
"Bian itu milik Khey!!" Rhea dengan berseru.
"Terus kenapa?" Fabian seolah menunjukkan wajah yang tidak bersalah karena telah meminum es jeruk milik isterinya.
Khey yang sedari tadi merasakan kegerahan, merasakan hawa yang semakin memanas hingga mampu membuatnya kesulitan untuk bernafas.
Khey tau pasti jika semunya bakal menjadi rumit untuk dijelaskan.
Ingin rasanya menyatukan rambut hitamnya lalu mengucirnya, namun sayang dia tidak bisa melakukannya saat ini.
Lagi lagi Khey harus mengingat kekesalannya pada seng suami tengil di hadapannya. Namun Khey hanya bisa menahan kekesalannya.
"Ya... seharusnya elo nggak boleh meminumnya." Rhea sedikit ragu, akan tetapi bukankah apa yang diucapkannya benar.
Jika yang diserobot oleh Fabian adalah milik Farrel ataupun Jackson mungkin tidak masalah bagi Rhea. Akan tetapi ini adalah milik Khey yang notabene adalah seorang yang berbeda jenis kelamin dengan Fabian serta keduanya tidak memiliki hubungan.
"Nggak papalah cuma es jeruk doang, ntar gue ganti deh." Fabian sesantai mungkin agar tidak terlihat jika dirinya juga sedikit tegang saat ini.
Sebenarnya Fabian tidak ingin bersandiwara, hanya saja semua yang berlangsung saat ini tidak pernah dia perkirakan sebelumnya, dan dia belum tahu keinginan Khey seperti apa. Karena sebelumnya Fabian menyetujui keinginan Khey untuk sementara menyembunyikan status mereka dari teman - teman Khey.
"Bukan masalah es jeruknya, tapikan..." Rhea sedikit bingung untuk mengatakannya.
"Tapi apa?" Jackson dengan tidak sabar.
"Bukannya itu sama saja dengan ciuman bibir tidak langsung, iya nggak sih?!" Rhea dengan ragu.
"Iya bener yang lo bilang Rhe..." Alya dengan berseru. Wajah Alya bukannya terlihat kesal melainkan menyunggingkan senyum berbinar.
Farrel yang sedari tadi hanya mengamati, mengerutkan kening heran akan reaksi Alya.
Bukankah gadis itu baru saja mengatakan jika dia menyukai Fabian tapi kenapa reaksinya seperti itu... Farrel membatin. Entahlah... ada sedikit keanehan yang mecurigakan menurutnya.
"Gimana Khey rasanya ciuman bibir sama Fabian?" Alya menoleh ke arah Khey.
"Elo ngomong apaan sih Al." Khey dengan berusaha menutupi kegugupannya.
"Manis lah... iya kan?" Fabian tersenyum tengil ke arah Khey, berusaha menguasai keadaan.
__ADS_1
"Elo ngomong apa sih, gimana gue bisa tau coba..." Khey dengan mendelik kesal karena ucapan Fabian. Bukannya membantunya mengakhiri malah memperparah keadaan.
Haish... bener bener jago akting mereka berdua... Farrel membatin geram.
"Halah jujur aja lah Khey, bibir Fabian manis kan?" Alya menggoda. Dan lagi Khey mendelikkan bola matanya.
"Woi... elo gimana sih Al... Harusnya elo sama Khey itu saingan buat ngerebutin Fabian. Ini malah..." Jackson memandang Alya dengan pandangan tidak bisa memahami jalan pikiran gadis di hadapannya
"Ya nggak papalah..." Alya santai lalu menoleh ke arah Khey dengan senyum membingkai wajahnya. "Kita kan bisa bersaing sehat, iya kan Khey?!"
Sontak membuat Khey yang masih setia di posisinya semakin membuka kedua matanya lebar setelah mendengar ucapan sahabatnya yang biasanya pendiam tersebut, namun saat ini sungguh terlalu cerewet menurutnya.
Sedangkan Farrel semakin merasakan keanehan pada sahabat Khey yang satu itu.
"Khey... iya kan?" Alya dengan menyenggol lengan tangan sahabatnya.
"Eh... i.. iiyya..." Khey tergagap.
Fabian mendelik tak terima ke arah Khey, Khey mengabaikan pandangan tak terima suaminya. Jujur saja dirinya juga sangat bingung saat ini, tidak tahu harus berkata atau bersikap seperti apa.
Namun nggak mungkin kan kalau Khey tetiba mengakui jika dirinya dengan Fabian sudah menjalin hubungan pacaran ataupun mengakui status pernikahan sah mereka. Bisa bisa semua temannya yang ada di sana jatuh pingsan saat itu juga.
