
"Iya... iyya... sayang. Enggak lagi deh." ringis Fabian sembari melirik cubitan jari Khey pada lengan tangan kirinya.
"Janji berhenti godain nggak?" cubitan Khey masih bertengger pad lengan tangan Fabian.
"Iya deh berhenti, nggak godain lagi."
Khey pun melepaskan jepitan ibu jari dan telunjuknya dari lengan tangan kiri Fabian setelah mendengar janji Fabian.
"Tega lo yang." Fabian.
"Biarin." Khey santai lalu bersidekap dada menatap jalanan yang tidak terlalu padat saat ini.
Fabian pun fokus mengedarai mobil menuju bandara. Sedangkan papa Danu yang berada di jok bekakang memilih memandang salah satu sisi jendela kaca yang menampilkan deretan bangunan yang terlihat bergerak berlawanan dengan kendaraan yang ditumpanginya. Pandangannya kosong.
Hingga beberapa saat setelahnya, kendaraan yang mereka tumpangi pun memasuki area bandara.
Fabian segera memarkirkan mobil mereka dan membantu menurunkan koper koper papa Danu dari bagasi mobil.
"Sini papa bantu Bi." papa Danu mengangsurkan tangan guna meraih gagang koper yang telah Fabian keluarkan.
"Nggak usah pah. Biar Abi aja yang bawa."
"Memangnya kamu bisa bawa semuanya?"
"Cuma dua ini. Satu tangan kanan satunya tangan kiri. Pas kan pah... berasa menggandeng dua isteri." ucap Fabian jenaka.
Plak...
Pukulan tangan Khey mendarat pada bahu Fabian.
"Bilang apa lo barusan?" Khey dengan mendelik tajam.
"Bercanda doang yang."
"Becanda lo nyolot, nggak enak di denger sama kuping gue."
"Sorry... deh sorry..." Fabian bukan sengaja memancing kekesalan Khey. Fabian hanya mengaburkan suasana hati Khey yang sesungguhnya dilanda kesedihan akan kepergian papa Danu.
Sejak semalam Khey tidur dengan gelisah.
"Kalau sampai omongan lo kejadian, gue tinggalin lo Bi." Khey dengan segera menggandeng lengan papanya untuk berjalan dan meninggalkan Fabian.
"Loh yang kok ditinggal sih." susul Fabian dengan menyeret kedua koper di tangannya.
"Ra... kasian Abi." Papa Danu pada anak perempuannya.
"Biarin aja pah. Biar tau rasa dia." Khey dengan berusaha menarik tangan papa Danu.
"Tungguin Abinya. Nggak baik seperti itu sama suami sendiri." Papa Danu mengingatkan.
__ADS_1
"Biarin aja pah. Salah sendiri nyebelin."
"Sayang..." Papa Danu sengaja setengah memaku tubuhnya.
"Ck... papa..." Khey pun menghentikan langkah kakinya. Kemudian menoleh ke belakang, dimana Fabian berjalan dengan langkah kaki lebar guna menyusulnya. Meski kedua tangan Fabian menyeret dua koper besar papa Danu, suami tengil Khey tersebut tetap terlihat santuy seolah itu adalah hal biasa untuknya.
"Lelet banget sih kek siput." ejek Khey pada Fabian. Meski sesungguhnya langkah kaki Fabian lumayan cepat.
Namun ejekan itu hanya dibalas Fabian dengan cengiran.
"Kan bawa dua ist... eh dua koper deng." Fabian hampir saja keceplosan menyebut koper papa Danu sebagai isteri kembali.
"Ngomong gitu lagi, ntar malam tidur di luar." ancam Khey pada Fabian.
Fabian terkekeh.
"Ampun deh yang. Enggak lagi."
"Sudah sampai sini aja nganterinya." Papa Danu melepaskan tangan Khey yang menggandeng tangannya erat.
"Tapi pah..." Khey seolah berat untuk melepaskannya.
"Pesawat bentar lagi take off sayang." ucap papa Danu setelah sebelumnya melirik jam tangan hitam yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya.
Mau tak mau Khey pun melepaskan tangannya.
Seharusnya sang mama menemani papa untuk berobat ke Singapura. Namun apa daya wanita yang telah melahirkannya itu lebih memilih bersenang senang dengan lelaki lain. Sungguh seorang isteri yang tidak punya hati. Setidaknya itu anggapan Khey pada mama Maira saat ini.
