Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA123


__ADS_3

Hek


Tangan Khey bergetar saat berhasil menyentuh tubuh atas Fabian yang sudah tidak terbungkus sehelai benang pun. Khey pun merasakan ludahnya kelat saat jemarinya bergerak menyusuri tubuh atas Fabian.


Rasa hangat yang disertai dengan sensasi meremang bak tersengat aliran listrik menghinggapi tubuh Khayyara. Hawa panas menyergap wajahnya, membuat wajahnya merona merah bak kepiting yang baru saja masuk penggorengan.


Khey berusaha mati matian menahan sensasi menggila yang hendak menyeruak dari dalam tubuhnya. Sesaat memejamkan kedua matanya untuk meredam rasa yang baru pertama kali Khey rasakan tersebut.


Tangan Fabian terulur untuk membawa wajah Khey menghadap ke arahnya. "Nggak usah malu, gue milik lo. Kita udah sah yang..."


Ragu Khey menatap wajah sang suami kembali, hingga akhirnya Fabian mendaratkan bibirnya pada bibir Khey kembali. Mengecupnya sesaat lalu melepaskannya.


"Mau merasakan yang lebih nikmat?"


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Khey. Lidahnya tak mampu berucap kata. Ingin menjawab tidak, namun itu bukanlah yang diinginkan olehnya. Ingin mengiyakan, namun Khey tidak memiliki keberanian untuk jujur. Dan lagi Khey tidak mau mendapatkan ejekan dari suami tengilnya suatu saat nanti.


Tanpa menunggu jawaban dari sang isteri. Jemari kekar Fabian dengan lincah melepaskan kancing baju atas sang isteri. Sesaat Khey menghentikan aksi Fabian, namun Fabian menepisnya. Menggeser lembut tangsn Khey yang menahannya dan melanjutkan hingga semua kancing baju Khey terlepas.


Tubuh Khey meremang saat pertama kali merasakan tubuh bagian atasnya bersentuhan langsung dengan tubuh atas sang suami tanpa sehelai benang pun menghalangi. Khey merasakan bulu bulu halus tubuh keduanya berdiri seperti teraliri listrik.


Khey pun menegang.


Sial... kenapa gue gugup banget kek gini sih.


Fabian yang menyadari kekakuan tubuh di bawahnya, kembali mendaratkan bibir tebalnya menyusuri setiap inchi kulit polos sang isteri.


Fabian memberikan sentuhan lembut pada seluruh wajah serta tubuh bagian atas Khey. Baik dengan cecapan bibirnya maupun sentuhan tangannya.


Sensasi panas, dingin membuat kedua pasangan remaja itu semakin bergairah terbawa oleh suasana.


Khey yang semula kaku pun perlahan melemas, mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan sang suami.


Bahkan Khey sudah mulai mengikuti ritme sentuhan Fabian, jemari kecilnya perlahan bergerak merayap. Menyusuri setiap jengkal tubuh bagian atas Fabian yang polos.


Cukup lama kedua remaja itu menikmati permainan panas yang membuat suhu ruangan kamar itu memanas.


Meski ada pendingin ruangan di dalam kamar Fabian, namun karena Khey yang tidak menyukai hawa dingin membuat Fabian tidak pernah menyalakan mesin pendingin tersebut. Akibatnya keringat mulai membasahi tubuh keduanya setelah beberapa waktu mereka melakukan pergumulan panas.


Heh... heh...


Fabian terengah, setelah menghentikan aksinya.


Senyum menghiasi wajahnya saat gadis dibawahnya juga terengah dengan kedua mata yang terpejam.


Fiuuhh...


Tiupan dari mulut Fabian pada wajah Khey, membuat gadis itu membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Lelah?" Fabian dengan tersenyum, jemarinya bergerak menyibak helaian rambut pada wajah Khey.


Khey mengangguk perlahan dengan tersipu malu. Sungguh Khey tidak menyangka beberapa saat lalu dirinya mendapatkan pengalaman menggelitik yang sepertinya bakal menjadi candunya.


Meski kedua suami istri remaja itu baru merasakan nikmatnya sentuhan pada setengah tubuh mereka namun hal itu tetap saja menghadirkan rasa yang bercampur aduk. Bagaikan menikmati sensasi rujak es krim yang memadukan rasa manis, asam serta pedas yang mampu membuat penikmatnya ketagihan.


Dengan masih pada posisinya, Fabian tak memutus pandangan dari wajah cantik isterinya yang sedikit basah akibat keringat yang muncul.


Gadis itu sepertinya tidak nyaman dengan posisi Fabian yang memandanginya dengan masih berada di atas tubuhnya. Bahkan kedua gunung kembarnya yang menempel erat pada dada bidang Fabian tidak mampu menutupi debaran jantung keduanya yang terdengar kencang.


Khey memilih membuang pandangan, sungguh suasana akward yang membuatnya tak mampu berkata kata.


Auw...


"Sakit Bi..." Khey kembali menghadap Fabian saat merasakan gigitan kecil pada salah satu pucuk gunung kembarnya.


"Makanya jangan buang muka mulu." Fabian mendongak dengan santai setelah melepaskan gigitannya dari salah satu puncak gunung kembar sang isteri.


