Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA52


__ADS_3

Deg...


Kok dia tahu...


Khey dengan mendongak. Tidak menyangka jika sang kekasih mengetahui isi otaknya.


"Bener kan ucapan gue...?" Doni memandang Khey dengan tersengih.


"Kenapa lo bisa tau..." Khey memelan.


"Kenapa lo gak nyamperin gue dan bertanya kebenarannya..." Doni mengabaikan pertanyaan sang kekasih.


Hek...


Doni tau gue di sana?? Jangan jangan dia juga tau kalau waktu itu gue sama Fabian.... Khey was was.


"Sebagai kekasih, bukankah elo seharusnya lo nyamperin...?! Dengan begitu lo bisa tau kebenarannya, bukan malah ngajakin putus lewat chat... Elo picik Khey..." Doni membuang wajahnya terdengar putus asa.


Iya... ya... kenapa kemaren gue milih pergi.... Khey menyesali keputusannya yang memilih pergi dan memupuk kecurigaan pada sang kekasih.


Ahh... gara gara sama Bian ini... Khey menyalahkan suami tengilnya.


"Elo harusnya nyamperin gue kan Khey..." Doni mengulang pertanyaannya karena tidak kunjung mendapat jawaban dari kekasihnya.


Khey bingung harus memberikan jawaban apa pada sang kekasih.


Di saat dirinya sudah mempersiapkan diri untuk memutuskan hubungannya dengan Doni, sang kekasih itu hadir dengan kondisi yang memprihatinkan. Bagaimana Khey bida tega untuk memutuskannya.


Akankah hati dan mulut Khey mampu mengungkapkan kata kata putus tersebut. Sepertinya Khey tidak akan tega. Akan sangat jahat jika dirinya kekeh meminta putus.


"Maaf... gue bener bener minta maaf..." Khey dengan menggigit bibir bawahnya, rasa bersalah menyelimuti hatinya saat ini.


"Gue terbawa emosi kemarin." Khey melanjutkan ucapannya dengan tersendat.


"Bukankah elo pernah bilang ke gue bahwa jangan pernah mengambil keputusan di saat kita sedang emosi. Apalagi yang berkaitan dengan hubungan kita, terus yang elo lakuin ke gue itu apa..." Doni memandang Khey sejenak lalu memalingkan wajah ke arah lain, pura pura kecewa.


"Maaf Don... gue bener bener minta maaf. Gue emang salah. Please maafin gue ya..." Khey mengikis jaraknya dengan Doni.


"Kalau gue maafin, memangnya lo bakal mengubah keputusan lo..." Doni dengan mendongak, karena posisi mereka adalah Khey berdiri sedangkan Doni duduk.


Khey terlihat berfikir.


"Emm... memangnya siapa cewek itu?" tanya Khey dengan hati hati, mengabaikan pertanyaan sang kekasih.


"Sepupu gue." Doni terdengar meyakinkan.


Khey menunduk menelisik manik mata Doni, sepertinya dia jujur.


Tidak ada kebohongan dari sorot mata itu. Buktinya Khey tidak menemukan pergerakan sama sekali dari manik hitam Doni. Manik itu menatapnya lurus membalas pandangannya kuat.


"Elo gak bohong kan sama gue?"


"Mau bukti? Kalau lo mau gue kenalin sama dia nanti, sepulang sekolah." Doni terdengar menantang.

__ADS_1


Doni sungguh sangat pandai berbohong.


"Enggak... enggak... gue percaya kok sama lo." Khey dengan segera mengibaskan kedua tangannya, luluh.


Dalam hati Doni tersenyum senang karena Khey percaya dengan ucapannya. Untuk membohongi gadis itu sangatlah mudah, apalagi Doni melakukannya berkali kali pada gadis yang telah diberi label sebagai kekasih di sekolahnya.


Catet di sekolahnya. Di luar sekolah, jangan tanya...


Khey mengangguk, tersenyum tipis.


Sungguh Khey tidak tega jika harus meninggalkan Doni saat ini, hatinya goyah.


"Gue tarik ucapan gue, kita gak jadi putus." Khey akhirnya memilih tidak meninggalkan Doni, sosok ketos mostwanted di sekolahnya.


"Yakin?" Doni memperlihatkan wajah seolah tak percaya.


"Yakin." Khey mengangguk mantap. Biarlah dirinya dianggap plin plan.


Yes... Elo gak bakalan menang dari gue Fab.... Doni membatin dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Sepertinya Doni sudah mempersiapkan kebohongannya dengan matang.


Doni sebenarnya tahu jika Khey memergokinya sedang memeluk gadis lain.


