
"Gila! Ada foto cewek cakep di dompet Fabian Rell..." teriak Jack cukup keras untuk didengar oleh seisi pengunjung kantin sekolah, setelah membayar pesanannya dan berjalan menuju meja Farell serta Fabian.
Kedua tangan Jack masih dengan membuka dompet Fabian, matanya tidak berhenti memandangi dompet tersebut dengan senyum melengkung menghiasi wajahnya. Sepertinya foto di dalam dompet Fabian beneran cewek cantik.
"Yang bener lo?!" Farell membola dengan kedua alis mata yang bertaut.
"Siapa? Lo kenal nggak... anak sini bukan Jack?" berondong Farell dengan berseru karena posisi Jack yang masih beberapa langkah dari mejanya.
Sedangkan Fabian masih saja asyik dengan ponsel pintarnya tanpa menghiraukan teriakan Jackson serta seruan Farell.
Khey yang saat ini juga berada di kantin, mendengar teriakan Jackson langsung menajamkan telinganya.
Dalam hati bertanya tanya. "Di dalam dompet Bian ada foto cewek... foto siapa itu? Jangan jangan foto gue..." Khey sedikit merasa cemas, takut jika Fabian menyimpan fotonya mengingat jika di tengil suaminya itu selalu mengekori dan ingin membuatnya jadi kekasihnya.
"Gimana kalau itu beneran foto gue, bisa heboh nanti seluruh sekolah..." otak Khey tidak berhenti menerka.
Meskipun bukan rahasia lagi jika Fabian selalu menggoda dan mengganggunya, namun bisa saja kan Bian menyimpan fotonya atau bahkan foto saat keduanya menikah kemarin.
Dada Khey tidak berhenti berdegub kencang, rasa khawatir serta cemas melanda hatinya sekarang.
Gelisah... itulah yang dirasakan oleh Khey saat ini, takut apabila statusnya sebagai isteri Fabian terbongkar.
Bagaimana jika itu terjadi? Padahal seisi sekolahnya tahu dengan statusnya sebagai pacar si ketos tampan Jevan Doni Prasetya saat ini.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Khey, tubuhnya sedikit menegang sembari menunggu akhir cerita siapa foto yang ada di dalam dompet Fabian.
"Cantik banget cuy... foto siapa ini Pab, adek lo? Saudara lo? Atau... pacar lo?" berondong Jack dengan mendudukkan diri di hadapan Fabian.
"Ahh... sepertinya itu bukan gue, nyatanya Jackson enggak mengenali wajah siapa yang tersimpan di dalam dompet Bian. Kalau itu foto gue, pasti Jack sudah bisa menebaknya..." ucap batin Khey lega, tubuhnya pun perlahan melemas tidak tegang seperti beberapa saat lalu.
Namun karena tidak ingin kecolongan, tetap saja dirinya masih menajamkan telinga serta matanya yang sesekali melihat aksi dan reaksi tiga orang anak lelaki yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.
Fabian yang sudah mengakhiri fokus dari layar ponselnya, mendongak lalu menengadahkan tangan meminta dompetnya kembali.
"Gak usah kepo sama dompet gue, sini balikin!" Fabian meminta dompetnya pada Jack sembari meletakkan ponsel di atas meja saat melihat sahabat nya tersebut tidak berhenti memandangi dompet miliknya yang terbuka.
Jackson malah menjauhkan dompetnya dari jangkauan Fabian. "Jawab dulu pertanyaan gue." ucap Jack mengintimidasi.
"Elo tanya apa?" Fabian cengo karena memang dirinya tidak menghiraukan pertanyaan Jack beberapa saat lalu.
__ADS_1
Jack membalikkan dompet Fabian, dan menunjuk foto di dalamnya. "Ini foto siapa?" tanya Jack dengan wajah penasaran.
Fabian menghembuskan nafas pendek.
"Ck... kirain tanya apaan." Fabian berdecak.
"Cewek gue itu, sini... balikin!" jawab Fabian santai dan itu tertangkap oleh pendengaran Khey.
Hahahahaa....
Tawa Jackson meledak, sedangkan Farell hanya tertawa kecil.
"Ternyata elo punya cewek juga... Tapi tunggu... tunggu... ini beneran cewek lo atau inceran lo?" Jackson masih saja penasaran.
"Beneran cewek gue itu... bukan cuma inceran. Siniin dompet gue." titah Fabian datar tanpa menyadari kalau Khey berada di kantin juga dan menguping pembicaraannya.
