
Brek....
Fabian segera memeluk tubuh Khey dari belakang.
Membuat gadis yang sedang berdiri di tepi kolam renang bersama bunda Fabian itu terkejut, sontak menoleh ke belakang.
"Bi..." lirih Khey dengan kedua mata yang mengerjap.
Fabian mengeratkan pelukannya.
"Lo udah bikin gue khawatir tau nggak." Fabian dengan parau.
"Maaf." Khey mendongakkan kepala perlahan. Fabian semakin menyusupkan kepalanya ke bahu Khey dengan nafas yang masih menderu.
"Bi udah..." Khey bersalah mendorong tubuh Fabian agar melepaskan pelukannya. Khey merasa malu karena ada bunda Fabian di sana.
Bukannya merenggangkan tubuhnya, Fabian malah semakin mengeratkan kedua lengan tangannya pada tubuh Khey.
"Bian..."
"Biarkan seperti ini sebentar." Fabian masih tetap dengan posisinya.
Khey pun mau tak mau membiarkan Fabian.
Bunda memilih pergi meninggalkan tempat itu s3cara diam - diam. Tidak mau mencampuri urusan rumah tangga mereka.
Sedikit banyak Khey tekah bercerita tentang kondisi kedua orang tuanya karena sejak awal pergi dati rumah Khey menemui bunda Fabian dan tinggal di sana.
Kaitan dengan bolos sekolah Khey yang menginginkan, dia merasa perlu waktu untuk menata hati akibat pertengkaran orang tuanya yang sepertinya menginginkan perpisahan.
Meskipun kedua orang tua Khey belum mengungkapkan dengan jelas kepadanya maupun pada anak yang lain dan keluarga besarnya namun Khey sudah memiliki firasat jika kedua orang tuanya akan memilih mengakhiri rumah tangganya.
Dan bunda Fabian memberikan Khey ruang untuk menenangkan hati dan emosi gadis itu. Karena bunda Fabian tahu betapa berat menantunya tersebut menghadapi cobaan itu sendiri. Dan yang lebih menyakitkan bunda Fabian mengetahui jika bukan hanya sekali ini Khey mengalami peristiwa yang menyakitkan hati tersebut.
Setelah berhasil menetralkan deru nafasnya yang menderu dan mampu menguasai emosi di hatinya, perlahan Fabian mengendurkan pelukannya. Memberi jarak.
Kedua manik hitam itu menatap lekat gadis yang nampak sendu di hadapannya. Fabian merasakan kegundahan yang tengah Khey rasakan saat ini.
"Kenapa lo nggak cerita ke gue?" Fabian dengan lembut.
"Gue nggak mau ganggu konsentrasi lo." Khey lirih.
Fabian menghela nafas pelan.
"Kita suami istri sekarang, apapun yang terjadi sama lo itu gue wajib bertanggung jawab Ra. Elo prioritas gue." Fabian dengan menangkup wajah Khey yang mungil diantara kedua telapak tangan kekarnya.
Ada kesedihan mendalam dari manik hitam sang isteri, dan Fabian tahu pasti penyebabnya. Tapi dia tidak ingin memaksa Khey bercerita saat ini.
Setidaknya untuk saat ini, Fabian memberikan Khey waktu untuk menenangkan diri.
"Kenapa lo matiin handphone lo?" Fabian memilih mengganti topik pertanyaan.
"Hape gue ilang."
__ADS_1
Hah...
Fabian dengan mulut terbuka.
"Sepertinya jatuh di jalan atau taxi yang gue tumpangi saat mau bertemu bunda. Entahlah saat gue menyadari hape gue nggak ada. Dan waktu itu gue udah ada di rumah ini." Khey tidak yakin.
"Saat gue sadar hape gue nggak ada, bunda coba hubungi nomor gue tapi udah nggak bisa waktu itu." Khey memberi alasan saat pandangan mata Fabian menuntut penjelasan.
"Oh." Fabian pendek. "Kenapa nggak kasih kabar ke gue kalau lo di sini."
"Pakek apa?"
"Pinjam hape bunda bisa kan?!"
"Gue nggak kepikiran, gue terlalu tenggelam sama kesedihan gue." Tidak sepenuhnya Khey bohong karena memang dia terlalu sedih saat itu. Sesungguhnya ada keinginan Khey ingin memberitahu Fabian, namun Khey malu untuk meminjam pada bunda Fabian. Akhirnya dia memilih menunggu kepulangan Fabian.
"Kenapa bunda juga nggak cerita sama gue." Fabian dengan gumaman yang tidak terdengar jelas.
"Apa?" Khey.
"Enggak."
