
"Anak - anak mana Bun?" tanya ayah saat berpapasan dengan bunda yang menuruni tangga. Ayah sedang berjalan menuju ruang makan.
"Ah... eh... masih di atas." Bunda seperti tergagap.
"Kenapa bun?" tanya ayah heran saat melihat reaksi isterinya yang aneh menurutnya, raut wajahnya sedikit memerah. Padahal hanya memanggil anak lelaki dan menantunya turun untuk makan malam.
"Nggak papa kok yah." Bunda mensejajari sang suami seraya berjalan menuju ruang makan. Namun wajah bunda tidak dapat menyembunyikan keanehannya.
"Wajah bunda aneh." Ayah masih saja penasaran.
Refleks bunda menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Masak?"
"Iya... seperti habis nonton atraksi kuda lamping." ayah sesungguhnya hanya menerka.
Namun ternyata ucapan ayah membuat bunda mengerucutkan bibir seraya menekuk wajahnya terlihat kesal.
"Tebakan ayah benar ya?!" ayah dengan tersenyum dan menarik kursi makan untuk duduk, diikuti oleh bunda Fabian.
"Bunda nggak enak Yah... Gimana kalau anak - anak nanti nggak mau turun buat makan."
"Lah emangnya kenapa? Bunda nyelonong ke kamar mereka trus mereka lagi.... gitu yaa..." Ayah seraya memonyongkan bibir ke arah bunda lalu tertawa.
"Ayah ihh... kenapa harus diperjelas sih." Bunda dengan mendelik.
"Lah... ayah kan cuma menebak aja bun... kalau benar ya dapat seratus kan..."
"Ayyaahh... lagi serius jugak."
"Makanya bun jangan nyelonong aja masuk kamar anak, anak bunda itu sudah menikah. Kek bunda nggak pernah ngalamin aja." Ayah terdengar santai dan tentu saja tanpa menghilangkan senyumnya, seolah meledek sang isteri.
"Bunda kan nggak sengaja, lagian bunda lupa, belum terbiasa."
"Ah alesan. Bunda pengen juga kan main kuda lumping kek mereka..." Ayah malah menggoda.
"Enggak. Bukan begitu maksud bunda yah..."
"Halah ngaku aja. Bunda pasti pengen kan... main kuda kudaan..."
"Siapa yang main kuda malem - malem gini yah?"
Tetiba terdengar suara Fabian menyela. Membuat ayah dan bunda menoleh serempak.
Terlihat Fabian berjalan mendekati meja makan diikuti oleh Khey yang berjalan menunduk di belakang punggung Fabian.
"Itu bunda." ceplos ayah mengarahkan pandangan ke arah sang isteri.
"Ayah!!" bunda mengeram.
"Emang ada ya tempat main kuda malam malam gini?" Fabian belum memahami arah percakapan kedua orang tuanya. Menarik kursi untuk sang isteri kemudian untuk dirinya sendiri.
"Ada. Tadi bunda sempat lihat. Makanya jadi pengen." Ayah dengan senyum jahil.
"Liat dimana?" Fabian penasaran.
__ADS_1
"Di lantai atas." Ayah.
"Lantai atas? Mana ada?" Fabian dengan memandang lantai atas sesaat di mana di sana hanya ada area pribadinya.
"Ada. Tadi bunda liat di lantai atas kan... kuda lumpingnya lagi ngapain bun..." Ayah masih saja menggoda.
Lagi lagi bunda mendelik. Suaminya itu memang jahil tujuh turunan, bahkan di usianya yang setengah abad lebih masih saja seperti bocah.
"Ayah apaan sih... nggak ada apa apa kok di atas, orang cuma Abi sama Ara kok."
"Lha ya itu kuda lumpingnya, lagi asyik ngapain bun...?" Ayah mengerling jahil ke arah bunda dan dibalas pelototan mata oleh isterinya.
"Ayah!! Nggak usah ngomong aneh - aneh di depan anak perawan." Fabian baru tahu maksud percakapan kedua orang tuanya.
Kedua mata ayah membola.
"Udah berbulan bulan nikah mosok masih perawan, gimana sih Bi... Tancap gas dong Bi..."
"Ayahh!!" Bunda dan Fabian serempak.
"Jangan dengerin ayah, ayo makan sayang." bunda tersenyum ke arah Khey agar kekonyolan suaminya berhenti.
