
"Lo sengaja godain gue kan yang?" Fabian dengan menangkap tangan Khey yang lewat di depannya.
"Enggakk!" pekik Khey tertahan karena Fabian dengan sigap menarik tubuh Khey hingga terduduk di pangkuan Fabian.
"Nggak salah maksud lo." Fabian dengan suara berat tepat di telinga Khey.
Fabian yang saat itu sedang duduk di sofa dengan fokus pada laptop di depannya menjadi beralih pada Khey yang melewatinya hanya dengan menggunakan kemeja Fabian yang terlihat kebesaran pada tubuhnya. Belum lagi rambut setengah basah yang sedikit membuat kemeja putih yang dikenakan Khey mencetak gunung kembarnya yang tanpa penutup.
Setelah keduanya bercinta beberapa saat lalu, Khey memang langsung membersihkan diri. Khey keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang milik Fabian yang tergantung di dalam kamar mandi. Karena sebelumnya Khey lupa membawa baju ganti.
"Gue beneran enggak... Bbi..."Khey kembali memekik sebelum menyelesaikan kalimatnya saat merasakan telapak tangan kekar Fabian menyusup ke dalam kemejanya.
Usapan lembut tangan kekar Fabian menimbulkan sensasi geli dan meremang secara bersamaan dalam tubuh Khayyara.
"Bii.... don't..." Khey menahan gerakan tangan Fabian dari balik kemejanya.
"Kenapa hemm... lo yang memancingnya Ra." Fabian mengangkat tangan Khey dengan satu tangannya yang lain. Dan tangan yang masih berada di balik kemeja Khey kembali bergerak merayap, menyusur pada dua gunung kembar yang masih tanpa penutupnya.
Sekuat tenaga Khey menahan diri, mengigit bibir bawahnya kuat agar tidak mengeluarkan suara saat telapak tangan kekar Fabian menangkup salah satu gunung kembarnya.
"Apa lo pengen lagi hemm?" bibir tebal Fabian mulai mengendus ceruk bahu Khey disertai dengan hembusan nafas hangat yang membuat Khey menelan saliva kuat untuk menahan sensasi gelenyer yang merayapi seluruh nadi. Belum lagi usapan lembut jemari Fabian yang masih bertengger pada gunung kembarnya membuat seluruh tubuh Khey meremang.
"Bii... gue... sshhh...."
Akhirnya Khey tidak mampu menahan ******* keluar dari mulutnya. Sekuat apapun otaknya mencegah, namun seluruh tubuhnya tak mau berkompromi. Padahal sisa percintaan mereka beberapa saat lalu masih menyisakan rasa remuk pada tubuh Khey.
"Masih mau bilang nggak hem..." Fabian makin intens menyusuri permukaan leher jenjang Khey yang makin terekspose. Karena tanpa sadar Khey menutup mata dan mendongakkan kepala. Seolah memberikan akses pada Fabian untuk menjejakkan bibir basahnya dengan puas di sana.
Tidak ada sahutan dari mulut Khey. Dengan kedua mata yang masih terpejam gadis itu reflek menyamankan posisinya pada pangkuan Fabian. Mengalungkan kedua tangan pada leher sang suami. Merebahkan kepala pada bahu Fabian dengan makin memanjangkan lehernya, masih dengan kedua mata terpejam. Pergerakan itu membuat Fabian mau tak mau menarik wajahnya dari ceruk leher sang istri.
Fabian memandangi Khey dengan tersenyum lucu saat gadis itu menunjukkan bahasa tubuh menikmati, meski mulutnya sedari tadi mengelak.
Perlahan kedua mata Khey terbuka saat dirinya tidak merasakan lagi pergerakan tangan Fabian pada gunung kembarnya dan juga bibir basah itu tak kunjung menyusuri leher jenjangnya.
__ADS_1
"Apa?" Fabian dengan senyum menggoda.
Khey mengerjapkan mata, mulai menyadarkan diri saat mendapati senyum menggoda dari Fabian. Ekor matanya bergerak kemudian membesar saat otaknya menyadari kekeliruan posisi tubuhnya.
Posisinya yang duduk nyaman di pangkuan Fabian. Tangan merangkul erat pada leher Fabian serta wajah yang mengusak pada ceruk bahu sang suami, menggambarkan bahwa mulut dan tubuhnya tidak sejalan.
