Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA71


__ADS_3

"Tapi elo kan gak niat putusin dia, buktinya tadi elo pacaran di parkiran kan... salah kalau gue juga cari pacar?"


Hek... Khey kembali tercekat.


Fabian mengunci tatapan matanya pada Khey saat berbicara, hingga membuat gadis itu tak mampu berkutik.


"Tap kan elo janji kalau lo mau ngasih gue kesempatan untuk melepaskan Doni. Lagian semuanya butuh proses kan Bi, nggak serta merta langsung putusin gitu aja. Gue juga butuh alasan yang tepat buat mengakhiri hubungan gue sama dia." Khey memberi alasan pada Fabian setelah berhasil menguasai keadaan.


Fabian menghembuskan nafas dalam.


"Kesempatan itu udah banyak, tapi elo melewatkan gitu aja Ra. Lo pikir gue nggak tau kalau elo berat buat mutusin dia..."


"Iya... iya... gue sadar diri juga sadar posisi kok." Khey dengan lesu.


Khey sangat menyadari jika dia memang salah tidak mengambil keputusan segera melepaskan Doni saat kemarin kemarin ada kesempatan. Khey juga menyadari jika posisinya saat ini adalah seorang isteri dari Fabian.


"Sudahlah enggak usah dibahas. Tiap kali bahas hubungan elo sama dia, pasti bakal bikin kita berantem." Fabian mencoba mengkhiri percakapan tentang Doni.


"Elo yang mulai bukan gue..." Khey ketus dengan memalingkan wajahnya kesal.


"Ra... enggak usah egois deh..." Fabian merendahkan nada bicaranya.


"Elo yang egois Bi, bukan gue."


Fabian menautkan kedua alis mata, dengan pandangan seolah meminta penjelasan akan ucapan Khey.


"Bener kan omongan gue?" Khey tetap saja berucap dengan ketus.


"Elo yang maksa nikah sama gue, elo yang maksa gue buat cinta sama lo dan elo juga yang maksa gue buat mutusin Doni dalam waktu singkat. Tanpa elo peduli kalau semua tuntutan itu memberatkan gue. Elo selalu memaksa gue buat nurut sama keinginan lo, kemauan lo. Dan elo nggak pernah ngehargain gue ataupun mengerti akan perasaan serta kemauan gue. Lo pikir gampang apa buat mutusin cowok yang udah gue sayangin, bahkan udah menemani hari gue selama setahun lebih." Khey menjeda ucapannya untuk menghirup oksigen dalam.


Fabian hanya diam, tidak ada keinginan ataupun niatan darinya untuk menimpali ucapan Khey. Fabian memilih memberikan waktu untuk Khey meluapkan isi hatinya. Fabian tak ingin hubungannya dengan Khey Semakin meruncing.


"Elo gak pernah mikirin perasaan gue Bi... Cinta itu nggak bisa dipaksakan. Lo pikir gue jauh cinta sama Doni gak pakek proses...?! Begitupun buat mengakhiri hubungan gue sama dia, itu juga butuh proses. Nggak bisa lo paksain apalagi dengan buru buru kek gitu." Khey dengan kedua sudut mata yang mulai menganak sungai.


Membuat sudut hati Fabian tercubit saat melihatnya.


Fabian pun beranjak berdiri, berjalan mendekati Khey lalu menarik kursi tepat di sebelah isteri barbarnya. Fabian merengkuh bahu Khey kemudian menyandarkan kepala Khey pada dada bidangnya.


"Sorry... gue udah kelewatan bahkan nggak peduli sama perasaan lo. Menangislah sepuasnya kalau itu bisa membuat sesak di hati lo menghilang." Fabian mengecup lama pucuk kepala isteri barbarnya. Tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memandangnya. Toh hubungannya dengan Khey sudah sah.

__ADS_1


Terdengar isakan lirih dari mulut Khey disertai dengan bahu yang bergetar.


"Mulai sekarang gue nggak bakalan menuntut lo buat pisah sama dia, lo bisa lakuin apapun yang elo suka. Selama elo nggak berkeluh sama gue, gue anggep itu yang elo suka dan mungkin itu yang terbaik buat lo..." Fabian dengan mengusap punggung bergetar sang isteri.


Khey semakin terisak, bulir bening merosot dari pelupuk matanya dan membasahi seragam atasan Fabian tengil.


"Nggak usah terbebani dengan adanya gue, lo bisa lakuin apapun yang bikin elo nyaman. Elo mau putus sama dia sekarang atau nanti, bahkan tidak jadi putus pun gue nggak bakal menuntut lagi." Fabian memutuskan untuk memberi waktu sebanyak banyaknya untuk Khey memahami hatinya. Mungkin dengan begitu Fabian tidak akan membuat Khey menangis lagi karena dirinya.


πŸ“πŸ“πŸ“


Beberapa hari berlalu.


"Ra... gue ada undangan ulang tahun temen. Elo mau ikut nggak?" tanya Fabian saat keluar dari kamar mandi.


