
"Ayah memang jahil. Abi pun sama. Mereka bener bener klop." Bunda sembari tersenyum memandang kepergian dua lelaki beda usia yang menjadi kebanggaannya.
Khey hanya tersenyum tipis. Tidak mengelak maupun mengiyakan ucapan bunda mertuanya. Arah pandangannya pun sama, menatap punggung dua lelaki berbeda usia yang berjalan semakin menjauh.
Sesaat berlalu, keduanya masih membeku dengan terdiam memandang kepergian pasangan masing masing. Hingga Ayah dan Fabian menghilang di balik kerumunan orang orang yang juga hendak menuju pesawat mereka.
"Kita pulang sekarang?" bunda Fabian menoleh pada Khey sembari bertanya dengan tersenyum pada Khey.
Khey pun mengangguk dengan membalas senyuman bunda mertuanya.
"Ayo!" Bunda Fabian mengangsurkan tangan kanannya ke hadapan Khey.
Khey yang belum terbiasa berinteraksi dengan bunda mertuanya, sesaat terdiam hanya menatap ragu pada telapak tangan bunda Fabian yang mengambang di udara.
"Ayook... katanya mau pulang." bunda Fabian dengan sengaja meraih telapak tangan Khey dan menggenggamnya erat. Mengajak sang menantu untuk segera meninggalkan bandara.
Beliau melakukan itu karena menyadari jika anak menantunya tersebut ragu dan canggung.
Khey pun mau tak mau mengikuti ajakan sang bunda mertua, berjalan mengiringi langkah beliau. Senyum tipis terbit di wajah cantiknya.
Desir hangat menyusup di hati Khey, sebuah perasaan penuh kasih yang belum pernah Khey rasakan sebelumnya. Bahkan dari mama kandungnya sendiri Khey tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.
"Dari sini kita mampir makan siang dulu ya." ucap mama Fabian sesaat setelah mengendarai mobil keluar dari area parkir bandara.
"Iyya..." Khey menggantung ucapannya bingung mau menyebut ibu mertuanya dengan panggilan apa.
"Bunda. Bunda saja, Abi juga biasa panggil seperti itu." Bunda Fabian sepertinya memahami kebingungan sang menantu.
"Iya bun_daa." Khey dengan tersendat, bibirnya masih canggung untuk menyebutkan panggilan bunda pada ibu mertuanya.
"Untuk ke depannya sering seringlah kita ngumpul biar nggak canggung."
"Ii.. iya Bun."
"Ara mau makan apa?" tanya Bunda sedetik kemudian.
Sepertinya bunda tidak mau membiarkan suasana mereka senyap.
"Apa aja Bun, Ara nggak banyak pantangan kok. Apa aja mau." Khey mulai membiasakan interaksi dengan mertuanya.
"Ada tempat yang ingin dikunjungi mungkin, atau mungkin Ara mau kasih referensi ke bunda."
Khey terlihat mengerutkan kening, seperti berfikir.
Bunda Fabian menyetir sendiri karena tadi beliau yang mengantarkan ayah ke bandara. Sedangkan Khey dan Fabian memilih naik grab dari kediaman orang tua Khey saat berangkat tadi.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai bunda Fabian saat ini adalah mobil merk honda yang berjenis sedan. Mobil itu terlihat biasa dan sepertinya sudah lama, bukan keluaran terbaru.
Tidak seperti mobil pribadi yang dimiliki oleh keluarga Khey. Namun Khey malah merasakan kenyamanan saat ini.
"Ara ngikut bunda aja."
"Yakin ngikut sama selera bunda?!"
"Iya." Khey dengan mengangguk tersenyum.
"Atau mungkin ke tempat yang biasa kamu datengin sama Abi?"
"Enggak. Ikut selera bunda aja." Khey dengan menggelengkan kepala perlahan.
Abi... gumam hati Khey menyebut panggilan Fabian dari orang tuanya.
Kenapa nama itu sepertinya tak asing bagi indera pendengaran Khey.
πππ
"Gimana... enak enggak?" tanya bunda Fabian saat beliau mengakhiri makan siangnya.
"Enak bun." sahut Khey sebelum memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Bunda Fabian memutuskan mengajak Khey makan siang di sebuah restoran sederhana yang menyajikan menu utama soto lamongan.
Meskipun penampilan bunda mertua Khey itu terlihat sederhana dan agamis karena memakai kerudung panjang, namun ternyata pola pikirnya sangat terbuka. Beliu seperti memahami perkembangan zaman pada anak remaja sekarang. Hal itu terbukti dati obrolan antara bunda Fabian dan Khey yang nyambung dan sesekali diselingi dengan tawa kecil.
