
"Kenapa elo nggak pernah cerita sama gue, kenapa menyembunyikannya dari gue Bi?" Khey dengan sorot mata yang mengembun. Terlihat jelas kesedihan dan kemarahan yang membaur jadi satu dalam sorot mata yang Khey layangkan pada Fabian.
Khey saat ini telah duduk di tepi ranjang di dalam ruang belajar milik Fabian. Di mana ranjang itu adalah saksi bisunya saat melakukan malam pertama dengan sang suami.
Meski dadanya bergemuruh marah mendapati kenyataan bahwa Fabian akan melanjutkan sekolah keluar negeri namun Khey mencoba menahannya. Khey tidak ingin membuat keributan lagi. Rasanya sudah sangat lelah dengan cobaan yang silih berganti menghantam biduk rumah tangganya.
"Ra, bukan maksud gue menyembunyikan semua itu dari lo." Fabian yang telah menggeser kursi belajarnya berhadapan dengan Khey berusaha menangkup kedua tangan gadis itu. Namun Khey dengan kasar menepisnya. Hatinya masih diselimuti dengan rasa marah atas kenyataan yang diketahuinya beberapa detik lalu.
Terdengar hembusan nafas panjang dari mulut Fabian saat mendapati reaksi kemarahan Khey padanya.
Sungguh Fabian tidak bermaksud menyembunyikan jika dirinya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke luar negeri. Hanya saja belum ada waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada Khayyara.
Permasalahan kedua orang tua Khey yang rumit. Ditambah lagi adanya kesalahpahaman antara dirinya dengan Khey yang disebabkan oleh kasus Bella menambah daftar list Fabian untuk menunda memberitahu Khey tentang beasiswa tersebut. Fabian tidak ingin membuat Khey kepikiran. Apalagi ujian sekolah telah di depan mata. Fabian tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar sang istri.
"Gue cuma ingin nyari waktu yang tepat buat ngomong sama lo."
"Alesan." Khey membuang muka untuk menyembunyikan air maya yang telah mengucur deras pada kedua pipinya. Sungguh semuanya sangat mengejutkan dan mau tak mau membuatnya sedih.
Khey tidak mau rumah tangganya yang baru seumur jagung harus menjalani hubungan jarak jauh. Bagaimana jika nanti Fabian tidak bisa menjaga
hatinya, bagaimana jika rumah tangganya nanti akan dimasuki oleh orang ketiga seperti papa dan mamanya. Bahkan papa mamanya yang berada dalam rumah yang sama dan terlihat akur saja mengalami keretakan yang disebabkan oleh orang ketiga.
Lantas bagaimana dengan rumah tangganya?
Bukankah sangat mudah bagi perempuan di luar sana untuk tertarik pada wajah tampan Fabian. Belum lagi tidak adanya kehadiran seorang isteri di dekat Fabian yang notabene telah mencicipi kenikmatan surga dunia. Akankah suami tampannya mampu menahan diri dari godaan perempuan perempuan yang jelas pasti akan rela melemparkan tubuh telanjangnya pada Fabian.
"Gue janji ba..."
"Elo nggak tau gimana parnonya gue setelah apa yang terjadi pada kedua orang tua gue Bi." potong Khey sebelum Fabian menyelesaikan ucapannya.
"Elo nggak tau apa yang gue rasain pas bangun tidur lo udah nggak ada disamping gue. Elo juga nggak tau apa yang gue pikirin waktu nungguin lo pulang malem, meskipun elo pamit kerja sama gue. Elo nggak tau gimana nethinknya gue kalau gue nggak bisa hubungin lo. Elo nggak tau rasa itu Bi..." Khey menatap Fabian dengan terisak.
__ADS_1
Fabian merasakan dadanya sedikit sesak saat mendengarkan ungkapkan hati Khey. Ternyata dirinya belum benar benar memahami isi hati isterinya. Segala perhatian dan ungkapan rasa cintanya selama ini ternyata tidak cukup membuat Khey tenang.