Khey pun membalas senyum bunda dengan malu - malu. Efek kejadian di kamar beberapa saat lalu, Khey selalu menundukkan wajahnya.
"Ayah jangan bikin menantunya malu dong." Bunda menoleh sesaat pada ayah lalu beralih pada Khey yang hanya menundukkan wajahnya. Gadis itu pasti sangat malu.
"Iya ayah tengilnya kebangetan." Fabian.
"Nurunnya ke kamu." Ayah dengan terkekeh.
"Lain kali kalau lagi main kuda lumping, kunci pintunya Bi." Ayah.
"Ayah apaan sih, jelas banget ngomongnya. Orang tadi Abi nggak ngapa ngapain kok. Iya kan yang..."
"Heh... eh... iya." Khey tergagap.
"Takutnya entar bikin tetangga pengen Bi..." Ayah kembali menggoda isterinya.
"Yah!" Bunda.
πππ
"Bi..."
"Hem."
"Kenapa lo nggak pernah cerita tentang keluarga lo ke gue." Khey dengan menatap lurus jalanan di depannya.
Saat ini Khey dan Fabian berada di dalam mobil berdua, keduanya berangkat ke sekolah bersama - sama. Fabian memutuskan mengendarai mobil karena tubuhnya masih merasakan lelah.
"Maksud lo?" Fabian dengan fokus menyetir.
"Keluarga lo yang sebenarnya."
__ADS_1
Fabian mengerutkan kening sesaat, mencoba mencerna ucapan Khey.
"Selama ini gue berprasangka buruk sama keluarga lo, gue juga sering nganggep lo anak orang nggak punya." jujur Khey.
Selama ini Khey memang menganggap Fabian adalah anak orang miskin. Akan tetapi nyatanya keluarga Fabian lebih dari mampu. Bahkan kekayaan keluarga Khey tidak mampu menandinginya.
Fabian tersenyum tipis.
"Nggak perlu gue cerita. Yang kaya itu ayah sama bunda, bukan gue. Gue cuma menikmati hasil jerih payah mereka Ra."
"Tetap saja... gue udah sering menghina lo." Khey dengan nada penuh penyesalan.
"Lo nggak salah, gue memang masih miskin. Belum sebanding dengan orang tua gue. Lagian gue masih butuh banyak usaha buat nyari duit yang banyak. Buar bisa bahagiain elo."
"Ukuran bahagia gue itu bukan seberapa lo bisa ngasih duit buat gue Bi." Khey masih menatap lurus jalanan.
"Setidaknya dengan punya banyak uang gue bisa nurutin kemauan elo kan Ra."
"Enggak Bi... nggak seperti itu." Khey dengan kepala menggeleng pelan.
"Terus?" Fabian.
"Cukup lo ada buat gue. Jaga hati gue." Khey
Sontak Fabian menoleh ke arah Khey yang duduk di sisi kirinya.
"Itu berarti lo udah nerima gue? Elo udah punya rasa sama gue?"
Hek....
Tenggorokan Khey tercekat. Tak mampu berucap kata, diiringi dengan debaran yang memberontak menggila di balik dadanya.
Fabian tersenyum tipis, dia sebenarnya tahu arti dari reaksi sang isteri. Hanya saja Fabian ingin memastikan secara jelas.
Tangan kiri Fabian terulur, meraih tangan kanan Khey dan menggenggamnya. Membawanya menumpu pada paha kirinya, di bawah kemudi.
"Elo cinta sama gue?" Fabian lagi bertanya.
Khey tak mampu menjawabnya, berbagai rasa membuncah dalam dadanya.
Rasa senang, gembira, malu apapun itu semua bercampur aduk menjadi satu.
Khey hanya mampu menunduk, menutupi raut wajahnya yang memerah layaknya udang goreng. Namun refleks tangan kanannya mengerat pada genggaman tangan Fabian.
Fabian pun tersenyum senang.
Memilih menepikan mobil sport merahnya ke tepi jalan dan menghentikannya.
"Thanks... udah kasih hati lo buat gue." Tetiba wajah Fabian tersenyum tepat di depan wajah Khey yang menunduk. Posisi itu membuat Fabian sedikit membungkuk.
Cup...
Fabian mendaratkan bibirnya pada bibir Khey yang sedikit terbuka akibat terkejut.
__ADS_1
"Gue nggak bakal bikin bibir ini kehilangan senyum manisnya." Fabian menjauhkan wajah dengan ibu jari yang mengusap jejak basah di sana dengan lembut.
ππππ