Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA18


__ADS_3

Flashback On ...


"Jadi lo gak mau melayani suami nih ceritanya?" Fabian memandang Khey dengan bersidekap dada sembari duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Bukan begitu Bi, sebaiknya kita turun makan bareng di bawah aja." Khey membujuk.


"Sudah gue bilang kan kalau gue gak bisa, ini masih sakit buat jalan jauh. Nyeri banget Khey, apalagi kalau dipakek turun tangga. Bakalan gak sembuh - sembuh ntar."


Khey mendesah.


"Mau lo gimana?" tanya Khey dengan raut wajah kesal.


"Makan berdua aja di kamar, anggep aja dinner berdua buat belajar saling dekat. Biar nanti pas bulan madu kita gak canggung."


Khey mencebik. "Siapa yang mau bulan madu?"


"Kita lah mosok mama sama papa, enggak mungkin kan?!" Fabian.


"Gak ada bulan madu bulan maduan. Enak aja orang gue cinta elo aja enggak!" Khey ketus.


"Makanya kita ntar honeymoon, buat belajar saling cinta Khey."


"Gue mah ogah. Males!" Khey memandang Fabian jengah.


"Ayo cepet turun kasihan mama sama papa udah nungguin kita dari tadi." Khey menarik lengan Fabian agar beranjak dari ranjang.


"Gak mau Khey, bawain makan gue ke kamar aja." Fabian menolak namun Khey semakin memperkuat tarikan tangannya hingga akhirnya ...


Brukk.


Tenaga Khey yang tidak sebanding dengan tenaga Fabian membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya ambruk ke dalam pangkuan Fabian.


Wajah mereka berdekatan bahkan hidung mancung keduanya bersentuhan. Sesaat keduanya saling pandang dengan menahan degub jantung yang berdetak kencang.


Kemudian.


"Khey!" wajah Fabian terlihat merah padam menahan sesuatu.


Hek ... Khey terlihat kaget setengah mati.


Jangan - jangan ... Khey membatin dengan membulatkan kedua matanya.


"Khey, lo dudukin itu gue." Fabian mengeram.


Tuh kan ... Mampus kau Khey, batin Khey ketakutan.


"Eh ... sorry, sorry Bi gue gak sengaja." Khey meminta maaf namun masih belum beranjak dari pangkuan Fabian, tubuhnya terpaku akan pesona ketampanan cowok tengil di depannya. Tanpa sadar dirinya menatap lama pada wajah putih milik Fabian.


Wajah putih dengan rahang tegas itu ternyata sangat halus tanpa sedikitpun jejak jerawat, mungkin dia rajin merawat diri. Kedua manik hitamnya terlihat bulat sempurna menghiasi mata elangnya yang memberikan tatapan yang meneduhkan. Kedua alis matanya hitam melekat bagaikan ulat bulu yang memberi kesan tegas pada sepasang mata elang tersebut.


Khey meneguk salivanya kelat, diiringi dengan deru nafas yang naik turun akibat adanya sensasi gelenyer aneh yang merayapi tubuhnya.


Apakah dirinya jatuh cinta?


Tidak mungkin!


Belum genap 24 jam mereka menikah, mana mungkin itu bisa terjadi. Khey mengelak.


Pun demikian dengan Fabian, dirinya hanya diam tanpa membalas permintaan maaf dari Khey. Pandangan matanya menelisik wajah cantik Khey yang terpaku memandangnya. Wajah Fabian yang semula merah padam berangsur terlihat tengil. Lalu kedua tangannya merengkuh tubuh Khey hingga menubruk dada bidangnya.


Kembali wajah keduanya saling berdekatan kembali bahkan kedua gunung kembar Khey menempel sempurna pada dada bidang Fabian.


Tidak ada penolakan dari tubuh ramping Khey. Kini nafas keduanya sama - sama naik turun akibat desiran hangat yang menerpa tubuh keduanya.


