Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 192


__ADS_3

Dengan sorot mata hangat Fabian membaringkan tubuh Khey dengan hati hati di atas ranjang tidur mereka. Arah tatapan matanya tidak sedikit pun terlepas dari wajah Khey yang terlihat memerah.


Setelah tubuh Khey terbaring di atas ranjang, Fabian pun mendudukkan bokongnya di sisi Khey dengan tanpa memutuus pandangan dari wajah gadis itu.


"Lo beneran nggak mau maafin gue Ra?" tanya Fabian dengan lembut. Salah satu tangannya terulur merapikan beberapa anak rambut yang mengurai di wajah Khey. Kemudian menyisipkan anak rambut tersebut ke belakang telinga sang isteri.


Khey menelan salivanya dengan susah payah saat menyadari jika wajah Fabian saat ini terlihat seperti lelaki dewasa, jauh dari kata tengil yang menjadi sebutan Khey kepada sang suami.


"Jangan diem aja Ra. Gue paling nggak bisa kalau lo diemin kek gini. Gue lebih suka elo yang nyerocos nyablak tanpa henti, bikin gue gemes pengen gigit." Fabian dengan tak berhenti menelisik wajah Khey. Tangannya yang telah selesai menyelipkan anak rambut mulai merayap, mengusap pipi. Menyusuri rahang hingga berakhir dengan ibu jari yang menguap lembut bibir pink ranum sang isteri.


"Gue paling suka gigit ini." Netra Fabian menatap pada bibir pink yang masih setia ia usap dengan ujung ibu jarinya. "Kenyal, manis, bikin gue nagih."


Lagi lagi Khey harus menelan salivanya kelat. Dia sangat tau jika sorot mata Fabian itu menunjukkan seolah menginginkan sesuatu dari dirinya. Dan Khey sangat paham apa yang menjadi keinginan Fabian saat ini.


Sentuhan lembut yang disertai dengan pandangan penuh hasrat membuat Khey merasakan tubuhnya bereaksi. Ada suatu dorongan dalam dirinya yang menginginkan lebih dari sentuhan pada bibirnya.


Deru nafas Fabian semakin terasa menerpa wajah Khey kuat. Terlebih ketika jemari Fabian bergerak mengusap leher jenjangnya.


"Kita udah lama nggak melakukannya." Suara Fabian terdengar serak. "Iya kan sayang..." sorot mata itu beralih menatap kedua manik hitam Khey dengan lekat.


Khey menaik turunkan wajah lirih sebagai jawaban. Entah apa sebabnya lidah Khey terasa kelu untuk menyuarakan jawaban dari mulutnya.


"Elo nggak kangen sama sentuhan gue Ra?" bisik Fabian di telinga. Tetiba saja Fabian telah mengikis jarak tanpa Khey menyadarinya.


"Kang_ngen." Lirih Khey tergagap.


Jujur saja Khey memang kangen akan sentuhan lembut Fabian. Mereka berdua telah lama tidak melakukan kegiatan suami isteri. Hal itu disebabkan oleh beberapa masalah yang telah menghampiri rumah tangga mereka akhir akhir ini.


Terakhir kali saat hendak melakukan di ruang kerja Farrel. Itu pun gagal karena Farrel yang telah memergoki mereka sebelum adegan itu terjadi.


"Elo Bi..."


"Sangat."


Akhh....


Pekik Khey denga kedua mata melebar saat tangan kekar Fabian tanpa aba aba menyusup ke dalam rok rampel Khey dan memasukkan jari ke dalam inti tubuhnya.


Senyum seringai mesum menghiasi wajah tampan Fabian.

__ADS_1


"Gue udah nggak tahan sayang." Fabian dengan mengecup singkat sudut bibir Khey yang sedikit terbuka akibat jemari nakal sang suami.


Khey tertahan, kemudian perlahan mulai menikmati permainan jemari Fabian di bawah sana.


Emmhh... lenguh Khey memejamkan kedua matanya saat merasakan kenikmatan sentuhan jemari Fabian pada inti tubuhnya.


Fabian pun langsung menyerang bibir pink Khey yang sedikit terbuka dengan rakus, tanpa menghentikan gerakan jemarinya memasuki tubuh bawah sang isteri.


Khey menyambut ciuman Fabian dengan tak kalah rakus. Menelusupkan lidah, mendahului Fabian yang biasa mengeksplore rongga mulutnya terlebih dahulu. Kali ini Khey berinisiatif untuk mendahului, mencecap manis setiap inchi dinding mulut Fabian. Gadis itu sudah sangat pandai mengimbangi ciuman Fabian. Tak jarang berubah liar tanpa malu malu lagi.


