Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA53


__ADS_3

"Bi..." Khey memanggil nama Fabian dengan hati hati.


Hm


Fabian hanya menggumam tanpa mengalihkan pandangan dari laptop di depannya, apalagi jari jemarinya sedang sibuk mengetik pada keyboard laptopnya.


Kedua pasangan suami isteri remaja itu sedang berada di kamar mereka, kamar Khey lebih tepatnya. Karena Fabian dan Khey tinggal di rumah orang tua Khey.


Fabian masih menyiapkan apartemen untuk mereka berdua, dan sekarang masih dalam tahap renovasi. Jadi Fabian belum bisa membawa Khey untuk tinggal di sana.


"Elo sibuk banget ya?" Khey dengan meremas ujung baju atasnya.


Hm


Lagi lagi hanya gumaman yang keluar dari mulut Fabian.


"Ggue... mau ngomong sesuatu sama lo." Khey takut takut.


"Ngomong aja... telinga gue bisa denger kok." Fabian dengan tetap fokus pada laptop di depannya.


Hening.


Tetiba Khey bingung untuk mengucapkan kata.


"Ngomong aja Khey, dengan jarak segitu telinga gue masih bisa denger. Pendengaran gue masih normal."


Mereka berdua memang cukup berjarak karena Khey duduk di tepi ranjang sedangkan Fabian duduk di kursi belajar milik Khey.


Khey menghembuskan nafas resah.


"Ggue... gue... belum bisa putus sama Doni." Akhirnya kalimat kejujurannya keluar dari bibirnya.


Khey menggigit bibir bawahnya kuat. Jemari tangannya tidak berhenti bergerak saling meremas untuk menghilangkan rasa cemas akan reaksi Fabian.


"Terus mau sampai kapan lo bakal bertahan?" Fabian terdengar datar tanpa menoleh ke arah Khey sama sekali.


Sungguh reaksi yang tidak pernah Khey duga sebelumnya. Karena Khey membayangkan jika Fabian tengil akan marah kepadanya. Setidaknya bakal melotot kepadanya, bukan malah bertanya tentang kelanjutan hubungannya sama Doni.


Khey menghirup nafas kuat.


"Setidaknya sampai dia sembuh."


"Terserah lo." Fabian tetap saja datar tanpa sedikit pun terlihat emosi. Cowok tengil itu tetap saja tenang, sangat tenang malah.


Sedang reaksi Khey bertolak belakang dengan Fabian. Gadis itu sangat gelisah, dadanya berdegub kencang seakan ketenangan Fabian malah membuatnya takut.


"Elo gak marah Bi?" Khey dengan takut takut.


"Emangnya dengan gue marah lo bakal nurut sama omongan gue... Elo bakalan ninggalin Doni sekarang... Enggak kan?!!"


Deg...


Ucapan Fabian membuat dada Khey yang berdegub kencang seakan berhenti mendadak.


Meskipun ucapan Fabian terdengar datar dan tenang, namun itu cukup membuat hati kecil Khey tersentil.


"Gue janji setelah Doni sembuh, gue bakal putus sama dia."


"Gak usah janji kalau lo gak bisa menepati." Fabian lagi lagi menyentil hati khey.


"Bi... kali ini aja gue minta pengertian lo."

__ADS_1


"Memang selama ini gue nggak ngertiin elo Ra..." Fabian dengan menoleh ke arah Khey hingga membuat pemilik kedua manik mata coklat itu membeku.


Meskipun sorot mata Fabian terlihat biasa tanpa emosi namun sorot mata itu seolah mengintimidasi Khayyara.


"Enggak. Lo selalu ngertiin gue." Khey kelat dengan menundukkan kepala. Khey tidak nyaman dengan pandangan mata Fabian untuknya.


"Terus maksud ucapan lo barusan?!"


"Gue salah, gue minta maaf." Khey masih menunduk dengan salah satu kaki yang tidak berhenti bergerak melukis lantai kamar. Khey melakukan itu untuk menghilangkan kegugupannya.


"Cuma orang bodoh yang selalu minta maaf untuk kesalahan yang sama." Kali ini ucapan Fabian terdengar dingin.


"Gue tau." Khey terdengar lirih.


"Dan elo melakukannya."


Lagi lagi Fabian berhasil membuat lidah Khey kelu.


Haish... babang Bian tengil selalu bisa deh buat neng Ara membeku tak bisa bicara😘


Beberapa saat kedua pasangan itu terlihat saling diam tidak berbicara.


Fabian kembali fokus pada laptopnya sedangkan Khey masih saja menunduk, meremas jemarinya, berkutat dengan pikirannya.


