Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA93


__ADS_3

Ciit... set...


Fabian menghentikan motornya di dalam garasi keluarga Khey, saat baru saja pulang dari sekolah. Setelah sebelumnya mampir ke tempat usahanya dan menyelesaikan beberapa urusan yang membutuhkan kehadirannya.


Huhh....


"Capek banget rasanya, keknya gue kudu ngegym nih... badan gue berasa mau patah semua." ucap Fabian setelah melepaskan pelindung kepalanya.


Krek... krek... kretek...


Fabian meregangkan tangan serta tubuhnya yang terasa kaku.


Tubuh Fabian memang merasa kelelahan akhir akhir ini. Jarak tempuh sekolah dengan rumah tinggal khey yang cukup jauh serta tempat usahanya yang berlawanan arah membuatnya harus pintar pintar membagi waktu, agar semuanya bisa seimbang dan terselesaikan dengan baik.


"Assalamualaikum..." Fabian mengucapkan salam sembari membuka pintu utama saat memasuki rumah.


"Walaikumsalam... eh aden sudah pulang." Bik Mun, asisten rumah tangga keluarga Khey tersenyum saat tak sengaja berpapasan dengan Fabian. Sepertinya beliau hendak keluar rumah.


"Iya bik..." Gabisa pun membalasnya dengan senyuman.


"Loh kok udah pulang yang?" Fabian setengah kaget saat melihat Khey duduk di depan televisi ruang keluarga.


Tidak ada sahutan dari mulut Khey. Dia memandang sekilas pada Fabian dengan menunjukan wajah masam.


Fabian terheran dibuatnya.


"Kok ditanya suami nggak jawab sih yang?" Fabian berjalan mendekat. Namun Khey justru beranjak dari dari duduknya dan berlalu begitu saja, dengan raut wajah yang masih masam. Bahkan Fabian menangkap kekesalan pada wajah jutek isterinya.


"Kenapa tiba tiba jutek gitu... perasaan tadi baik baik aja..." Fabian menggumam dalam hati.


"Apa gue ada salah yak?!" Fabian berfikir dengan dahi berkerut, berusaha mengingat hal buruk apa yang telah dilakukan olehnya.


Fabian memandang Khey yang menaiki tangga rumah dengan berfikir tentang apa yang membuat Khey terlihat marah kepadanya.


"Perasaan gue nggak ngelakuin kesalahan deh..." gumam Fabian lirih lalu mengikuti Khey menaiki tangga. Sepertinya Khey akan memasuki kamarnya.


Fabian memutuskan menyusul istrinya, untuk lebih jelasnya dia akan menanyakan saat di kamar nanti.


Brakk...


Khey menutup pintu kamar dengan kasar setelah dia memasuki kamar.


Hal itu membuat Fabian yang berjalan di belakangnya terjengit kaget.


Ceklek...


Fabian menggoyang tuas kamar untuk masuk ke dalam, namun sepertinya Khey telah menguncinya dari dalam.


Tok... tok... tok...


"Ra... kok dikunci sih, gue mau masuk nih..." Fabian berucap kata sembari mengetuk pintu kamar.


Tidak ada sahutan ataupun tanda tanda pintu kamar bakal dibuka dari dalam.


Fabian pun kembali mengetuk pintunya dengan memanggil istrinya.

__ADS_1


"Ra... Ara sayang..."


Lagi lagi hening tak ada tanda tanda pergerakan dari dalam sana.


"Yang... buka pintunya dong... Ngomong kalau gue ada salah, jangan diem kek gitu..." Fabian dengan nada membujuk.


Tetap saja Khey tidak membukakan pintu untuk Fabian.


Hingga akhirnya,


Ceklek...


Terdengar pergerakan dari kunci pintu yang dibuka, Fabian pun terlihat lega, segera mengayunkan tangan hendak membuka pintu kamar.


Ceklek... klek...


"Lho kok... gak bisa dibuka..." desis Fabian dengan heran.


"Perasaan tadi kek denger kuncinya dibuka deh..." Fabian masih saja menggoyang tuas pintu kamar Khey agar terbuka.


"Sstt... kak Bian..."


Seruan setengah berbisik membuat Fabian menolehkan kepalanya.


"Loh Septi... elo di sini?!" Fabian sedikit tersentak kaget.


Ternyata bunyi pintu yang terbuka adalah dari kamar sebelah, tepatnya dimana Septi adik ipar Fabian melongokkan setengah badannya.


Septi mengangguk seraya bertanya "Dikunci ya?"


"Ngambek pasti." Septi dengan mengeluarkan seluruh tubuhnya dari dalam kamar.


"Mungkin. Kakak juga nggak tau. Perasaan tadi baik baik aja." Fabian tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya.


"Gara gara Septi itu kak..."


Fabian menautkan kedua alis matanya. "Kok bisa, kenapa emangnya?"


