Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA28


__ADS_3

"Joko... balikin dompet gue! Cepet!!" sekali lagi Fabian meminta dompetnya pada Jack dengan geram.


"Bentar Pab... gue belum puas liatinnya." Jackson masih saja menahan dompet milik Fabian dengan tidak berhenti memandanginya.


"Cakep banget po?" Farell kepo.


"Elo pasti gak bisa tidur semaleman karena membayangkannya." ucap Jackson pada Farell dengan melirik Fabian yang memandangnya kesal.


Farell pun semakin penasaran, karena Jackson tidak menunjukkan gambar foto tersebut kearahnya.


"Jack... anak SMA sini bukan?" Farell mengulang pertanyaannya karena sedari tadi Jack tidak memberitahunya.


Farell yang awalnya menduga jika itu foto tersebut adalah Khey, terlihat sangat penasaran. Namun otaknya berfikir ulang jika itu adalah foto Khey, Jack pasti mengenalinya. Tidak mungkin memberondong Fabian pertanyaan tentang siapa sebenarnya gambar gadis di dalam dompet Fabian.


"Bukan" sahut Jack dengan menggelengkan kepalanya.


"Balikin dompet gue Jok!" Fabian terlihat seperti hendak menerkam Jackson.


"Widih galak amat sih Pab... eike takyuutt..." Bukannya takut Jackson malah menggoda Fabian dengan mengubah gaya bicaranya seperti bencong yang sering mangkal di perempatan lampu merah.


Fabian menghembuskan nafas kasar.


"Kapan kapan gue kenalin sama cewek gue, sekarang balikin." kembali Fabian menengadahkan tangan untuk meminta dompetnya kembali.


"Ceilah Pap... nih gue balikin." Jack memberikan dompet Fabian dengan sedikit melemparnya.


Blukk...


Dompet Fabian dilempar mengenai dada bidang Fabian.


"Anjrit... sialan lo Jok... gak tau terima kasih banget sih jadi orang. Habis manis sepah dibuang ini namanya." Fabian menggerutu kesal karena ulah Jack.


"Jadi elo gak kenal Jack sama foto yang ada di dompet Fabian?!" Farell


"Enggak."


"Bukan foto Khey ya Jack?" Farell masih saja ingin memastikan karena dia memang tidak ditunjukkan fotonya oleh Jack.


"Eh iya... Pabian ngincer Khey kan... tapi bukan kayaknya." Jack sedikit mengingat wajah dalam foto.


"Ck... udah keponya. Cepetan makan." Fabian kesal. Bukan karena masalah foto dalam dompetnya akan tetapi dirinya memang lapar saat ini, efek dari sarapan paginya yang tidak seberapa karena memburu Khey yang tetiba meninggalkan sarapannya setelah kepergian papa mertuanya.


Jack tidak mengindahkan kekesalan Fabian.


"Rell sini gue bisikin!" Jack memberi tanda kepada Farell untuk mendekat padanya.


"Apaan? Gak usah bisik bisik." Farell terlihat enggan.


Jack menoleh ke sekelilingnya.


"Gak enak gue ngomongnya, tar kasian Pabian kalau banyak yang denger. Ntar pada ilfeel sama dia." Jack dengan tersenyum mengejek serta kedua matanya yang melirik Fabian.


Melihat Fabian tidak terpengaruh akan omongannya, bahkan sahabatnya itu terlihat mulai makan makanannya dengan lahap, Jack memberi tanda Farell agar segera mendekatkan telinganya.


Farell pun mencondongkan setengah tubuhnya pada Jack dan memposisikan telinganya dekat dengan mulut Jack.


"Ternyata temen kita yang satu ini pedofil." bisik Jack pada telinga Farell.

__ADS_1


Hah!


Farell membulatkan kedua bola matanya. Lalu reflek menolehkan wajahnya pada Fabian.


"Beneran apa yang dibilang Jack, Fab?" tanya Farell dengan seakan tidak percaya akan pendengarannya beberapa saat lalu.


Fabian acuh, terlihat tidak peduli malah dengan asyik memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Farell menggoyangkan bahu Fabian.


"Bian." panggil Farell.


Fabian menoleh pada Farell karena goyangan pada bahu dan panggilannya.


"Apaan?" Fabian cengo.


"Elo beneran pedofil?" tanya Farell to the point.


Fabian memelototkan kedua matanya seakan akan keluar dari cangkangnya.


"Elo bisikin Farell apaan sih Jack?" Fabian menatap tajam pada Jackson yang masih cengengesan.


πŸ“πŸ“πŸ“


Khey menenggelamkan kepalanya pada ranjang lalu menutup kepalanya dengan bantal, sesaat setelahnya berteriak frustrasi dengan tidak berhenti menggerakkan kakinya pada ranjang. Khey menghentakkan kedua kakinya pada ranjang dengan kasar, untuk menghilangkan rasa kesalnya.


"Aaaaa... Kenapa keinget terus sih, gak mau ngilang jugak....'' Khey berteriak kencang hingga memenuhi ruangan kamar tidurnya.


