Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA50


__ADS_3

Ceklek.


Bunyi tuas pintu yang ditekan dari luar membuat Khey menarik selimut untuk menutupi hampir seluruh tubuhnya, hingga menyisakan setengah wajahnya.


Derap langkah terdengar memasuki kamar, namun


Khey dapat menebak jika derap langkah itu adalah milik suaminya yaitu Fabian tengil.


Posisi Khey yang tidur membelakangi pintu membuat gadis itu haya bisa menebak saja tanpa dapat melihat sosok tubuhnya.


Cih... katanya mau cepet pulang... dasar omong doang... Khey mengumpat dalam hati kesal.


Khey tahu saat ini sudah larut malam karena dirinya baru saja melihat jam pada dinding kamar sesaat sebelum pintu kamarnya dibuka dari luar oleh Fabian.


Sesungguhnya Khey menunggu kepulangan Fabian, berharap lelaki tengil bergelar suaminya itu menepati janjinya untuk pulang cepat.


Namun nyatanya hingga jam menunjukkan pukul 11.30 malam sosok itu belum menampakkan batang hidungnya. Hingga Khey pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya pada ranjang. Dan baru saja beberapa saat setelah merebahkan diri, Khey mendengar tekanan pada tuas pintu kamar.


Sebenarnya dalam lubuk hatinya Khey ingin menelfon Fabian, namun diurungkannya karena gengsi dan egonya yang tidak mengizinkannya untuk melakukan hal tersebut.


Beberapa saat kemudian terdengar bunyi gemricik air dari dalam kamar mandi, sepertinya Fabian sedang membersihkan tubuhnya. Mandi mungkin.


Khey dengan hati hati menurunkan sedikit selimut tebal yang menghalangi pandangan matanya. Kemudian menoleh ke belakang, tepatnya pada pintu kamar mandi miliknya.


Pintu itu tertutup rapat, dengan bunyi air yang bergemericik dari dalam sana. Suara itu terdengar sangat jelas karena kondisi saat ini sudah larut malam. Dan lagi sepertinya suami tengilnya itu memilih mandi di bawah guyuran shower daripada di dalam bath up.


Khey berfikir haruskah dirinya bangun dan menyapa suami tengilnya...? Ah tidak..... Khey dengan menggelengkan kepala nya berulang.


Kalau gue bangun terus menyapanya, dia pasti gak tahu kalau penolakannya sore tadi bikin gue marah...


Gue tetep pura pura udah tidur aja... dan mulai besok jangan harap gue bakalan ngomong sama dia. Dia pikir gue gak bisa marah apa... gue bakalan mengabaikan elo Bi... dasar cowok gak peka!!! Khey dalam hati.


Khey buru buru memiringkan tubuhnya kembali lalu menarik selimut tebalnya ke posisi semula saat tidak mendengar suara dari dalam kamar mandi. Khey tidak ingin suami tengilnya itu memergoki kebohongannya yang pura pura tidur.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka lalu diikuti dengan langkah kaki yang semakin mendekat. Khey memincingkan mata, berusaha mengintip keberadaan sosok suami tengilnya.


Fabian berjalan mendekati almari baju. Saat tepat berada di depan almari, tangan Fabian terulur membuka pintu almari baju lalu terlihat memilih baju yang akan dipakainya.


Bola matanya melebar saat mendapati tubuh Fabian dengan handuk yang menutupi setengah tubuhnya berdiri di depan almari baju.


Beruntung Fabian tidak menyalakan saklar lampu kamar saat dia memasuki kamar beberapa saat lalu, sehingga kondisi kamar hanya remang remang karena lampu tidur yang menyala.


Khey membekap mulutnya saat sosok tengil itu dengan santai meluruhkan handuk yang membalut tubuhnya dan menggantinya dengan celana pendek rumahan, lalu memakaikan kaos pada tubuh bagian atasnya.


Beruntung Fabian tidak menyadari akan hal itu, karena suasana yang remang dan mungkin dia mengira jika Khey telah tidur nyenyak.


Meskipun ternyata Fabian telah memakai penutup inti tubuh bawahnya sebelum melepaskan handuk dari tubuhnya, namun tetap saja Khey merasa terkejut dan malu mendapati kelakuan Fabian yang mengekspos tubuhnya.

__ADS_1


Walau Khey hanya melihat dari belakang namun tetap saja Khey belum pernah mendapati pemandangan langsung seperti itu.


Jika saja posisi Fabian menghadap pada dirinya pasti Khey akan langsung melonjak dari ranjangnya. Dan menyeruduk tubuh jangkung yang telah menodai mata perawannya.


Perlahan tubuh jangkung itu membungkuk, meraih handuk mandi yang teronggok di lantai kemudian melangkahkan kaki sembari mengusap rambut basahnya dengan handuk di tangan.


Khey kembali memejamkan kedua bola matanya.


Tap... tap... tap...