"Itu... em.. gegara ucapan Septi yang ngaku pacarnya kak Bian." Septi sedikit pelan, merasa tidak enak hati karena membuat pasangan remaja itu berselisih paham. Meski sebenarnya yang salah paham adalah kakaknya sendiri karena Fabian pastinya tidak mengetahui akar permasalahannya.


"Kok bisa? Kenapa bisa gitu Sep?" Fabian semakin heran.


"Tadi Septi ketemu sama kak Ara sama dua temennya yang kita pernah ketemu di mall waktu itu." Septi menjelaskan duduk permasalahannya.


"Oh gitu..." Fabian mulai paham sekarang kenapa sikap Khey berbanding terbalik dengan sikapnya saat berpamitan dengannya saat di sekolah tadi siang.


"Emangnya elo nggak kasih penjelasan?"


"Tadi udah... tapi kak Ara nggak mau denger. Keknya dia cemburu sama Septi." Septi setengah berbisik takut kakaknya mendengar ucapannya.


Fabian tertawa kecil.


"Nggak mungkinlah Ara cemburu sama lo, elo kan adeknya. Masak cemburu sama adek sendiri. Lagian elo itu masih bocil, bisa dituduh pedofil dong kakak... " Fabian tidak mempercayai ucapan adek iparnya diiringi dengan kekehan. Lagian Fabian juga masih merasa jika Khey belum memiliki rasa kepadanya.


"Nyatanya ngambek kan?? Tadi aja sama Septi sewot nggak mau ngomong. Septi tanya juga nggak mau jawab."

__ADS_1


Fabian menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Iya juga sih."


"Pssttt... kak Bian." Septi setengah berbisik dengan memperpendek jaraknya dengan Fabian.


"Apa?" Fabian pun mengikuti nada bicara Septi yang berbisik.


"Kerjain kak Ara yuk..."


Terbersit ide di otak Septi untuk mengerjai kakak perempuannya.


"Maksud elo kerjain gimana?" Fabian tidak memahami ucapan adik iparnya.


"Septi tau caranya biar kak Bian dibukain pintu sama kak Ara."


"Gimana caranya?"


"Setuju dulu..." Septi mengangsurkan tangan kanannya ke hadapan Fabian tengil.


"Emm... gimana ya..." Fabian dengan berfikir. "Ntar makin kacau nggak?!" Fabian takut kalau Khey semakin marah pasalnya gadis itu tergolong bar bar, susah dijinakkan.


Sepertinya Septi mengerti akan ketakutan Fabian.


"Palingan marahnya cuma bentar doang, ayuuk ya... mau yakk..." Septi dengan semangat.


"Baiklah, terserah elo. Tapi yakin ya gue bakalan dibukain pintu sama kakak lo..."


"Yakin... percaya sama Septi!" Septi dengan menepuk dadanya seolah dia bakal menjadi penyelamat Fabian tengil dari ngambeknya Khayyara.


Sesaat Fabian terdiam. "Okelah kalau gitu."


"Deal ya kak. Ntar kalau berhasil gocap yak..."


Septi mengerling sembari mengangsurkan kembali telapak tangan kanannya dan segera di sambut oleh Fabian.


"Siip... deal..." Fabian mengacungkan jempol kirinya.


Septi pun tersenyum senang, sepertinya gadis itu tidak sabar untuk melakukan aksinya. Gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tersebut menempelkan telinganya pada pintu kamar Khey.


"Kak bukain pintunya, kak Bian pulang. Mau masuk kamar nggak bisa!!" Septi dengan berteriak sekeras kerasnya.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Septi pun kembali merapatkan pendengarannya ke pintu untuk mendengar kemungkinan pergerakan dari dalam sana.


"Itu mah bukan ngerjain tapi nyuruh Sep... Gue juga bisa ngomong sendiri kalau kek gitu."


"Tenang baru percobaan kak... sapa tau kek gini aja udah mau bukain pintu." Septi santai.


Beberapa detik menunggu sepertinya Khey tetap dengan pendiriannya, buktinya pintu kamar tersebut masih tertutup rapat. Ketika Fabian mencoba menggoyang tuas pintu, nyatanya benar pintu masih terkunci.


Fabian menoleh ke arah Septi, kemudian menggelengkan kepalanya memberi tanda kalau pintunya masih tertutup rapat.


Septi menghirup oksigen banyak kemudian menghembuskannya dengan kuat. Seolah menimbun kekuatannya.


"Kak... kakak mau bukain pintunya nggak?" lagi Septi berteriak. Dan tetap saja Khey kekeh dengan pendiriannya.


"Kalau kakak nggak mau bukain pintunya, kata kak Bian dia mau tidur di kamar Septi aja... Septi juga mau kok, nggak nolak dipeluk sama kak Bian!!!" Teriakan Septi sontak membuat kedua mata Fabian membola.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2