Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA134


__ADS_3

Glek...


Fabian tercekat saat mendapati tubuh Khey yang terlihat transparan di balik kemeja putih miliknya, berjalan keluar dari kamar mandi.


Kemeja Fabian yang dikenakan oleh Khey itu hanya menutupi setengah tubuh atasnya saja. Meski inti tubuh Khey tidak terlihat, namun kaki jenjang Khey yang mulus bak kaki jerapah itu sangat menggoda hasrat kelakian Fabian.


Bagaimanapun Fabian adalah lelaki normal. Bahkan beberapa saat lalu telah mencicipi nikmatnya surga dunia bersama sang pemilik tubuh menggoda tersebut.


Gundukan gunung kembar yang membusung, tercetak jelas di balik kemeja putih yang dua kancing atasnya terbuka tersebut. Pucuk kembarnya juga membuat kemeja putih tersebut mengerucut membuat ujung baju bagian bawah sedikit terangkat.


Fabian tau betul tubuh ramping itu tidak mengenakan apapun selain kemeja putih miliknya.


Shiit...


Umpat hati Fabian saat merasakan celana panjang yang baru saja dikenakan olehnya beberapa detik lalu terasa mengetat.


Setelah keluar dari kamar mandi Fabian memang mengenakan celana panjangnya kembali, dan tentunya membiarkan tubuh atasnya bertelanjang dada.


Saat ini Fabian sedang duduk di tepi ranjang, membuka ponsel pintarnya untuk mengecek beberapa pesan yang telah masuk sedari sore tadi.


Ekor mata Fabian mengunci tubuh Khey yang bergerak semakin mendekat kepadanya. Fabian menahan dengan sekuat tenaga hasrat kelakiannya yang kembali menyeruak dari dalam tubuhnya.


Beberapa langkah berjalan Khey menghentikan langkahnya. Membungkukkan tubuhnya, meraih baju miliknya yang masih berserakan di lantai ruang belajar.


Posisi Khey yang sedikit membungkuk, menghadap Fabian membuat suami tengilnya itu terkesiap saat ekor matanya mengintip gundukan kembar sang isteri ketika meraih baju di lantai kamar. Lagi lagi Fabian harus menelan ludahnya kelat. Menahan segala rasa yang meminta disalurkan.


Fabian menahan nafas kuat ketika Khey menegakkan tubuhnya kembali. Sepertinya setelah ini Fabian harus memperkuat diri agar tidak setiap saat tergoda untuk menerkam isteri barbarnya.


"Bi... rok gue di mana?" tanya Khey sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari rok miliknya.


"Hah... apa?" Fabian sedikit tergagap karena sejak beberapa detik lalu fokus menepis hasrat kelakiannya yang semakin memberontak. Bahkan sudah terasa nyut nyutan saat ini.


"Rok gue di mana, kok nggak ada?!" Khey mengulang pertanyaannya.


"Emm... di mana ya...?" Fabian ikut memindai sekeliling. Fabian sendiri tidak tahu dimana keberadaan rok Khey yang telah dia lemparkan sembarang.


Beberapa detik memindai ruang belajarnya.


"Itu tuh, keknya di deket kaki meja." Fabian menunjuk kain berbahan jins denim yang tergeletak begitu saja.


"Jauh banget sih buangnya." Khey bersungut namun tetap berjalan mendekati kaki meja belajar Fabian.


"Awas nanti gue bakalan balas." Khey masih saja kesal pada Fabian yang seperti sengaja membuang jauh rok jins miliknya.


"Gue nggak sengaja yang...." Fabian tetap di tempatnya namun arah pandangan matanya tetap mengikuti gerak tubuh sang isteri.


"Nggak percaya gue." Khey membungkukkan badan, memungut roknya.


Haisshh... sial...

__ADS_1


Lagi Fabian mengumpat karena Khey membungkuk dengan posisi memunggungi Fabian. Membuat kemeja putih yang dikenakan Khey menyingkap ke atas. Otomatis Fabian harus kembali mendapatkan pemandangan yang membuat gairahnya kembali naik.


Huhh...


Hembusan nafas pendek keluar dari mulut Fabian setelah cowok tengil itu mengusap wajahnya kasar.


"Jangan salahkan gue kalau gue minta lagi..." gumam Fabian lirih seraya berjalan ke arah Khey yang masih pada posisi setengah membungkuk.


Hug.


Fabian mendekap tubuh Khey dari belakang, saat gadis yang telah berubah gelar menjadi seorang wanita tersebut menegakkan tubuhnya kembali.


