Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA14


__ADS_3

Hek ...


Seketika wajah Khey pias saat merasakan tangan kekar melingkar pada perut ratanya.


Tuhan tolong jangan sekarang!


"Papa ...!!" spontan Khey berteriak kaget saat mendapati tangan kekar Fabian memeluk perut ratanya, erat. Bahkan dagu Fabian dengan santai menumpu pada salah satu bahu Khey.


"Haish ... gak sabar banget sih panggil gue papa. Kita bikin dulu Khey, baru ntar kalau udah jadi lo bisa apply tu panggilan papa ke gue." Fabian berucap dengan mengendus sela leher dan bahu isterinya.


Khey mencebik kesal.


Siapa juga yang gak sabar, elo kali bukan gue. Khey mengucap kata dalam hatinya. Kesal?!! pakek banget!!!


Seerrr ...


Khey merinding saat deru nafas hangat Fabian menerpa sisi lehernya, bahkan hidung mancung si tengil itu pun seakan menusuk ceruk bahunya. Ingin rasanya menolak sentuhan itu, namun apa daya cowok itu adalah mahramnya sekarang.


Refleks.


Tanpa sadar Khey mengayunkan salah satu kakinya ke belakang dan tanpa sengaja menyepak timun laut Fabian.


Segera Fabian memundurkan tubuh jangkungnya dari tubuh ramping Khey, seraya berseru sembari memegangi timun laut yang tersembunyi di balik celana bahannya. "Auuww ... Khey, masa depan gue!"


Fabian menunduk, meringis.


"Sakit Khey ... lo mau bikin cebong gue gak berguna?!" ucap Fabian serak serta menahan sakit.


Cebong ... apaan itu?? Bukane itu telur katak ya?? Ah sebodo amatlah ... Khey berucap dalam hati bingung dan segera berbalik badan menghadap Fabian.


Khey tidak menyangka akan tindakannya, mengenai sesuatu yang sekarang terlihat dibekap oleh Fabian tengil.


"Sorry ... sorry ... gue gak sengaja!!" Khey kebingungan saat melihat wajah Fabian yang memerah, terlihat menahan sakit.


"Lo mau masa tua kita tanpa anak cucu!" Fabian berucap kesal masih dengan menahan sakitnya.


Jangan tanya gimana wajah Khey sekarang.


Wajahnya panik, bingung serta takut jika tendangannya yang tidak sengaja itu benar - benar akan membuat sumber kehidupan masa depan Fabian dengan dirinya tanpa keturunan nantinya.


Hah ... masa depannya dengan Fabian?! Beneran Fabian masa depan lo Khey ... bukan DoniπŸ˜‚


"Makanya jadi cowok jangan kegatelan maen peluk sembarangan, gue kan kaget. Jadi gini kan ... gimana masih sakit?" Khey bertanya khawatir, menyingkirkan sejenak rasa kesalnya.


"Ya iyalah ... sakit banget tau. Lo gak bakal kuat nahan rasanya." Fabian masih terlihat kesal.


"Baru juga beberapa menit kita nikah, elo udah KDRT sama gue. Gue laporin ntar ke kommas perlindungan rumah tangga." Fabian berucap dengan bibir mengerucut.


Hah ... tempat apa lagi itu? Khey bertanya dalam hati dengan kedua alis mata bertaut.


"Emang ada komnas perlindungan rumah tangga?!" Khey bertanya bingung.


"Ada ... entar gue yang bikin." Fabian tengil berucap dengan ketus, seolah benar - benar marah karena Khey telah menyepak timun lautnya lumayan keras.


Dia yang bikin katanya, dasar cowok tengil bin mesum aneh!


"Masih sakit Bi?" tanya Khey terdengar khawatir, bagaimanapun Fabian adalah suaminya sekarang, tidak mungkin ia mengabaikan begitu saja meskipun tidak ada rasa dalam hatinya.


"Jelaslah ... lo kek ngajak main bola aja, nendang gak kira - kira. Harusnya kalau mau main bola sama gue, lo jadi penjaga gawang aja biar gue yang nendang bolanya ke gawang."

__ADS_1


Mendengar ucapan Fabian yang terus saja mengarah pada adegan malam pertama membuat mood Khey meluncur turun dengan cepat.


Raut wajah Khey yang semula benar - benar khawatir dengan cepat berubah merah padam memendam amarah.


Bagaimana cowok tengil yang telah bergelar suaminya itu selalu saja berfikir mesum, bahkan di saat masa depan timun lautnya membutuhkan pertolongan P3K.


Sabar Khey sabar ... orang sabar di sayang Tuhan. Gumam Khey dalam hati.


Khey menegakkan tubuhnya dengan bersidekap dada. "Lo pura - pura kesakitan kan Bi? Sebenernya kaki gue gak kena itu lo kan?!" ucap Khey ketus dengan arah pandangan mata menunjuk tangan Fabian yang masih berada di atas timun lautnya dan membekapnya.


Fabian yang semula menunduk menutupi depan celana bahan yang dipakainya untuk melaksanakan ijab kobul tadi siang, mendongakkan kepala dengan cepat.


"Lo nuduh gue main - main Khey? tega lo, padahal ini beneran sakit!" Ketus Fabian dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Sepertinya memang benar sakit.


Khey yang menyadari hal itu, seketika merasa bersalah karena telah berfikiran buruk pada Fabian.


Bagaimana ini!


