
Khey merapatkan bibir bagian bawahnya dengan langkah kaki yang bergerak mondar mandir di dalam kamar.
Setelah kejadian siang tadi di rumah sakit saat melihat Fabian ditampar seorang lelaki paruh baya yang menyebut dirinya sebagi papa seorang gadis bernama Bella, Khey memilih segera pulang.
Dadanya terasa sangat sesak saat mendengar Bella, gadis itu tengah hamil dan Fabian sebagai sebagai pelaku yang menghamili gadis itu.
Sekuat hati Khey menahan air mata jatuh dari kedua matanya yang merah memanas. Hingga akhirnya Khey tak kuasa menahannya sampai saat tiba di kediaman sang mertua.
Dengan gegas Khey memasuki kamar untuk menumpahkan tangis yang telah ditahannya sepanjang jalan. Beruntung saat pulang Khey tidak bertemu dengan orang rumah.
Hingga kini wajah Khey masih terlihat sembab dengan hidung yang masih tampak merah.
Khey menggeleng dengan sedikit khawatir mengingat akan masa depan rumah tangganya yang masih seumur jagung.
Otak dan hatinya berperang untuk mempercayai dan membantah tuduhan lelaki yang menyebut dirinya sebagai papa Bella pada Fabian.
Akankah di usia remajanya Khey harus menyandang status janda? Atau mungkin saja Fabian akan memintanya untuk berpoligami? Tanya itu tidak berhenti memutari tempurung kepala Khey.
Namun tindakan Fabian yang terlihat pasrah dan menerima perlakuan papa Bella membuat Khey menduga kuat bahwa yang dituduhkan pada sang suami benar adanya. Dada Khey pun kembali bergemuruh saat masa depan rumah tangganya dipertaruhkan.
Ceklek
Khey bergegas menaiki ranjang dan merapatkan selimut saat mendengar pintu kamarnya dibuka dari luar.
Khey berbaring menutup mata dengan posisi membelakangi pintu.
Jantung Khey berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar langkah kaki mendekati ranjang.
Khey makin mengeratkan kedua mata, berharap Fabian mengabaikannnya karena dirinya tidur.
Khey belum siap atau mungkin tak akan pernah untuk bertemu Fabian. Apalagi jika Fabian akan mengucapkan kata talak untuknya atau mungkin saja memintanya untuk berbagi hati. Khey sungguh mendengar kata kata itu. Khey tak sanggup membayangkan nasib rumah tangganya nanti.
Mendapati sang mama berselingkuh sudah membuat separuh jiwamya mati, apalagi nanti jika pada kenyataannya Fabian melakukan hal yang sama pada dirinya.
Ya Tuhan... apakah ini karma untukku karena memiliki mama yang telah merusak rumah tangga orang lain... jerit hati Khey dengan s4makin mengeratkan tangan pada selimut tebalnya.
"Ra."
Khey menahan nafas saat merasakan tangan Fabian menyentuh bahunya.
"Nggak usah pura pura tidur." Seketika kedua mata membuka saat suara itu terucap dari bibir Fabian.
"Gue tau lo baru aja masuk kamar." Fabian mendudukkan bobot tubuhnya di belakang tubuh Khey.
__ADS_1
Mau tak mau Khey pun bergerak menyibak selimut yang hampir menutupi kepalanya. Kemudian duduk menyandar pada kepala ranjang tanpa mau memandang wajah Fabian.
Hal itu mengundang kerut heran pada kening Fabian.
"Lo nggak mau lihat gue?"
Fabian memang tidak berniat menyembunyikan wajah lebamnya dari sang isteri. Karena Fabian yakin dirinya tidak bisa menghapus wajah lebamnya hingga beberapa hari ke depan.
Fabian telah menyiapkan diri untuk menceritakan kejadian yang telah ia lewati siang tadi. Fabian yakin Khey akan memberondongnya dengan banyak pertanyaan mengenai warna keunguan yang menghiasi wajahnya.
Namun ternyata reaksi Khey tidak seperti yang Fabian duga.
Khey memilih menunduk, menghindari wajahnya.