Bunda Fabian bukan tipe orang tua yang gaptek dan membosankan. Bahkan Khey sedikit terkaget dengan pengetahuan bunda mertuanya yang sedikit banyak paham tentang dunia games gadget yang sedang digandrungi para remaja zaman now.
Bahkan bunda pun bercerita jika beliau pernah memainkan salah satu game yang lagi booming itu melawan Fabian anak semata wayangnya.
"Ini juga kesukaan Abi, dia juga biasa langganan di sini kalau pengen makan soto." terang bunda Fabian.
"Oh..." Khey dengan manggut manggut.
"Ara belum pernah di ajak ke sini sama Abi?"
"Belum bun." jujur Khey. Karena memang dirinya dan Fabian baru dekat beberapa waktu terakhir meskipun telah menikah.
"Padahal dia suka banget lo sama soto di sini. Dulu aja sebelum Abi menikah sama Ara seminggu bisa tiga sampai empat kali buat datang ke sini. Bahkan jika Abi sakit nggak mau makan, dibelikan soto di sini langsung deh makannya kek kesurupan." Bunda bercerita dengan tidak berhenti tersenyum seolah mengingat kelucuan anak lelakinya saat itu terjadi.
"Abi..." Khey menepuk pelan bibirnya saat mengingat panggilan pada suaminya hanya menyebut nama di depan bunda mertuanya.
"Emm... kak Abi nggak pernah bilang kalau suka soto. Di rumah dia mau makan apa aja. Enggak pernah nolak." Khey memutuskan menyebut suaminya dengan menyematkan kata kak.
__ADS_1
Bunda Fabian tersenyum.
"Belum terbiasa ya... panggil Abi senyamannya aja. Atau mungkin bikin panggilan sayang biar nggak terkesan formal banget. Meskipun kalian udah nikah tapi kalian masih remaja, bunda yakin semua masih canggung. Iya kan?!"
"Iyya bun..." Khey mengangguk perlahan. Dalam hati sangat bersyukur karena memiliki ibu mertua yang baik dan pengertian.
"Mau nambah?" tanya bunda Fabian kemudian.
"Enggak bun, ini aja belum habis." sahut Khey sembari memandang piring makannya yang masih beberapa suapan lagi.
"Bungkus mungkin, pilih menu yang lain?!"
"Enggak usah bun." Khey disertai dengan gelengan kepala. "Ara udah kenyang kok, lagian Bik Mun pasti udah masak nanti mubazir." lanjut Khey lagi.
"Baiklah kalau begitu." Bunda Fabian menurut.
Khey pun kembali melanjutkan makannya yang tinggal beberapa sendok saja, dengan bunda Fabian yang meraih ponsel pintarnya sembari menunggu sang menantu.
"Eh tante, apa kabar? lama tidak bertemu." Tetiba suara cempreng seorang gadis terdengar melalui gendang telinga Khey hingga membuat Khey yang semula menunduk mendongakkan kepalanya.
Nina... gumam hati Khey saat melihat gadis ombre teman sekolahnya mendekat pada bunda mertuanya.
Gadis itu terlihat tersenyum ceria dengan memakai dres jumsuit berbahan jins yang bawahnya bermodel rok di atas lutut.
Seperti terlihat akrab Nina mengangsurkan tangan kanannya di depan bunda Fabian.
Bak gayung bersambut Bunda Fabian pun melakukan hal yang sama. Mengangsurkan tangan kanannya yang kemudian di raih oleh Nina lalu gadis itu mencium punggung telapak tangan bunda Fabian.
"Hai Nina... Alhamdulillah baik." Bunda Fabian dengan tersenyum ramah.
Khey memandang interaksi itu dengan pandangan heran. Dalam hati bertanya tanya, bagaimana bisa keduanya sangat akrab.
"Bagaimana kabar kamu, mama papa kamu baik baik saja kan?" Bunda Fabian balik bertanya dengan tangan keduanya yang masih bertautan.
"Alhamdulillah baik tante. Boleh Nina duduk di sini?"
"Ih iya, boleh kok silahkan..." Bunda Fabian segera melepaskan tangan Nina lalu membantu Nina menarik kursi untuk di duduki.
Nina pun dengan segera duduk di sana, tepatnya di sebelah bunda Fabian.
Hek...
Nina sedikit tersentak kaget saat duduk kedua manik hitamnya mendapati gadis yang setahunya adalah kekasih Doni, ketua osis tampan di sekolahnya.
Ngapain cewek udik ini di sini.... tanya hati Nina.
__ADS_1
ππππ