Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 139


__ADS_3

"Kamu yakin mau pindah jurusan?" tanya ayah dengan serius.


Fabian mengangguk.


Ayah pun menghela nafas panjang. Memejamkan kedua mata, berfikir sesaat.


"Bukankah IPS itu adalah jurusan yang kamu sukai sedari dulu. Bahkan ayah sudah mengingatkan kamu. Kenapa baru sekarang?" Ayah dengan tatapan penuh selidik.


Fabian menelan ludahnya dengan kesusahan.


Apa yang dikatakan oleh ayahnya, benar adanya.


Dulu kedua orang tuanya sudah memperingatkannya untuk mengambil jurusan sains, namun Fabian menolaknya mentah mentah. Dengan alasan bahwa dirinya tidak menyukai sains. Meskipun kecerdasan Fabian sangat mumpuni, namun bukan berarti dia harus mengambil jurusan sains.


"Abi baru menyadarinya sekarang yah." Fabian menunduk, tidak berani menatap ayahnya. Meski ayahnya bukan orang yang sulit diajak berbicara, namun tetap saja Fabian merasa bersalah.


"Katakan alasanmu dengan jujur." Ayah tetap terdengar tenang, namun itu membuat Fabian semakin sulit untuk mengatakan alasannya.


"Ayah tidak suka lelaki yang plin plan. Kamu tahu itu kan Bi."


Lagi Fabian hanya sanggup mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.


"Lantas kenapa itu bisa berubah sekarang?" Ayah sebenarnya tahu ada sesuatu yang coba ditutupi oleh anak lelaki semata wayangnya.


"Hanya berubah begitu saja yah." Fabian tetap tidak mau jujur.


"Bian."


"Ya yah." Fabian lirih karena tahu ayahnya kecewa padanya saat ini.


"Kamu ingat saat ayah tanya apa keinginan kamu untuk masa depanmu?"


"Masih yah."


"Ayah telah mengajarimu banyak hal, memberikan kamu banyak kesempatan mencoba hal baru dan mengenalkan kamu berbagai macam pengetahuan. Tapi kamu kekeh dengan pilihan yang kamu suka. Dan ayah mendukungmu." Ayah menghentikan sesaat perkataannya.


"Apa kesenangan kamu telah benar benar berubah sekarang?"


Fabian diam tidak menyahut. Ssungguhnya dia juga tidak yakin.


"Ayah tau kamu belum sepenuhnya yakin akan keputusan kamu barusan. Ayah juga tahu alasan kamu untuk pindah jurusan itu juga bukan sepenuhnya keinginan kamu sendiri."


Ayah menghembuskan nafas pendek.


"Pikirkanlah dulu baik baik. Jangan terburu buru. Jika kamu sudah benar benar yakin akan keputusan kamu, ayah akan mengurusnya dengan pihak sekolah." Putus ayah.


"Baiklah yah, terima kasih." pamit Fabian lalu meninggalkan ruang kerja ayahnya.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Bian!"


Fabian menoleh saat mendengar khey berseru memanggil namanya.


Menghentikan langkah seraya tersenyum pada sang isteri yang tengah berlari kecil ke arahnya.


"Darimana aja sih, gue cariin dari tadi jugak." Khey menggelayut pada lengan tangan Fabian.


"Dari ruang kerja ayah." ucap Fabian mengusap pucuk kepala Khey.


"Ngapain?"


"Biasa. Kerjaan." Bohong Fabian.

__ADS_1


"Oh." Khey.


"Ngapain nyariin gue?" Fabian melangkahkan kaki kembali, dengan Khey yang masih menggelayuti lengan tangannya.


"Kangen." Khey asal.


"Nggak percaya gue. Pasti ada alasan lain." Fabian dengan kekeh kecil.


"Ih nggak percaya, beneran kangen jugak."


"Nggak percaya." Fabian.


"Ya udah kalau nggak percaya." Khey melepaskan lengan tangan Fabian, merajuk.


"Eh, ngambek." Fabian menatap punggung Khey yang berjalan meninggalkan dirinya lebih dahulu.


Khey mempercepat langkah kakinya dengan tidak berhenti menggerutu.


Fabian segera menyusul Khey yang berjalan cepat menaiki tangga rumah. Akan tetapi Khey juga semakin mempercepat langkah kakinya seolah menunjukkan pada Fabian, kalau dia sedang marah saat ini.


"Ra..." seru Fabian mengikuti langkah kaki Khey.


Khey tidak menggubris, hingga gadis itu menghilang di balik pintu kamar.


"Sorry yang, gitu aja marah sih." Fabian duduk tepat di hadapan Khey yang sudah terlihat fokus pada buku buku pelajaran di atas mejanya.


