Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA79


__ADS_3

"Em... gue nebeng lo ya." ucap Khey canggung dengan menggaruk belakang kepalanya yang tiba tiba terasa gatal.


Fabian diam sesaat, terlihat berfikir.


"Sorry... nggak bisa."


Khey terdiam, entah mengapa rasa sesak menyusupi dada. Khey pun memandang lurus manik hitam sang suami dengan sorot matanya seolah bertanya, kenapa?


Fabian membalikkan seluruh tubuh. Mengambil satu langkah mendekat dan menghadap Khey, lalu menangkup bahu isteri bar barnya.


Fabian tahu Khey mempertanyakan jawabannya melalui sorot mata gadis itu.


"Bukannya gue nggak mau Ra, tapi untuk saat ini jangan dulu. Selesaikan dulu masalah lo sama dia, gue nggak mau ntar dengan lo memperlihatkan kedeketan kita bakal jadi boomerang buat lo nantinya. Malah bikin masalah baru lagi kan..." Fabian menatap lekat mata Khey yang berubah sayu. Ada rasa kecewa di dalam sana.


"Maksud lo dengan masalah baru itu apa?" Khey tidak mengerti alasan yang diberikan oleh Fabian tengil.


Fabian menghirup nafas dalam, kemudian melepaskannya perlahan.


"Hubungan lo sama dia belum jelas berakhir. Elo memang memergoki malam itu. Entah itu selingkuh atau bukan, elo belum tahu kebenarannya kan?!" Fabian tidak ingin memperkeruh hati isterinya.


"Jelas jelas mereka..." Khey tak mampu melanjutkan ucapannya. Malu rasanya mengungkapkan di depan Fabian, suaminya.


"Iya, gue juga liat. Tapi dia nggak tau kalau lo melihatnya. Kalau lo mempertontonkan kedekatan hubungan dengan orang lain sebelum masalah lo clear, dia bisa saja membalikkan alasan dengan elo yang selingkuh dari dia."


Khey pun terdiam, berusaha mencerna ucapan sang suami.


"Paham maksud gue?"


Khey pun menganggukkan kepala perlahan. Ternyata otak encer suami tengilnya tidak perlu diragukan lagi. Fabian bisa berfikir jauh ke depan ketimbang dirinya.


"Setelah hubungan lo benar berakhir, setiap saat lo mau bareng gue kemanapun gue nggak bakal nolak yang..." Fabian memanjangkan sudut bibirnya.


Khey menaik turunkan kepala perlahan, memberi tanda jika dia memahami maksud ucapan Fabian.


"Hari ini lo berangkat sama Pak Ujang dulu ya?" Fabian dengan ekor mata terlihat menatap lekat bibir ranum sang isteri.


Lagi Khey mengangguk perlahan.


Fabian mengikis jarak dengan memiringkan wajahnya, sontak Khey pun perlahan menutup kedua matanya. Khey yakin jika Fabian pasti akan mengambil ciuman di bibir ranumnya.

__ADS_1


Melihat itu Fabian tersenyum tipis, dirinya memilih mendaratkan bibir tebalnya pada hidung mancung sang isteri kemudian beberapa detik selanjutnya beralih mengecup kening Khey sedikit lebih lama.


Setelahnyan Fabian menjauhkan wajahnya dan melepaskan kedua tangan dari menangkup bahu Khey.


Ibu jari Fabian mengusap lembut bibir Khey, membuat empunya sontak membuka kedua kelopak matanya.


Jantung Khey berdegub mendapati wajah tampan suaminya tersenyum manis, tepat di depan wajahnya.


"Yang ini ntar aja kalau lagi berdua, sekarang nggak enak. Apalagi ada pak Ujang yang liatin, ntar bikin beliau kangen sama isterinya." Fabian tersenyum menggoda dengan manik mata yang menatap lekat bibir pink Khey serta ibu jari yang tidak berhenti bergerak ke kanan dan ke kiri.


Ucapan Fabian sontak membuat kedua mata Khey membola. Khey menahan jemari Fabian agar berhenti bergerak sembari menoleh ke arah kanan, dimana Pak Ujang tersenyum simpul memandang sungkan kepadanya. Sepertinya Pak Ujang sudah berdiri di dekat mobil menunggu Khey untuk mengantarnya ke sekolah.


Hek.


