
"Assalamualaikum." Fabian mengucapkan salam di depan pintu sebuah rumah yang lumayan besar dan megah di sebuah perumahan yang terletak cukup jauh dari pusat kota Yogyakarta. Dengan tak lupa mengetuk pintunya.
Rumah itu adalah rumah kediaman nenek Khayyara yang alamatnya telah dikirimkan papa Danu kepada Fabian beberapa saat lalu.
"Walaikumsalam..." sebuah sahutan dari dalam rumah dan diikuti oleh suara pintu yang dibuka dari dalam.
"Nenek..." Fabian dengan senyum berbinar saat melihat nenek Khayyara yang telah membukakan pintu untuknya.
Meskipun samar namun Fabian masih mengingat wajah renta di depannya. Karena saat masih kecil Fabian cukup dekat dengan beliau.
Sang nenek terdiam sesaat dengan kening mengerut. Kemudian mengembangkan senyum pada wajah rentanya, sepertinya beliau telah menyadari siapa anak lelaki yang berdiri di depannya.
"Abi ya?!"
Fabian mengangguk.
"Iya. Nenek masih ingat sama Abi..."
Nenek Khayyara mengangguk dengan tersenyum ramah.
Fabian lalu meraih tangan kanan nenek Khayyara dan mencium punggung tangan renta itu sebagai salam penghormatan. Dulu sekali Fabian selalu melakukannya saat bertemu dengan nenek Khayyara. Bahkan nenek pun tekah menganggap Fabian seperti cucu kandungnya sendiri.
"Sendirian?" Nenek Khayyara dengan menggerakkan kepala terlihat mencari cari.
"Ara nya lagi les nek jadi Abi ke sini cuma sendiri." jelas Fabian karena dia tahu maksud nenek Khayyara. Beliau pasti tengah mencari keberadaan cucunya, yaitu Khey.
"Oh begitu. Ya udah ayo masuk dulu." Nenek menuntun tangan Fabian agar memasuki rumah.
"Duduk dulu."
Fabian pun menurut.
"Sebenarnya nenek sudah lupa dengan wajahmu le, tapi karena papa Ara tadi memberitahu kalau kamu mau ke sini, nenek hanya menebak saja. Tapi wajahmu nenek masih sedikit mengingatnya. Hanya sekarang jadi tambah ganteng le..."
"Ah nenek bisa aja. Abi kan cowok nek pasti ganteng gak mungkin kan kalau Abi cantik." Fabian dengan bercanda.
"Kamu itu Bi... masih saja suka guyon."
"Biar awet muda nek."
"Kamu bisa saja." Nenek Khayyara dengan tersenyum.
__ADS_1
Abi adalah nama panggilan Khey untuk Fabian saat masih kecil dulu, dan sepertinya nenek Khey masih terbiasa dengan panggilan itu.
Nenek Khayyara sudah mengetahui jika Abi sudah menikah dengan cucu tengahnya beberapa bulan lalu.
Meskipun saat itu nenek Khey tidak hadir pada pernikahan mendadak mereka namun nenek sudah diberitahu oleh papa Danu dengan detail bagaimana kisah Fabian dan Ara hingga keduanya harus menikah meskipun masih duduk di bangku sekolah.
"Mau minum apa? biar nenek ambilkan dulu."
"Nenek nggak usah repot repot, biar nanti Abi ambil sendiri saja." tolak Fabian halus.
"Nenek enggak repot, lha wong ke dapur itu cuma beberapa langkah kok. Nenek bikinin teh hangat ya..." nenek Khey dengan beranjak dari duduknya.
"Baiklah nek." Fabian pun akhirnya pasrah dengan keinginan nenek Khayyara.
Sepeninggal nenek Khayyara, Fabian merebahknan tubuhnya pada punggung sofa untuk melepaskan penatnya setelah aktivitas padat di sekolahnya.
Memindai ruang tamu yang cukup luas namun sederhana dengan kedua matanya. Fabian menajamkan mata saat mendapati foto keluarga besar nenek Khey yang terpasang pada dinding ruang tamu. Foto keluarga yang dibingkai sangat besar itu membuat Fabian tidak perlu beranjak dari tempat duduknya.
Di sana terdapat gambar kakek dan nenek Khey serta papa Danu dan mama Maira yang menggendong seorang anak kecil perempuan. Pastilah itu adalah Septi, anak bungsu mereka. Ada juga anak laki laki yang ketika itu mungkin masih berusia SD atau mungkin SMP, dia adalah kakak lelaki Khey yang saat ini berada di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Fabian memanjangkan sudut bibirnya saat mendapati foto gadis cilik dengan rambut yang dikucir dua sedang tersenyum dengan gigi ompong pada bagian depan, diantara mereka. Gadis kecil itu adalah Khey isteri barbar Fabian.
