
"Sayang! Doni!" teriak Bella dengan setengah berlari menyusul Doni yang telah meninggalkannya begitu saja.
"Doni tunggu!" Bella berteriak dengan sekuat tenaga. Namun Doni tetap saja mengabaikan panggilan Bella kepadanya.
"Don..."
Heh... heh... heh...
Bella berhasil menahan pintu lift dengan nafas yang terengah.
"Don aku bisa jelasin semuanya sama lo." Bella dengan pandangan mata yang memerah menahan tangis.
Doni hanya diam saja, menatap datar pada Bella tanpa ada niatan untuk membawa gadis itu masuk ke dalam lift.
Entah alasan apa yang membuat Doni berubah mengabaikan Bella kekasihnya. Padahal beberapa saat lalu sebelum kedatangan Khey menganggu acara me time mereka, Doni sangat perhatian kepada Bella.
Doni yang merupakan bapak dari calon bayinya yang masih dalam perut telah melamar Bella secara pribadi. Cowok itu telah berjanji akan bertanggung jawab penuh pada kehamilan Bella.
Akan tetapi sekarang lihatlah, cowok itu hanya menatap Bella dengan tatapan dingin seolah tidak mengenal sama sekali.
"Masuklah, jangan membuat orang lain menunggu."
Bukan Doni, melainkan Farrel yang berucap kata pada Bella.
Saat ini Farrel telah memasuki lift di mana di dalamnya sudah ada Doni yang berdiri menyender dinding lift. Cowok itu terlihat tidak peduli dengan kekasihnya yang masih terengah dengan setengah tubuh yang membungkuk menahan pintu lift. Sepertinya Bella merasa kelelahan saat mengejar Doni tadi.
"Masuk atau lepaskan pintunya. Pekerjaan gue masih banyak." Farrel dengan sedikit meninggikan suaranya saat Bella tidak segera masuk ke dalam lift.
Bella masih saja diam. Pandangan matanya menatap pada sang kekasih seolah meminta persetujuan kepada cowok itu.
"Doni, bawa cewek lo masuk kalau enggak lo keluar aja sekalian." gertak Farrel pada Doni yang hanya diam saja di tempatnya.
Sret...
Doni menarik tangan Bella dengan kasar setelah sebelumnya mendesah kesal.
"Jangan jadi pecundang yang hanya terima enaknya doang Don. Baik buruknya cewek lo, lo harus tetap bertanggung jawab sama dia." ucap Farrel tanpa menoleh pada pasangan yang telah berdiri berjejer di sebelahnya. "Apalagi sudah ada benih lo di sana." Farrel terdengar menyindir Doni.
__ADS_1
Berita Doni yang telah menghamili seorang gadis telah merebak di sekolahnya. Bahkan setelah merebaknya berita itu, Doni terpaksa harua pindah sekolah untuk menghindari rasa malu.
Bukannya Farrel sok bijak, namun Doni pernah berada dalan satu tim basket bersamanya. Selama berada di tim basket yang sama selama hampir tiga tahun hubungan mereka baik baik saja. Jadi tidak ada salahnya jika ia mengingatkan pada Doni.
"Nggak usah ikut campur urusan gue." Doni dingin.
"Bukannya gue mau ikut campur. Tapi cewek lo itu lagi hamil Don. Elo ngerti nggak sih beratnya jadi cewek yang hamil di luar nikah habis itu cowoknya nggak peduli sama dia karena cewek itu telah berbuat kesalahan. Itu berat banget Don... Satu hal yang pasti, dia ngelakuin kesalahan itu pastinya karena elo sebagai alasannya."
Farrel dengan menekan dada Doni menggunakan dua jari.
Bukannya Farrel membela Bella, melainkan Farrel hanya memandang permasalahan yang terjadi antara Bella dengan sahabatnya dari sudut pandang yang lain.
"Terlepas apapun yang cewek lo lakuin sama sahabat gue, gue masih punya ati Don untuk memahami penyebab dia melakukan kesalahan itu."
"Setajir apa sih si tengil itu? Sampek semua pada noleh ke dia..." Doni membuka suara setelah beberapa saat hanya ada keheningan di dalam lift. Ada rasa kesal saat Doni mengucapkan kalimat tanya tersebut.
"Hubungan apapun, baik itu percintaan atau pertemanan tidak akan abadi jika dilihat dari kekayaan Don. Kunci sebuah hubungan itu ketulusan. Mau miskin mau kaya tujuh turunan sekalipun, hubungan itu tidak akan berlangsung lama jika tidak adanya ketulusan." ucapan Farrel sengaja menohok, agar Doni tersadar dari rasa sombong dan tinggi hatinya.