Perlahan Fabian memiringkan wajah sembari memandang Khey intens. Wajah tampan itu semakin memajukan bibirnya seiring dengan Khey yang juga tanpa sadar semakin memajukan wajahnya, seolah terbawa dengan suasana.


Fabian yang melihat wajah Khey mengikuti iramanya, dengan sengaja mendorong punggung Khey semakin maju.


Hingga ...


Cup.

__ADS_1


Fabian berhasil mendaratkan bibir tebalnya pada sudut bibir Khey. Perlahan bibir tebal itu mengecup manisnya meski hanya pada sudutnya.


Khey yang merasakan bibir Fabian hanya menempel pada sudut bibirnya, perlahan menggeser wajahnya seakan meminta lebih.


Dalam hati Fabian tersenyum kecil.


Bukannya memberi permintaan Khey yang terlihat seperti menginginkan ciuman lebih, Fabian memilih menggeser bibirnya perlahan menyusuri rahang Khey hingga mendekati daun telinganya.


"Sepertinya elo pengen yang lebih dari gue, elo pengen ngerasain enaknya sekarang Khey?" Fabian berucap dengan suara dibuat mendesah.


Khey dibuat semakin meremang mendengar suara Fabian yang diiringi desahan. Khey pun menghirup nafas dalam untuk menahan gelora panas yang menyeruak dari dalam tubuhnya.


Fabian perlahan menyusuri daun telinga Khey dan memberikan gigitan kecil di sana.


Beberapa saat Khey terlihat menikmati sentuhan bibir Fabian.


Namun,


Sedetik kemudian seolah tersadar, sontak Khey mendorong tubuh tegap di depannya dengan kasar dan beranjak dari pangkuan Fabian.


"Dasar mesum! Udah gue bilang berkali - kali jaga jarak kita!" Khey kesal karena sempat terlena dengan tatapan mata Fabian yang membuatnya tanpa sadar mengikuti irama mesum Fabian.


"Bukannya elo menikmati?" Fabian menggoda dengan senyum seringai pada sudut bibirnya.


"Engg ... ggakk!" Khey gagap menutupi kebenarannya. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya tubuh Khey menghianati otaknya untuk menerima bahkan seolah meminta perlakuan mesum dari Fabian.


"Udah ngaku aja, elo pengen juga kan. Gue yang ke berapa Khey?" Fabian tersenyum tengil.


"Ittu first kiss gue." jujur Khey dengan gugup dan menundukkan kepala serta meremas jemarinya kuat.


Fabian tersenyum senang.


"Mau lagi? Buat second kiss dan seterusnya?" Fabian mulai nakal.


"Enggak! Itu kecelakaan." Khey memalingkan wajahnya yang memerah karena malu bercampur kesal.


"Gue jago lo Khey." Fabian menggoda.


Khey pun melangkahkan kaki menuju pintu kamar, hendak keluar.


"Khey makan kita bawa sini ya, sepiring berdua aja!"


"Gue bukan babu lo, kalau gak mau turun ya udah. Selamat berpuasa!" Khey menutup pintu kamar dengan kasar.


Fabian tergelak.


Khey menghentakkan kaki dengan kasar, tidak henti merutuki kesalahannya yang terlena pada pesona Fabian.


Bahkan kini Khey menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan saat mengingat bagaimana dirinya mendamba ciuman dari Fabian, sedangkan cowok tengil bergelar suaminya itu malah ...


Ihhh ... sebel!!!


Khey kembali menghentakkan kakinya berulang.


Biasanya dengan Doni sang pacar, dirinya bisa menahan semua godaan dan keinginan untuk berciuman.


Kenapa dengan cowok tengil itu enggak?!


Khey yang masih berdiri kesal di depan pintu kamarnya berusaha menenangkan diri, mengatur dan menormalkan emosi yang membuat dadanya naik turun.


Setelah berhasil menenangkan diri Khey menuruni tangga menuju meja makan.


Kedua orang tuanya terlihat telah menyelesaikan makan malamnya.


