Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA29


__ADS_3

"Buka enggak ya..." Khey mengulurkan tangannya pada dompet Fabian dengan ragu.


Tangan kanan Khey sudah mendarat di atas dompet Fabian, namun sedetik kemudian ragu melanda hatinya.


"Gimana kalau tiba tiba Bian keluar dari kamar mandi?" Khey menggumamkan tanya pada dirinya sendiri.


Khey pun menarik kembali tangannya, lalu menoleh ke arah pintu kamar mandi kembali.


"Ah buka aja deh, paling juga lama di dalam." putus Khey kembali mendaratkan tangannya pada dompet Fabian.


Set...


Dengan gugup dan tangan yang gemetar Khey mengambil dompet tersebut lalu memegang dengan kedua tangannya. Menolehkan kembali pandangannya ke arah pintu kamar mandi, dan ternyata pintu itu masih saja tertutup dengan rapat.


Mulut Khey tidak berhenti berkomat kamit mengucap kata, berharap Fabian tengil tidak segera keluar dari kamar mandi.


Khey memejamkan mata sesaat dengan tangannya bergetar membuka dompet Fabian. Entah kenapa dalam hati Khey merasa takut dengan penampakan gadis yang ada di dalam foto yang terletak pada dompet suaminya.


Takut jika benar foto tersebut adalah kekasih Fabian suaminya. Dan takut jika gambar di dalam foto tersebut benar benar seorang gadis yang berwajah cantik sesuai ucapan Jackson saat di kantin sekolah tadi siang.


Apakah ini uang dinamakan cemburu?


Bukan... pasti bukan... Khey menampiknya.


Ini pasti hanya sebuah rasa penasaran yang hadir dalam tempurung kepalanya. Bukankah Fabian tengil kini adalah suaminya. Jadi... wajarkan kalau dirinya penasaran akan siapa gadis yang ada di dalam dompetnya.


Apalagi Khey merasa jika dirinya juga perlu tau banyak tentang siapa dan bagaimana Fabian agar suatu saat dapat menemukan kelemahan Gsbisn dan menuntutnya untuk berpisah darinya.


Khey masih saja berharap jika hubungan pelajarannya dengan Fabian tengil dapat berakhir dan dirinya bisa mberakhir dengan menikah dengan Doni sang kekasih.


Setelah merasa dompet di tangannya sudah terbuka, Khey mulai membuka kelopak matanya secara perlahan.


Bluk...


Sebuah kain dengan bau keringat khas laki laki tetiba mendarat di wajah Khey saat kedua matanya hendak terbuka sempurna.


"Apaan sih ini, gangg... gu ajja..." salah satu tangan Khey menghalau kain tersebut.


Kening Khey mengerut saat melihat seragam di tangannya ternyata adalah baju seragam atas milik Fabian.


"Loh kok baju Bian." gumam Khey memandangi baju putih tersebut.


"Kalau ini milik Bian berarti..." Khey menoleh ke arah pintu kamar mandi.


Hek...


Kedua mata Khey membola, mulutnya menganga saat melihat sosok jangkung Fabian berdiri memandangnya dengan bersidekap dada.


"Bbib... bibb... bbyan." Khey tergagap.


"Apa? Kenapa?" Fabian datar dengan tetap fokus ke arah Khey.


"Sejak kapan lo berdiri di situ?" Khey semakin gugup, takut jika aksinya terpergok oleh Fabian tengil.


Dengan santai Fabian melangkahkan kakinya mendekati Khey. "Sejak lo pegang dompet gue."


Hek...


Lagi lagi Khey tercekat mendengar penuturan Fabian tengil.


"Jja... jjaddi ello..." Wajah putih Khey berubah pias.


"Iya." sahut Fabian sembari mengambil dompetnya yang masih dipegang oleh Khey dengan segera.

__ADS_1


Khey mematung sesaat, bingung harus berucap kata maupun berbuat apa. Yang pasti dadanya berdebar semakin kencang takut jika Fabian berfikir macam macam padanya.


"Elo mau ambil duit gue? Pemberian gue tadi siang kurang?" Fabian bertanya sembari menelisik wajah Khey yang gugup dan semakin memucat.


Dompet Fabian sudah berpindah tangan pada pemiliknya sekarang, padahal Khey belum sempat melihat foto dalam dompet tersebut.


Sebenernya Fabian tahu akan maksud dan tujuan Khey mengambil dompetnya, namun dirinya tidak ingin membuat gadis yang telah sah menjadi istrinya tersebut malu, Fabian memilih pura pura tidak tahu akan maksud Khey yang sesungguhnya.


Dengan cepat Khey menggelengkan kepalanya kuat.


"Enggak kok... enggak. Gue... gue..." Khey tidak berhenti menggerakkan gerakkan bola matanya, berusaha mencari jawaban yang tepat agar suami tengilnya itu tidak mencurigainya.


"Kenapa?" tanya Fabian dengan menaikkan salah satu alis matanya. Dalam hati tertawa saat melihat gadis barbar itu kebingungan mencari alasan.


"Ggue... em... ggue cumma mau merapikan meja belajar gue aja... iya... gue cuma mau merapikannya." Khey dengan gugup segera mengusap dan meraih buku di atas meja belajarnya dengan menumpuk dan menaruh pada rak di atasnya.


