Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 145


__ADS_3

"Mbak papanya sudah siuman." seorang perawat keluar dari kamar inap, menginterupsi perbincangan Septi dan Fabian.


Sontak membuat keduanya segera beranjak dari tempatnya berdiri, berjalan memasuki kamar sang papa.


"Pah..." Septi mendekat pada tepi ranjang seraya meraih telapak tangan papanya yang terasa dingin.


Lelaki paruh baya yang wajahnya terlihat sangat pucat tersebut mencoba tersenyum.


Sedang Fabian hanya berdiri tak jauh dari keduanya, memperhatikan interaksi anak dan ayah itu dengan intens.


"Masih sakit?" Tanya Septi penuh kasih.


"Papa tidak sakit sayang." ucapnya dengan menangkup tangan Septi yang mengusap punggung tangannya yang terhubung dengan jarum infus.


"Papa jangan bohong. Kalau papa nggak sakit, papa nggak bakalan di sini." Septi dengan wajah menyendu.


Sekali lagi lelaki paruh baya itu berusaha tersenyum. "Papa hanya kelelahan." ujarnya mengusap pucuk kepala Septi.


Tanpa dapat ditahan, perlahan bulir bening mengalir pada kedua pipi Septi.


"Papa beneran tidak papa sayang, jangan khawatir." ucapnya sembari menghapus air mata Septi dengan ibu jarinya.


"Tetap saja... hiks..." Septi terdengar terisak.


"Ara mana Bi?" tanya papa mertua Fabian dengan mengalihkan pandangan pada sang menantu.


Sontak Fabian tersentak mendengar pertanyaan sang mertua. Bibirnya kelu untuk memberikan jawaban segera.


"Kak Ara terlanjur masuk bimbel, nanti biar kak Abi jemput kalau kak Ara udah selesai. Terus jenguk papa, iya kan kak?" Septi dengan memberi tanda menggunakan matanya kepada Fabian.


"Eh... iya pa. Nanti Abi bakal bawa Ara buat jenguk papa." Fabian pun mengikuti ucapan adik iparnya. Dengan tak lupa menyunggingkan senyum pada wajahnya. Meski sebenarnya dirinya juga tidak tahu keberadaan sang isteri saat ini.


"Mama mana?" tanya Fabian bermaksud mengalihkan pembicaraan tentang isterinya.


Namun tak disangka jika pertanyaan itu membuat papa mertuanya berubah murung. Bahkan tubuh Septi tersentak kaget mendengar pertanyaan sang kakak ipar. Namun Fabian tidak menyadari akan hal itu.


"Mama belum ke sini?" Sekali lagi Fabian bertanya tentang keberadaan mama mertuanya.


"Mama pulang buat ambil baju papa." jawab papa Khey setelah menghembuskan nafas berat. Tentu saja jawaban itu adalah bohong adanya. Karena mulai dari papa Khey masuk rumah sakit hingga saat ini, sejatinya mama Khey belum terlihat batang hidungnya.


Entah apa yang ada dalam pikiran wanita yang telah dinikahinya itu. Bahkan untuk menutup aib rumah tangga di depan anak dan menantunya pun tidak bisa.

__ADS_1


"Oh." Fabian mengangguk tanda mengerti. Meski dalam hati masih bertanya tanya.


"Apa kata dokter pa?" Fabian memilih mengganti topik pembicaraan.


"Papa hanya kelelahan." Tetap saja mertua lelaki Fabian itu menutupi penyakitnya. Beliau tidak ingin membuat anak anak khawatir.


"Papa kejar deadline?" Fabian seakan mencari tahu kebenarannya. Karena dalan hati kecilnya dia merasa ada yang ditutupi oleh sang mertua.


"Begitulah. Papa lagi banyak proyek." lagi lagi papa mertua Fabian mencoba berbohong.


"Boleh Abi bantu pah? Biar papa cukup istirahatnya." Fabian mencoba menawarkan diri.


Bukannya Fabian sombong, namun kecerdasan Fabian dalam mengelola bisnis dapat diacungi jempol. Karena suami tengil Khey itu sudah belajar berbisnis dari ayahnya semenjak sekolah menengah pertama. Nyatanya setiap usaha yang dirintis olehnya berhasil maju. Dan itu cukup membuat dompetnya tebal tanpa harus meminta kepada orang tuanya.