Khey segera menarik kedua tangan
dari merangkul leher Fabian. Bagaimana bisa dirinya terlena bahkan seolah meminta lebih padahal sedari tadi mulutnya mengelak.
Fabian terkekeh melihat aksi Khayyara yang lucu dan menggemaskan menurutnya.
"Mau dilanjut di ranjang atau di sini aja?" goda Fabian membuat kedua pipi Khey memerah.
"Enggak." sahut Khey cepat dengan hendak beranjak dari pangkuan Fabian.
Namun dengan sigap Fabian menahannya.
"Dari tadi bilangnya nggak tapi menikmati."
Fabian kembali terkekeh dengan menangkup wajah Khey kembali menghadap ke arahnya.
Cup...
Fabian mengecup lembut bibir Khey dengan segera.
Posisi wajah Khey yang masih berada dalam tangkupan tangan Fabian, membuatnya tak bisa berkutik.
Perlahan Khey memejamkan kedua mata dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Fabian kembali. Menyamankan posisi lagi seraya membalas pagutan pagutan menuntut dari Fabian.
Suara cecapan dari bibir yang beradu itu memenuhi seluruh ruang kamar.
Khey sudah tidak peduli lagi dengan penolakannya sebelumnya. Kali ini dia sudah memasrahkan diri jika Fabian bakal menggiringnya ke atas ranjang. Bahkan otak dan pikirannya telah melayang ke atas awan.
__ADS_1
Khey tak sungkan lagi sekarang. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Khey merubah posisi duduknya dengan menekuk kedua kaki menghadap Fabian.
Satu tangan Khey bergerak membuka kancing bagian atasnya untuk memudahkan Fabian mengakses gunung kembarnya Posisi pasangan suami isteri remaja itu semakin intim.
Otak Khey traveling membayangkan pergulatan panas yang akan terulang kembali saat merasakan tangan kanan Fabian bergerak menuju gunung kembarnya. Khey berfikir sebentar lagi adegan intim ini akan menghantarkan keduanya ke atas ranjang.
"Istirahatlah lo pasti masih lelah." Fabian dengan melepaskan tautan bibirnya. Tangannya bergerak menarik kemeja Khey lalu mengaitkan kancing kemeja yang sempat Khey lepaskan beberapa saat lalu.
Huh...
Khey membuang nafas kasar kemudian mengerucutkan bibirnya kesal. Ternyata semua berakhir tidak seperti ekspektasi otaknya.
"Nggak usah ngambek kek gitu." Fabian menguncup bibir Khey. Membuat gadis dalam pangkuannya itu menggoyangkan wajahnya kesal.
"Besok lagi ya?!" Fabian dengan terkekeh melihat aksi cemberut Khayyara.
Khey menarik tubuhnya dari pangkuan Fabian dengan sedikit kasar tanpa sedikitpun mengucapkan sepatah kata.
Dengan wajah cemberut, Khey segera membanting tubuhnya ke atas ranjang dengan sangat kesal.
Dalam hati Khey mengumpat kesal pada Fabian yang telah membawanya melayang jauh ke angkasa kemudian dengan sengaja menghempaskannya ke tanah saat dirinya berada di pucuk nirwana.
"Hey... marah ya?" Fabian sesungguhnya bukan menolak Khey namun dia tahu jika meneruskan aksinya tubuh Khey pasti akan kelelahan. Bisa bisa besok gadis itu tidak masuk sekolah, padahal minggu ini sekolah sedang menyelenggarakan banyak latihan ujian sekolah.
Lagi lagi Khey tidak menyahut. Gadis itu malah menjauhkan tubuhnya dari Fabian yang duduk di belakang punggungnya.
"Nggak usah ngambek, istirahatlah dulu. Ntar dilanjut lagi kalau tubuh lo udah fit lagi. Ntar gue ajarin deh gaya baru yang bikin nagih. Kita lakukan sepuas lo." bisik Fabian tepat di telinga Khey dengan melingkarkan tangan kekarnya pada perut rata Khey.
Sontak Khey menoleh pada Fabian.
"Masih mau ngambek?" Fabian.
Khey menggeleng, membalik tubuhnya menghadap Fabian. Memeluk tubuh kekar suaminya dengan menyusupkan wajah tepat di dada bidang Fabian untuk menyembunyikan rona merah malu di wajahnya.
__ADS_1
ππππ