
"Abi..." Khey mendongak dengan wajah penuh deraian air mata saat mendapati Fabian berdiri tegak di hadapannya.
Setelah mendengar kondisi Khey dari kedua sahabatnya beberapa saat lalu, hanya rooftoop sekolah dimana dulu dirinya mengajak Khey lah yang menjadi tujuannya.
Nyatanya benar apa yang ada dalam pikiran Fabian. Dia menemukan Khey duduk dengan memeluk kedua kaki dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Isak tangis Khey terdengar sangat menyayat hati. Fabian tahu gadis itu sangat rapuh saat ini.
Fabian yang semula berdiri mendudukkan diri hingga sejajar dengan posisi Khey yang tengah duduk dengan meluk kedua kakinya.
Kedua tangan kekarnya merengkuh tubuh Khey, membawanya masuk ke dalam dekapannya.
"Nggak usah nangis. Jangan dengerin omongan mereka." Fabian dengan mengusap punggung Khey lembut.
Hiks... hiks...
"Tapi mereka ngomongin gue yang enggak enggak Bi."
"Memangnya mereka ngomongin lo apa?" Fabian menyingkap helaian anak rambut yang mengurai pada wajah basah Khey. Dengan lembut dan penuh perhatian Fabian menyisipkan anak rambut itu ke telinga Khey. Kemudian tanpa merasa risih mengusap wajah basah Khey dari sisa air mata.
"Mereka ngomongin gue..." Khey menjeda ucapannya, lalu menatap Fabian dengan wajah bingung.
Meski hubungan Khey dengan Fabian sudah semakin dekat dan saling terbuka, tetap saja mengungkapkan nyinyiran netizen sekolah membuatnya bingung merangkai kata pada Fabian.
"Mereka ngomong apa?" tanya Fabian kembali. Sebenarnya Fabian sudah mendengar nyinyiran temen sekolah yang ditujukan pada Khey. Bukan hanya dari Rhea dan Alya, Fabian juga mendengar sendiri bisik bisik maupun suara terang mereka menggosipkan Khey saat dirinya menuju rooftoop.
Namun Fabian memilih pura pura tidak tahu agar Khey mengungkapkan isi hatinya sendiri. Karena dengan begitu, setidaknya akan membuat Khey lega. Meskipun hanya sedikit.
"Lo udah denger kan kalau di mading sekolah ada berita Doni yang..." Khey sengaja tidak melanjutkan ucapannya.
"Ya, tadi dikasih tau sama Rhea dan Alya."
"Bagaimana berita itu bisa bocor?" Khey dengan tatapan menyelidik. Entah sejak kapan Khey telah menghentikan tangisnya. Yang jelas saat ini wajah cantik itu hanya meninggalkan jejak sembab. Isak tugasnya pun telah menghilang tanpa jejak.
"Bukan gue yang melakukannya." Fabian seolah tahu arti tatapan penuh selidik yang dilayangkan Khey kepadanya.
"Elo nggak bohong kan Bi?"
"Ngapain juga gue bohong."
Semalam pasangan suami isteri remaja itu telah melewati malam mereka dengan banyak bercerita. Khey yang menceritakan kegalauannya tentang kenyataan hubungan sang mama dengan papa Doni. Dan Fabian juga telah menceritakan penyebab luka lebamnya. Fabian menceritakan detail kejadian yang telah menimpanya hingga membuat Khey salah paham.
"Gimana berita itu bisa bocor Bi, yang tahu cuma lo kan? Nggak mungkin Doni buka aibnya sendiri kan?" Khey bukannya masih perhatian sana Doni namun karena berita Doni yang merebak itu jaga berimbas pada dirinya. Karena alasan itulah Khey penasaran dengan merebaknya rumor tentang Doni.
Fabian memindahkan tubuhnya yang semula berhadapan dengan Khey menjadi duduk di samping gadis itu. Kemudian merangkul bahu Khey untuk merapatkan tubuh keduanya.
"Sepertinya ayah yang melakukannya."
Khey melebarkan kedua matanya, menatap Fabian dengan raut wajah sangat terkejut. Bagaimana bisa ayah mertuanya melakukan itu.
"Ayah pemilik yayasan sekolah ini Ra." jelas Fabian seolah tahu arti tatapan mata Khey padanya.
__ADS_1
"Itu cuma kemungkinan yang paling masuk logika gue. Benar tidaknya gue belum tau." tambah Fabian lagi.
Khey masih saja diam dengan tatapan mata yang masih fokus pada Fabian. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Yang jelas Khey tampak bingung hingga tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut gadis itu.
Seolah ingin menghentikan kebingungan sang isteri, Fabian meraih tangan Khey, menggenggamnya lembut. Kemudian menautkan jemari keduanya. Membuat Khey mengalihkan pandangan pada jemarinya dan jemari Fabian yang saling bertaut.
