
"Bian ikut gue sekarang." Nina menarik kuat salah satu tangan Fabian saat tanpa sengaja mereka berpapasan di depan ruang laboratorium sekolah.
"Ngapain sih Nin pakek tarik tarik segala... gue bisa jalan sendiri!" Fabian mengayunkan tangannya agar terlepas dari Nina.
Namun Nina malah memperkuat dengan menarik tangan Fabian dengan kedua tangannya.
"Nin..."
Nina mengabaikan, Fabian dengan tersendal, terpaksa mengikuti Nina.
"Apa yang lo lakuin kemarin?" tanya Nina dengan sorot mata seakan menguliti tubuh Fabian setelah keduanya sampai pada sisi sekolah yang cukup sepi.
Fabian mengernyit. "Maksud lo?"
"Kemarin lo lagi sama cewek lo kan?!" Nina mengingatkan saat melihat raut wajah Fabian seperti kebingungan.
"Iya, kenapa emangnya?" Fabian enteng.
"Lo tanya kenapa dengan enteng gitu?" Nina tersengih.
Dalam hati gadis berambut ombre yang menyimpan rasa pada Fabian itu bergemuruh. Marah, kesal dengan emosi yang naik hingga ke ubun. Nina berfikir jika Fabian telah melakukan hubungan terlarang dengan kekasihnya. Dan itu membuat Nina semakin kesal karena jika sampai kekasih Fabian hamil, dirinya tidak memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih dengan Fabian.
Nina masih saja berharap bisa memiliki Fabian.
"Lah kenapa emangnya, ada yang salah gue ketemuan sama cewek gue?"
"Bian!! Poin pentingnya bukan itu." Nina mendengus. "Elo sadar nggak sih kalau gaya pacaran lo itu sudah kelewat batas!" Nina menatap lurus pada manik hitam Fabian dengan bersidekap dada.
"Kelewat batas gimana maksud lo? Nggak usah sok tau deh lo." Fabian melupakan bagian Nina yang menelfon dirinya dan tanpa sadar mengeluarkan kata ambigu kemarin.
"Elo mau gue ceramahin tentang dosa?" Nina sok peduli pada Fabian. Karena sebenarnya Nina berkata seperti itu bukan karena peduli melainkan dari dalam lubuk hatinya, Nina merasa tidak terima jika ada gadis lain yang mampu meluluhkan hati Fabian.
Heh...
Fabian tersenyum miring.
"Nin, gue tau siapa lo, kehidupan lo... so nggak usah sok suci di hadapan gue."
"Bian!!" Nina dengan tidak terima.
"Apa? Omongan gue salah? Enggak kan?!" Fabian sesungguhnya sudah muak dengan Nina yang tidak mau berhenti mengharapkannya.
"Yang gue omongin ini tentang elo, bukan gue Bian."
"Nggak usah ikut campur urusan gue!" Fabian tegas seraya beranjak pergi.
Baru saja dua langkah melewati Nina.
"Om tante tahu kalau gaya pacaran lo kelewat batas?!" Nina berseru, bermaksud memprovokasi Fabian.
__ADS_1
Fabian menghentikan langkahnya, menghirup nafas dalam lalu berbalik ke arah Nina kembali.
"Mereka tau." Fabian datar namun dingin.
"Yakin mereka tau?" Nina dengan tersenyum miring.
"Terserah lo percaya atau nggak, nggak ada urusan juga sama lo." Fabian membalik tubuhnya.
"Kalau gitu gue yang bakal kasih tau mereka." Nina terdengar mengancam.
"Serah lo." Fabian berlalu meninggalkan Nina.
"Sial... sial..!!" Nina menghentakkan kaki dengan kesal.
"Liat aja nanti, gue nggak bakal tinggal diam Bian. Gue pasti bisa ngerebut hati lo jadi milik gue." Nina bergumam dengan kedua tangan yang mengepal. Memandangi punggung jangkung Fabian yang perlahan mulai mengecil.
πππ
Khey melangkahkan kaki dengan pelan, sesekali dia melirik sekitar kalau kalau ada yang memperhatikan penampilannya yang aneh.
Bagaimana tidak aneh, jika Khey yang biasa berpenampilan modis dan fresh saat pergi ke sekolah, hari ini dia menggerai rambut hitamnya tanpa sedikitpun hiasan di sana. Bahkan Khey menutup kancing seragam atasnya hingga leher.