"Malam Pa ... Ma ..." sapa Khey sembari mendudukkan diri pada kursi makan.


"Malam sayang." sahut Papa Khey dengan tersenyum.


"Fabian mana?" Mama Khey bertanya.


"Di kamar Ma, keknya Fabian kelelahan dia pengennya makan di kamar aja." Khey mulai menuang nasi pada piring makannya.

__ADS_1


Mama dan papa Khey terlihat mengangguk mengerti.


Khey mulai memasukkan sayur serta lalu lauk yang diinginkannya pada piring makannya.


Pada saat Khey hendak memasukkan sendok berisi makanan ke mulutnya.


Mama Khey bertanya. "Kamu nggak makan nemenin Fabian di kamar Ra?"


"Iya sayang ... makannya dibawa ke kamar saja sekalian nemenin suamimu." nasihat papa Khey yang terdengar seperti perintah untuknya.


Khey menghela nafas pendek, mengurungkan memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Dalam hati mengumpat marah pada Fabian. Kenapa cowok tengil suaminya itu mendapatkan kesan prioritas dari keluarganya, padahal dia hanya orang lain yang baru beberapa jam lalu menjadi bagian dari keluarganya.


Apa sih kelebihan cowok itu hingga bisa dengan cepat mendapatkan perhatian keluarganya.


"Khey makan di sini aja Pa, Ma ... ntar Khey tinggal bawain makan buat Bian." Khey berucap sedatar mungkin, meskipun emosi kemarahan melanda hingga ke ubun - ubunnya.


"Sayang ... temani suamimu. Makan bersama juga ibadah lo, apalagi jika saling menyuapi." Papa Khey tersenyum sembari melirik mama Khey sekilas.


Khey mengerucutkan bibirnya.


"Tapi Khey laper banget Pa, Bian habis ini Khey bawain nanti." mohon Khey.


"Khey ...." mama Maira.


"Pa ...." Khey kembali memohon pada papanya dan mengabaikan sang mama.


"Baiklah. Biarkan Khey menghabiskan makannya dulu ma, baru nanti bawakan makan buat Bian." papa Khey membujuk istrinya.


"Terserah lah." Mama kemudian beranjak meninggalkan meja makan.


Papa Khey pun pamit meninggalkan meja makan dan pergi meninggalkan Khey yang masih menyelesaikan makan malamnya.


Setelah beberapa saat Khey menghabiskan makan malamnya, Khey pun membawakan sepiring nasi berisi lauk dan sayur untuk Fabian.


Dan untuk makan Fabian, lagi - lagi Khey harus merelakan dirinya untuk melayani cowok tengil itu dengan menyuapinya.


Fabian beralasan masih merasakan sakit.


Padahal seharusnya yang sakit itunya dan tidak berhubungan dengan kedua tangan si cowok tengil itu.


Dasar menyebalkan!


Tak berhenti di situ Fabian tidak ada hentinya mengerjai Khey dengan tingkah mesumnya hingga,


"Nih, tidur di bawah lo! Gue gak rela kalau kulit gue berdempetan sama lo." Khey menyerahkan bed cover tebal serta satu bantal tidur pada Fabian.


Fabian menerima pemberian Khey. "Elo tega Khey."


"Biarin! Awas kalau lo sampek merangkak naik ke ranjang gue. Gue bakal potong sekalian itu lo biar berhenti mesum." Khey mengancam dengan melirik sekilas pada tubuh bagian bawah Fabian.


Di luar dugaan, Fabian menerima begitu saja keputusan Khey. Terbukti dengan cowok tengil itu yang menggelar bed cover di atas permadani tebal yang berada di sisi ranjang Khey.


Kemudian meletakkan bantal di bawah kepalanya dan menyelimuti tubuhnya dengan kain sarung yang sempat diraihnya sesaat sebelum merebahkan tubuhnya di lantai yang beralaskan bed cover tebal.


Flashback Off ...


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»

__ADS_1


__ADS_2