Karena merasa sikap Khey aneh, bahkan tidak menjawab pertanyaan yang Fabian ajukan, tangan Fabian meraih dagu Khey membawanya menatap wajahnya. Fabian tak sabar untuk melihat reaksi Khey yang terkejut melihat wajahnya.
Glek...
Tak disangka justru Fabianlah yang saat ini terkejut melihat wajah Khey yang sembab disertai dengan pucuk hidung yang tampak merah.
"Elloo sakit?" Fabian menempatkan punggung tangan pada kening Khey.
Namun gadis itu segera menepisnya kasar dan membuang pandangan kembali.
Mau tak mau ingatan Khey kembali melayang pada peristiwa siang tadi. Rasa sesak kembali menyusup dalam dadanya.
"Terus kenapa? Lo habis nangis? Ada masalah?" tanya Fabian dengan nada khawatir.
Lo yang punya masalah bukan gue, dan gue nangis karena masalah lo itu... ucap Khey tentu saja hanya di dalam hati saja.
"Sayang..." Fabian dengan membawa wajah Khey kembali menghadapnya.
Meski awalnya Khey menolak namun kekuatan tangan cowok bergelar suaminya itu sangatlah kuat.
Mau tak mau wajah Khey pun kembali berhadapan dengan Fabian. Membuat pandangan mata keduanya saling bertemu.
"Kapan lo nikahin cewek itu?" pertanyaan yang meluncur dari mulut Khey secara tiba tiba itu membuat kening Fabian mengerut.
"Maksud lo?" Fabian dengan mencoba menerka pertanyaan Khey. Sungguh otaknya tidak mampu mencerna dengan baik ucapan Khey saat ini.
"Tadi siang... gue liat lo saat lo mendapatkan luka ini." Khey dengan menyentuh sudut bibir Fabian yang masih terlihat bengkak.
Fabian tercenung sesaat.
__ADS_1
Kalau Ara lihat itu berarti....
Brugh.
Fabian memabwa tubuh Khey ke dalam dekapannya. Kedua tangan Fabian memeluk erat tubuh sang isteri.
Sekarang Fabian tahu alasan kenapa wajah Khey terlihat sembab habis menangis. Gadia itu pasti slah sangka kepadanya.
"Bi..." Khey menggerakkan tubuh berusaha melepaskan diri.
Namun Fabian semakin mengeratkan kedua tangannya, hingga Khey pun akhirnya pasrah. Meski Khey tidak membalas memeluk tubuh Fabian. Hatinya masih terasa sakit karena menyangka Fabian telah mengkhianatinya.
"Apa yang lo denger itu nggak semuanya bener yang."
"Maksud lo?" Khey mendongak.
"Bella memang hamil. Tapi...."
Belum selesai Fabian mengucap kata, air mata jatuh membasahi kedua pipi Khey kembali.
Fabian melonggarkan dekapannya pada tubuh Khey seraya tersenyum.
"Elo seneng kan bakal punya dua isteri." Khey dengan serak.
"Siapa yang bilang gitu?" Fabian terkekeh kecil seraya menghapus wajah basah Khey dengan kedua tangannya.
"Buktinya lo tersenyum gitu. Elo jahat. Elo udah nyakitin gue. Elo khianati pernikahan kita Bi." Khey memukul dada bidang Fabian dengan terisak.
Ssssttttt....
"Dengerin penjelasan gue dulu yang..." Fabian dengan menahan kedua tangan Khey yang tidak berhenti memukul dada bidangnya.
"Gak ada yang perlu dijelasin, semuanya udah jelas." Khey berusaha melepaskan kedua tangannya.
Fabian kembali mendekap tubuh Khey dengan mengunci kedua tangan Khey di belakang tubuhnya karena gadis itu tidak berhenti memberontak. Hingga akhirnya Khey pun berhenti dengan srndirinya karena kelelahan. Bagaimanapun kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Fabian.
"Bella memang hamil, tapi bukan gue yang bikin dia hamil yang." Fabian dengan menatap lekat wajah sang isteri.
Kedua manik hitam Khey tak berhenti bergerak untuk mencari kejujuran pada ucapan sang suami. Dan Khey tak menemukan sedikitpun kebohongan pada mata Fabian.
"Terus siapa yang melakukannya?" Khey.
ππππ
__ADS_1