
Drrtt... drrrttt....
Ponsel Fabian yang berada dia tas meja kecil di samping tempat duduk Khey bergetar kencang.
Membuat Fabian menoleh ke asal suara, dengusan nafas kesal keluar dari mulut Fabian.
Meski demikian tangan kiri Fabian terulur, mengambil benda pipih yang tidak berhenti berkedip tersebut. Sedangakan tangan kanannya tetap merengkuh punggung Khey agar tetap dalam dekapannya.
Nina calling...
Dahi Fabian mengernyit saat mendapati kontak yang memanggilnya adalah Nina.
Sesaat Fabian hanya terdiam memandangi layar ponsel pintarnya.
Meski hubungan Fabian dan Nina cukup baik sebagai teman. Dan merupakan hal yang biasa jika Nina menghubunginya seperti saat ini, namun tetap saja dalam hati Fabian bertanya tanya. Kenapa gadis itu menghubunginya.
Akhirnya Fabian pun memutuskam menggeser tombol hijau pada layar dan membawanya ke telinga.
"Hallo!"
Suara Fabian terdengar datar namun mampu membuat kedua mata Khey yang semula terpejam menjadi terbuka lebar.
Glek.
Wajah tampan Fabian tepat di depan wajahnya. Jantung Khey berdegub kencang saat manik hitamnya tepat di depan jakun suami yang naik turun seolah menggoda imannya.
"Bian ntar malem temenin gue keluar ya." terdengar suara Nina dari seberang.
"Cari temen lo yang lain aja."
Sekuat tenaga Khey menahan sensasi gelenyer aneh yang merayapi tubuhnya saat memandangi pahatan sempurna bak dewa yunani kuno berbalut wajah kpop yang sering ia gandrungi pada layar kaca.
"Tapi gue maunya sama lo." Nina terdengar ngeyel.
"Sorry gue nggak bisa." tolak Fabian tegas pada permintaan Nina.
"Kenapa?" Nina dengan nada manja.
"Gue lagi sama cewek gue." Manik hitam Fabian menatap lurus pada Khey yang masih dalam dekapannya.
Blush...
Entah mengapa ucapan Fabian membuat rasa hangat menyergap seluruh raut wajahnya.
Segera Khey memalingkan wajah, memutus pandangan sang suami. Tenggorokan Khey terasa kelat karena terpergok memandangi wajah tampan Fabian.
Sungguh Khey tidak menyangka jika Fabian mengakui dirinya sebagai pasangan saat dari seberang sana Khey mendengar suara cewek yang berbicara.
Bagaimanapun posisi keduanya saat ini sangatlah dekat, tak heran jika Khey mendengar suara ponsel Fabian. Meski dirinya tidak tau pasti siapa yang menelfon sang suami.
__ADS_1
"Siapa?" Nina terdengar penasaran saat bertanya.
"Lo nggak perlu tau."
Bukannya Fabian tidak mau menunjukkan Khey secara gamblang pada Nina, hanya saja Fabian tidak ingin Khey mendapat masalah nantinya.
"Habis dari tempat cewek lo deh, gue tungguin." Nina membujuk.
"Gue beneran nggak bisa Nin, cewek gue lagi mode manja nggak mau ditinggal" Fabian memberi alasan yang membuat kedua mata Khey membola.
Lalu Khey berusaha melepaskan diri dari dekapan Fabian, namun Fabian malah semakin mengeratkan pelukannya.
Terbersit ide jail dari Khey untuk menganggu Fabian yang masih berdebat dengan seseorang yang menelfonnya. Dari penggalan nama yang dilontarkan Fabian beberapa saat lalu Khey memastikan penelfon itu adalah si gadis ombre.
Jemari Khey menyusup ke balik baju yang dikenakan oleh Fabian, perlahan merayapi tubuh Fabian untuk mengganggu sang suami agar melepaskan dekapannya.
"Yang geli." Fabian dengan menggerakkan tubuhnya tidak nyaman.
Bukannya berhenti, Khey malah menggerakkan jemarinya semakin usil saat melihat Fabian bergerak tidak nyaman. Fabian pun menggelinjang dengan masih berdebat dengan Nina. Sepertinya gadis itu kekeh dengan keinginannya.
Fabian kembali mendorong tubuh Khey semakin erat saat gadis itu tidak mau berhenti menggodanya. Fabian memajukan wajah hingga berhasil mengecup pipi Khey. Tidak hanya sekali, Fabian melakukannya berkali kali dengan kecupan singkat pada seluruh permukaan wajah sang isteri. Membuat Khey mengerucutkan bibir kesal.
