
Entah sudah berapa puluh kali Fabian mencoba menghubungi ponsel Khayyara. Namun tak kunjung mendapatkan hasil sedikitpun.
Tak ayal membuat Fabian gusar.
"Elo kemana sih Ra..." gumam Fabian dengan tidak memutus pandangan dari layar ponselnya yang kembali mencoba menghubungi kontak isterinya.
Fabian sengaja memutar panggilan otomatis ketika panggilannya berakhir karena tak kunjung menyambung.
Ini sudah kali ketiga Fabian mencoba menghubungi Khayyara semenjak dirinya tiba di Bali.
Hanya sekali Fabian dapat berbicara dengan Khey. Itu pun saat pertama kali dirinya sampai di Bali. Meski saat itu Fabian menangkap sedikit keganjilan pada nada bicara Khey namun Fabian mengabaikannya.
Fabian tidak pernah menyangka jika sampai saat ini, di hari tetakhirnya mengikuti olimpiade matematika dia tidak bisa menghubungi Khey sama sekali.
"Hallo Septi... Ini kak Bian, Ara lagi sama lo nggak?" sapa Fabian langsung saat mendengar jawaban dari seberang telepon.
Fabian memang mengalihkan panggilan ke ponsel adik iparnya beberapa saat lalu.
",,,,"
"Elo ketemu sama dia kapan, atau mungkin terakhir hubungi dia?"
",,,,"
"Sudah dua minggu lo nggak callingan?!!" Fabian terperangah saat mendengar jawaban dari adik iparnya.
"Elo bisa nggak ke rumah nyamperin Ara Sep?" harap Fabian pada adik iparnya.
",,,"
"Beneran kemarin ke sana? Terus kemana perginya kok nggak ada orang. Elo nggak nanya sama Bik Mun?" Fabian merepet.
",,,"
Hah!!
Lagi Fabian terperangah saat mendengar jawaban adik iparnya yang mengatakan bahwa mama, papa juga kakak perempuanya sudah hampir seminggu tidak di rumah. Waktu yang hampir bersamaan dengan kepergian Fabian ke Bali.
Septi juga menceritakan sebuah kejadian tentang pertengkaran hebat kedua orang tuanya di rumah sepeninggal Fabian ke Bali. Septi mendapatkan cerita itu dari asisten rumah tangga keluarganya.
Itu berarti nada janggal yang ditangkap oleh pendengaran Fabian saat bertelfon dengan Khey benar adanya. Sayangnya Fabian mengabaikan hal itu, dia menganggap Khey lelah atau mungkin kesal karena terganggu olehnya.
Fabian tidak menyangka jika Khey menyembunyikan kenyataan yang membuat isterinya itu terjebak dalam pertengkaran besar kedua orang tuanya.
"Apa kata bik Mun waktu itu..."
",,,"
__ADS_1
"Mosok nggak ada yang tahu ke mana keluarga lo pergi sih Sep..." Fabian dengan menurunkan intonasinya lesu.
",,,"
"Kira kira lo tau nggak tempat yang biasa didatengin sama kakak lo Sep?"
",,,"
Fabian menghela nafas berat, usahanya mencari tahu keberadaan isterinya tak kunjung mendapat titik terang.
"Ya udah kalau gitu. Kalau kak Ara hubungin lo, kasih tau gue segera ya." Fabian sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
Fabian kembali menghela nafas, kali ini sedikit gusar.
Keluarga macam apa, keluarga gadis yang dinikahinya tersebut, Fabian membatin bingung saat mengingat ucapan Septi yang mengatakan bahwa asisten rumah tangga maupun sopir pribadinya tidak ada yang mengetahui jejak kepergian anggota keluarga itu.
Bahkan gadis abg itu sempat mengatakan jika kejadian seperti ini sudah biasa terjadi dalam keluarganya. Dan Khey sepertinya yang selalu menjadi korban.
"Elo di mana sih Ra..."
Fabian tidak berhenti bertanya tanya tentang keberadaan Khayyara. Jika gadis itu pergi bersama kedua orang tuanya, Fabian tidak perlu secemas ini.
Namun dari cerita Septi adik iparnya tadi, Fabian menangkap alur bahwa Khey pergi setelah kedua orang tuanya meninggalkan rumah.
