Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 176


__ADS_3

"Assalamualaikum." lirih Fabian mengucapkan salam saat memasuki rumah besar keluarganya.


Tidak ada sahutan salam atau sambutan untuk Fabian. Kondisi dalam rumah terlihat sepi dan lengang.


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memindai keberadaan anggota keluarganya. Dalam hati merapal agar tidak berpapasan dengan ayah maupun sang bunda.


Fabian tidak ingin kedua orang tuanya melihat luka lebam yang menghiasi wajah tampannya.


Beberapa langkah memasuki rumah, Fabian yetap tidak bertemu dengan siapapun. Ucapan alhamdulillah meluncur lirih dari bibirnya karena tidak berpapasan dengan anggota keluarga ataupun asistem rumah tangga keluarganya.


Fabian mengayunkan langkah kakinya dengan cepat dan lebar guna mempercepat tubuhnya menggapai anak tangga. Mengabaikan rasa berat yang menggelayut pada tubuhnya.


Rasa remuk redam akibat pukulan bertubi tubi yang diberikan oleh papa Bella masih sangat terasa. Membuat tubuh Fabian terasa kaku dan lumayan sulit saat digunakan untuk berjalan.


Dengan dada yang berdebar kencang Fabian melajukan kaki semakin ke dalam rumah. Hingga memasuki ruang keluarga kondisi rumah masih tetap sepi seperti tidak berpenghuni.


Hari memang telah berganti malam, kemungkinan besar kedua orangtua dan isteri Fabian berada di dalam kamar masing masing.


Pun begitu dengan para asisten rumah tangga, mereka pasti tengah berada di ruang belakang di mana kamar tidur mereka berderet saling bersebelahan.


Jika hari menjelang malam seperti ini para asisten rumah tangga keluarga Fabian pastinya melakukan rutinitas pribadi masing masing.


Dalam keluarga Fabian memang membiasakan untuk menghargai para asisten rumah tangga mereka. Para asisten rumah tangga selalu diberikan waktu beristirahat jika telah menyelesaikan aktivitas menyediakan kebutuhan tuannya.


Baik ayah, bunda ataupun Khey dan Fabian dibiasakan untuk melayani diri mereka sendiri saat jam makan malam telah berakhir.


Mereka hanya meminta bantuan asisten rumah tangga jika terjadi sesuatu yang urgen.


Saat melewati depan pintu kamar kedua orang tuanya Fabian sedikit berjijit agar tidak bersuara.


Fabian tidak ingin kedua orangtuanya melihat wajahnya yang penuh lebam akibat tamparan dan pukulan papa Bella.


Jika sampai kedua orang tuanya tahu, mereka pasti akan marah besar. Terutama sang ayah yang merupakan salah satu pengusaha yang memiliki pengaruh kuat serta kekayaan yang melimpah.


Fabian tidak ingin memperpanjang masalah. Toh masalahnya sudah jelas. Siapa pelaku yang membuat Bella hamil telah ditemukan.


Untuk itu Fabian ingin menutup kasus itu dan tidak ingin melibatkan ayahnya. Fabian sangat tahu seberapa kuat pengaruh sang ayah di kota ini.


"Abi."


Hek.

__ADS_1


Suara sang bunda yang memanggil nama Fabian, membuatnya tersentak kaget. Namun setelahnya Fabian segera menutupi rasa kagetnya dengan menyahuti sang bunda.


Masih dengan posisi membelakangi sang bunda.


"Ya bun."


Fabian berusaha menjawab senormal mungkin. Jangan sampai sang bunda menyadari kegugupan yang tiba tiba menyergapnya.


"Baru pulang nak?" tanya sang bunda dengan masih berdiri tepat di depan pintu kamar.


"Iya, bunda."


Fabian dengan berniat melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga untuk menuju kamar miliknya yang berada di lantai dua.


Dalam hati Fabian berharap sang bunda tidak menghentikannya hingga hingga menemukan wajahnya yang penuh luka lebam.


"Kenapa malam sekali?" tanya sang bunda sekali lagi dengan masih di tempatnya. Pandangan matanya menatap aneh punggung anak lelaki semata wayangnya yang bersikap tidak seperti biasa.