"Bbi..." Khey terkejut dengan menoleh ke belakang, dimana tubuh jangkung Fabian telah merengkuh tubuhnya.


Cup...


Fabian menyusup ceruk bahu Khey sembari memberikan kecupan di sana.


"Bi... lo mau ngapain?" Khey menggerakkan tubuhnya seperti ingin menghindar. Namun Fabian semakin mengeratkan pelukannya. Dan lagi bibir basah itu mulai menjelajah permukaan kulit leher Khey penuh gairah.


"Bian!" Khey membalik tubuhnya segera.


Hmn...


Gumam Fabian dengan kedua mata yang telah berkabut hasrat.


"Hentikan." pinta Khey dengan menjauhkan wajahnya yang hendak dicium oleh Fabian.


"Bii... ini udah lewat tengah malam, waktunya kita tidur." Khey berusaha mendorong dada Fabian agar berhenti.


"Shubuh masih panjang yang..."


Deru nafas Fabian yang keluar dari mulutnya, menerpa kulit permukaan wajah Khey dan membuat bulu halusnya meremang.


"Gue lelah Bi, tubuh gue rasanya remuk kek bekas diinjek gajah."


"Nanggung yang, nggak bisa ditahan lagi." Fabian menggendong Khey di atas perutnya.


Mau tak mau Khey mengalungkan kedua tangannya ke leher Fabian, kedua kakinya pun ikut mengunci pinggang Fabian.


Inti tubuh Khey yang melekat tepat dengan perut Fabian membuat cowok tengil itu tidak dapat lagi menahan hasratnya.


Segera meraup bibir Khey dalam kuasanya sembari berjalan ke arah ranjang.


Khey yang semula sempat menolak, ikut menikmati cecapan Fabian dengan sesekali bertukar saliva.


"Ra, lagi ya..."


Kini tubuh Khey sudah di atas ranjang dan dalam kungkungan Fabian.

__ADS_1


Tak ada kata yang keluar dari bibir Khey. Gadis itu hanya mengangguk pekan dengan tangan yang kembali membuka pengait kemeja Fabian yang dipakai olehnya.


Slurp


Fabian segera menyambar gundukan kembar di bawahnya dengan segera setelah dibuka sempurna oleh sang isteri. Layaknya anak kecil yang menyusu pada ibunya.


Isshh...


Desis lirih lolos dari bibir Khey saat tangan Fabian silih berganti memilin pucuk kembarnya bergantian dengan mulutnya.


Puas membengkakkan bibir Khey kembali, Fabian segera mengarahkan tuas pabrik kecebongnya pada pintu pabrik yang masih saja terasa sempit.


Ah... ahh...


Suara suara berisik keluar dari mulut pasangan suami isteri remaja itu silih berganti saat tuas pabrik kecebong itu bergerak maju mundur tanpa jeda.


Titik titik peluh yang tumbuh pada punggung Fabian tidak membuat cowok tengil itu mengakhiri aksinya., melainkan semakin mempercepat gerakannya untuk mendapatkan puncak kepuasan.


Bruk


Fabian membanting tubuhnya di sisi tubuh Khey setelah dirinya dan Khey sama-sama mendapatkan pelepasannya


Sesaat mengatur nafas yang menderu, sebelum menarik tubuh Khey dalam pelukannya.


"Makasih yang, udah buat malam panjang yang nggak bakal bisa gue lupain." Fabian seraya mengecup kening Khey cukup lama.


Hm... Khey hanya menggumam dengan mengeratkan tubuhnya pada tubuh Fabian.


"Capek banget hnm..." Fabian menumpukan dagu pada pucuk kepala isterinya.


"Iya."


Jujur saja malam ini adalah malam yang sangat melelahkan bagi Khey.


"Ngantuk banget." Khey berucap dengan mata terpejam, tidak dapat menahan kantuknya.


"Maaf. Tidurlah." Fabian mengusap lembut punggung polos sang isteri.


"Jangan minta lagi gue beneran capek." Khey mewanti wanti.


"Iya iya... udah puas kok buat malam ini." Fabian terkekeh kecil lalu mengecup lama pucuk kepala Khey.


"Awas aja kalau bohong, ntar gue bilangin temen temen lo kalau lo pernah ngompol karena takut ke toilet sendirian."


Hah...


Fabian memberi jarak tubuhnya, memandang isterinya terkejut.


Ingin rasanya meminta penjelasan namun sayang gadis itu sudah terlelap.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2