Ada rasa hangat yang menenangkan, menyusup dalam benak Khey saat ini.
"Nggak usah memikirkan apapun. Ayah pasti tau mengenai tindakannya. Dan soal nyinyiran mereka, lo nggak usah peduliin, yang pasti guelah orang pertama yang melakukannya."
Pandangan mata Khey yang semula menatap genggam tangannya dengan Fabian seketika menoleh.
"Elo denger omongan mereka?"
Fabian mengangguk pelan.
"Elo nggak percaya omongan mereka kan Bi?"
Fabian tecenung sesaat.
Pletak.
"Nggak mungkinlah gue percaya omongan mereka orang gue yang jebol gawang lo pertama kali." Fabian menjitak pelan kening Khey.
Fabian menggeleng tak percaya dengan disertai kekehan. Sepertinya Khey terlalu larut dalam kesedihannya akibat nyinyiran netizen SMU Gama.
"Ya kan gue takut Bi kalau lo percaya sama omongan mereka. Mana tadi ada yang bilang kalau gue juga udah diobok obok sama Doni. Katanya gue udah nggak perawan lagi." Khey dengan bibir mengerucut sembari mengusap kening bekas jitakan Fabian.
"Dasar bege, elo emang udah nggak perawan. Elo nggak inget apa pas gue gempur sampek nggak bisa jalan.
"Abi... apaan sih." Khey dengan memukul bahu Fabian. Wajahnya terasa memanas karena mengingat malam panas yang pertama kali mereka lakukan tersebut.
"Keinget ya..." Fabian menggoda Khey seraya menempelkan pucuk hidung keduanya. Lalu menggeseknya berulang, tak lupa dengan senyum tengil khas Fabian.
Khey pun berusaha menghindar dengan memundurkan wajahnya, namun Fabian buru buru mencegah dengan menahan tengkuk leher sang istri.
Cup
Fabian mendaratkan bibirnya pada bibir pink ranum Khayyara.
Awalnya hanya sebuah ciuman lembut namun lama lana Fabian semakin meraup rakus, menjelajah setiap inchi rongga mulut Khey.
Seiring dengan ciumannya yang semakin panas, Fabian semakin metengkuh tubuh Khey ke dalam dekapannya.
"Auwww." Jerit Khey memaksakan diri melepaskan kuasa Fabian pada bibirnya.
"Kenapa?" Fabian.
"Sakit."
"Gue nggak gigit lo yang."
__ADS_1
"Bukan sini yang sakit, tapi ini." Khey menunjuk bibir lalu beralih pada lututnya.
"Lah kenapa emangnya?" Fabian dengan segera menaikkan rok seragam sekolah Khey.
"Kenapa bisa begini?" Fabian dengan raut wajah terkejut saat mendapati lutut Khey penuh goresan dengan bekas darah yang sedikit mengering.
"Tadi jatoh pas waktu naik ke sini." Aku Khey dengan nada seperti anak kecil.
"Kok bisa?" Fabian dengan menaikkan salah satu sudut alisnya, dalam hati menahan tawa mwl8hat raut wajah Khey yang lucu.
"Gue naik buru buru sambil nangis." Khey dengan bibir mengerucut. Sungguh itu membuat Khey semakin menggemaskan di mata Fabian.
"Kalau gitu kita pulang aja yuk." Fabian beranjak berdiri.
Khey mengangguk.
"Mau pulang nggak?" Fabian saat melihat Khey belum juga beranjak dari duduknya.
Tidak ada jawaban dari mulut Khey. Gadis itu hanya mengulurkan kedua tangannya. Membuat Fabian memberikan tatapan bertanya.
"Gendong." Khey dengan puppy eyesnya.
Fabian melebarkan kedua mata. "Apa?"
"Kaki gue sakit." Khey manja.
"Berdiri." Titah Fabian kemudian memunggungi Khey.
Khey menuruti ucapan Fabian meski dalam hati meragukan jika suami tengilnya itu mau menuruti keinginannya.
"Naik." Fabian dengn sedikit membungkukkan punggungnya.
"Elo yakin Bi?" Khey sebenarnya tidak menyangka jika Fabian menuruti keinginannya tanpa berpikir dua kali.
"Jadi gendong nggak?"
Khey pun mendekat lalu merapatkan tubuhnya seraya melingkarkan kedua tangan pada leher Fabian.
"Kenapa lo kerasa berat ya Ra?" Fabian setelah beberapa langkah berjalan.
"Berat badan gue tetep kok, nggak naik. Lagian kan ini pertama kali lo gendong gue kan."
"Iya sih, tapi rasanya beda. Nggak seperti..."
"Seperti apa?" potong Khey cepat.
"Nggak seperti waktu gue gendong lo di atas kasur."
"Bian!!!"
ππππ
__ADS_1