"Elo tu serigala atau apa sih, perasaan gigit mulu dari tadi." Khey heran dengan aksi Fabian yang telah beberapa kali menggigit beberapa bagian tubuhnya hari ini.


"Gue buaya kan..."


Kening Khey mengerut setelah mendengar ucapan sang suami.


"Elo kan yang tadi kasih sebutan buaya sama gue." Fabian mengingatkan.


"Emangnya elo suka disebut sebagai buaya?" Khey menatap sang suami dengan heran. Di saat banyak lelaki tidak suka jika dipanggil sebagai buaya. Suami tengilnya ini malah terlihat biasa saja, bahkan baru saja menyebutkan jika dirinya adalah buaya.


"Nggak mungkin. Buaya kan terkenal playboy." sanggah Khey.


"Ye... nggak percaya, ntar coba cek gugel deh. Pastilah disebutkan jika makhluk yang suka berendam di air itu adalah makhluk paling setia."


"Itu kan buaya air, sedangkan elo buaya darat. Pastilah beda." Khey tetap saja menyanggah keterangan Fabian.


"Ck... nggak percaya." Fabian berdecak. Menurunkan tubuhnya dari atas Khey.


"Mau kemana?" Khey memiringkan tubuhnya seraya menahan Fabian tetap dalam dekapannya. Khey tidak mau tubuh atasnya yang polos terpampang tanpa penutup.


"Kenapa? Nggak mau berakhir... pengen lanjut yang lebih hot?" Fabian dengan senyum tengilnya.


"Nggak!" Khey cepat. Tentu saja ucapan Fabian membuatnya kesal, karena menang bukan itu alasannya menahan tubuh Fabian.


"Terus kenapa gue nggak boleh geser?"


"Itu em.. itu..." Khey bingung mengatakannya.


"Itu apa yang?"

__ADS_1


"Itu... em baju gue, gue malu." Khey dengan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Fabian.


Fabian pun tersenyun gemas akibat tingkah yang dibuat sang isteri.


"Ngapain malu coba, orang cuma ada kita berdua kok di sini. Nggak ada orang yang." Fabian menahan tawanya.


"Iya... tapi tetep aja. Ini pertama kalinya buat gue." Khey masih dengan menyembunyikan wajahnya.


"Nggak usah malu kek gitu, belum juga telanjang bulat berdua." Fabian terkekeh.


"Bian!" Khey berseru kesal karena suami tengilnya itu selalu mengucapkan kata kata mesum yang belum layak untuk di dengar oleh remaja sepertinya.


"Apa?"


"Kalau ngomong yang sopan. Seneng banget deh ngeluarin kata kata mesum. Umur kita belum saatnya bahas kek gitu."


"Lah... kita kan udah nikah yang. Ayang lupa sama status sah kita?" Fabian mengingatkan.


"Eh... iya iya... kenapa bisa lupa..."


"Kita lanjut lagi ya yang, biar nggak lupa kalau kita udah nikah." Fabian kembali menindih sang isteri.


Kali ini jemari tangannya bergerak menurunkan resleting celana pendek selutut sang istri tanpa meminta persetujuannya.


Bibir Fabian pun kembali mencecap manisnya bibir milik sang isteri sembari tangannya bergerak menurunkan celana berbahan jins milik Khey hingga hanya menyisakan kain segitiga pelindung terakhirnya.


Setelahnya Fabian melakukan hal yang sama pada celana panjang yang membalut tubuh bagian bawahnya.


Fabian sengaja tidak menanggalkan penutup terakhir keduanya karena ingin melakukannya secara perlahan. Fabian tidak ingin membuat kesan terburu buru. Dia ingin semuanya berjalan pelan, dan saling mengenalkan bagian tubuh mereka satu persatu.


Khey kembali mendesah saat jemari Fabian menyusup di balik kain segitiga sang isteri, mencari celah yang nyaman untuk menemukan tanda jejak menuju goa tersembunyi milik sang isteri.


******* dan erangan lirih kedua pasangan remaja itu memenuhi setiap sudut kamar. Fabian pun membuka kain terakhir penutup tubuhnya disela kegiatan mencecap rakus mulut sang isteri.


Kemudian tangan kekar Fabian bergerak menurunkan kain segitiga penutup inti tubuh sang isteri. Baru saja tubuh di bawahnya itu polos, tetiba terdengar suara adzan menggema.


"Belum juga tour pabrik pembuatan baby dimulai, udah maghrib aja." Fabian dengan nada kesal. Segera turun dari tubuh Khey lalu menarik selimut guna menutupi tubuh polos Khey.


Kedua mata Khey yang semula terpejam pun kembali terbuka.


"Sorry yang cetak babynya ditunda dulu ya, gue mau mandi keburu maghribnya habis."


Fabian dengan mencium singkat kening Khey yang terlihat bingung. Lalu beranjak turun dari ranjang, berjalan santai menuju kamar mandi tanpa memakai kembali baju atau celananya sekedar untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Bian!!!" Khey dengan menutup matanya saat menyadari kelakuan sang suami.


😍😍😍😍

__ADS_1


Yang merasa bacanya kurang banyak, nih othor kasih 3 bab sekaligus biar puas Hehehe...


Jemari lentik abang saleh nak nyalon dulu ya... menipedi nihπŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2