
Sedetik kemudian,
Ceklek...
"Kakk.... " Tanpa permisi Septi memanggil dengan menyembulkan kepala pada pintu kamar Khey dan Fabian.
Hekk...
Septi tidak jadi melanjutkan panggilannya pada kakak perempuan dan kakak iparnya. Seketika tubuhnya membeku saat mendapati Fabian yang menindih tubuh kakaknya dengan tubuh bagian atas yang terkspose.
"Aaaaaaa.... Kenapa pintunya nggak dikunci sih kak, mata perawan Septi ternodai nih..." seru Septi dengan kesal sembari menutup pintu kamar Khey kencang hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.
"Kak Ara kak Bian waktunya makan malam. Jangan lupa mandi besar...!!" lanjut teriakan Septi di depan pintu kamar Khey sebelum akhirnya kabur dari sana.
Jantung Khey seolah berhenti berdetak, menggigit bibirnya, memejamkan kedua mata dengan tubuh yang menegang.
Wajah Khey pias... terkejut. Marah, kesal dan malu campur aduk hingga menimbulkan bulir keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya.
Meski Fabian sempat menutupi setengah tubuh polosnya dengan selimut saat mendengar bunyi pintu di buka dari luar beberapa saat lalu, namun tetap saja Khey bakal salah tingkah saat bertemu tatap dengan adik perempuannya nanti. Karena posisi Fabian masih tetap menindihnya, menyusupkan wajah pada bahu Khayyara.
Setelah merasa pintu tertutup kembali, Fabian mendongak.
"Sorry..." Fabian dengan mengusap lembut buliran keringat pada wajah isterinya.
Khey pun mengerjapkan kelopak matanya perlahan.
Lagi senyum manis Fabian tepat di hadapannya membuat Khey terkesiap. Khey pun memalingkan wajahnya yang dirayapi rona malu.
__ADS_1
Fabian tahu Khey merasa canggung dengan posisi keduanya saat ini. Meskipun mereka berdua adalah pasangan yang sah namun tetap saja rasa kikuk dan canggung menyelimuti gadis itu. Bagaimanapun hubungan mereka adalah hubungan yang terjadi secara tiba - tiba.
Fabian menegakkan tubuhnya lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Menunda kegiatan percintaan mereka itu lebih baik menurutnya.
Namun saat Fabian hendak berdiri beranjak dari sana tetiba pergelangan tangannya dicekal oleh Khey, membuat Fabian mengurungkan niatnya lalu menoleh ke arah sang istri.
"Kenapa?"
Masih di posisi yang sama Khey terdiam, menatapnya dengan tatapan yang tak biasa menurut Fabian. Fabian tidak mampu mendiskripsikannya.
Karena itu Fabian sedikit memutar tubuhnya, kembali menghadap Khayyara. "Ada yang mau lo sampein ke gue...?!"
Sesaat tak ada jawaban dari bibir mungil yang baru saja membuat Fabian lupa diri beberapa saat lalu itu. Sepertinya Khey terlalu terpukau dengan pesona tampan Fabian tengil
"Hey..." Fabian dengan membingkai senyum di wajahnya, menggoyangkan tangan satunya yang terbebas tepat di depan wajah Khey.
"Mandi... dipanggil buat makan kan?! Nggak enak kalau nggak cepet turun."
Khey menghembuskan nafas pendek, terlihat kekecewaan pada wajahnya.
Fabian memutuskan beranjak kembali, namun tangan Khey masih saja memegangnya seolah tidak rela jika Fabian mengakhiri kebersamaan mereka.
"Kenapa Ra...?" Fabian dengan mengusap lembut pipi sang istri.
Khey memilih tidak menyahut namun menangkup tangan kekar Fabian yang membelai lembut pipinya, membawanya ke bibir dan menciumnya lembut sembari memejamkan matanya. Seolah memberikan ciuman yang sangat dalam. Sepertinya Khey memang tidak ingin Fabian mengakhiri aktivitas mesumnya.
Dan Fabian menyadari itu. Membungkukkan tubuhnya kembali dengan menyusup diantara leher dan bahu sang isteri. Bibir tebalnya kembali menyusuri wajah licin bak pualam tersebut untuk memberikan cecapan lembut pada setiap inchinya.
__ADS_1
Melihat tidak ada penolakan dari isteri barbarnya Fabian menyusup daun telinga Khey, mencecap rakus dan sesekali memberikan gigitan kecil hingga membuat ******* lirih lolos dari bibir Khey.
Gairah panas kembali melanda diri Fabian, menyingkap selimut yang sempat digunakan untuk menutup tubuh isterinya dan kembali menindihnya.
Bibir tebal itu semakin lincah bergerilya menyusuri seluruh inchi wajah Khey diiringi dengan tangan kekarnya yang tak kalah lincah merayap pada lembah bukit kembar di bawahnya. Bermain asyik pada pucuk bukit, meremas dan memilin hingga empunya menggelinjang kenikmatan.
Suara ******* dan cecapan yang keluar dari mulut keduanya menimbulkan suara aneh hingga memenuhi kamar, membuat keduanya semakin panas dan menginginkan hal yang lebih.
Dengan rakus Fabian kembali meraup bibir yang tak berhenti mendesah itu dan membungkamnya.
Pabrik kecebong Fabian pun mulai mengeras, membuat celana seragam sekolah yang menjadi penutupnya terasa sesak dan mengetat.
Tangan kekar Fabian bergerak cepat membuka kancing dan menurunkan resleting seragamnya dengan tak sabar. Menekan inti tubuh Khey kuat untuk melatih bagian tubuh Fabian yang mengeras tersebut sebelum nanti akhirnya bakal mencetak gol.
Fabian mengernyit, menghentikan sesaat aktivitasnya saat merasa ada yang aneh dengan bagian inti tubuh Khey yang menjadi tempat pabrik kecebongnya magang tersebut. Namun karena gairahnya semakin tak terbendung Fabian mengabaikannya. Kembali melatih pabrik kecebongnya agar nanti mampu memasukkan calon benihnya dengan nyaman.
Khey pun tak kalah bergairah, gadis itu sudah tidak peduli dengan rasanya untuk Fabian. Khey tidak peduli dengan adanya cinta atau pun belum, yang pasti tubuh Khey seolah menginginkan lebih dan lebih. Khey tidak menyangka jika bercinta dengan Fabian tengil membuat otaknya kacau.
Meski otaknya berkali kali ingin menolak, namun tubuhnya tidak mau berkomproni. Tubuh ramping itu seolah menuntut, menikmati setiap sentuhan dan himpitan tubuh kekar Fabian.
Merasa sudah saatnya memasukkan bola ke dalam gawang, Fabian pun menarik rok pendek isterinya untuk melepaskannya lalu menyusupkan tangan ke dalam rok pendek milik isterinya.
Glek.
Sial... umpat hati Fabian.
πππ
__ADS_1