Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA56


__ADS_3

Khey berjalan perlahan sembari meraba dadanya yang berdetak kencang.


Kenapa tiap kali mengingat interaksi Fabian dengan Nina hati gue terasa nyeri ya, gak mungkin kan kalau gue cemburu sama kedekatan mereka berdua... Khey berjalan perlahan, berbicara dalam hati dengan tidak berhenti memikirkan rasa di dalam dadanya.


Rasa yang entah membuat debaran jantungnya terasa berdetak sangat kencang dan seolah ada yang mencubit kecil di dalam sana.


Saat ini Khey baru saja kembali dari kantin dengan kedua sahabatnya, sembari tidak berhenti menerka hubungan suaminya dengan Nina.


Dari kejauhan nampak Fabian berjalan beriringan, masih dengan gadis ombre, Nina. Mereka berdua berjalan berlawanan arah dengan Khey dan kedua sahabatnya.


Khey mencoba bersikap biasa saja, meski ekor matanya tetap intens memandang keakraban sang suami dengan gadis yang berperan sebagai model tersebut.


Khey mengeratkan giginya saat melihat keduanya berjalan tampak akrab dan seolah tidak berjarak. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, yang pasti mereka mengiringinya dengan senyuman pada bibir keduanya.


Bahkan Fabian dan Nina terlihat nyaman dengan sesekali bertemu pandang saat berucap kata.


Posisi Khey yang berjalan di belakang Alya dan Rhea membuatnya leluasa memandangi interaksi suaminya dengan Nina. Bahkan kedua sahabatnya tersebut tidak menyadari jika Khey saat ini terlihat mengeram kesal.


Saat posisi mereka hampir dekat, Khey tau jika Fabian menangkap keberadaannya. Namun Fabian terlihat biasa seolah tidak peduli jika keasyikannya berjalan dengan Nina membuat Khey kesal.


Entah itu pura pura atau memang Fabian tidak peduli akan dirinya, nyatanya Fabian terlihat masih saja asyik mengobrol dengan Nina hingga mereka saling melewati.


Dasar cowok... umpat Khey dalam hati saat manik matanya menangkap Fabian yang mengabaikan keberadaannya, bahkan melirik pun tidak.


Khey menolehkan wajahnya kebelakang, saat Fabian telah berjalan melewatinya. Khey menatap punggung yang membelakanginya tersebut dengan berbagai pertanyaan yang mengitari tempurung kepalanya.


Tumben tumbenan dia gak peduli sama gue... jangan jangan bener apa yang dikatakan oleh Farell di kantin sekolah tadi. Khey membatin penasaran dengan mengingat pernyataan Farell tentang hubungan Nina dan Fabian yang mungkin belum mengikhlaskan putusnya jalinan asmara keduanya.


Jangan... jangan mereka berdua balikan.... kening Khey mengerut memikirkan kemungkinan yang terjadi pada hubungan sang suami dengan Nina si gadis ombre.


Bruk.


Khey yang masih memandangi tubuh Fabian yang semakin menjauh tersebut tidak menyadari jika langkah kakinya terlalu panjang hingga membuatnya menabrak dua temannya yang sedang berjalan di depannya. Bahkan Alya yang berperawakan kutilang darat alis kurus tinggi langsing dada rata hampir saja tersungkur.

__ADS_1


"Khey lo liatin apaan sih, sampek meleng kek gitu..." Rhea membalik tubuhnya ke belakang dengan raut wajah kesal


"Eh... enggak kok, enggak liatin apa apa." Khey berbohong.


"Sorry ya Al, elo gak papa kan?" Khey mendekati Alya.


"Enggak kok gue gak papa, untung Rhea cekatan."


Rhea memang sigap memegangi tubuh Alya yang hampir tersungkur saat Khey menubruknya dari belakang, sehingga Alya pun aman tidak mendaratkan tubuh kutilangnya ke lantai koridor sekolah.


"Elo gak meleng karena Fabian jalan bareng Nina kan Khey...?" Alya menebak.


Sontak pertanyaan Alya membuat Khey membuka lebar kedua matanya.