"Sebel... sebel... sebel...!" lagi Khey berteriak dengan mendudukkan dirinya di atas ranjang.


Khey menggeleng - gelengkan kepalanya berulang hingga membuat rambut hitamnya menutupi sebagian wajahnya.


Ahhh...


Khey beranjak dari ranjang saat mendengar suara deru motor memasuki halaman rumahnya.


Dengan gegas menuju balkon kamar untuk melihatnya.


"Gak mungkin kan dia balik jam segini." tanya Khey lirih pada dirinya sendiri.


Khey pun melongokkan kepala untuk melihat ke bawah, terlihat tidak sabar untuk mengetahui siapa yang datang.


"Huh... untung bukan dia." ucap Khey lega setelah melihat ke bawah ternyata yang datang adalah Pak Maman, sopir sekaligus penjaga rumah keluarganya.


Khey pun kembali masuk ke dalam kamar.


Kemudian Khey terlihat tidak berhenti mondar mandir di dalam kamarnya, dengan sesekali mengacak rambutnya kasar.


"Gue kenapa sih, kepikiran mulu..." ucap mulut Khey terdengar kesal.


"Apa peduli gue, mau foto cewek ataupun inceran Bian toh gue gak ada perasaan sama si tengil itu. Tapi kenapa gue penasaran pengen tau ya..." tanya Khey dengan bergumam kesal.


Ahhh...


"Kenapa gue jadi kek gini sih? Gak masuk akal banget." Khey kembali mengacak acak rambut panjangnya hingga berantakan .


Ceklek.

__ADS_1


"Ngapain lo?" tanya Fabian dengan memegang handel pintu karena baru saja membukanya dari luar.


Fabian memandang Khey bingung, karena gadis itu terlihat kesal dengan tangan mengacak rambut panjangnya hingga berantakan.


Ara ngapain sih, aneh banget... pikir Fabian dalam hati dengan bingung.


Hek.


Khey sedikit tersentak kaget karena Fabian datang secara tiba - tiba tanpa aba aba sebelumnya.


Loh kok dia udah pulang, bukane suara motor tadi Pak Maman, tanya hati Khey memandang Fabian juga terlihat bingung.


"Bikin kaget aja sih lo, dateng dateng nyelonong tanpa permisi." Khey berucap dengan ketus sembari memegangi dadanya.


"Gue udah ketok pintu juga udah ngucapin salam, elonya aja yang gak denger malah modar mandir kek setrikaan." sahut Fabian dengan wajah datarnya, lalu membalik tubuhnya untuk menutup pintu.


Fabian memasuki kamar Khey dengan langkah kaki yang terlihat malas. Melewati tubuh Khey tanpa menggoda ataupun mengganggu Khey seperti biasanya.


Khey mengerutkan kening heran melihat reaksi Fabian yang datar saja tidak seperti biasanya.


Cowok baby face yang telah bergelar suaminya itu meletakkan tas punggungnya pada kursi belajar lalu tangannya mulai membuka kancing baju seragam atasnya.


"Ganti baju di kamar mandi sana, jangan di sini!" seru Khey dengan nada ketus.


Fabian menghentikan aktivitasnya membuka kancing baju dan menoleh sesaat ke arah Khey, lalu mendesah pelan.


Tidak ada sepatah kata pun terucap dari mulut Fabian, seolah mulut yang tidak pernah berhenti menggoda Khey tersebut terkunci rapat.


Tak lama kemudian tangan kanan Fabian terlihat meraba saku celana bagian belakang dari seragam sekolahnya, lalu meletakkan sebuah benda berwarna hitam ke atas meja belajar milik Khey yang sebelumnya diraih dari celana seragamnya.


Tanpa kata Fabian melangkahkan kaki menuju walk in closet, mengambil baju ganti lalu dibawanya ke dalam kamar mandi.


Tingkah Fabian yang mengacuhkan Khey membuat Khey semakin terheran. Bahkan sikapnya yang terkesan menuruti perintah Khey, membuat Khey terheran.


"Tumben si tengil gak godain gue...?!" gumam Khey lirih dengan tidak berhenti memandangi sosok tubuh jangkung itu hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Salah makan apa yak... aneh banget sikapnya." Khey masih saja heran.


Khey melangkahkan kaki mendekati meja belajarnya, karena dirinya penasaran dengan benda yang di letakkan Fabian di atas mejanya.


"Loh... itu kan dompet Bian." Kedua mata Khey berbinar saat mendapati benda yang terletak dia tas mejanya adalah dompet milik Fabian tengil.


Sesaat Khey menoleh ke arah pintu kamar mandi lalu kembali memandang dompet Fabian yang tergeletak di atas mejanya, begitu berulang kali dengan tidak berhenti menggerakkan tangan seolah hendak menyentuh dompet milik Fabian.


"Buka enggak ya..." Khey mengulurkan tangannya pada dompet Fabian dengan ragu.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2