Satu tangan Khey menekan belakang kepala Fabian dan satu tangan lagi bergerak lincah membuka kaitan kancing kemeja yang Fabian kenakan. Melepaskan kemeja lengan pendek itu dari tubuh Fabian dan membuangnya sembarang.


Keduanya mengakhiri tautan bibir mereka saat merasakan nafasnya tersengal, diikuti dengan kedua pasang kelopak mata yang sama sama membuka.


Diantara suara deru nafas yang saling bersahutan, kedua pasang manik hitam itu saling tatap penuh hasrat.


Fabian menarik kedua sudut bibirnya, membingkai senyum. Sungguh wajah cantik Khey selalu saja berhasil membuatnya terpesona. Membuat Fabian tak ingin melewatkan waktu sedetik pun untuk tidak memandangi sang isteri. Lantas bagaimana dirinya bisa menjalin hubungan jarak jauh dengan Khey nanti.


"Sayang... gue lanjut ya..." jemari Fabian mulai bergerak melepas baju atas Khayyara.


"Bi..." Khey dengan menahan pergerakan tangan Fabian.


"Bukan begitu."


"Lagi dapet tamu bulanan?"


"Enggak." Khey dengan gelengan kepala.


"Lalu?"


Khey terdiam sesaat, terlihat gugup dan gundah.


"Ini periode subur gue." jujur Khey kemudian.


"Bagus dong. Biar duplikat kita segera jadi." Fabian selalu saja bercanda, menurut Khey.


"Ck... kita kan belum lulus Bi. Gimana nanti kalau gue..."


"Gue nggak akan keluarin di dalam." potong Fabian ceat saat mengetahui kekahwatiran sang isteri.

__ADS_1


Khey menautkan kedua alis mata.


" Maksud lo Bi?"


Meski telah menjalani pernikahan satu tahun lebih dan melakukan hubungan suami isteri berkali kali dengan Fabian, Khey tetap saja masih polos. Dia tidak tahu maksud ucapan Fabian.


"Gue nggak bakal cetak dulu Ra, tenang aja. Gue nggak butu buru bikin lo hamil kok."


"Emang bisa?" tanya Khey dengan polos.


Pertanyaan polos sang isteri membuat Fabian menghela nafas pendek. Susah emang kalau punya isteri polos seperti Khey. Begitu saja ditanyakan.


"Bisa. Nyatanya ini masih rata kan..." Fabian dengan pandangan mata mengarah pada perut Khey yang telah terbuka karena pakaian atas gadis itu telah Fabian tarik hingga ke atas dada. Jemari tangannya pun mulai bergerak mengusap dan memberikan sentuhan pada titik sensitif Khayyara. Membuat gadis itu bergerak menggelinjang tak karuan.


"Bi... akhh... ekmm...."


Khey kembali melenguh saat jemari tangan Fabian telah berpindah meremas salah satu gundukan kenyal miliknya.


"Jangan ditahan sayang." Fabian menarik bibir bawah Khey yang sengaja gadis itu gigit untuk menahan desa hannya dengan mulutnya.


"Gue suka dengernya, terdengar merdu di telinga gue."


Sontak ucapan Fabian membuat Khey tersipu, kedua pipinya pun merona merah. Semerah tomat cerry.


"Akhh... Abi..."


Desah Khey kembali dengan menyebut nama Fabian saat mulut Fabian silih berganti menguasai dua bongkahan kenyal miliknya.


Entah sejak kapan Fabian melepaskan seluruh penutup tubuh atas Khey. Yang pasti suaminya itu telah membuat tubuhnya berada dalam kungkungnnya.


Hingga akhirnya pergulatan panas penuh hasrat menggebu dari pasangan suami isteri remaja itu berlangsung di atas ranjang mereka. Entah berapa kali mereka melakukannya hingga akhirnya Fabian pun mengkhirinya dengan memeluk tubuh polos Khey. Dengan tak lupa memberikan kecupan pada seluruh wajah penuh peluh sang isteri.


"Tidurlah sayang..."


Fabian mengecup kening Khey cukup lama. Menyusupkan wajah lelah Khey ke dalam dada bidangnya. Kemudian mengakhirinya dengan mendekap tubuh polos Khey di bawah selimut mereka.


😍😍😍😍


Untuk hari minggu tidak ada update bab ya, soalnya hari minggu waktu othor habis buat momong bocilπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2