea asal, sepertinya Rhea juga lupa akan nama cewek itu.


Khey kaget saat mendengar nama yang disebutkan oleh Rhea sahabatnya, ya kali hari gini masih ada orang tua yang kasih nama Siti.


Ck


Alya berdecak kesal.


"Kok Siti sih Rhe, elo mah gitu pelupa." seolah Alya tidak mengingat jika dirinya juga melupakan nama cewek itu.


"Emang gue lupa... emangnya elo inget?" Rhea mrmbalikkan ucapan Alya dengan mencebik sebal.


"Gue juga lupa, makanya gue nanya sama elo." Alya dengan cueknya, tidak menyadari jika Rhea kesal padanya.


"Sama sama lupa nggak usah ngegas oneng..." Rhea menyentil pelan kening Alya.


"Hiss... Rhea... sakit tauk..." Alya mengusap kening dengan bibir mengerucut.


"Makanya jadi orang itu kalau ngaca yang bener, jangan cuma sekilas. Diri sendiri lupa malah ngatain gue lo..." Rhea terkekeh geli.


Khey hanya menggelengkan Kepala dengan perdebatan kedua sahabatnya.


"Udah kalau sama sama lupa nggak usah dibahas lagi. Enggak usah diinget lagi,gue tadi cuma sefikit penasaran doang sama namanya." Khey mencoba mengakhiri perdebatan kedua sahabatnya, meskipun dalam hati Khey masih saja merasa penasaran.


"Enggak tanggung. Gue coba inget inget lagi deh." Alya masih saja bersikeras mengingat nama cewek yang dilihatnya bernama Fabian kemarin.


"Sindy... bukan...." Alya dengan menggelengkan kepala karena nama yang disebutkan olehnya salah.


"Sani... juga bukan." Lagi Alya mengelengkan kepalanya.


"Sinta bukan sih Rhe...?" Alya meminta persetujuan Rhea untuk kebenaran nama yang di sebut olehnya.


"Bukan Sinta mah udah kelaut... tenggelem di laut sama Jojo." Rhea membanyol.


Alya mencebik.


"Surti keknya..." Rhea masih saja asal.


"Surti mah ceweknya Tedjo..." Alya dengan memberengut.

__ADS_1


"Oh sweety paling...." Lagi Rhea memberikan jawaban asal.


"Udah diem!" Alya menghardik. "Kalau lo nggak mau ngebantu mendingan lo kunci mulut lo deh..." Alya Kali ini dengan raut wajah yang tertekuk kesal.


Rhea dan Khey pun terkikik geli melihat tingkah Alya yang kesal.


"Emangnya kenapa sih, ngeributin cewek itu?" Rhea.


"Ini gue kasih tau Khey kalau kemarin kita ketemu Fabian di mall lagi jalan sama cewek yang ngaku pacar nya itu lo... Tapi gue lupa sama namanya..." Alya.


"Ngapain lo nanya namanya Khey... elo penasaran sama cewek Fabian... Elo nggak rela kalau dia udah punya hambatan hati terus berhenti menggoda lo... " Rhea merepet, hingga membuat Khey harus meneguk ludahnya kelat.


"Ah... eh... itu... enggak kok gue cuma penasaran karena Alya bilang cewek itu masih ABG. Ggue... gue cuma keinget aja sama foto cewek yang di simpen Fabian dalam dompetnya. Yang kata si Jack masih piyik itu... Gue penasaran apa bener Fabian itu pedofil..." Khey asal saja memberikan alasan, agar Rhea tidak mencurigainya.


"Beneran cuma penasaran doang?" Rhea memandang Khey seolah tidak percaya.


"Bbener... mau alasan apa lagi coba...?!" Khey dengan sedikit tergagap.


"Yakin??" Rhea masih saja memburu.


"Yakiinn..." Khey.


"Elo gak bohong kan Khey...?"


"Engg... eh bentar hape gue bunyi..." Ucapan Khey terpotong karena memang hapenya berdering, menandakan adanya panggilan masuk pada ponsel pintarnya.


Khey pun meraih ponsel pintarnya dari loker bawah meja, kemudian segera mengusap layarnya saat mengetahui kontak Doni di sana.


"Hallo..." Khey dengan menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hish... pagi pagi udah ngegombal, bikin gue malu aja." Khey tersenyum dengan kedua pipi yang menghangat. Sudah dapat dipastikan jika kedua pipi itu pasti berubah semburat kemerahan.


Alya dan Rhea yang sudah dapat memastikan jika yang menelfon sahabatnya adalah Doni si fucekboy busuk memilih mencari kesibukan sendiri dengan membuka ponsel masing masing.


"Gue nggak nggombal, gue beneran kangen sama suara lo..." Doni terdengar dengan kekehan kecil.


"Suaranya doang, orang ya enggak..." Khey dengan senyum malu malu.