Fabian memandang Khey, seolah menelisik kebenaran ucapan isterinya meskipun sebenarnya Fabian tau jika Khey saat ini sedang berbohong padanya.


"Udah... gak usah bohongin gue... kalau lo butuh uang tambahan ngomong aja, gue tambahin kok." ucap Fabian dengan membuka dompet di tangannya.


"Enggak Bi, enggak!" Khey berseru dengan mengibaskan telapak tangannya, seakan memberitahu Fabian jika dirinya menang tidak menginginkan uang tambahan.


Namun saat melihat Fabian membuka dompetnya, kepala Khey terlihat melongok dan ingin melihat lebih dekat dompet suaminya.


Salah satu sudut bibir Fabian tertarik ke atas tanpa Khey menyadarinya.


Fabian pun merubah posisi letak dompetnya yang semula terbuka ke arah Khey menjadi sebaliknya. Beruntung foto dalam dompet Fabian tertutupi oleh tangan besar Bian, jadi Khey tidak dapat melihat wajah dalam foto tersebut.


Khey pun mendengus kesal.


Sial... gak bisa liat fotonya lagi. Khey mengumpat dalam hati.


"Nih... gue tambahin uang saku lo." Fabian menyodorkan tiga lembar uang ratusan ke hadapan Khey.


Khey yang sejatinya bukan menginginkan uang Fabian akhirnya memilih menerimanya agar suami tengilnya itu tidak mencurigai tindakannya memegang dompetnya tadi.


Khey tergagap, sebenarnya dirinya cemberut bukan karena uang pemberian Fabian melainkan musibah yang gagal untuk melihat foto dalam dompet sang suami.


"Gue gak cemberut." sahut Khey cepat.


"Gak usah bohong, siapa pun yang liat muka masam lo pasti menebak sama kek tebakan gue." ucap Fabian dengan memasukkan dompet ke dalam saku celana belakang jinsnya.


"Masih kurang lagi?" Fabian masih dengan tangan di belakang celana saat melihat wajah Khey masih saja masam.


"Enggak. Cukup." Khey datar.


"Kalau gitu senyum dong, jangan cemberut." Fabian menarik kedua ujung bibir Khey dengan kedua tangannya, hingga membuat Khey membingkai senyum terpaksa pagi wajahnya.


"Nah kek gini kan cakep." Fabian mencubit pipi Khey dan sedikit menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.


"Bi... sakit." Khey berusaha melepas kedua tangan Fabian dari pipinya.


"Sorry." Fabian melepaskan cubitannya.


"Habisnya elo nggemesin kalau senyum, jadi pengen cium." lanjut Fabian dengan memandang intens wajah Khey.


Khey mencebik.


"Kumat mesumnya."


"Mesum sama isteri mah sah sah aja, malah dapat pahala." Fabian dengan senyum manis membingkai wajahnya.


Khey pun sesaat terpesona dengan senyuman Fabian tengil, tanpa sadar menatap wajah baby face di depannya dengan dalam.

__ADS_1


Fyuh...


Fabian meniup wajah Khey setelah beberapa detik memandangi wajah tampannya.


"Elo terpesona dengan wajah tampan gue?"


Khey pun tergagap menyadari perbuatannya.


"Enggak." elak Khey dengan memalingkan wajahnya untuk menutupi rona malu serta rasa kikuknya karena merasa terpergok memuja wajah Fabian tengil.


"Nggak usah bohong, wajah gue memang tampan kok. Gak bosenin juga bikin kangen." ucap Fabian dengan pede.


"Ck... sok ngartis." Khey masih dengan memalingkan wajahnya.


"Biarin... tapi bener kan kalau wajah tampan gue ngangenin?!"


"Enggak!" Khey masih saja mengelak.


"Udah gak usah malu buat ngomong jujur." Fabian meraih dagu Khey dan membawanya untuk menghadap wajahnya.


Sesaat Khey memandang wajah tampan di depannya, lalu dengan cepat menunduk karena tidak ingin membuat degub jantungnya berdetak tidak sehat.


Fabian sedikit menunduk lalu memiringkan wajahnya memposisikan wajah untuk mencium.


Perlahan memajukan wajahnya hingga...


Cup


Kecupan singkat mendarat pada sudut bibir Khey.


Khey terdiam, tubuhnya seakan mematung.


"Sebenernya gue masih ingin menikmatinya, tapi gue harus kerja sekarang." ucap Fabian dengan mengusap lembut bekas kecupannya pada sudut bibir Khey.


Khey mendongak, memandang Fabian dengan mengerjapkan mata berulang.


Cup.


Fabian kembali mencium Khey, kali ini tepat menempel pada bibir Khey sedikit lebih lama.


Beberapa detik setelahnya Fabian melepaskan tautan bibirnya.


Khey masih saja mematung, ciuman tiba tiba dari Fabian membuatnya linglung.


"Gue kerja dulu." pamit Fabian lalu beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari isterinya.


Setelah Fabian beranjak keluar kamar, Khey baru tersadar.


"Biaannn... ciuman pertama gue!" Khey berteriak kencang menyadari semuanya.


Fabian yang sudah menjauh dari kamar, menuruni tangga dengan membingkai senyum kemenangan pada wajah baby facenya.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2