Otak Fabian pun bergerak ke belakang seolah memutar ulang kisah masa kecilnya yang penuh pertengkaran kecil dengan gadis kecil bar bar itu.
Fabian sungguh tidak menyangka jika saat itu ucapan Khey kecil yang menginginkan dirinya harus menjadi pendamping hidupnya kelak benar benar terlaksana. Meskipun hingga saat ini Khey belum menyadari siapa sebenarnya sosok Fabian.
Fabian pun kembali tersenyum saat mengingat kisah lucu masa kecilnya dengan Khey yang bar bar dengan tanpa memutus pandangan matanya dari bingkai foto yang terpampang besar di dinding ruang tamu tersebut. Hingga Fabian tidak menyadari jika nenek Khayyara sudah kembali duduk di hadapannya.
"Kenapa senyum senyum sendiri Bi?" tanya nenek Khayyara membuat Fabian tersentak kaget.
"Nenek... bikin kaget Abi aja." Fabian tersenyum kikuk.
"Teringat masa kecil ya..." Nenek Khayyara mencoba menebak karena saat beliau kembali, beliau mendapati Fabian menatap lurus pada bingkai foto keluarganya yang menempel pada dinding ruang tamu.
Bahkan setelah beliau duduk cukup lama di hadapan Fabian, cucu menantunya itu tidak menyadari kedatangannya.
"Iya... sedikit Nek..." Fabian mengusap tengkuk lehernya sedikit malu karena ketahuan oleh nenek Khey.
"Banyak juga gak papa." Nenek Khey terlihat tersenyum menggoda Fabian.
"Udah ah Nek jangan godain Abi. Malu jadinya."
__ADS_1
Nenek Khey terkekeh kecil.
"Nenek enggak nyangka kalau kalian akhirnya berjodoh."
"Abi juga nek..." Fabian masih dengan tersenyum malu malu.
"Kalau nenek ingat waktu kalian kecil, sepertinya itu tidak bakal terjadi. Nenek ingat betapa kamu benci sama tingkah Ara yang jahil juga nakal. Setiap hari tidak berhenti mengikuti kamu kemana pun, bahkan menggandeng tanganmu erat gak mau lepas sudah seperti suaminya saja. Kamu pasti kesal sekali saat itu." Nenek Khayyara dengan sedikit menerawang, kembali ke masa lalu.
"Itu dulu nek, sekarang Abi udah enggak kesal kok." Sekarang semuanya sudah berbalik nek, abi yang suka jahil dan ngekori cucu nenek... ucap Fabian hanya dalam hati saja.
"Oh iya bagaimana kabar ayah bundamu? Mereka semua sehat kan?"
"Alhamdulillah nek, sehat."
"Alhamdulillah kalau begitu. Oh iya Septinya masih keluar ke rumah temannya. Tadi katanya sih sebentar." Nenek Khey mengingat jika kedatangan Fabian kemari adalah untuk mengantar cucu kecilnya berbelanja ke pusat kota. Papa Danu, anaknya tadi sudah memberitahukan kepadanya ketika menghubungi lewat telfon.
"Paling sebentar lagi pulang, rumahnya tidak jauh kok."
"Enggak papa kok nek, Abi enggak keburu kok."
"Kalau gitu minum dulu tehnya, ini juga cicipi kuenya. Kue jadul, bikinan nenek sendiri ini." Nenek Khey dengan menyodorkan teh hangat pada Fabian.
Fabian pun meraih gelas teh hangat dari tangan sang nenek. "Nenek nggak perlu repot kek gini."
"Pertama kali bertemu Bi setelah sekian lama, nenek harus memberikan kesan yang baik. Selanjutnya ya jangan salahkan nenek kalau nenek nanti nyuruh kamu kerja berat." Nenek dengan terkekeh.
"Nenek masih saja suka guyon." Fabian lalu menyeruput teh hangatnya.
Memang nenek Khey dari dulu suka bercanda dan terkesan jahil juga, mungkin beliau lah yang menurunkan sifat itu kepada Khey kecil.
"Assalamualaikum... Iam coming..." Sebuah suara cempreng khas remaja terdengar dari luar rumah diiringi dengan derap langkah kaki yang memasuki rumah.
"Itu pasti Septi." Nenek Khey dengan mengarahkan pandangan ke pintu masuk.
Fabian pun mengikuti arah pandangan sang nenek, menoleh ke arah pintu masuk rumah.
Hek.
Fabian terpaku saat netranya menemukan sosok seorang gadis yang sangt mirip dengan Khey isteri barbarnya.
To be continued....
__ADS_1