Sesungguhnya papa Khey tahu akan hal itu. Kecerdasan Fabian dalam mengelola bisnis diturunkan oleh ayahnya.


"Nggak usah Bi, papa masih bisa handel kok." Sahutnya dengan kelat, sepertinya sang menantu mengetahui kebohongannya.


Fabian hendak memaksa papa mertuanya untuk membantu, namun hal itu diurungkan olehnya karena dokter yang menangani papa mertuanya telah datang untuk visite pasien. Dokter tersebut datang dengan seorang perawat yang sepertinya adalah asisten sang dokter.


"Bagaimana kondisi bapak? Sudah merasa lebih baik?" tanya sang dokter dengan ramah.


"Sudah dok, saya rasa saya sudah sembuh." Papa Khey berusaha menegakkan tubuhnya.


"Anda lebih baik berbaring saja, biar kondisi tubuhnya benar benar fit."


Ujar sang dokter kembali sambil memeriksa kondisi tubuh papa Khey.


"Saya sudah baikan dok. Tubuh saya sudah enak, bahkan saya bisa berlari sekarang juga."


Dokter pun tersenyum. "Tunggu hasil observasi selanjutnya ya pak, setelah itu bapak bisa berlari sepuasnya."


"Maaf anda?" Dokter bertanya pada Fabian.


"Saya anaknya dok?" aku Fabian.


Dokter pun tersenyum, membenarkan letak kacamatanya lalu mendekati Fabian. Kemudian menepuk bahu Fabian pelan.


"Ikut ke ruangan saya sebentar."


Dokter itu setengah berbisik memberi tanda pada Fabian setelah berpamitan dengan papa Khey dan menyuruhnya beristirahat.

__ADS_1


Fabian mengangguk pelan kemudian mengikuti sang dokter. Tentu saja setelah pamit pada adik iparnya, karena sang mertua telah memejamkan kedua matanya. Sepertinya perawat memberikan obat penenang sebelumnya.


πŸ“πŸ“πŸ“


Fabian menghembuskan nafas berat setelah keluar dari ruang dokter beberapa saat lalu.


Dokter telah memberitahunya tentang kebenaran penyakit yang diderita oleh papa mertuanya.


Ginjal papa Khey bermasalah, jalan satu satunya harus rutin melakukan cuci darah untuk membuatnya bisa berfungsi normal meski tidak sepenuhnya dapat pulih seperti semula. Jika saja dapat menemukan donor ginjal yang cocok, dapat dilakukan operasi pencakokan segera.


Fabian cukup terkejut saat mendengar penyakit yang diderita oleh sang mertua. Apalagi sang dokter membeberkan beberapa fakta mengeluarkan yaitu papa mertuanya ternyata sering mengkonsumsi minuman keras serta mengalami depresi.


Dokter yang menangani papa mertuanya ternyata adalah langganan beliau. Sebab itu sang dokter tau banyak tentang penyakit papa mertuanya serta kebiasaannya mengkonsumsi minuman keras. Dan tentang depresi yang diderita sang papa mertua ternyata sudah sangat lama diderita olehnya.


Penyebabnya adalah rumah tangga sang mertua yang ternyata dalam kondisi tidak baik baik saja sejak lama.


Mengingat kalimat itu mbuat Fabian kembali mengingat keberadaan Khey yang belum juga ditemukan olehnya.


Mungkinkah menghilangnya Khey berhubungan dengan kondisi keluarganya tersebut?


Pertanyaan itu tidak berhenti berputar di otak Fabian.


Kembali Fabian menghubungi nomor ponsel sang isteri.


Lagi lagi Khey tidak dapat dihubungi olehnya. Dari nadanya ponsel Khey seperti sengaja dimatikan oleh empunya. Membuat Fabian semakin khawatir akan kondisi Khey saat ini.


Fabian takut jika Khey akan melakukan hal hal yang di luar nalar.


Jeddduar...


Bunyi petir menggelegar, membuat Fabian buru buru memasukkan ponsel ke dalam saku celana lalu beranjak keluar dari rumah sakit.


Secepat mungkin dirinya harus segera menemukan Khey saat ini.


😍😍😍😍


...Minal Aidzin Wal Faidzin...


...Mohon Maaf Lahir dan Batin ...


Untuk semua pecinta babang tampan Fabian yang tengil but tajir melintir.

__ADS_1


Mon maap othor baru bisa mengudara kembali πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


__ADS_2