
"Enggak!! Bagusan juga punya cowok gue." ketus Khey dengan masih memalingkan wajahnya.
Fabian yang semula sempat menurunkan emosinya, kembali naik darah saat mendengar ucapan Khey yang masih saja membandingkannya dengan kekasihnya. Padahal Fabian sekarang adalah suami sahnya.
Meskipun Fabian sadar jika Doni adalah cowok yang disukai oleh Khey dan dirinya adalah perebutnya, namun Fabian ingin Khey menghargainya dan juga pernikahannya.
Fabian ingin Khey tidak membahas ataupun menyebut nama cowok yang menurutnya brengsek tersebut saat di bersamanya.
Dengan nafas yang menderu akibat tersulut emosi dari ucapan Khey, Fabian kembali menindih tubuh Khey dengan kuat. Tak lupa dirinya mengunci kedua tangan Khey ke atas kepala dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya membuka kancing baju atas Khey satu persatu dengan kasar.
"Bian elo apaan sih, eli mau perkosa gue!" seru Khey dengan meronta.
"Gue suami lo, gak ada istilah pemerkosaan antara suami istri saat melakukannya meskipun dengan cara yang kasar." ucap Fabian tajam dengan tangan kanan yang masih berusaha melepaskan kancing baju Khey.
Karena Khey mengenakan baju atasan berupa kemeja makanya Fabian harus berusaha membukanya sedikit lebih lama agar semua kancing baju gadis di bawahnya terlepas semua.
Khey yang melirik bagian tubuh atasnya sudah setengah terbuka, memperlebar kedua bola matanya pias. Ketakutan mendera hatinya, takut jika dirinya harus menyerahkan mahkotanya malam ini kepada Fabian tengil. Padahal Khey merasa jika miliknya yang berharga tersebut seharusnya diberikannya kepada cowok yang dicintainya, bukan Fabian tengil suaminya. Karena Khey merasa belum, eh bukan belum melainkan tidak mencintai sosok tengil Fabian.
Khey menggerakkan tubuhnya kuat, berusaha membuat Fabian tengil melepaskan kuncian pada tubuhnya.
Namun bagaimanapun dirinya berusaha, tubuh jangkung kerempeng itu memiliki tenaga yang lumayan kuat, buktinya tubuh setengah terbuka di atasnya tersebut tidak bergerak sedikitpun. Justru semakin menekannya kuat.
"Bian... Hentikan!" Khey berucap marah, namun Fabian tidak mengindahkannya.
"Hentikan atau gue teriak!" Khey mengancam.
Heh...
"Teriak aja... lo pikir akan ada yang bantuin lo. Yang ada orang rumah bakalan pergi menjauh, biar kita bisa melakukannya dengan puas. Ngerti?!" Fabian dengan seringai wajah yang menakutkan menurut Khey.
Karena raut wajah itu memperlihatkan sisi jahat yang belum pernah Khey lihat pada cowok tengil yang berwajah baby face tersebut.
Khey bergidik.
Dengan susah payah meronta hingga membuat tubuhnya kelelahan. Kedua bola mata Khey bergerak memindai ruangan kamarnya, tidak ada satupun benda yang dapat dijangkaunya untuk memukul Fabian agar dirinya bisa melepaskan diri.
"Kenapa... mau cari senjata buat mukul gue?" tanya Fabian sinis seolah mengerti isi hati dan pikiran Khey.
Khey membola, dalam hati berkata. Ck kenapa dia kek cenayang sih, bisa baca pikiran gue...
"Eng... eng_ggak sok tau lo." bohong Khey dengan kesal.
"Kalau gitu lo udah siap kan sekarang?" Fabian kembali dengan senyum tengilnya, dan itu membuat Khey semakin pias.
"Bbi... Bbi... jangan sekarang please, kita masih sekolah." Khey menurunkan nada bicaranya memohon.
"Ggue.... ggue... takut nanti hamil, gak bisa lanjut sekolah. Padahal kita kan udah kelas sebelas bentar lagi kelas dua belas, lo mau ngancurin masa depan gue?" Khey dengan raut wajah pias membujuk sebisanya toh memang kenyataannya dirinya tidak ingin jika harus hamil dan berhenti sekolah. Meskipun alasan sebenarnya adalah karena dirinya tidak rela jika harus melakukannya dengan Fabian tengil, walaupun dia adalah suami sahnya.
Dalam hati Fabian tertawa melihat raut wajah isteri bar barnya yang semakin memucat.
__ADS_1
Ternyata meskipun bar bar elo benar benar polos Ra... semoga saja si brengsek itu belum menyentuh lo... Awas aja kalau sampai itu terjadi... Fabian membatin dengan senyum tengilnya.
"Elo pikir dengan sekali melakukan elo bakalan hamil? Gue tau caranya biar elo gak hamil dan kita bisa melakukan sepuasnya..." Fabian terlihat menyeringai menggoda.
Lagi lagi Khey harus menahan nafas sesak, ternyata bujukannya tidak berhasil. Sepertinya Fabian akan tetap melancarkan aksinya untuk meminta haknya malam ini.
"Pasti hamil lah Bi... kita masih muda pasti langsung jadi kalau kita melakukannya sekarang." Khey dengan bibir bergetar dan raut wajah yang semakin memucat, mencoba mengingatkan untuk menghentikan aksi Fabian tengil.
Fabian tersenyum menyeringai.