Secara tiba tiba Fabian kembali merengkuh tubuh Khey, menenggelamkan wajah gadis itu di dada bidangnya.
"Jangan lagi seperti ini, jangan bikin gue khawatir. Gue nggak suka perasaan itu." bisik Fabian dengan tegas.
"G_gue takut." Khey dengan meremas punggung Fabian kuat untuk menyalurkan rasanya.
"Gue ada di sini." Fabian menenangkan.
"Gue nggak bakal biarin itu terjadi, gue janji." Fabian mempererat dekapannya.
πππ
"Bi..." Khey dengan menggoyangkan kaki Fabian yang menggantung di ranjang.
Hnm...
Hanya terdengar gumaman dari lelaki yang terlentang menutup mata di atas ranjang tersebut.
"Bangun! Mandi dulu sana." Khey mendudukkan diri di tepi ranjang tepatnya di sisi kaki Fabian yang masih lengkap dengan sepatunya.
Tangan mungilnya bergerak melepas sepatu serta kaus kaki yang masih menempel erat di kaki sang suami.
Setelah kedua remaja itu memasuki kamar, Khey memutuskan untuk mandi lebih dahulu karena Fabian memilih setelahnya dengan alasan akan mengistirahatkan tubuhnya sesaat.
Khey memaklumi saat itu karena Fabian baru pulang dari perjalanan jauh, dan lagi berputar mencarinya tanpa henti. Suami tengilnya itu pasti lelah. Untuk itu Khey putuskan dia yang mandi lebih dulu.
"Bi... bangun keburu maghrib." Kalu ini Khey menggoyang kaki Fabian dengan lebih kencang.
"Bentar yang, ngantuk banget." sahut lelaki yang menutup wajah dengan salah satu lengan tangannya tersebut.
"Udah hampir maghrib." Khey mempertegas ucapannya.
__ADS_1
"Semenit lagi." Fabian dengan mengacungkan telunjuk pada tangannya yang lain, tetap dengan kedua mata yang masih terpejam.
Bukannya membiarkan, Khey memilih merangkak menaiki ranjang.
Dengan tubuh yang sedikit merunduk Khey meniup wajah Fabian.
Fabian menggerakkan wajahnya, sepertinya dia merasa terganggu dengan ulah Khey.
Khey kembali mengulangi perbuatannya.
Kali ini Fabian menggeser lengan tangan yang menutupi wajahnya.
"Yang... biarin gue tidur bentar." Fabian dengan memincingkan salah satu matanya.
"Udah maghrib Bi... nggak baik tidur jam segini." Khey kekeh membangunkan sang suami.
"Belum juga adzan."Fabian dengan menutup mata kembali. Rasanya masih sangat berat untuk membuka mata.
"Elo mandi, pasti adzan segera berkumandang."
"Semenit aja yang..." Fabian memelas.
"Udah lebih dari semenit ini." kali ini Khey menganggu Fabian dengan menyentuh kelopak mata sang suami. Melakukan gerakan seolah olah memaksanya terbuka.
Merasa terganggu Fabian pun menahan tangan Khey lalu membuka matanya, sedikit terkejut saat mendapati wajah Khey tepat di atas wajahnya.
Sesaat Fabian mematung, antara terpana dengan wajah putih Khey yang setengah basah atau mungkin Fabian sedang berusaha mengumpulkan nyawanya yang baru setengah sadar.
Entah mendapat dorongan dari mana, Fabian mendekatkan wajahnya perlahan hingga menyisakan jarak beberapa senti saja dari wajah isterinya.
Membuat Khey termangu. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Khey saat ini kecuali menahan nafas. Khey memejamkan matanya saat wajah Fabian semakin mendekat.
Cup...
Fabian pun menangkup bibir ranum Khey yang telah beberapa kali dicicipi olehnya.
Tidak ada penolakan dari gadis yang biasanya berlaku barbar kepadanya tersebut.
Perlahan Fabian pun mengambil alih posisi. Membaringkan sang istri di ranjang, berganti dirinya menindih tubuh sang isteri tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.
Sedetik kemudian.
"Bian Ara..." panggil bunda Fabian tetiba dengan membuka pintu kamar.
Dengan segera Khey mendorong tubuh Fabian kuat, hingga membuat tubuh jangkung itu terjengkang. Beruntung masih tetap di atas ranjang.
"Maaf." Bunda kembali menutup pintu dengan segera.
"Makan malam sudah siap." Teriak bunda Fabian dari balik pintu kamar.
ππππ
Yang merasa tebakan Khey tinggal di mana benar, pasti senyum puas saat baca part ini... iye kan...
__ADS_1
HAYO....NGAKUπππ