
Ting
Ponsel Khey berdenting menandakan adanya pesan yang masuk pada benda pipih yang diletakkan di atas meja sekolahnya.
Khey yang saat ini memandang lurus ke luar pada jendela kaca di sampingnya, terlihat mengabaikan pesan masuk tersebut.
Ting... ting... ting....
Bunyi pesan masuk terdengar beruntun, dan Khey masih saja mengabaikannya.
"Khey hape lo bunyi tuh... ada pesan masuk keknya." Rhea menyenggol lengan tangan sahabatnya.
Khey bergeming.
"Khey... liat dulu siapa tau penting." Rhea kembali menegur, dengan menyenggol lebih keras pada lengan sang sahabat.
Khey mendengus kesal.
"Iya... iya... berisik amat sih Rhe..." Khey meraih benda pipih yang tergeletak di atas bangku sekolahnya.
"Elo kenapa sih Khey, dari pagi tadi muka lo lecek banget..." Alya yang merasa sikap Khey hari ini aneh, memutar setengah tubuhnya ke belakang karena dia duduk di depan Khey.
"Gak papa... lagi badmood aja." Khey sembari mengusap layar pada ponsel pintarnya.
"Elo gak bohongin kita Khey...?" Alya masih belum mempercayai ucapan sahabatnya.
"Terserah lo, mau percaya gue atau enggak. Gue gak peduli..." Khey tidak mungkin mengatakan pada kedua sahabatnya kalau sebenarnya harinya buruk karena Fabian suami tengilnya.
Rhea yang tidak ingin kedua sahabatnya berdebat dan berakhir bertengkar karena beradu beradu mulut, memberi tanda pada Alya dengan melotot ke arah sahabatnya yang kurang peka tersebut. Hingga membuat Alya mencebik dan memilih memutar kembali tubuhnya ke arah mejanya.
Rhea yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan Khey.
Mungkinkah Khey sudah tahu jika Doni berselingkuh...? Siapa tau aja Khey melihat kejadian Doni berpelukan saat di gedung olah raga saat pertandingan awal basket itu. Atau mungkin seseorang memberitahunya... memotret dan mengirimkan pada sahabatnya itu. Mungkin saja bukan?? Bukankah saat itu ada banyak murid sekolahnya yang menonton juga. Rhea dengan berbagai kemungkinan memutari tempurung kepalanya. Kedua manik matanya tidak berhenti menelisik wajah sang sahabat.
Kening Khey terlihat mengerut sembari fokus pada ponsel pintarnya.
Tu kan... mungkin kah Khey dapat kiriman foto Doni sedang selingkuh... Rhea mencoba menerka raut wajah sahabatnya yang menyiratkan sesuatu telah terjadi. Namun karena tak ingin dianggap kepo ataupun ikut campur oleh sahabatnya, Rhea memilih menunduk, fokus pada buku di atas mejanya.
Sebelum gadis di sebelahnya itu memberitahu mengenai apa yang terjadi, Rhea tidak ingin bertanya lebih dulu. Takut jika akan menyinggung Khey.
Meskipun dirinya berteman dekat, sangat dekat malahan, tetap saja mereka harus menghargai privasi masing masing.
"Akhirnya..." gumam Khey lirih dengan mematikan ponsel pintarnya.
__ADS_1
Rhea menautkan keningnya, melirik sahabatnya melalui ekor matanya saat mendapati Khey berdiri dengan segera.
"Sorry guys... gue keluar bentar. Ntar kalau ada guru dateng bilang gue ke uks." Khey terlihat tergesa dengan memasukkan ponsel pintarnya ke saku rok seragamnya.
"Kemana Khey?" Rhea.
"Ketemu Doni bentar."
"Doni udah masuk sekolah?"
Rhea bertanya seperti itu karena setahunya ketua osis yang menjadi kekasih sahabatnya tersebut sudah beberapa hari ini tidak terlihat batang hidungnya alias tidak masuk sekolah, entah dengan alasan apa.
Khey mengangguk sesaat lalu kembali beranjak pergi tanpa berucap kata.
Rhea hanya bisa memandang kepergian Khey hingga tubuh gadis itu menghilang dari pintu kelas.
"Khey kemana?" Alya bertanya saat melihat kepergian sahabatnya dari kelas.
"Ketemu Doni." Rhea dengan pelan.