Minggu depan adalah ujian semester, untuk itu Khey mempersiapkan diri untuk menyicil belajar.


"Yang." Fabian mendekatkan wajah membujuk sang isteri.


"Nggak usah deket deket." Khey ketus.


"Beneran marah ya?" awalnya Fabian menyangka jika Khey hanya pura pura.


"Hehehe... enggak gitu yang." Fabian menggaruk belakang lehernya yang tetiba terasa gatal.


"Terus. Maksud lo?!" Khey semakin menajamkan kedua matanya.


"Enggak ada maksud, sorry... Dimaafkan ya..." Fabian tersenyum dengan menunjukkan kereta gigi giginya yang putih. Membuat wajah tampan nan tengil itu terlihat mempesona. Dan itu membuat dalam hati Khey berdesir lirih.


"Enggak." Khey memalingkan wajah. Tak mau membuat pertahanannya runtuh, Khey harus menunjukkan bahwa dirinya benar benar marah saat ini.


"Yang... bercanda doang." Fabian membujuk dengan mengikuti arah pandang Khey, mendekatkan wajahnya pada wajah sang isteri.


"Yangg..."


Fiuh...


Fabian denagn meniup wajah Khey.


"Apaan sih, mulut lo bau tau nggak." Khey mendorong wajah Fabian agar menjauh dari wajahnya.


"Masa sih?" Fabian menghembuskan nafas ke tangan seolah membau nafas yang keluar dari mulutnya.


"Enggak bau ah..."Fabian selanjutnya. "Wangi kok."


"Bau juga kan." Khey.


"Wangi yang..." Fabian kembali melakukan gerakan membau nafasnya seperti beberapa saat lalu.


"Iya.. bau juga kan." Lagi Khey tetap mengatakan nafas Fabian bau dengan berusaha menahan senyumnya karena Fabian tidak menyadari arah bicaranya.


"Wangi yang... wangi... aroma mint ini." Fabian kekeh.

__ADS_1


"Iya... wangi itu bau kan, aroma. Gimana sih."


Fabian mengerutkan kening, mencerna ucapan sang isteri.


"Lo ngerjain gue?" Fabian saat menyadari arti ucapan Khey.


"Enggak." Khey menahan tawanya.


"Iya. Lo ngerjain gue. Lo kata nafas gue bau."


"La iya emang bau. Bau wangi." Khey akhirnya terkekeh.


"Hissh... usil." Fabian menyentil pucuk hidung sang isteri.


"Sakit Bi." Khey mengusap pucuk hidungnya.


"Salah sendiri, ngerjain gue."


"Elo yang mulai."


"Kok bisa?" Fabian dengan pandangan tak terima.


"Iyalah. Dibilangin istrinya kangen nggak percaya." Khey dengan bibir mengerucut.


Fabian terkekeh kecil.


"Habisnya gue mencium bau bau maksud tersembunyi tadi."


"Memang. Tapi kangennya kan beneran, bukan bohongan."


"Iya deh iya. Sorry." Fabian tersenyum manis. Mengangsurkan tangan kanannya, mengusap salah satu pipi Khey.


Khey pun memejamkan kedua matanya, menyesapi rasa hangat yang tetiba menjalari seluruh permukaan wajahnya.


"Beneran kangen ya sama sentuhan gue?" Fabian dengan nada menggoda. Ibu jarinya tidak berhenti mengelus pipi Khey.


Blush...


Wajah Khey pun memerah. Apa yang dikatakan Fabian memang benar adanya. Khey pun menundukkan wajah malunya. Meski interaksi mereka sudah semakin intim, namun tetap saja Khey masih merasa malu jika membahasnya.


"Apa sebaiknya kita melakukannya lagi sekarang?" wajah Fabian tetiba sudah berada tepat di depan wajah Khey.


"Bian." Khey tersentak dibuatnya. "Jangan kek gini, ihh..." Khey mendorong wajah Fabian.


"Kita mulai di sini apa di sana?" Fabian melirik tanjung sekilas.


"Bian apaan sih, masih sore ini." Khey menahan wajah Fabian yang kembali maju, mendekati wajah Khey. Terlihat seperti hendak menciumnya.


"Enggak papa, kan kangen." Fabian semakin memajukan wajahnya.


"Enggak... enggak... Gue nggak mau. Tugas gue banyak." Khey mendorong kuat wajah sang suami hingga berhasil membuatnya berjarak.


"Ck... gimana sih yang." Fabian berdecak.


"Bantuin gue belajar dulu, baru minta yang itu." Khey malu malu.


"Janji ya..."


"Iya janji." Khey mengangsurkan jari kelingkingnya pada Fabian.


Fabian pun menyambutnya, menautkan jari kelingking miliknya pada jari kelingking sang isteri.


"Awas aja kalau bohong."

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2