Khey menelan ludahnya kelat dengan wajah memerah. Dengan cepat Khey memaligkan wajah serta menepis jemari Fabian yang masih bertengger di atas bibir ranumnya.


"Kenapa lo gak bilang sih kalau ada Pak Ujang." Ucap Khey menunduk, menyembunyikan rona merah malu yang membuat wajah Khey semakin memerah layaknya tomat busuk.


Fabian terkekeh kecil.


Lalu dengan santai merengkuh tubuh Khey kembali, memberikan pelukan hangat dan mengakhirinya dengan mecium kening Khey kembali. Meski Khey sempat menolak dengan menahan dada bidang Fabian karena merasa malu ada Pak Ujang di sana, namun Fabian memaksanya.


"Assalamualaikum." Fabian segera menaiki motor matik apemnya setelah mendapat sahutan dari Khey. Kemudian menancapkan gas keluar dari halaman rumah keluarga isterinya.


Sepeninggal Fabian, Khey pun melangkahkan kaki menuju mobil Pak Ujang yang sudah siap untuk mengantarnya ke sekolah.


Khey memasuki mobil bagian belakang, di mana Pak Ujang masih setia berdiri dengan membuka pintu untuknya.


Pak Ujang pun menutup pintu lalu memasuki mobil setelahnya.


"Den Bian ganteng ya non, non Ara pinter nyari suami." Pak Ujang dengan menyalakan mesin mobil sambil tersenyum.


"Biasa aja ah pak." Khey berusaha datar.


"Wajah seperti itu bukan biasa aja non, tapi ganteng maksimal. Ditambah lagi dengan hatinya yang baik, sabar, sopan, dan nggak neko neko. Zaman sekarang susah lo non nyari yang seperti Den Bian. Dan lagi aden sepertinya sayang banget sama enon. Paket spesial itu mah, pakek telor." Pak Ujang dengan tersenyum menggoda majikan kecilnya.


"Pak Ujang bisa aja." Khey tersenyum tipis, membuang pandangan ke luar jendela guna menetralisir rasa yang tetiba membuncah dalam dadanya.


πŸ“πŸ“πŸ“

__ADS_1


Khey melangkahkan kaki menyusuri koridor sekolah yang cukup panjang untuk menuju kelasnya. Suasana sekolah sudah sangat ramai karena sebentar lagi pasti bel tanda masuk kelas akan berbunyi.


Saat sampai di ujung koridor arah menuju kelasnya, tetiba Doni telah berdiri menjulang di hadapannya. Membuat Khey terkejut hingga menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada saking kagetnya.


"Doni!" pekik Khey kaget dengan nafas yang memburu.


"Nggak usah ngagetin kenapa..." Khey dengan berusaha menetralisir dadanya yang masih berdegup, efek keterkejutannya.


Bukannya menjawab, Doni malah menarik salah satu pergelangan tangan Khey dan membawanya menuju ke arah lain. Bukan arah menuju kelas Khey.


"Don, mau ngapain? Lo mau bawa gue kemana? Bentar lagi masuk kelas nih." Khey dengan terseok mengikuti langkah lebar sang ketua osis.


"Ntar lo juga tau, lo ikutin gue aja." Doni terdengar dingin tanpa mau melepaskan cekalan tangannya dari pergelangan tangan Khey.


"Gue nggak mau, gue mau masuk kelas." Khey meronta, berusaha melepaskan diri.


Khey tau jika Doni pasti akan mempertanyakan chatnya semalam yang mengatakan ingin mengakhiri hubungannya dengan Doni.


Doni pun semakin mengeratkan tangannya pada pergelangan tangan Khey.


"Don, tangan gue sakit." Khey terdengar meringis.


Doni pun melepaskan tangan Khey karena merasa telah membuat tangan gadis itu memerah.


Namun tanpa di sangka, setelah Doni melepaskan pergelangan tangan Khey, gadis itu segera membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan sang ketua osis.


****...


Doni mengumpat, lalu bergegas memburu gadis itu.


Tenaga Khey yang tak sebanding dengan tenaga Doni, membuat sang ketua osis tampan tersebut mampu menyusul Khey dengan cepat.


Doni mengunci tubuh Khey dengan memeluknya dari belakang.


Khey kembali meronta.


"Lo turutin kemauan gue, gue bakal lepasin tangan gue." bisik Doni tepat di telinga Khey.


😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2