"Enggaklah lah, elo apaan sih Al.." elak Khey dengan merangkul bahu Alya agar kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Khey tidak ingin kedua sahabatnya menyadari kebohongannya. Memang Khey meleng karena terlalu fokus memperhatikan Fabian dan Nina.


Flashback Fabian dan Nina


"Fab... elo mau ya nolongin gue?" Nina dengan merangkul lengan Fabian saat keduanya berjalan keluar dari kantin sekolah.


"Soal apa dulu, gue gak mau kalau gue harus nanggung dosa karena nolongin lo berbuat jahat." Fabian dengan mengabaikan Nina yang menggelayut pada lengan tangan kanannya.


"Elo pikir gue ketua geng perompak apa, enak aja mikir bakal njerumusin elo pada kejahatan." Nina.


"Siapa tau aja. Elo kan banyak asisten, jaringan lo juga luas secara kan elo model. Ngapain lo malah minta tolong sama gue." Fabian datar masih dengan berjalan beriringan.


"Lepasin tangan lo dari gue ngapa Nin, gak enak diliatin anak anak lain tuh." Fabian melirik sekilas tangan ramping Nina yang menggelayut pada sikunya, lalu mengedarkan pandangan pada sekitar dimana ada beberapa anak yang memang memandangi dirinya dengan Nina.


"Biarin aja, palingan mereka cuma iri doang sama kita." Nina cuek bebek.


"Tapi kan gak enak. Entar kita dikira ada apa apa." Fabian sedikit tidak nyaman.

__ADS_1


Sebenarnya interaksinya dengan Nina seperti ini sudah biasa baginya, namun itu dulu saat dirinya belum menikah dengan Khayyara. Setelah menikahi Khayyara, entah mengapa Fabian merasa tidak senyaman dulu. Ada hati Khey yang harus dijaganya meski yang dijaganya belum tentu juga menjaga hati Fabian.


"Biarin aja. Itu tandanya mereka orang orang yang sirik sama kita." Nina tetap saja ngeyel.


Fabian hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


Ingin rasanya Fabian mengungkapkan kalau dirinya sudah menikah, namun Fabian merasa belum saatnya dirinya bercerita pada gadis yang telah menjadi sahabatnya sejak lama tersebut.


Fabian harus mencari waktu yang tepat agar Nina tidak kaget akan statusnya kini.


"Kita duduk situ gak papa?" Fabian menunjukkan bangku taman yang menghadap lapangan sepak bola.


"Gak papa."


Keduanya pun akhirnya duduk berdampingan pada kursi panjang yang terbuat dari kayu tersebut.


"Lo minta tolong apaan?" Fabian langsung.


"Gak sabar banget sih?"


"Habis ini gue ada ulangan Nin, gue gak mau ketinggalan." Fabian memberikan alasan. Meskipun alasan yang dia sebutkan hanyalah bohong belaka. Karena Fabian sesungguhnya berusaha menjaga interaksinya dengan Nina agar tidak menimbulkan gosip dikemudian hari.


"Ok, baiklah... gue mau minta tolong sama lo buat membujuk owner EO (event organizer) omah potret agar mau menyiapkan acara sweet seventeen gue." Nina segera mengungkapkan keinginannya setelah mendengar alasan Fabian.


Bagaimanapun Nina dan Fabian sudah berteman sejak lama, membina hubungan mereka secara positif. Saling mendukung satu sama lain, tidak mungkin jika Nina akan membuat Fabian bermasalah dengan sekolahnya.


Walaupun Fabian adalah anak dari pemilik yayasan SMU Gama yaitu sekolah mereka saat ini, namun Nina tau jika Fabian tidak pernah menggunakan statusnya itu untuk memperoleh nilai dengan mudah.


Dibalik penampilannya yang asal dan terkesan slengekan itu, Fabian sangat bertanggung jawab akan sekolahnya. Bahkan nilai maksimal yang diperolehnya saat ini adalah karena kerja kerasnya sendiri tanpa perlakuan spesial dari pihak sekolah.


Bahkan status Fabian sebagai anak pemilik yayasan itu pun hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Bapak ibu guru di SMU Gama tidak ada satupun yang mengetahui, hanya kepala sekolah dan petugas bagian administrasi yang mengetahui data Fabian sebagai anak pemilik yayasan ini.


✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻

__ADS_1


__ADS_2