Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA26


__ADS_3

"Cukup gak cukup, elo harus belajar buat mencukupkan. Lagian elo sekolah diantar jemput sama supir, sarapan di rumah. Elo tinggal butuh uang jajan doang." ucap Fabian tegas.


Sebenarnya Fabian mampu memberi uang lebih kepada Khey, namun dirinya tidak ingin memanjakan dan membuat gadis itu bertingkah semaunya. Fabian ingin Khey menghargai hasil jerih payah orang lain. Dan mengerti bahwa tidak mudah untuk mendapatkan uang.


"Kalau gak bisa mencukupi nafkah buat gue, gak usah sok. Mendingan elo pakek buat diri lo sendiri, gak usah peduli sama gue. Gue masih bisa minta sama orang tua gue." ketus khey tanpa peduli dengan perasaan Fabian.


Huh...


Fabian membuang nafas kasar, sungguh dia merasa tidak dapat menahan emosinya sekarang.


"Gue gak mau tau gimana caranya uang itu cukup buat seminggu, yang pasti gue gak mau lo minta uang lagi sama orang tua lo." putus Fabian kesal lalu mengambil langkah pergi meninggalkan Khey. Fabian tidak ingin dirinya terbawa emosi dan hanya akan membuat hubungannnya dengan Khey semakin meruncing.


Khey tersengih, memandang punggung tubuh jangkung Fabian yang sudah membelakanginya.


"Dasar egois, pemaksa, semaunya sendiri gak peduli dengan perasaan orang lain!" gerutu Khey dengan kesal.


Fabian kembali membalikkan badannya ke arah Khey.


"Elo ngatain gue?" tanya Fabian datar namun terdengar penuh penekanan.


Hek...


"Enggak kok gue cuma ngomong sendiri." elak Khey menutupi kebenarannya.


"Kali ini gue maafin, kalau lo ulangi lagi mengabaikan gue ataupun ngatain gue di belakang, gue bakal kasih hukuman buat lo." Ancam Fabian lalu berbalik badan dan meninggalkan Khey yang masih saja menggerutu. Kali ini hanya dengan menggerakkan bibirnya kesal tanpa mengeluarkan suara, takut Fabian mendengar dan berbalik ke arahnya kembali.


Sepeninggal Fabian Khey menendang kakinya ke segala arah untuk meluapkan kekesalannya.


"Dasar cowok nyebelin bin ngeselin, siapa juga suruh jadi suami gue!" umpatnya pada Fabian, hingga akhirnya...


Brakk... prang... grubukkk...


Tiba tiba terdengar suara aneh yang tidak jelas asal usulnya dan itu membuat tubuh Khey seketika mematung.


Perlahan kepala Khey menoleh ke kanan dan ke kiri, saat menyadari jika dia tengah berada di koridor gudang sekolah yang sepi dan sendirian Khey pun segera berlari ketakutan meninggalkan tempat tersebut.


"Bian sialan... dasar mbrengsek... ninggalin gue sendirian hiii..." Khey mempercepat ayunan langkah kakinya sembari menggedikkan bahunya, ngeri.


Sedangkan di balik tembok ujung koridor yang tidak terlihat oleh Khey , Fabian tertawa kecil melihat tingkah gadis barbar yang telah menjadi isterinya tersebut.


"Dasar cewek batu." ucap Fabian dengan bibir yang menyunggingkan senyum saat melihat tingkah Khey yang lucu menurutnya.


πŸ“πŸ“πŸ“


"Woi... ngapain lo senyum senyum sendiri kek orang gila." Farell menepuk bahu Fabian lalu merangkulnya dan mengiringi langkah kaki Fabian sahabatnya.


Keduanya bertemu di koridor sekolah yang menuju arah kantin.


"Gue gak senyum sendiri." Fabian.


"Lah emangnya lo senyum sama siapa?" Farell bertanya bingung.

__ADS_1


"Kepo banget sih lo, kek emak komplek nungguin kang sayur jualan gosip." Fabian tak mau membagi kebenaran yang membuatnya tersenyum tadi


"Gue kan SPGnya kang sayur." Farell menyahut nyleneh.


"Aneh lo." Fabian.


"Lebih aneh lagi elo..." Farell tak mau kalah.


"Dasar turunan alien." olok Fabian pada Farell.


"Sesama turunan alien gak boleh saling mengolok."


"Joko!" Fabian berseru saat melihat cowok yang sedikit tambun berjalan membelakanginya, Fabian hafal dengan perawakan teman gokilnya tersebut.