Seorang Fabian, bagaimanapun seringnya dia berkelakuan tengil namun tetap saja tidaka akan pernah mengabaikan kedua orangtuanya. Apalagi seperti sikapnya saat ini yang terlihat mengabaikan sang bunda.


Setiap kali lelaki remaja yang telah beristri itu hendak keluar maupun baru sampai rumah, pasti akan mencari dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Untuk memberitahukan keberadaanya.


Namun kali ini, sikap Fabian dinilai tidak biasa oleh sang bunda.


Tangan kanan Fabian bergerak menurunkan topi hitam yang bertengger di atas kepala. Dengan podisi wajah menunduk, dalam hati Fabian merapal doa agar sang bunda tidak mendekat padanya.


"Oh begitu. Ya sudah cepet mandi sana." Bunda berusaha mengabaikan keanehan pada Fabian. Dengan hendak melangkah pergi ke ruang makan.


Baru satu langkah kaki bunda mengayun. Wanita paruh baya yang masih terlihat jelas aura kecantikannya itu membalik tubuh kembali ke arah Fabian, setelah mengingat madu pesanannya.


Dengan langkah gegas menyusul Fabian yang tengah menaiki anak tangga pertama.


Set.


"Madu titipan bunda mana?"


Pertanyaan tiba tiba sang bunda yang diikuti dengan tangan kirinya yang ditahan oleh bunda, membuat Fabian mengangkat wajah ke arah sang bunda.


"Abi... Astagfirullah... ada apa dengan wajah mu nak?" teriak bunda dengan raut wajah sangat terkejut.


Ssstttt....

__ADS_1


Efek terkejut Fabian refleks meletakkan telunjuk di bibirnya. Fabian tidak ingin bunda membuat kehebohan di dalam rumah.


Namun sang bunda mengabaikan hal itu dengan segera membuka topi yang dikenakan Fabian. Membuang sembarang topi itu.


Kedua mata bunda semakin melebar dengan mulut yang terbuka melihat lebam keunguan mewarnai hampir seluruh wajah Fabian yang putih bersih.


"Ayahhh..." Bunda berteriak memanggil sang suami karena Fabian hanya membisu seraya menundukkan kepala.


"Ada apa sih bun?" Ayah terdengar tergopoh keluar dari kamarnya.


"Lihat anakmu!" Bunda dengan dada naik turun. Kedua manik hitamnya tak lepas dari memandangi Fabian.


"Astagfirullahaladzim Bi, kamu berkelahi?" ayah memindai Fabian dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Abi nggak berkelahi yah." Fabian dengan gelengan kepala.


"Terus kenapa wajahmu lebam seperti itu?" tanya ayah dengan nada datar. Meski dalam hati sangat mengkhawatirkan sang anak namun ayah menahan diri untuk tidak menunjukkan dengan berlebihan seperti sang isteri. Walaupun banyak tanya dalam benak ayah saat ini.


Fabian menghirup oksigen dalam kemudian melepaskannya perlahan. Kemudian menatap kedua orangtuanya silih berganti.


"Nanti Abi ceritakan. Sekarang Abi naik dulu ya bund, yah."


Sang ayah mengangguk. Beliau yakin Fabian tidak melakukan kesalahan yang fatal. Beliau sungguh tahu bagaimana anak lekakinya.


Berbeda dengan ayah, bunda masih memegang erat pergelangan tangan Fabian.


"Bun..." Fabian mengiba.


"Apa lukamu sudah diobati?" Bunda dengan raut wajah khawatir.


"Sudah bun." lirih Fabian mengangguk.


"Baiklah naiklah ke atas. Bersihkan dirimu. Bunda tunggu ceritamu." Bunda dengan menekan kalimat terakhirnya.


Fabian mengangguk lemah.


"Ayah, bunda nggak usah khawatir." Fabian menatap wajah kedua orang tuanya dengan wajah tegak untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia baik baik saja.


Deg.


Dada Fabian berdegub kencang saat mendapati Khey membalik tubuhnya menjauhi railing pagar di lantai atas.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2