Khey yang mendengar semua perkataan Fabian dan Jack bertanya dalam hati dengan heran.
"Foto itu bukan foto gue, dan itu foto cewek Bian... Jadi Bian punya cewek dong?! Terus kenapa dia ngeyel nikahin gue... padahal malam itu jelas jelas gue sama dia enggak ngelakuin apa apa. Terus siapa cewek Bian itu? Gimana nasib hubungan mereka sekarang?" berbagai pertanyaan memutari tempurung kepala Khey dengan entah perasaan apa yang menyelimuti hatinya saat ini, Khey tidak dapat menggambarkannya.
"Khey...!! Bengong mulu sih dari tadi, mikirin apaan sih...?" Rhea menyenggol lengan Khey.
"Iya Khey... elo dari tadi bengong mulu, kek mikirin kebutuhan belanja sembako rumah tangga tau nggak." Alya yang duduk berhadapan dengan Khey menimpali.
"Ah... masa sih, kok gue nggak nyadar ya." Khey mengusap belakang lehernya yang terbebas dari rambutnya karena saat ini dia mengucir kuda rambut hitamnya.
Ck... Rhea berdecak.
"Kalau ada masalah cerita sama kita, kita cari jalan keluarnya sama sama." lanjut Rhea sembari menatap manik hitam milik Khey.
Khey menelan ludahnya kelat, lalu memutus pandangan matanya dari Rhea karena dirinya tetiba merasa gugup dan gelisah saat ini.
"Enggak kok, gue gak ada masalah." elak Khey dengan nada sedikit bergetar karena gugup. Khey gugup bukan karena ketahuan bengong, melainkan karena ucapan Rhea tentang masalah yang sedang dihadapinya.
Khey merasa bersalah karena tidak bisa memberitahu statusnya yang telah menikah dengan Fabian tengil sekarang.
Dan Rhea menyadari itu, Rhea sudah hafal dengan lagak lagu sahabatnya tersebut. Namun entah mengapa gadis itu memilih menutupi kebenarannnya.
"Apa sebenarnya masalah lo Khey, mungkinkah tentang orang tua lo?" sedikit banyak Rhea tahu tentang bagaimana kondisi Khey dengan mama papanya, namun saat ini Rhea memilih tidak bertanya lebih jauh.
__ADS_1
"Mungkin Khey belum siap buat ngomong." ucap Rhea membatin dengan tidak berhenti memandangi Khey yang tidak berhenti menggerakkan anggota tubuhnya terlihat gelisah sekarang.
"Tapi dari tadi elo keliatan gelisah Khey." Alya ikut menimpali.
"Masa sih... enggak ah... kalian aja yang lagi sensi. Gue gak kenapa kenapa kok." sahut Khey dengan nada yang dibuat senormal mungkin, padahal dalam hatinya terasa sesak.
Saat ini dirinya memang memilih menutupi statusnya sebagai isteri Fabian tengil dan juga sedikit terkejut dengan kenyataan bahwa Fabian memiliki cewek lain selain dirinya yang notabene adalah isteri sahnya meskipun pada kenyataanya dirinya juga memiliki kekasih.
"Tunggu... tunggu... keknya memang beberapa hari ini elo kek berubah sih Khey, seperti ada yang elo sembunyiin gitu." Alya seolah berfikir dengan mengerutkan dahi sembari mengingat sesuatu.
"Bener...! Elo agak aneh sejak elo gak masuk sekolah beberapa waktu itu. Iya kan Rhe...?" Alya meminta persetujuan dari Rhea sahabatnya.
Rhe mengangguk menyetujui ucapan Alya.
"Iya sih... gue juga ngerasa Khey... Tapi gue diem aja, mungkin elo menang belum siap buat cerita ke kita." Rhea pun mengutarakan isi hatinya.
"Enggak kok, gue gak ada masalah... beneran... percaya sama gue..." Khey berusaha meyakinkan kedua sahabatnya.
"Sorry frens... gue belum bisa cerita semuanya sekarang... gue juga masih bingung..." ucap Khey dalam hati dengan perasaan yang sangat bersalah terhadap kedua temannya.
ππππ
Eh... siapa bilang othor upnya kek penyu...???
Orang othor upnya cepet kek kuda yang lagi tidur kok hehehe piiisssssβπ»βπ»βπ»
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1