Bagaimana kalau cowok tengil itu nanti mengadu pada kedua orang tuanya, terus orang tuanya enggak terima lalu ... Khey menggelengkan kepalanya berulang.


Tidak itu tidak boleh terjadi, semua pasti bakal nyalahin gue. Dan gue bakal ... *h*iiiii ... Khey bergidik nyeri membayangkan hal buruk bakal menimpanya.


"Sini gue bantuin Bi ..." Khey meraih salah satu tangan Fabian yang memegang pinggiran meja untuk membantunya beranjak.


Fabian menepis tangan Khey sedikit kasar. " Gak usah bantu kalau gak ikhlas."


Fabian sok jual mahal.


"Gue ikhlas kok Bi." sahut Khey berusaha selembut mungkin. Khey tidak mau apa yang dibayangkannya tadi benar - benar akan menimpanya.


"Gue bantuin jalan ya?" Khey berusaha meraih salah satu tangan Fabian yang terbebas dari menangkup celana bahannya.


"Gak usah!" Lagi Fabian menolak. "Entar ketendang lagi, bisa hancur sumber penghidupan gue. Ini aja masih berdenyut."


Alhasil ucapan Khey membuat Fabian mengeram layaknya singa yang siap menerkam mangsanya.


"Yang ngerasain sakitnya itu gue! Elo mah enak ... bisa bebas dari medan tempur malam ini."


"Maksud elo apaan sih Bi, ngomongin medan tempur segala ... emangnya kita ada di zaman penjajahan." Khey tidak mengerti arah pembicaraan Fabian.


"Bebas dari serangan pejuang malam pertama lah, gitu wae gak ngerti!" ketus Fabian.


"Gue gak nyangka ternyata tenaga lo kuat banget ngalahin kuda betina mau beranak." Fabian masih dengan meringis.


"Gue gak sengaja Bi ...." Khey merasa bersalah. Emangnya lo tau kekuatan kuda mau beranak Bi ...?


"Minggir sana ... gue mau ke ranjang." Fabian beranjak dengan pelan dan sedikit membungkuk.


"Mau ngapain?"


"Rebahan lah!" Fabian masih ketus.


"Mandi dulu, lo belum bebersih badan." Khey mengingatkan.


Fabian menghentikan langkah lalu sedikit menoleh pada Khey dengan tatapan yang terlihat sinis. "Gimana gue bisa mandi dengan kondisi seperti ini?"


"Ada bathup, lo bisa mandi sambil berendam. Atau kalau enggak, sambil duduk di closet aja Bi ..."


"Gak mau, masih sakit ini."

__ADS_1


"Entar badan lo gatal Bi ..."


"Enggak Khey!" kembali Fabian menolak.


Namun sesaat kemudian, Fabian mengurungkan langkahnya dan tersenyum nakal. "Kecuali kalau ... elo yang mandiin gue."


Hadewhh ... astaga!!


Sebenarnya cowok tengil bin mesum ini sakit beneran atau cuma pura - pura? Khey membatin seraya menahan nafas. Geram dalam hati berusaha ia tahan agar tidak mematik singa mesum di depannya kembali mengaum.


"Okelah ... sini gue bantuin jalan ke kamar mandi." Khey meraih salah satu tangan Fabian dan menyampirkan ke bahunya untuk membantu memapah cowok jangkung suaminya itu.


Kedua pasang suami isteri remaja itu berjalan ke kamar mandi yang hanya berjarak beberapa langkah tersebut dengan sedikit kesusahan.


"Mau di bath up atau duduk di sini aja?" tanya Khey saat telah mendudukkan tubuh jangkung suaminya di atas closet duduk yang tertutup.


"Asal mandi bareng lo, di manapun oke." Fabian tersenyum dengan mengangkat sudut bibirnya.


"Udah lepas baju lo." perintah Khey dengan tersenyum, meski dalam hati jengkel setengah hidupπŸ˜‚


"Gak bisa, bantuin dong say ...." Fabian manja.


"Yang sakit itu ... itu lo Bi, bukan tangan lo." Khey melirik sekilas pada bagian bawah Fabian dengan menahan rasa malu. Seumur hidup Khey baru kali ini memperdulikan sumber penghidupan seorang cowok meskipun itu tertutupi oleh celana.


"Tapi kan gue juga pengen dimanja, sebelum elo sibuk sama Fabian junior nantinya Khey ...."


Khey mendengus, kesal.


Pengen rasanya Khey menoyor jidat si Fabian tengil agar otaknya berhenti gesrek.


"Ya udah ... gue ambilin jubah mandi dulu ya, biar nanti gak kerepotan kalau udah selesai. Tunggu bentar." Khey menepuk pelan bahu Fabian lalu beranjak keluar dari kamar mandi.


Dengan senyum sinis Khey menutup pintu kamar mandi, lalu ...


Ceklek ... klek ...


Khey mengunci pintu kamar mandi dari luar.


"Khey kok lo kunci gue sih?!" teriak Fabian saat menyadari jika Khey membodohinya.


"Mandi sono sendiri! Lo pikir gue bodoh ... enak aja ngerjain gue!" sahut Khey juga dengan berteriak.


"Khey! Buka!" Fabian kembali berteriak.


"Ogah, buka sendiri kalau lo bisa!" sahut Khey disertai dengan tawa terbahak.


Senang hatinya karena berhasil mengelabui si cowok tengil bin mesum suaminya.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2