
"Bagaimana dengan Doni?" tanya Farell lirih seakan takut menyinggung perasaan sahabatnya tersebut.
Tak ayal pertanyaan tersebut membuat Fabian harus menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Gue kasih waktu buat dia menyelesaikan hubungannya dengan Doni." Fabian lirih.
"Elo paksa dia buat memilih?"
Fabian mengangguk.
"Gue jahat gak sih... di sini kan gue pebinornya." Fabian seolah menyadari jika dirinyalah yang hadir dalam hubungan Doni dan Khey meskipun statusnya lebih sah dan kuat.
Kali Farell yang harus menghembuskan nafas kuat.
"Elo gak salah Bi... hubungan lo sama Khey lebih sah, anggap saja ini takdir Tuhan buat lo jalanin. Hanya saja mungkin elo harus punya stok sabar yang cukup untuk menghadapi semunya ke depan." Farell bukannya membela Fabian karena dia adalah sahabatnya, hanya saja jika kita mengembalikan sebuah permasalahan kepada Sang Pencipta maka jati dan pikiran akan lebih menerima, menurutnya.
"Thanks bro..." Fabian dengan membingkai senyum pada wajahnya.
Beberapa saat setelahnya keduanya pun terdiam, Fabian kembali dengan menatap layar ponselnya karena Farell telah mengembalikannya. Sedangkan Farell kembali menikmati popmi kuahnya yang sudah mulai mendingin.
"Bro..." Farell menyenggol lengan Fabian dengan sikunya.
"Apa..." Fabian masih dengan fokus pada ponsel pintarnya.
"Elo gal cemburu?" Farell masih dengan tidak berhenti menyenggol lengan Fabian.
"Cemburu sama siapa?" Fabian menoleh ke arah Farell yang menatap lurus jauh ke depan.
"Tuh...liat dewe..." Farell menunjuk ke depan dengan dagunya.
Set,
Fabian pun mengikuti arah pandangan Farell.
Deg,
Ada degupan kencang yang tidak bisa dihindari di dalam dada Fabian saat kedua manik matanya menangkap sosok Khey yang pergelangan tangannya ditarik oleh Doni.
Sepertinya keduanya bertemu dengan tanpa sengaja. Sejatinya pemandangan itu lumrah terjadi karena mereka berdua dikenal sebagai pasangan di sekolah ini, hanya saja bagi Fabian ada rasa sedikit tidak rela jika melihat hal itu karena Khey adalah isterinya.
Sejenak Fabian melupakan games pada ponselnya. Kedua matanya memandang intens pada interaksi Khey dengan Doni sang ketua osis. Tidak ada hal aneh terjadi, keduanya terlihat berbincang. Hanya saja tangan Doni yang memegang pergelangan tangan Khey saat berbicara itu membuat Fabian sedikit tidak nyaman. Tidak rela mungkin lebih tepatnya.
Hingga tanpa diduga, Khey menolehkan pandangan ke arah Fabian.
Hek...
Kedua mata Khey membola saat melihat Fabian dengan arah pandangan mata yang menatap lurus kepadanya.
Brek...
Refleks Khey menghempaskan tangan Doni.
"Elo kenapa sih yang?" Doni terlihat tidak terima karena aksi Khey yang menghempaskan tangannya sedikit kasar.
"Eh... gakk pappa kok... sorry gue mau ke kelas..." Khey tergagap dengan ekor mata yang masih mencuri pandang ke arah Fabian.
__ADS_1
Entah kenapa rasa di hati Khey merasa tidak nyaman saat ini.
Khey pun segera berlalu dari hadapan Doni, meninggalkan cowok yang bertstatus kekasihnya tersebut dengan pandangan wajah penuh kebingungan pada wajah tampannya.
Sudut bibir Fabian terangkat membentuk seringai, dalam hati tersenyum penuh kemenangan.
Ternyata keputusannya merubah cara mendekati Khey, membuat gadis itu berfikir sendiri tanpa dirinya harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Khey dengan langkah kaki lebar segera pergi menuju kelasnya. Dengan jantung yang berdetak tidak beraturan Khey memperlebar langkah kakinya, rasanya ingin segera menghilang dari pandangan Fabian tengil.
Entah apa yang terjadi dengan hatinya saat ini, hanya saja Khey merasa sangat tidak nyaman dan merasa bersalah saat kedapatan bertemu dengan Doni dan Fabian memergokinya.
Mungkinkah hatinya mulai goyah, bahkan dalam duri Khey merasa jika dirinya seperti seorang isteri yang sedang mengkhianati suaminya padahal seharusnya rasa itu tidak seperti itu.
Khey memasuki kelasnya dengan raut wajah yang sulit diartikan, semua bercampur aduk menjadi satu. Bingung, kesal, takut, apapun itu Khey tidak mampu menggambarkannya dengan tepat.
Dengan degub jantung yang tak berhenti berdetak kencang, Khey menduduki kursinya dimana kedua sahabatnya sedang berbincang asyik di sana.
"Elo kenap Khey?" tanya Rhea dengan pandangan yang penuh selidik kepada sang sahabat. Dari raut wajahnya, Rhea menemukan sesuatu yang tidak baik baik saja.
"Gak papa kok." sahut Khey dengan cepat.