Kenapa langkah kaki itu terdengar semakin mendekat padanya... Khey membatin dengan was was, masih dengan mata yang terpejam, dadanya pun herdetak kencang.


Ces...


Telapak tangan dingin Fabian terasa membelai pipi Khey, kemudian menyibak helaian surai hitam yang sedikit menutupi wajah Khey. Karena Khey memang menggerai rambut hitamnya saat tidur.


Khey mengeratkan telapak tangannya di balik selimut. Ngapain pakek deketin gue segala sih... gimana kalau dia tau gue belum tidur....


Sedetik kemudian Khey merasakan sebuah gerakan, sepertinya Fabian tengil beranjak pergi dari hadapannya.


Khey meraup oksigen banyak banyak.


Huh... Khey merasa lega setelah melewati suasana yang membuatnya harus menahan nafas panjang.


Khey kembali memejamkan mata saat mendengar langkah kaki mendekati ranjangnya dari belakang, pura pura tidur.


Khey mempererat matanya yang terpejam saat merasakan sisi ranjang di belakang tubuhnya berayun. Sepertinya Fabian mulai menaiki ranjang tidur mereka.


Hek.


Tubuh Khey menegang saat perutnya terasa berat akibat tangan Fabian yang melingkar memeluknya dari belakang.


Apa apaan ini... setelah dia mengabaikan gue sore tadi, sekarang seenaknya saja peluk peluk tubuh gue... Khey mengeram.


Namun Khey tidak dapat berbuat apa apa karena sejak awal dirinya telah berpura pura tidur. Hanya mampu diam dan menahan degub jantungnya agar tidak berdegup makin kencang.


Sungguh Khey berharap Fabian tidak menyadari jika dirinya belum tidur.


Fabian semakin mengikis jarak tubuhnya dengan Khey, wajahnya menyusup pada belakang leher Khey dengan sedikit menyibak surai hitam sang isteri.


"Sorry... kalau gue tadi gak nemenin lo pulang, gue juga gak bisa tepatin janji gue buat pulang cepet." Fabian berucap kata dengan menghembuskan nafas hangat yang membuat tubuh Khey meremang.


"Elo pasti marah banget sama gue..." Fabian dengan menopang kepalanya dengan lengan tangan kanannya, karena tangan kirinya masih melingkar di atas perut Khayyara.


Perlahan Fabian menarik tangan kirinya kemudian beralih menyusupkan helaian rambut ke belakang telinga Khey.


"Ra... elo maafin gue kan?!" Fabian dengan mendekatkan bibirnya ke telinga khey berbisik.

__ADS_1


Heh...


Fabian menghela nafas pelan saat merasa Khey tidak menjawab pernyataannya.


Ternyata Fabian sebenarnya tahu jika gadis di depannya itu belum tidur.


Bagaimana Fabian tidak tahu jika saat mendekati dan berjongkok di hadapan Khey beberapa saat lalu, Fabian merasakan dentuman jantung Khey yang terdengar seperti tabuhan genderang.


Bahkan saat Fabian melingkarkan tangannya, memeluk tubuh ramping Khey Fabian merasakan reaksi tubuh Khey yang menegang. Fabian bukan orang bodoh yang tidak bisa mengartikan reaksi tersebut.


Fabian merasa bersalah karena sepertinya isteri barbarnya itu menunggu kepulangannya.


"Ra... Ara... elo maafin gue kan yang..." Fabian dengan menyusupkan wajahnya di bawah telinga sang isteri dan tangan yang kembali memeluk perut Khayyara.


Hening.... tidak ada jawaban dari pemilik tubuh yang berada di dekapan Fabian.


Seandainya saja Khey tidak berpura pura tidur, pasti dirinya akan berbalik badan, mengangguk mengiyakan pernyataan suami tengilnya dan ikut memeluk erat tubuh jangkung tersebut.


Karena sesungguhnya pernyataan maaf Fabian telah membuat hatinya menghangat, menghilangkan amarah dan rasa kesal yang sempat menyelimuti hatinya.


Andaikan saja aku tidak berpura pura tidur.... sesal Khey dalam hati.


Fabian menarik tangannya dari tubuh isterinya, menjauhkan tubuhnya lalu memutuskan turun dari ranjang.


Sepertinya percuma mengajak bicara gadis yang telah menjadi isterinya tersebut, Fabian memilih memberikan sedikit ruang untuk Khey menata hatinya.


Fabian berjalan menuju meja belajar milik Khey, menyalakan lampu belajar dan duduk di sana. Kemudian meraih laptop miliknya dan menyalakannya.


Fabian memilih menyelesaikan pekerjaannya yang beberapa hari terakhir tidak sempat dikerjakan olehnya.


"Ah... sepertinya gue bakal begadang sampek pagi." gumam Fabian saat menatap banyaknya data dalam layar laptop yang harus diceknya satu persatu.


Di sisi lain, Khey kembali mengesah kesal karena ternyata Fabian memilih mengabaikannya.


Dasar cowok payah... gitu aja nyerah, batin Khey mengeram.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2