"Udah masuk itu cowok mbrengsek!" Alya dengan raut wajah kesal. Karena merasa sakit hati dengan ulah sang ketua osis tampan itu beberapa hari lalu.
Bagaimanapun Alya tidak ingin jika sahabatnya menjadi korban permainan sang ketua osis. Apalagi Alya melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ketua osis itu berpelukan bahkan berciuman bibir dengan seorang gadis saat di gedung olah raga beberapa hari lalu.
Di sisi lain, Khey melakukan kakinya dengan tergesa agar segera dapat bertemu dengan sang ketua osis yang telah menjadi kekasihnya selama satu tahun lebih tersebut.
Khey ingin segera mendapatkan penjelasan tentang Doni yang berpelukan dengan seorang gadis beberapa hari lalu tersebut . Dan juga penjelasan mengenai ketidak hadirannya di sekolah beberapa hari ini serta kenapa ponselnya yang tidak dihubungi olehnya. Khey ingin segera menyelesaikan permasalahan antara dirinya dengan sang kekasih.
Khey mengernyit saat menemukan sosok sang kekasih duduk di bangku halaman belakang sekolah, dengan tangan kiri yang digendong memakai arm slim.
Khey gegas mendekati kekasihnya.
"Elo kenapa Don?" Khey dengan mendekatkan diri di hadapan sang kekasih.
Doni yang semula menunduk karena fokus pada ponsel pintarnya, mendongakkan kepala. Memandang dingin pada Khey yang berdiri di hadapannya.
"Tangan lo kenapa?" Khey dengan menjulurkan tangan hendak menyentuh tangan kiri Doni yang terbalut dengan arm slim. Akan tetapi Doni menghindar dengan menarik mundur tangannya.
"Don..."
Khey dengan sedikit tersentak akan aksi sang kekasih.
"Masih perhatian lo sama gue...?!" Doni dengan raut wajah sinis.
__ADS_1
Hek.
Khey menelan ludahnya kelat.
Mungkinkah kekasihnya itu marah efek membaca chatnya beberapa hari lalu yang memintanya putus... mungkin saja.
"Don... ggue..." Khey gagap, bingung harus berkata apa.
"Elo mau putus dari gue gitu...?!" Doni dengan nada yang bergetar, sepertinya cowok tampan yang telah menjadi kekasih Khey setahun lebih itu sangat marah.
Hening sesaat. Khey tidak dapat menyaut ucapan sang kekasih hanya mampu menunduk dan meremas kedua telapak tangannya yang saling bertautan.
Terbersit rasa bersalah dari dalam hati Khey saat ini. Apalagi setelah tadi sempat menelisik lebih jauh, terdapat banyak luka gores pada tangan kanan sang kekasih maupun pada wajah tampannya. Entah apa yang yelah terjadi dengan kekasih tampannya, mungkin saja ini yang menjadi alasan Doni menghilang beberapa hari ini.
"Mudah ya buat lo ngajakin putus gitu aja tanpa sebab tanpa kasih tau gue masalahnya apa..." Doni dengan membuang nafas kasar setelah.
"Apalagi di saat gue seharusnya mendapatkan perhatian dan dukungan lo, lo malah seenaknya mau putus. Lewat chat lagi..." Doni dengan terdengar menahan emosi.
"Sorr_rryy..." Khey tanpa berani memandang sang kekasih. Masih setia dengan menunduk, memandang jemarinya yang saling meremas. Kata kata yang yelah disiapkan olehnya untuk mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih menguab begitu saja.
"Mudah ya buat lo bilang sorry. Lo pikir ati gue terbuat dari baja. Seenaknya elo memutuskan hubungan kita hanya lewat chat, tanpa gue tau sebabnya... Salah gue apa? Gue salah apa sama lo, sampai lo tega mutusin gue tanpa mau tahu kondisi gue..." Doni dengan nada meninggi.
Entah mengapa Khey bingung untuk mengatakan alasannya pada sang kekasih, padahal jelas jelas dirinya melihat dengan kedua mata saat Doni berpelukan dengan cewek lain. Kondisi Doni yang tidak terlihat baik membuat Khey tidak berani mengungkapkan alasannya.
"Elo cemburu karena lihat gue memeluk cewek lain... iya?!" Doni seakan tahu isi tempurung kepala Khey.
Deg...
Kok dia tahu...
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
__ADS_1
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»