Khey yang duduk di atas ranjang dengan laptop terbuka, menghentikan jemarinya dari aktivitas mengetik. Dan menoleh ke arah Fabian yang duduk di kursi meja rias miliknya sembari mengusap rambut basahnya dengan handuk. "Harus ikut?"


"Enggak. Gue tanya, elo mau ikut apa enggak?" Fabian dengan aktivitasnya mengusap rambut.


"Enggak. Gue nggak suka pesta." Khey dengan menggelengkan kepala perlahan. Kemudian kembali fokus pada layar dan keyboard laptopnya.


"Ya udah kalau gitu, gue berangkat sendiri. Makan malem nggak usah nungguin gue, paling gue pulangnya telat." Fabian beranjak menuju almari baju. Kemudian membuka almari dan memindai baju yang ingin dipakainya.


"Ya." sahut Khey pendek tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.


"Gue berangkat ya, jangan lupa makan." Fabian tetap saja tidak pernah lupa mengingatkan isteri bar barnya itu untuk makan. Karena Fabian sudah hafal dengan kebiasaan Khey yang malas untuk makan saat tidak ada yang menemaninya.


Khey mendongak pada Fabian yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandi. Fabianemang memakai baju gantunya di kamar mandi karena di dalam kamar Khey tidak ada walk in closet.


"Elo ke pesta ulang tahun cuma pakek kaos sama jins robek kek gitu Bi?" Khey dengan melebarkan kedua matanya.


"Enggak. Gue mampir dulu ke rumah Ayah, di sini gue nggak punya baju formal." Fabian menjelaskan.


"Oh... gitu..." Khey dengan menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Elo minta dibawain oleh oleh apa?" Fabian berjalan mendekati ranjang.


"Enggak usah bawain gue makanan. Elo pulang malem kan..?" Khey menolak.


"Eh iya... palingan elo udah molor kan..." Fabian dengan terkekeh kecil, bibir Khey pun mencebik.

__ADS_1


"Sini tangannya..." Khey dengan tangan kanan terulur.


Fabian yang mengetahui maksud Khey pun segera mengulurkan tangan menyambut, uluran tangan sang isteri.


"Lo pakek hand body gue?" pekik Khey setelah mencium punggung tangan Fabian tengil.


"Dikit doang." Fabian santai.


"Tapikan itu buat kulit cewek."


"Emang kalau dipakek cowok bisa bikin letoy gitu...?"


"Nggak gitu juga Bi... udah sana berangkat aja. Besok gue beliin yang lain buat lo." Khey mengusir Fabian daripada cowok itu membuatnya pusing.


"Ya udah gue berangkat. Assalamualaikum." pamit Fabian dengan beranjak dari kamar setelah mendapat jawaban dari Khey.


Setelah keluar dari kediaman mertuanya, Fabian mengendarai motor matic apemnya menuju butik langganannya. Fabian sengaja pergi ke sana dan tidak ke rumah orang tuanya karena dia akan menghadiri pesta ulang tahun Nina sahabatnya.


Karena profesi Nina adalah seorang model, Fabian mau tak mau harus memantaskan penampilannya. Tidak mungkin Fabian datang dengan oenamoilan yang lusuh. Toh dirinya mampu mengeluarkan uang lebih untuk membuat penampilannya terlihat pantas di pesta itu.


Setelah sampai di butik langganannya Fabian langsung disambut oleh pegawai yang sudah sangat kenal akan dirinya. Fabian pun digiring menuju ruangannya VIP yang biasa digunakan untuk melayani pelanggan mereka yang berkelas.


Setelah memasuki ruangan tersebut Fabian dipersilahkan duduk lalu pegawai tersebut meninggalkannya untuk mengambil setelan jas yang telah dipesannya, berikut sepatu dan kebutuhan Fabian lainnya.


Sepeninggal pegawai butik, Fabian menghubungi supir pribadi keluarganya untuk mengantarkan mobil ke butik tempatnya memesan baju.


Beberapa saat menunggu, pegawai tadi kembali dengan membawa seluruh kebutuhan Fabian dan mempersilahkan untuk mencobanya.


Fabian tersenyum puas saat melihat penampilannya sangat sempurna dengan balutan jas mahal tersebut. Sang pegawai butik pun tersenyum senang saat melihat Fabian kepuasan Fabian.


Fabian pun segera berpamitan, lalu keluar dari ruangan VIP tersebut.


Baru saja beberapa langkah kakinya mengayun, tiba tiba saja...


Brukk....


Fabian bertubrukan dengan seseorang.


😍😍😍😍

__ADS_1


Untuk novel yang ini othor sengaja nggak memberikan visual, Karena menurut othor para readers bisa membayangkan sesuai imajinasi masing masing ya...


Kalau othor sih tiap kali nulis di novel ini selalu bayanginnya oppa Lee Jung suk yakk.....πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2