"Joko! Woi... gak usah pura pura budeg lo, gue doain budeg beneran tau rasa lo!" Fabian kembali memanggil saat teman yang dipanggilnya itu mengacuhkannya.


Dan benar saja, anak lelaki yang berjalan di depannya tersebut langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan Fabian.


Kemudian anak lelaki yang dipanggil Joko oleh Fabian tersebut membalikkan badan ke arah Fabian.


"Udah gue bilang berkali kali nama gue Jack, Jackson Pradipta Anggara. Elo bisa panggil apa aja asal jangan panggil nama gue dengan sebutan orang kampung kek gitu." anak lelaki yang diberi panggilan Joko oleh Fabian tersebut terdengar kesal.


"Halah udah... enakan panggil Joko, lebih merakyat. Di kampung gini nama Jack gak laku, mendingan Joko kemana - mana. Lebih fammy... iya kan Rell?!" Bian dengan senyum tengilnya.


Farell tertawa kecil. "Kalau pengen ganti suasana panggil Jaka aja, biar kek urang Sunda cuy..."


"Dasar mbrengsek lo semua, emak gue bikin nama itu pakek doa... gak asal jeplak." Jack terlihat mengerucutkan bibirnya.


"Enggak segitunya jugak kali Bi." Jack yang dipanggil Joko tersebut menoyor bahu Fabian.


Hehehe...


Fabian terkekeh kecil, diiringi oleh Farell.


"Kantin nyookk." Fabian merangkul bahu Jack dan menggiringnya ke kantin tanpa persetujuan dari tubuh tambun tersebut.


"Untung lo berdua selevel sama gue, kalau enggak gue ogah berteman sama orang orang laknat kek lo berdua." Jack alias Joko meninggikan kerah baju seragam sekolahnya.


"Maksud lo selevel gimana? Apanya yang selevel bro?" tanya Farell.


"Satu level satu frekuensi sarapnya!" Jack berucap dengan tawa tergelak.


"Enak aja lo doang yang sarap, kita mah enggak ya kan Bi?" Farell meminta persetujuan Fabian.


"Elo berdua yang level sarapnya sama, gue mah yang paling normal" Fabian santai.


Kedua temannya yang merasa kesal, memberikan pukulan pada Fabian bersamaan.


Posisi Fabian yang berada di tengah membuatnya tidak bisa mengelak atas pukulan dari Farell dan Jackson. Hingga membuatnya tidak berhenti bergerak dengan mulut yang tergelak tak bisa menahan tawa geli.


Bahkan kedua teman laknatnya tersebut memberikan gelitikan tanpa henti hingga ketiganya memasuki kantin sekolah.

__ADS_1


"Mbrengsek kalian berdua!" ucap Fabian setelah berhasil melepaskan diri dari serangan kedua sahabatnya.


Nafas ketiga sahabat tersebut tidak berhenti naik turun.


"Joko! Elo yang pesenin kita makanan." titah Farell dengan seenaknya sembari menyeret Fabian menuju meja favorit mereka.


"Kok gue yang pesen, ntar gue juga yang bagian bayarin?!" Jack menautkan kedua alis matanya.


"Iya. Tapi tenang aja tar gue culik dompet Fabian biar duit lo gak berkurang." ucap Farell seenaknya.


"Njir... elo kalau mau derma pakek duit lo sendiri, jangan pakek malak orang." Fabian seolah tidak terima.


"Halah... cuma nraktir kita doang, lagian gocap juga sisa." ucap Farell santai.


Ck...


"Nyesel gue, punya temen tukang palak kek elo." Fabian berdecak.


"Sedekah brother, sedekah biar rejeki elo makin lancar." Farell mendudukkan diri pada bangku favoritnya sembari menarik paksa Fabian untuk segera duduk.


Beberapa saat setelahnya si Jack alias Joko kembali mendekat dengan nampan yang membawa tiga piring makan favorit ketiganya.


Karena mereka sudah berteman sejak lama, Jack pun tahu menu favorit kedua temannya tanpa harus bertanya lebih dahulu.


"Mana duitnya?" Jack menagih uang seperti janji Farell.


Farell menyenggol lengan Fabian yang sedang fokus mengetik sesuatu pada ponsel pintarnya.


"Fab... deb kolektor nagih tuh."


Tangan kiri Fabian mengambil dompet dari saku celana seragam sekolahnya karena tangan kanannya masih sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Nih." Fabian menyodorkan dompetnya pada Jack tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.


Dan tanpa disadari oleh Fabian, Khey melihatnya dari kejauhan dengan pandangan sengit.


"Cih... sok tajir." batin Khey mengeram kesal.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀

__ADS_1


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2