
"Bb_bian... ngapain lo di situ?" Khey dengan wajah tersentak kaget.
"Lagi liatin isteri gue pacaran." Fabian datar namun dengan pandangan mata yang sulit diartikan.
"El_llo...udah lama di situ?" Khey dengan wajah tergagap, takut jika Fabian melihat interaksinya dengan Doni sejak awal. Bagaimanapun Fabian adalah suami sahnya, tidak mungkin jika Khey tidak merasa gugup saat ini. Apalagi dengan jelas Fabian mengatakan jika dia melihatnya pacaran.
"Menurut lo?" Fabian berjalan santai memperpendek jaraknya dengan Khey.
"Mann_na gue tau, orang gue baru liat ello..." Khey semakin gugup, tubuhnya sedikit bergetar saat ini.
"Iya sih... mana mungkin lo ngeh sama kehadiran gue, orang lagi asyik pacaran."
Hek.
Khey merasa tenggorokannya seketika mengering. Tubuhnya pun terlihat menegang.
"Nggak usah tegang gitu, orang cinta itu kan memang buta... wajarlah elo nggak bisa liat gue." Fabian datar namun tetap saja tatapan matanya membuat Khey tidak bisa berkutik.
"Bian ggue..."
Belum selesai Khey mengucap kata, Fabian terlihat melambaikan tangan ke atas dengan berseru memanggil sahabatnya.
"Rell... Sini lo!!"
Farrell yang memang sedang berjalan ke arah Fabian dan Khey berada, semakin mempercepat langkahnya.
"Ngapain?" tanya Farrell setelah berhasil mendekat.
"Mana kunci mobil lo.." Fabian dengan menengadahkan tangan kanannya.
"Ck... bau bau perampokan ini..." Farrell tetap dengan merogoh saku celananya.
"Tenang aja, ada imbalannya."
"Heleh... palingan makasih doang." Farrell mencebik sembari menyerahkan kunci mobilnya pada tangan Fabian yang terbuka.
"Apalagi kalau udah berduaan, lo pasti lupain gue." Farrell melirik sekilas pada Khey yang nampak gugup, bahkan Khey terlihat memilih menunduk dengan kedua tangan bertaut dan memilin pegangan paper bag berwarna coklat yang dipegangnya. Entah apa yang terjadi pada gadis itu sebelum dirinya datang.
"Kali ini enggak." Fabian tersenyum smirk. Berganti menyerahkan kunci motornya pada Farrell.
"Bensin penuh nggak?" Farrell menerima kunci motor dari Fabian.
__ADS_1
"Full tank bro."
"Awas aja lo bohongin gue." Farrell dengan membalik tubuhnya hendak meninggalkan pasangan suami isteri remaja tersebut.
"Bentar Rell.."
Farrell pun mengurungkan langkahnya. "Apa lagi?"
"Bonus buat lo." Fabian dengan cepat merampas paper bag berisi coklat pemberian Doni dari tangan Khey lalu menyerahkannya pada Farrell. Membuat kepala Khey mendongak dengan kedua mata yang melebar. Ingin rasanya Khey merampas kembali paper bag tersebut dari tangan Farrell, namun sayang tangannya dipegang kuat oleh Fabian. Seolah mengisyaratkan bahwa Khey harus merelakan coklat pemberian Doni tersebut jatuh ke tangan Farrell.
Mulut Khey pun tak mampu berucap menolak atau melarang Fabian tengil. Hanya berkomat kamit merutuki tindakan Fabian.
"Apaan nih?" Farrell menerima pemberian Fabian dengan mengacungkan paper bag berwarna coklat tersebut.
"Udah terima aja. Bisa lo pakek buat umpan nyari cewek. Biar ntar cewek yang antri buat jadi pacar lo mengular kek antrian sembako gratis..." Fabian meledek.
Farrell menatap Fabian dengan mengerutkan kening. "Maksud lo apaan Fab? Lo kasih gue minyak nyongnyong buat melet cewek?"
"Bukan..."
"Apaan kalau gitu?"
"Elo Cek sendiri saja... Yang jelas bisa bikin cewek jadi bucin." Fabian terdengar menyindir Khey.
Farrell melongok, mengintip paper bag pemberian Fabian.
"Wow... coklat...." Farrell dengan mata berbinar.
"Yakin nih buat gue semua?" Farrell memandang Fabian dan Khey silih berganti.