Bruk
"Sorry." Ucap Fabian tepat di telinga Khey seraya memeluk gadis itu erat.
"Gue nggak pernah berfikir sampai ke situ."
Fabian memang tidak pernah berfikir sejauh itu. Dirinya hanya berfikir bahwa ketika mereka berdua telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan dan sudah saling mencintai satu sama lain, itu sudah cukup untuk pondasi rumah tangganya. Selebihnya Fabian bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan Khey dan juga anak anak mereka kelak. Mumpung dirinya masih muda dan masih kuat untuk bekerja, Fabian ingin menghasilkan uang sebanyak banyaknya. Memperlebar bisnisnya, agar supaya kelak dirinya memiliki banyak waktu luang untuk menemani Khey mendidik dan membesarkan anak anak mereka.
Tak pernah sedikit pun Gabisa berfikir jika Khey selalu khawatir dan berfikir yang tidak tidak di saat mereka berdua tidak sedang bersama.
Keretakan rumah tangga kedua orang tua Khey rupanya mempengaruhi cara pikir Khey sekarang.
"Gue nggak mau kehilangan lo Bi." Khey terisak dengan menyusupkan wajah pada dada bidang sang suami. Kedua tangannya meluk Fabian erat seolah takut kehilangan cowok tampan yang telah bergelar sebagai suaminya tersebut.
"Gue nggak akan ninggalin lo Ra. Nggak akan pernah ninggalin lo."
"Nggak cuma janji, gue bakal buktikan sama lo kalau ketakutan lo itu nggak akan pernah terjadi. Gue nggak akan berhenti memohon kepada Tuhan agar kita bisa bersama sampai tua. Insyaa Allah sehidup sesurga nanti." Fabian meyakinkan Khey dengan mencium dalam pucuk kepala isterinya yang tengah terisak dalam pelukannnya.
"Tetap aja gue takut Bi kalau lo jauh dari pandangan mata gue."
Fabian mengendurkan pelukannya, memberi sedikit jarak pada tubuh keduanya lalu meraih dagu Khey untuk mendongak.
"Gue nggak akan kemana mana jika itu tanpa lo di sisi gue." Janji Fabian dengan yakin pada Khey.
"Tapi Bi..."
"Ssstt... Elo lebih penting dari apapun Ra. Kita nggak bakalan berpisah jarak dan waktu. Kita,akan selalu bersama selamanya." Fabian dengan menatap lekat kedua mata Khey yang sembab. Jemarinya bergerak menyusut jejak air mata yang tersisa di wajah Khey dengan lembut.
"Elo jelek kalau nangis kek gini."
__ADS_1
Khey pun memberengut tanda tak suka akan ucapan Fabian.
Membuat Fabian terkekeh seraya menoel pucuk hidung isterinya.
"Udah nggak sedih kan?" tanya Fabian dengan masih menyisakan senyum di wajahnya.
Khey mengangguk lirih.
"Mau jalan jalan?"
"Kemana?"
"Ada deh... Mau nggak?"
"Iya mau." Khey dengan mengangguk tersenyum tipis.
"Ya udah siap siap sana, ganti bajunya yang bagus biar nggak bikin gue malu." Fabian tentu saja sengaja menggoda Khey agar gadis itu kembali ceria.
Plak
"Emang gue pernah bikin lo malu..." Khey dengan memukul lengan yang Fabian lirih. Namun begitu Fabian tetap saja meringis pura pur sakit.
"Ck... nggak usah lebay gitu. Orang gue pukulnya pelan kok." Khey ternyata tau jika Fabian hanya pura pura saja.
Kembali Fabian terkekeh kecil seraya menatap kepergian Khey dari ruang belajarnya.
Huh...
Fabian menghembuskannya nafas lega meski belum semuanya selesai karena dirinya telah mengkonfirmasi ketersediannya menempuh pendidikan di hardvard university.
Besok Fabian harus berdiskusi dengan ayah untuk mencari jalan keluar atas masalahnya.
__ADS_1
ππππ