Hanya tinggal menambah sentuhan kacamata akan membuat penampilan Khey layaknya gadis cupu yang tidak pandai bergaul.
Khey menghembuskan nafas lega karena hingga memasuki ruangan kelas tidak seorang pun peduli dengan perubahan stylenya pagi ini.
Segera Khey melangkahkan kaki menuju bangku miliknya. Mengeluarkan buku pelajaran untuk mencari kesibukan sembari menunggu bel tanda masuk berbunyi.
Khey terlihat tidak peduli, memilih fokus pada buku pelajaran di depannya.
"Pura pura budeg lagi..." Rhea sedikit kesal.
"Siapa yang budeg?" Tertiba Alya datang seraya duduk di sebelah Khey.
"Tuh temen semeja lo." Rhea menunjuk
Khey dengan dagunya.
Alya menoleh. Dahinya menggerut saat melihat penampilan Khey yang mengurai rambut hitamnya di saat cuaca panas sperti hari ini.
"Elo nggak kepanasan Khey rambut lo biarin terurai kek gitu?" tanya Alya.
Membuat Khey menelan ludah kelat.
"Eng... ggak..." Khey terdengar gagap.
Dan itu membuat Alya penasaran dengan sang sahabat.
"Elo ada masalah Khey?" Lagi Alya yang bertanya.
__ADS_1
"Enggak kok." jawab Khey masih enggan beralih fokus dari bukunya.
Alya yang lemot namun tak jarang memiliki sifat sensitif itu memandang Khey dengan menyelidik. Mana mungkin di pagi hari yang sudah sangat gerah ini Khey berpenampilam layaknya mbak kunti yang mau berangkat nongki di batang pohon kedondong kek gitu.
Pasti ada yang tidak beres pada sahabatnya itu, mungkin ada sesuatu yang sengaja ditutupi olehnya.
Set...
Alya menyibak sebagian surai hitam yang menutupi wajah sang sahabat.
"Hah... ngapain lo kancingin baju seragam sampek leher kek gitu Khey?" seru Alya saat mendapati penampilan cupu sahabatnya.
Sontak kedua mata Khey mendelik, menepis kasar tangan Alya dari rambutnya.
"Rambut lo sampek basah gini?" Alya dengan memperhatikan serta meraba telapak tangannya yang sedikit basah setelah menggunakannya untuk menyibak surai hitam Khey.
Ya... bagaimana tidak jika cuaca panas, pastilah membuat gerah dan menjadikan rambut Khey lepek.
Rhea yang semula hanya memperhatikan, melirik Khey yang kembali memandang buku pelajarannya sembari menata kembali rambut hitamnya seperti semula hingga menutupi sebagian wajahnya.
Setelahnya memberi tanda pada Alya melalui ekor matanya untuk menyibak surai hitam Khey kembali. Rhea berfikir jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya.
Set...
Kembali Alya menyibak surai hitam Khey dengan cepat. Kali ini Alya menahan rambut hitam Khey dalam genggaman tangannya.
"Apaan sih Al..." Khey berusaha menepuk tangan Alya.
Namun buru buru Rhea mencekal kedua pergelangan tangan Khey kuat.
"Apaan sih kalian berdua! Lepas!!" Khey dengan menggelengkan kepala kuat serta berusaha membebaskan kedua pergelangan tangannya dari cengkeraman Rhea.
"Apa lagi yang elo sembunyiin dari kita?" Rhea menatap Khey dengan penuh selidik.
"Nggak ada! Nggak ada yang gue sembunyiin." Khey kekeh.
"Al..." Rhea memberi tanda pada Alya melalui dekor matanya.
Alya mengangguk.
Menyatukan rambut hitam panjang milik Khey lalu mengikatnya dengan pengikat rambut milik Alya yang biasa dia gunakan sebagai gelang tangan.
"Hei,,, kalian ngapain sih?!" Khey dengan berusaha menghalangi tangan Alya yang memvuja jsncibg baju atasnya.
"Karena lo nggak mau diajak ngomong baik baik, kita perkosa aja ya kan Rhe..." Alya mengerling pada Rhea. Disambut dengan senyum seriangai oleh Rhea.
Hah....
Wow...
__ADS_1
Alya dan Rhea membola, serempak melepaskan tangannya dari tubuh Khey seraya menutup mulut mereka.
ππππ