Meski Fabian mendekapnya hanya dengan satu tangan namun dekapan itu sangat kuat hingga Khey pun kesusahan untuk menjauhkan tubuhnya dari sang suami.
Khey segera mengeluarkan tangannya dari balik baju Fabian. Bergeser pada kerah leher baju Fabian dan menariknya hingga membuat sang suami seperti tercekik.
Namun Khey mengabaikannya. Malah tersenyum senang saat melihat ketidaknyamanan sang suami. Serta makin mengeratkan tarikannnya pada kerah leher Fabian.
Fabian berusaha menghentikan kejahilan Khey dengan berusaha menahan tangan sang isteri dengan dagunya.
"Lepasin baju gue yang... gue udah nggak tahan." Fabian dengan nafas menderu, efek kesusahan bernafas.
Tanpa Fabian sadari jika ucapannya itu terdengar ambigu.
"Bian... elo lagi ngapain?" terdengar teriakan dari seberang telepon hingga membuat Fabian menjauhkan ponsel dari telinganya.
Shiit!!
Umpat Fabian saat menatap layar ponselnya masih terhubung dengan panggilan Nina. Sudah dapat dipastikan jika Nina pasti berfikir Fabian sedang aneh aneh saat ini.
Segera Fabian mematikan panggilan itu sepihak. Melempar ponselnya pada sofa bean. Lantas merengkuh tubuh Khey dengan kedua tangannya.
"Elo harus tanggung jawab yang." Fabian dengan mengunci pandangan pada sang isteri.
"Elo udah menggoda gue, dan bikin dia pengen cetak dedek bayi." Fabian melirik sekilas tubuh bagian bawahnya dan itu mampu membuat Khey menelan ludahnya kelat.
Sungguh ini bukan akhir cerita yang diinginkan oleh Khey.
Kedua tangan Fabian saling bertaut tepat di balik punggung sang isteri kemudian mengangkat bokong Khey, menggendongnya.
__ADS_1
"Bi... elo mau ngapain gue?" Khey dengan menumpukan kedua tangannya pada bahu Fabian, takut jika dirinya jatuh karena posisi Khey saat ini adalah bokongnya ditopang oleh Fabian dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
"Gue mau minta jatah gue sebagai suami. Gara gara ulah lo tadi dia pengen minta haknya." Fabian mendongak karena posisi Khey yang sedikit
lebih tinggi.
"Tapi Bi..."
"Nggak ada tapi tapian, gue udah nggak tahan." Fabian dengan senyum tengilnya. Mulai menggerakkan kakinya untuk melangkah.
Aduh gimana ini... bathin Khey kebingungan. Khey sudah tahu pasti apa yang dipikirkan oleh otak mesum suami tengilnya. Bagaimana jika suami tengilnya itu melakukannya hari ini, haruskah dirinya siap menyerahkan segalanya sekarang.
Khey menggelengkan kepala pelan saat membayangkan dirinya harus menyerah keperawanannya malam ini. Sepertinya Khey
belum siap.
"Bi..." Khey mencengkeram bahu Fabian.
"Apa?" Fabian tetap saja berjalan.
"Lo mau gendong gue kek gini sampek kamar?"
"Iya." Fabian memang berniat menggendong Khey hingga kamar mereka yang terletak di lantai dua.
"Gue jalan sendiri aja, ntar lo nggak kuat, gue berat." bujuk Khey agar suaminya itu mau menurunkan dirinya.
Bagaimana nanti jika mereka bertemu dengan ayah atau bunda saat posisi seperti ini, Khey pasti bakal malu.
"Gue kuat, gue rajin ngegym." tolak Fabian.
Khey jadi bingung mencari alasan agar suami tengilnya itu mau melepas dan menurunkannya.
Detik berikutnya Khey pun tersenyum dalam hati saat otaknya mendapat ide untuk membodohi Fabian.
"Ayah... bunda...!" pekik Khey dengan menunjukkan wajah pura pura tersipu malu. Sontak Fabian menoleh ke belakang hingga membuat kedua tangan yang digunakan menopang bokong Khey terlepas.
Sret...
Seketika tubuh Khey melorot turun.
Dengan segera Khey mengambil jarak saat Fabian masih memposisikan pandangannya ke belakang.
"Gue tipu wlekk!!" Khey memeletkan lidahnya saat Fabian kembali ke arah semula.
Fabian mendengus.
"Awas lo yang..." Fabian dengan berlari mengikuti Khey yang sudah berlari memasuki rumah besar keluarganya.
ππππ
__ADS_1