"Gue nggak ngomongin tentang hubungan Rell, gue cuma nanya setajir apa sih dia." sungut Doni kesal karena Farrel malah menceramahinya. Mana ceramahnya ngena lagi.
Doni mencebik sinis.
"Seberapa tajirnya sih si tengil itu, sampek elo juga mau ngincer dia?" Doni dengan tatapan tak suka pada Bella.
Bella tidak berani menyahut. Gadis itu semakin menundukkan wajahnya seraya memilin ujung sweater rajut yang ia kenakan.
"Emang kekayaannya bisa menandingi orang tua gue, masih bocah aja belagu." Doni dengan nada meremehkan.
Farrel yang mendengarnya pun merasa tidak suka akan ucapan remeh yang dilontarkan Doni untuk sahabatnya.
"Gue nggak tau sih kalau pembandingnya orang tua lo. Tapi untuk ukuran remaja seperti kita, elo bayangin aja sendiri seberapa kekayaan seorang Fabian yang notabene adalah pemilik restoran yang menjadi tempat lo berpijak sekarang." Farrel dengan menekankan pada kalimat terakhirnya.
Sontak saja kedua mata Doni langsung terbuka lebar dengan mulut menganga. Dia tidak pernah memyangka jika si tengil yang selalu berpenampilan ala kadarnya itu adalah pemilik restoran tempatnya menghabiskan kencan dengan Bella kekasihnya.
Padahal selama ini, Doni sengaja membawa Bella ke restoran tersebut untuk menunjukan seberapa anak sultannya dirinya. Doni bahkan rela menghabiskan uang jajannya untuk memikat Bella agar memilihnya.
Dan ternyata yang sultan sebenarnya malah si tengil sederhana yang menyukai makanan di pinggir jalan.
__ADS_1
"Lebih baik lo cepet nikahin dia daripada keduluan perutnya yang mbelendung besar." Lagi Farrel dengan melirik pada perut Bella yang saat ini memang belum terlihat kalau gadis tengah hamil.
"Nggak usah ngarepin temen gue lagi, syukuri pilihan lo." peringat Farrel pada Bella dengan menggeser ekor matanya pada gadia itu.
Sontak membuat Bella harus meneguk ludahnya kelat, mendengar peringatan Farrel yang jelas jelas ditujukan kepadanya. Sebelum Farrel melangkahkan kaki keluar lift yang pintunya telah terbuka.
"Tunggu Rell!" Doni melebarkan kaki menyusul Farrel.
Farrel pun menoleh ke belakang.
"Apa lagi?"
"Beneran Khey sama temen lo udah nikah?" ternyata tujuan Doni menyusul Farrel untuk memastikan status mantan kekasihnya.
Farrel menghela nafas sebentar.
"Lo liat itu." tunjuk Farrel pada Fabian dan Khey, seketika Doni dan Bella pun mengikuti arah telunjuk Farrel.
"Nggak mungkin kan mereka melakukan itu di depan orang tuanya jika mereka bukan pasangan yang sah."
Seketika mulut Doni pun membungkam, pun begitu dengan Bella. Karena saat ini Fabian terlihat merajuk pada Khey seraya memberikan kecupan kecupan singkat pada seluruh wajah Khey di depan dua orang paruh baya yang sudah tentu adalah ayah dan bunda Fabian.
Tak lama kemudian terlihat tangan sang bunda menjewer telinga Fabian, membuat cowok itu meringis kecil. Kemudian berakhir dengan mereka berempat tertawa bersama.
Sungguh sebuah keluarga yang sangat harmonis. Sangat berbeda dengan keluarga Doni dan Bella.
"Sekarang kalian yakin kan kalau mereka berdua telah menikah." Farrel melanjutkan langkah kakinya meninggalkan padangan yang masih membeku di tempatnya.
Baru saja dua langkah berjalan, Farrel kembali membalik tubuhnya ke arah Doni dan Bella.
"Ah iya... sekarang lo bisa kan bandingin kekayaan orang tua lo sana orang tua Fabian, Don."
Ucapan Farrel mampu memukul telak kesombongan Doni. Karena Doni sangat tahu lelaki paruh baya yang merupakan pemilik yayasan SMU Gama itu adalah merupakan salah satu jajaran pengusaha terkaya di negrinya.
Pun begitu dengan Bella. Gadis itu tidak menyangka jika wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana dan pernah Fabian kenalan kepadanya saat tak sengaja bertemu tersebut adalah seorang yang tajir melintir dengan kekayaan yang tidak akan habis sampai tujuh turunan.
ππππ
__ADS_1