"Hish... gak ada orangnya juga, ngapain sih kek gitu segala..." Alya menggumam lirih setelah melihat ekspresi Khey saat ini.


"Hush... gak boleh gitu. Biarin aja..." Rhea melotot, memberi tanda pada Alya agar tidak ikut campur urusan Khey dengan kekasihnya.


Alya memutar bola mata malas, lalu kembali memfokuskan pada ponsel pintarnya.


"Kangen banget lah, kita kan udah beberapa hari ini nggak ketemu yang..." Doni terus saja menggombali Khayyara.


"Ck... dasar raja gombal." Khey berucap pelan dengan mendekatkan speaker ponsel pada mulutnya. Khey tidak ingin Rhea dan Alya menguping ucapannya.


"Masih nggak percaya aja. Gue beneran kangaen yang... Pulang sekolah nanti temuin gue di parkiran, gue mau ketemu bentar sebelum pulang sekolah." Doni kembali berbicara.


"Ngapain?"


"Ya ketemu lah... melepas rindu. Elo tau kan kalau rindu itu berat... gue udah nggak tahan gendongnya, makanya gue mau membaginya sama lo biar berat sama dijinjing, ringan sama dipikul." Doni dengan kekehan.


Khey tersenyum tipis. "Bisa aja. Ya udah entar gue ke sana... gue tutup ya... bye..." Khey pun mematikan panggilan teleponnya setelah mendengar sahutan dari Doni dari seberang telefon.

__ADS_1


πŸ“πŸ“πŸ“


Khey menapaki koridor sekolah dengan senyum yang tidak menyurut pada wajah cantiknya.


Rasa senang yang membuncah dalam hatinya membuatnya seolah tak sabar untuk bertemu dengan Doni kekasihnya. Melupakan sejenak pada status ya sebagai seorang isteri dari Fabian tengil.


Sudah beberapa hari ini memang Doni dan kaget jarang bertemu muka di sekolah karena kesibukan Doni sebagai ketua osia memang sedikit menyita waktunya.


Khey mempercepat langkahnya, bahkan berlari kecil saat melihat Doni berdiri dengan menyandar pada motor besarnya.


Wajah tampan ketua osis yang berstatus kekasihnya itu memang sangat sempurna di mata Khey. Hingga membuatnya cukup kesulitan untuk menyingkirkan posisinya di hati Khey meskipun saat ini Khey sudah memiliki Fabian sebagai suaminya.


Anggap saja Khey tidak memiliki hati karena belum juga melepaskan Doni, mau bagaimana lagi cinta itu butuh proses tidak bisa begitu saja hadir menggeser yang lain apalagi Doni adalah cowok pertama yang mengenalkannya akan indahnya pacaran pada masa remajanya.


"Hai... lama nunggunya?"


"Buat lo, walaupun setahun lamanya mah gue jabanin." Doni membingkai senyum pada wajah tampannya.


"Ck... gombalan receh gitu enggak laku buat gue." Khey dengan rona merah pada pipinya, membuat Doni tersenyum senang.


"Tapi lo suka kan gue gombalin..." Doni meraih tangan Khey dan menariknya agar mendekat.


Doni memandangi wajah cantik Khey dengan intens, lalu menyibakkan anak rambut Khey yang berurai.


"Gue beneran kangen sama lo yang...." Doni terdengar sendu.


"Ini kan udah ketemu..." Khey dengan melebarkan senyum di wajahnya.


"Rasanya pengen nyulik lo buat gue bawa jalan jalan sekarang, tapi gue masih ada acara habis ini." Doni terlihat berat mengakhiri pertemuannya dengan Khey.


"Nanti kalau lo udah free kita jalan." Khey seolah mengerti kerinduan yang Doni rasakan, karena dia pun merasakannya.


"Janji?" Doni dengan tatapan berharap.


"Janji..." Khey memberikan anggukan yang disertai dengan senyuman, hingga Doni pun ikut menyunggingkan senyum pada wajah tampannya.


"Nih buat lo..." Doni meletakkan paper bag berwarna coklat ke tangan Khey.


Khey memandang paper bag di tangannya lalu beralih pada wajah Doni silih berganti dengan raut wajah bingung.


"Buka aja." titah Doni dengan senyum tersungging di wajahnya


Khey pun membuka paper bag tersebut. Wajah Khey berbinar saat mendapati lima batang coklat di dalamnya.


"Ini buat gue?" Khey dengan raut wajah seolah tidak percaya.


Doni mengangguk.


"Sebagai permintaan maaf gue, karena gue sering mengabaikan elo akahir akhir ini." Jelas Doni.


"Tanks yang..." Khey dengan senyum berbinar.


"Gue duluan ya..." Doni mangacak pucuk kepala Khey sesaat lalu dengan segera menarik gas motor meninggalkan parkiran sekolah setelah mendapat anggukan kepala dari Khey.


"Bb_bian... ngapain lo di situ?" Khey dengan wajah tersentak kaget.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2