Besar kemungkinan jika Khey tidak pergi bersama kedua orang tuanya. Dan satu lagi keterangan yang di dapat Fabian dari Septi adalah, tidak mungkin isterinya itu mau terjebak dalam pertengkaran kedua orang tuanya. Septi yakin kakaknya pasti memilih pergi sendiri. Namun entah ke mana atau kepada siapa kakaknya itu bersandar, Septi juga tidak tau pasti.
Brak!!
Dentuman keras yang berasal dari pintu kamar Khey yang dibuka memenuhi seluruh penjuru ruangan lantai atas.
Fabian yang baru saja sampai dari Bali, langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Khey. Fabian mengacak rambutnya frustasi saat mendapati ruangan kamar itu kosong.
Dengan cepat Fabian keluar kamar kembali, menuruni anak tangga dengan tergesa menuju lantai bawah.
Tidak ada tanda tanda keberadaan orang tua Khey di sana. Entah kemana perginya mereka.
Fabian melangkahkan kakinya lebar menuju belakang rumah untuk mencari keberadaan asisten rumah tangga keluarga Khayyara.
"Bik Mun!!" seru Fabian saat melihat wanita paruh baya yang telah menjadi asisten rumah tangga keluarga Khey selama puluhan tahun itu sedang menjemur pakaian di belakang rumah.
"Eh... aden." Bik Mun dengan menoleh. Lalu menghentikan aktivitasnya dan bergegas berjalan menuju Fabian.
"Aden sudah pulang?!" tanya Bik Mun dengan tergopoh gopoh.
"Iya Bik. Ara belum pulang juga Bik?" tanya Fabian langsung dengan nada tidak sabar.
"Belum den."
__ADS_1
Dengan mata terpejam Fabian menghirup oksigen dalam, mencoba menahan dadanya yang bergemuruh.
Fabian tidak ingin kelepasan kalut yang melanda dirinya saat ini.
"Bibik tau nggak kira kira kemana perginya Ara di saat seperti ini..."
Bik Mun terlihat menggelengkan kepalanya lemah.
"Bisanya di rumah eyang putri, tapi kemarin Non Septi datang ke sini nyariin. Itu berarti Non Ara nggak ada di sana den."
Pikiran Fabian kembali kalut. Namun sekuat tenaga dirinya menjaga kewarasannya agar tetap berfikir jernih.
Apa yang dikatakan oleh Bik Mun sama dengan cerita Septi pagi tadi saat Fabian menelfonnya.
"Kira kira Ara pergi sama papa atau mama nggak ya Bik?"
"Sepertinya tidak den. Waktu itu tuan pergi lebih dulu dengan koper besar, katanya mau ke Singapura untuk urusan bisnis. Nyonya pergi setelah tuan, bawa koper juga. Tapi nggak bilang mau kemana. Non Ara masih sempat nonton TV sampai sore, tapi malemnya pas bibik panggil buat makan malam, non Ara udah nggak ada den. Bibik tunggu sampek besok, bahkan sampai hari ini nggak kelihatan batang hidungnya den..." jelas asisten rumah tangga keluarga Khayyara.
Fabian mengeram, mengepalkan kedua telapak tangannya hingga buku bukunya memutih.
Buk!
Fabian tidak lagi mampu menahan emosinya, meninju dinding untuk menyalurkan emosi yang memuncak.
"Den!"
Seru Bik Mun lalu menutup mulutnya, terkejut dengan sikap Fabian yang tidak seperti biasa.
"Maaf Bik."
Saat Fabian menyadari keterkejutan asisten rumah tangga keluarga isterinya yang memandangnya pias.
Selama mengenal Fabian beberapa bulan ini, suami nona mudanya itu memang terlihat santai, banyak senyum bahkan terkesan konyol.
Bik Mun tidak menyangka jika Fabian bisa semarah itu, hingga membuatnya terkejut.
Semenjak memutuskan kembali pulang, Fabian telah berusaha menghubungi ponsel Khey namun tetap saja gadis itu tidak dapat dihubungi.
Bahkan saat ini....
Untuk kesekian kalinya Fabian berusaha menghubungi ponsel Khey kembali.
Namun tetap saja panggilan itu tidak tersambung, hanya suara operator yang menyatakan bahwa nomor sedang berada di luar jangkauan.
Huh...
Kekhawatiran tercetak jelas di wajah Fabian saat ini.
__ADS_1
ππππ