"Kalau gitu itu lebih baik jika lo hamil. Toh kita udah nikah, udah sah. So anak kita bakal lahir dengan normal, orang tua yang utuh bukan lahir di luar nikah. Apalagi yang bikin lo ribet... Gue kerja, bisa membiayai rumah tangga kita dan elo bisa home scholling. Gak ribet kan?"
Aish... bukan akhir kek gini yang gue pengen... kenapa dia ngeyil banget sih... Jangan jangan dia cowok penggila **** kek di film film itu... Khey bermonolog dalam hati sembari memikirkan cara lain untuk menghentikan keinginan Fabian tengil.
"Gimana... elo siap kan melayani gue?" Fabian dengan senyum menggoda.
"Bi... Bi... jangan Bi... tunggu sebentar..." Khey menelan salivanya kelat, bagaimanapun dirinya harus berusaha sebisa mungkin untuk mencegah Fabian mengambil mahkotanya yang sangat berharga untuknya.
"Apalagi sih Ra?" Fabian membuat raut wajahnya terlihat kesal meskipun sebenarnya dia tidak berniat untuk mengambil haknya sekarang. Karena sesungguhnya Fabian sangat paham akan ketakutan Khey yang takut hamil. Fabian hanya ingin membuat Khey sadar jika dia sudah bersuami.
"Bi... bisakah kita melakukannya tanpa paksaan?" Khey memandang Fabian dengan sendu. Melancarkan aksinya dengan ide lain untuk menghindari kewajibannya bersatu dengan Fabian tengil.
Fabian mengerutkan keningnya.
"Elo mau melakukannya sekarang?"
"Tapi lepasin tangan gue, gue gak bisa bergerak." Khey berucap dengan hati hati. Tidak lupa dengan memasang wajah memohon serta puppy eyesnya, berharap Fabian dapat dikelabui olehnya.
Karena sesungguhnya Khey akan membuat Fabian lengah terlebih dahulu. Biarlah sekarang Fabian mengira dirinya mau melakukan kewajiban untuk memberikan hak Fabian, agar dirinya dapat lepas dari kungkungannya.
"Elo gak akan kabur dari gue kan Ra?" Fabian terlihat tidak percaya.
Khey menggeleng.
"Gue mau kabur ke mana? Ini kamar gue, rumah gue juga." Khey berusaha meyakinkan Fabian.
Fabian mulai mengendurkan kunciannya pada tubuh Khey, bahkan Fabian melepaskan tangan Khey yang sedari tadi dikuncinya di atas kepala gadis itu.
Bukannya Fabian mempercayai ucapannya Khey. Fabian sebenarnya menemukan kelicikan pada niat isteri bar barnya tersebut. Namun Fabian ingin mengetahui sejauh mana gadis yang bergelar istrinya itu akan menolaknya.
Dug... brukk...
Baru saja Fabian melepaskan dan mengendurkan kungkunganya, Khey mendorong dada bidangnya dengan kuat hingga membuat tubuh Fabian terjengkang dan jatuh ke lantai.
Fabian meringis.
Dengan segera Khey beranjak dari ranjang lalu menautkan kemeja bagian depannya asal dan memegangnya erat karena seluruh kandung bajunya sudah terlepas.
Melihat itu dengan sigap Fabian berdiri dan mendekap tubuh Khey sebelum menggapai pintu kamar.
__ADS_1
Fabian kembali menggendong tubuh ramping tersebut ala bridal style dan menghempaskannya ke atas ranjang.
Tanpa memberi jeda waktu, Fabian kembali menindih tubuh Khey. Kali ini lebih kasar dari sebelumnya.
Dengan kasar Fabian menarik baju atas Khey hingga lolos, menyisakan penutup gunung kembar Khey yang berwarna hitam. Terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya yang mulus.
"Bian... jangan!" Khey berteriak meronta saat Fabian mulai mendaratkan kecupan kecupan pada wajah fan leher jenjangnya.
Fabian tidak peduli, tetap saja bibirnya menyusuri kulit mulus Khey hingga turun ke gunung kembarnya.
Beberapa kali memberikan tanda jejak di sana, lalu beralih pada bibir ranum Khey yang tidak berhenti meronta.
Saat bibir keduanya bertautan tangan kanan Fabian yang terbebas dari mengunci kedua tangan Khey mulai bergerilya dengan sesekali meremas gunung kembar Khey dari balik penutupnya.
Meskipun mulut Khey meronta ingin melepaskan diri namun Khey tidak bisa menampik sensasi gelenyer aneh yang membuat sekujur tubuhnya bergetar dan menghangat.
Bahkan saat Fabian melepas bibir Khey untuk memberinya ruang bernafas, ******* lirih lilis begitu saja dari bibir Khey. Karena jemari kekar Fabian tidak berhenti memberikan sentuhan dan remasan pada gunung kembar Khey yang membusung sempurna.
"Elo menikmati kan sayang..." Fabian dengan *******.
Khey yang semula terpejam menikmati sentuhan tangan Fabian mendadak membuka matanya nyalang.
"Enggak! Gue lebih suka sentuhan Doni! Dia cowok sempurna yang pantas jadi suami gue, bukan elo!" seru Khey dengan mata memerah. Khey terpaksa berbohong agar suaminya itu jijik kepada tubuhnya, dan menghentikan aksinya.
Dan benar saja Fabian dengan segera mengangkat tubuh jangkungnya dari tubuh Khey.
"Jangan mencari yang sempurna karena jika kamu mencari yang sempurna kamu bakalan kehilangan yang terbaik." ucap Fabian dingin.
Lalu...
Brakk
Fabian keluar kamar Khey sembari menutup pintunya dengan kasar.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1