"Apanya yang gimana?" Fabian dengan bingung. Jujur saja Fabian masih setengah tersadar saat ini, akibat ngelag gegara jawaban Khey istrinya pad Alya beberapa saat lalu.
"Di depan mata ada Alya yang jelas - jelas suka sama elo, elo masih tetep kekeh merjuangin Khey yang kelihatannya nggak ada tertarik sama lo...?"
"Heh... pertanyaan macam apa itu Jack..." Tetiba Fabian bingung, tidak bisa memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan Jackson.
"Elo pilih Alya atau pilih Khey? Gitu aja bingung sih..." Jackson memperjelas arah pertanyaannya.
"Gue tetep pilih Khey dong, gue bakal perjuangin dia." Fabian tegas.
"Nah Al... lo udah denger kan jawaban Fabian. Elo masih ngarep sama cowok tengil ini?" Jackson memberikan tatapan remeh pada sahabatnya.
"Iyalah... selama janur kuning belum melengkung, siapa tau aja hati Fabian berbalik ke gue." Alya dengan semangat, bahkan sangat percaya diri. Hingga Khey dan Rhea memberikan pandangan seakan tak percaya dengan jawaban Alya.
"Gue nggak bakalan bisa sama lo Al, noh pilih Farrel yang sejenis sama lo. Farrel itu pendiem nggak banyak omong, dia juga sukanya sama cewek pendiem, anteng kek elu...." Fabian santai hingga membuat Farrel mendelik.
__ADS_1
"Ngapain jadi bawa - bawa gue sih." Farrel terdengar kesal. Dalam hati merutuk Fabian yang seenaknya saja, padahal dirinya tidak ada sangkut pautnya dalam perdebatan mereka.
"Tenang Rell... nggak usah ngegas. Gue juga tetep milih merjuangin Fabian kok, elo nggak usah kuawatir sama keberadaan gue... Elo masih bisa cari cewek lain yang sesuai dengan pilihan lo. Selow men..." Alya berucap santai.
Dan lagi lagi Farrel merasakan keanehan pada ucapan Alya.
"Al... lo bego atau gimana sih... Fabian itu udah nolak lo, dia nggak welcome sama lo. Nggak tau malu banget sih jadi cewek..." Jackson terdengar sangat kesal karena sesungguhnya dia memang naksir sama cewek pendiam di hadapannya tersebut, namun entah mengapa hari ini dia terlihat berbeda. Sangat cerewet menurutnya.
"Kenapa elo jadi kesel sih... serah gue lah gue mau naksir siapa. Nggak ada urusannya sama lo. Ngerti!" Alya.
"Elo kan sama Khey temenan, jelas - jelas Fabian tadi ngomonng kalau dia bakal berjuang buat dapetin Khey, mosok elo masih ngeyel juga sih..." Jackson terdengar tidak rela dengan pendirian Alya.
"Ck... jadi cowok cerewet amat sih, lo pikir kuping gue nggak denger?!" Alya mendengus.
"Kalau kuping lo denger, harusnya elo sadar diri... mundur. " Jackson mencoba membujuk Alya, yang hanya mendapatkan cebikan dari empunya nama.
"Aku mundur alon alon mergo sadar kowe sopo..." Jackson mengucapkan dengan bernyanyi.
"Stop... stop... suara lo fals." Alya mencegah cowok blasteran itu meneruskan nyanyiannya.
"Gue suka Fabian, Fabian suka Khey. Dan Khey... belum tentu juga dia suka sama Fabian. Lagian saat ini Khey udah punya cowok kok. Iya kan Khey?" Alya menoleh ke arah Khey meminta jawaban pada sang sahabat.
Khey hanya mampu terdiam tak dapat berucap kata, wajahnya terlihat pias sekarang.
"Elo udah punya cowok baru kan Khey... buktinya..." Alya memandang ke arah leher Khey yang tertutup rapat oleh kerah leher yang dikancingkan hingga kancing bagian atas.
"Hah... oh... eh... itu..." Khey tergagap.
Fabian yang mengerti maksud pandangan Alya, menghembuskan nafas pelan. Bagaimanapun bagian tertutup itu adalah mahakaryanya semalam saat sang isteri tertidur lelap.
"Biarpun Khey sudah punya cowok baru, gue bakal nunggu sampai dia mau sama gue." Fabian berucap kata dengan mengunci pandangan pada isterinya.
"Kalau gitu gue juga bakal nungguin Fabian sampek mau sama gue..." Alya dengan menumpukan wajah pada kedua telapak tangannya. Menatap Fabian dengan mata yang tidak berhenti mengerjap.
Plak!
"Aneh lo Al..." Rhea memukul pelan bahu Alya.
__ADS_1
ππππ