"Yakin." Fabian menyahut mantap.
"Elo nggak Khey?" Farrell dengan memandang Khey serta mengacungkan dua batang coklat ke hadapannya. Hal itu dilakukan Farrell karena dia tadi sempat melihat jika Khey yang memegangi paper bag tersebut.
"Buat lo semua itu, kalau lo kasih bini gue, ntar yang ada dia nempel terus sama yang ngasih itu." Fabian menunjuk paper bag di tangan Farrell dengan dagunya tanpa memberi kesempatan Khey untuk menyahut.
Alhasil ucapan Fabian membuat Khey melotot kesal pada Fabian, sedangkan Farrell memandang Fabian dengan wajah cengonya.
"Dah pulang sono, jagain apem gue jangan sampek lecet..." Fabian mengusir Farrell sembari menarik tangan Khey untuk beranjak dari sana.
"Ok tanks bro!" teriak Farrell yang hanya dibalas Fabian dengan menautkan ibu jari dan telunjuknya dengan berjalan memunggunginya.
__ADS_1
πππ
"Bi... itu coklat kan punya gue, ngapain lo kasih ke Farrell sih." Khey dengan memberengut kesal setelah memasuki mobil milik Farrell.
"Cuma coklat doang, entar gue ganti." Fabian santai dengan memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Ck... sayang kan... lagian ngapain sih ngasihnya semua nggak sebagian aja. Gue kan juga pengen." Khey masih saja menyayangkan tindakan Fabian yang menyerahkan seluruh coklat pemberian Doni kepada Farrell.
Apalagi coklat pemberian Doni adalah coklat mahal yang pastinya bakalan lumer di mulut saat memakannya. Bahkan Khey sempat membayangkan betapa nikmatnya menikmati batangan coklat tersebut sembari duduk santai setelah seharian menjalani aktivitas sekolahnya yang cukup padat dan melelahkan.
Tidak ada sahutan dari Fabian, cowok bertubuh jangkung tersebut hanya diam menatap lurus, fokus pada jalanan di depannya.
Khey yang mendapati sikap cuek Fabian yang tidak menanggapi ucapannya pun mendengus kesal. Membuat Khey memalingkan wajahnya ke luar jendela, menyandarkan punggung pada jok mobil dengan bersidekap dada.
"Dasar pemaksa, semaunya, jahat, jelek, nggak punya ati..." Khye menggerutu lirih.
Rasa kesal membuatnya mengumpat pada Fabian dan enggan berinteraksi dengan cowok bergelar suaminya itu.
"Gue denger Ra..." Fabian dengan tetap fokus pada jalanan aspal di depannya.
"Syukur kalau denger, biar tau." Khey ketus tanpa mengalihkan pandangan dari jendela mobil yang menampakkan jejeran gedung yang terlihat seakan bergerak berlawanan arah dengan mobil yang dikendarainya.
Fabian hanya menghirup oksigen dalam, memilih memacu kendaraan dengan menambah kecepatan lebih tinggi.
Beberapa saat berkendaraan Fabian membelokkan mobil milik Farrell dan menghentikannya pada sebuah kedai coklat yang cukup terkenal di Jogjakarta. Namun Khey tidak menyadarinya karena otak dan pikirannya masih disibukkan dengan kekesalannya pada Fabian tengil.
"Turun gih..." Fabian membuka pintu sisi penumpang setelah dirinya turun terlebih dahulu.
Khey yang masih jengkel oleh tindakan Fabian yang semaunya terlihat enggan.
Fabian pun segera menarik tangan Khey kuat, agar gadis itu turun dari mobil.
Fabian akhirnya dapat menggandeng tangan Khey memasuki kedai coklat setelah beberapa saat lalu sempat mendapat penolakan dari Khey.
Khey melebarkan kedua matanya berbinar saat di dalam kedai mendapati hamparan coklat dengan berbagai bentuk dan rasa.
"Kalem aja nggak usah lebay gitu, entar kalau bola mata lo loncat keluar jadi repot." Fabian dengan tersenyum senang saat melihat reaksi Khey yang terlihat sangat senang.
"Ck.... enggak segitunya juga mata gue bisa locat." Khey mencebik sembari menormalkan ekspresi wajahnya.
"Nih pilih yang elo suka." Fabian memberikan ke ranjang kecil sebagai tempat untuk Khey memilih coklat keinginannya.
__ADS_1
βπ»βπ»βπ»βπ»