"Elo aneh Khey... gak mungkin kalau gak ada apa apa..." Alya menimpali dengan menelisik wajah sahabatnya.
"Gue gak papa beneran." Khey memilih menutupi kebenarannya. Rasanya belum siap jika dirinya harus jujur pada kedua sahabatnya tersebut.
"Yakin?" Rhea memastikan.
"Yakin." Khey mengangguk dengan berusaha memberikan senyum pada wajah cantiknya.
"Bi..." Khey duduk di tepi ranjang dengan tidak berhenti meremas ujung bajunya sambil memandang Fabian yang duduk di meja belajarnya dengan fokus menatap layar laptop di depannya.
Sejak kepulangan keduanya dari sekolah, tidak ada kejahilan atau ketengilan Fabian yang ditujukan pada Khey seperti biasa.
Cowok dengan gelar tengil yang disematkan oleh Khey tersebut terlihat tenang dan banyak diamnya. Bahkan terkesan dingin dan mengabaikan Khey.
"Apa..." Fabian tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Elo marah sama gue?" Khey memberanikan diri bertanya pada Fabian untuk mengurangi kegundahan dalam hatinya.
"Enggak." Fabian pendek tanpa peduli dengan Khey, nyatanya cowok tengil itu masih saja asyik mengetukkan jari jemarinya pada keyboard laptop di depannya.
Khey mendesah pelan. Lalu menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa canggung yang tetiba menyelimuti dirinya.
"Yakin gak marah sama gue..."
"Enggak Ra... kenapa emangnya, elo berbuat salah?" Fabian menghentikan sesaat aktivitas mengetik keybiar laptopnya dan memandang Khey yang terlihat gelisah.
Sejatinya Fabian paham akan arah pembicaraan Khey, namun dirinya memilih sok tidak peduli karena memang itu adalah tujuannya. Agar Khey menyadari hatinya, dan berlari menuju kepadanya tanpa Fabian harus memaksanya. Nyatanya baru saja sehari Fabian bersikap cuek pada Khey, isterinya tersebut terlihat tidak nyaman.
"Siang tadi di sekolah..." Khey berusaha memancing Fabian.
Fabian menggeleng. "Keknya gak ada sesuatu yang salah."
Fabian tetap menampilkan wajah datarnya, tanpa ekspresi sama sekali. Fabian ingin mengetahui sejauh mana Khey merasa gelisah karena perubahan sikapnya.
__ADS_1
Kenapa dia berubah aneh sih.... Harusnya dia marah kan waktu liat gue sama Doni tadi siang. Kenapa sekarang dia biasa biasa aja, kek gak terjadi apa apa... gue yakin kok Bian liat kejadian di sekolah tadi... tanya Khey dalam hati bingung akan perubahan sikap sang suami.
Fabian terlihat mematikan laptopnya lalu perlahan menutupnya dan beranjak dari meja belajar milik Khey.
Saat Fabian berdiri di hadapan Khey, dirinya meraih dompet dan membukanya. Mengambil sebuah kartu berbentuk persegi yang ternyata adalah sebuah atm. Lalu menyerahkan kartu atm tersebut kepada Khey.
"Nih pegang atm gue buat kebutuhan kita berdua, pinnya tanggal pernikahan kita. Gunakan dengan bijak... jangan dihambur hamburkan." Fabian dengan menyodorkan kartu atmnya di depan Khey.
Khey menatap atm itu dengan ragu.
"Udah ambil, elo yang simpen. Gue mau kerja..." titah Fabian pada Khey.
Perlahan tangan Khey meraih kartu tersebut dengan memandang Fabian.
"Elo mau kerja?" Entah mengapa dari banyaknya pertanyaan yang memutar tempurung kepalanya, pertanyaan itu yang keluar dari mulut Khey.
"Iya... buat memenuhi kebutuhan elo, kebutuhan kita berdua. Gue gak mau membebani orang tua kita, karena mulai sekarang elo tanggung jawab gue."
"Elo kerja apa sih Bi...?" Khey penasaran dengan pekerjaan Fabian yang notabene hanya seorang anak smu yang masih sekolah.
"Gak usah tau, gue kerja halal kok gak bikin perut buncit...." Fabian tengil mulai berucap asal.
"Tapi kan gue juga pengen tau pekerjaan suami gue apaan, kali aja gue bisa bantuin..." Khey dengan sedikit kesal.
"Gue markir" Fabian asal.
"Hah... Elo beneran jadi tukang parkir?"
"Iya... kenapa? Elo malu?"
"Ah eng_ggak... enggak gitu." Khey tergagap.
"Kenapa harus markir sih Bi, kenapa gak minta kerjaan sama papa aja..." Dalam hati sesungguhnya merasa gak ikhlas kalau suami tengilnya itu beneran bekerja sebagai tukang parkir.
"Gak perlu minta bantuan papa... ini usaha gue sendiri."
"Kenapa harus tukang parkir?" sekali lagi Khey merasa tak rela akan pekerjaan Fabian.
"Kalau gue bisa lulus jadi tukang parkir yang baik, gue juga harus bisa memarkirkan hati kamu di sini." Fabian menepuk dadanya dengan senyuman yang membingkai wajahnya. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Khey dengan wajah cengonya.
Sial... dia bener bener udah bikin gue hilang akal... Khey membatin geram.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
__ADS_1
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»