Bahkan Doni sempat khawatir jika Khey akan melabraknya hingga berakhir dengan perkelahian antara kedua gadis itu sehingga akan membuat dua orang gadis yang berstatus sebagai kekasihnya itu mengetahui kebusukannya.


Doni belum siap akan hal itu.


Beruntung Fabian yang juga menyadari keberadaannya sehingga memilih mengajak Khey memutar arah kembali.


Doni harus berterima kasih pada sahabat... bukan, bukan sahabat melainkan adalah mantan sahabat lebih tepatnya.


"Sekarang elo ceritakan sama gue yang sebenarnya terjadi." Khey dengan mendudukkan diri di samping Doni.


"Mulai dari?"


"Bagaimana elo sama gadis itu, em sepupu lo itu yang berakhir dengan pelukan mungkin..." Khey seakan tidak merasakan sakit, cemburu atau sejenisnya.


Doni menghela nafas panjang.


"Elo cemburu kan..."


"Gak usah dibahas, elo tau jawaban gue..."


"Kenapa lo gak tanya tentang tangan gue lebih dulu yang..." Doni dengan menunjukkan wajah kecewanya.


"Di awal gue udah nanya tapi lo gak jawab kan... lagian membahas itu pasti akan panjang nanti." Khey memberikan alasan asal, karena sesungguhnya dia juga masih penasaran denga gadis yang dikatakan sebagai sepupu oleh sang kekasih.


Meskipun sebenarnya dalah hati Khey sudah tidak memperdulikan status gadis yang dikatakan Fabian sebagai sepupu tersebut, namun sebagai cewek normal Khey tetap saja ingin mendengar penjelasan Doni.


"Dia tiba tiba datang mengadu sama gue kalau dia habis diputusin sama cowoknya." Doni mulai bercerita, tentu saja hanya karangannya saja.


Khey mengernyit.


Datang mengadu, perasaan gue liat cewek itu duduk di tribun penonton dari awal deh... pikir Khey namun dengan segera Khey mengenyahkannya, lebih baik mendengarkan cerita Doni.

__ADS_1


Doni pun mengatakan kalau sepupunya itu nagis nangis setelah diputusin cowoknya dan memintanya bantuannya untuk menemui cowoknya. Dan Doni tidak mungkin tega mengabaikannya.


Doni memang pandai bersilat lidah, dia memanfaatkan kebaikan hati Khey agar gadis itu mempercayai ucapannya.


"Dan kecelakaan gue juga terjadi saat gue nganterin dia pulang." Doni mengakhiri ceritanya.


"Bagaimana dengan dia, sepupu lo..."


"Dia baik baik aja cuma luka ringan."


"Terus kenapa hape lo gak aktif?" Khey menyelidik.


"Hape gue pecah pas kecelakaan itu terjadi. Dan gue baru beli kemaren pas pulang dari rumah sakit." Doni menjelaskan. Tentang hape itu memang kebenarannya karena Doni memng baru membelinya kemaren. Sebenarnya bukan Doni yang membeli, melainkan kekasihnya yang membelikannya.


"Jadi itu alesannya kenapa chat gue gak lo baca." Khey terlihat memahami alurnya.


"Iya... sorry karena gue gakkasih kabar sama lo. Gue gak ingin lo khawatir sama gue." Doni berucap sendu, seolah dirinya benar benar menyediakan perbuatannya.


Padahal selama di rumah sakit, kekasih Doni selalu saja menungguinya. Bagaimana mungkin Doni memberitahukan keadaanya pada Khayyara. Itu jelas tidak mungkin.


"Untuk kedepannya, jangan buru buru mengambil kesimpulan. Cari tahu dulu kebenarannya, biar kejadian seperti ini tidak berulang kembali." Doni dengan menggenggam telapak tangan Khey erat.


Khey mengangguk dengan tersenyum.


"Boleh gue peluk lo?" Doni meminta. "Setidaknya buat mengobati kerinduan gue sama lo."


"Ini di sekolah Don..."


"Cuma peluk doang, bentar aja... gue kangen banget sama lo yang..." Doni membujuk.


"Baiklah." Khey merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Doni, karena Khey merasa saat ini tidak ada seorang pun di sana yang memperhatikan keduanya.


Doni tersenyum smirk.


Mengacungkan ibu jari ke bawahπŸ‘Ž dari balik punggung Khey pada Fabian yang berdiri


tak jauh di sana.


Posisi Khey yang membelakangi Fabian membuatnya tidak menyadari keberadaan Fabian di sana.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀

__ADS_1


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2