"Bi... gue janji untuk kali ini aja, setelah Doni sembuh gue beneran bakal putus dari dia." Khey terdengar membujuk.


Namun Fabian yang sedang fokus pada layar laptop di depannya terlihat tidak bereaksi, menyahut ucapan Khey pun tidak.


"Bi... kali ini aja ya... gue ngelakuin ini karena Doni lagi sakit." Khey dengan memilin ujung baju atasnya.


"Doni... Doni kecelakaan. Melihat kondisinya gue gak tega buat mutusin dia." Khey berkata jujur, karena itulah yang sebenarnya.


Khey tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak punya hati.


"Gue tau." Fabian terdengar dingin dibalik nada datarnya.


"Maksud lo, lo tahu kalau Doni kecelakaan?" Khey dengan kedua alis mata yang bertaut.


"Ya." Fabian tetap saja datar.


"Sejak kapan lo tau?"


"Beberapa hari lalu."


"Kenapa lo enggak kasih tau gue Bi?"


Fabian menghentikan kegiatannya mengetik pada laptopnya lalu menoleh ke arah Khey dengan raut wajah datar namun sorot mata yang sanggup menghunus dan melobangi kedua mata Khey.


"Harus gitu gue cerita sama lo?"


"Iyalah... setidaknya kan gue jadi tau apa yang terjadi sama dia, dan gue gak perlu menerka nerka apa yang telah terjadi saat Doni gak masuk sekolah tanpa kabar selama seminggu ini." Khey dengan nafas menderu, tetiba Khey merasa jengkel pada Fabian tengil.


Melihat raut wajah Khey yang tetiba kesal, Fabian menaikkan salah satu sudut bibirnya, tersengih.


"Jadi lo gak tau kalau pacar lo itu kecelakaan bareng sama ceweknya. Dia gak berani ngomong sama lo...?!"


"Cewek itu sepupunya Bi... bukan ceweknya..."Khey meralat ucapan Fabian tengil.


"Siapa yang ngomong?"


"Doni."

__ADS_1


"Ow... jadi fuckboy itu yang ngasih tau lo." Fabian memalingkan wajahnya kembali pada laptop di depannya.


"Bi... elo gak berhak menghujat dia, belum tentu elo lebih baik dari dia." Khey gusar.


Tidak ada sepatah kata pun keluar daru mulut Fabian.


Suami yang diberi gelar tengil oleh Khey tersebut terlihat menekan tombol shutdown pada layar laptop lalu menutupnya.


Menyingkirkan laptop ke tengah meja agar tidak terjatuh lalu beranjak berdiri.


Fabian berjalan mendekati Khey.


"Gue berbicara kenyataan. Kalau cowok memiliki pacar lebih dari satu apa namanya coba..."


"Doni gak seperti itu." Khey yakin dengan memalingkan wajahnya.


Heh...


"Elo tu cewek mbodoh Khey, maen lo kurang jauh makanya lo mudah dibohongi sama pakboy kek dia."


"Doni gak seperti yang elo sangka Bi..."


"Terserah lo mau nganggep dia kek mana, yang jelas gue udah ngingetin lo. Jangan sampai air mata lo turun lagi hanya karena cowok mbrengsek itu." Fabian menghirup nafas dalam lalu membuangnya perlahan.


Sepertinya memberitahu Khey saat ini percuma, gadis itu masih saja kekeh dengan pendiriannya.


Jika ada yang bilang kalau cinta itu buta, sepertinya benar adanya.


"Gue gak mau lagi bahas pakboy itu lagi, lebih baik gue berangkat kerja." Gabisa dengan menjulurkan tangan kanannya di depan wajah Khey.


"Bukane ini masih sore... kok lo udah berangkat?" tanya Khey setelah mencium punggung tangan suaminya.


Jam dinding masih menunjukkan angka 4.15 sore, padahal biasanya Fabian tengil berangkat setelah maghrib atau isya.


"Siapa tau aja ada cewek yang liat wajah tampan gue, kalau gue markir jam segini. Lumayan buat diajakin nongki bareng." Fabian santai sembari berlalu dari hadapan Khey.


"Bian... elo mau bales gue??" Khey berseru geram.


"Impas kan..." Fabian terus melaju tanpa menoleh ke belakang, dengan satu tangan masuk ke kantong celana dan satunya tangannya melambai.


"Bi... elo..."


Brak.


Belum selesai Khey berbicara Fabian menutup pintu kamar dari luar.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»

__ADS_1


__ADS_2