Papa Danu terkekeh kecil.
"Jamu juga jaga diri. Jangan manja, nurut sama suami dan jangan suka melawan suami. Nanti kuwalat." Papa Danu dengan mencium pucuk hidung anak perempuannya.
"Ih papa... geli tau." Khey melengos pura pura kesal. Karena sesungguhnya Khey tidak ingin papanya tau jika kedua sudut matanya telah menganak sungai.
"Abi, papa titip Ara sama kamu. Jaga diri juga jaga hatinya." Papa Danu dengan menepuk bahu Fabian. Lalu setelahnya beranjak mengayunkan langkah menjauh meninggalkan pasangan remaja tersebut.
Kedua pasangan remaja itu masih setia di tempatnya berdiri. Memandang lurus pada punggung Papa Danu yang perlahan semakin mengecil.
"Bii..." lirih Khey tanpa memutuskan pandangan dari papanya.
Hemm...
Fabian hanya menggumam dengan pandangan yang sama dengan Khey.
"Apa penyakit papa bisa sembuh?"
Fabian menoleh seketika mendengar tanya Khey.
"Berdoalah sebanyak kamu bisa, minta pada Allah untuk kesembuhan papa." Fabian meraih jemari Khey, menautkan jemarinya di sana.
__ADS_1
Khey menghirup nafas kuat seraya memejamkan kedua mata. Kemudian melepaskannya perlahan seolah membuang semua gundah di hatinya.
"Kita pulang sekarang." Khey membalik tubuhnya tanpa melepaskan tautan jemarinya dengan jemari Fabian.
Fabian pun beranjak mengiringi langkah kaki Khey.
Sebenarnya ada banyak tanya dalam benak Fabian untuk Khey saat ini. Entah mengapa hatinya menangkap sesuatu yang berat menyelimuti hati istrinya. Namun Fabian memilih mengunci mulutnya rapat rapat.
Beberapa langkah kaki berjalan. Netra Khey mendapati sosok yang tak asing berjalan bergandengan tangan dengan mesra beberapa meter jaraknya dari tempatnya berdiri.
Deg...
Dada Khey berdentum tanpa sadar membuat tautan jemarinya dengan Fabian mengerat kuat.
Bisa bisanya wanita murahan itu bersenang senang tanpa peduli dengan suami dan anak anaknya... batin Khey dengan geram.
"Sayang..." Fabian menginterupsi pandangan Khey dengan melambaikan tangan di depan wajahnya.
Seketika Khey pun tergagap.
"Liatin apa sih sampe segitunya?" Fabian dengan kening mengerut.
"Ah... enggak kok. Tadi liatin ibu ibu gendong dua anak. Mana bawaannya banyak lagi." Khey beralasan.
"Mana?" Fabian mengikuti arah pandang Khey.
"Udah belok ke sana. Nggak kelihatan sekarang." Khey menunjuk arah yang tertutup tiang tiang besar yang ada di dalam bandara. Dan beruntungnya sosok mama Maira dengan lelaki perlente yang sempat Khey lihat pun telah menghilang di balik dinding. Entah kemana perginya mereka berdua, Khey pun tak mau ambil pusing.
"Oh gitu." Fabian mengangguk meski dalam hatinya ada yang mengganjal.
"Bi... apa kita akan seperti ini selamanya?" tanya Khey dengan menatap jalanan di depannya. Dengan tangan kiri yang berada dalam genggaman Fabian.
Saat ini kedua pasangan suami isteri remaja itu telah berada di dalam mobil untuk meneruskan perjalanannya.
Fabian menoleh. "Maksud lo?"
"Apa kita akan bersama selamanya?"
"Ngomong apaan sih Ra. Sudah pastilah. Kita bakal bersama selamanya. Sampai maut memisahkan kita."
"Janji?" Khey dengan memandang Fabian yang masih menoleh ke arahnya.
"Gue nggak akan menginginkan apapun kecuali lo tetap di samping gue. Sebagai pendamping hidup gue dan sebagai ibu dari anak anak gue kelak." Fabian tegas dan penuh penekanan.
"Meski nanti ada yang baru dan lebih dari gue?"
"Tidak ada yang baru ataupun yang lebih dari lo. Cukup lo. Hanya lo yang ada di sisi gue." Tangan Fabian pun makin erat menggenggam jemari Khey.
ππππ
__ADS_1