
Khey pun menoleh.
"Sh*iit..." Khey mengumpat pelan saat mendapati tubuh jangkung Fabian berdiri di belakangnya dengan memandangnya tajam.
"Bian." Khey dengan bibir bergetar.
"Ngapain lo di sini?" Fabian datar namun dengan wajah yang terlihat menyeramkan menurut Khey.
"Ggue... ggue... mau ke toilet." Khey tiba tiba tergagap.
"Toilet bukan ke situ tapi ke sana." Fabian menunjuk arah toilet dengan dagunya karena kedua tangannya berada di dalam saku celananya saat ini.
"Ah... eh... gue gak tau. Gue bingung tadi nyarinya." Khey beralasan.
"Elo anak SMA bukan anak SD, emangnya lo gak bisa baca..." Fabian terlihat tidak percaya.
"Beneran gue tadi bingung, ini baru pertama gue ke sini." Khey memajukan langkahnya menuju Fabian.
Biar saja Fabian marah jika tau dirinya ke sini karena melihat pertandingan basket Doni, namun saat ini panggilan alam kembali mengingatkan Khey untuk segera menemukan letak toilet.
"Sini gue tunjukin." Fabian dengan menarik salah satu lengan tangan Khey untuk menuju toilet.
Mau tak mau Khey pun pasrah mengikuti Fabian tengil, melupakan tujuannya menyusul sosok bayangan yang dipikirnya adalah Doni beberapa saat lalu.
Fabian menghentikan langkah kakinya saat sudah berada di depan toilet perempuan. "Masuk cepet."
Khey pun ngacir memasuki toilet, tanpa peduli dengan Fabian.
Setelah beberapa saat berlalu Khey pun keluar dari toilet.
"Loh... lo masih di sini Bi?" Khey terkaget karena saat keluar dari toilet Khey mendapati tubuh jangkung Fabian menyender pada dinding luar toilet yang dimasuki olehnya.
"Elo berharap gue pergi terus elo bisa tepe tepe ke tribun sama anak anak basket gitu...?" Fabian dingin dengan kedua tangan yang bersidekap dada.
"Eh... enggak gitu kok." Khey mengelak ucapan Fabian karena sebenarnya Khey memang tidak bermaksud untuk tebar pesona, melainkan dirinya hanya ingin memastikan sesuatu di sini. Namun sayang semuanya gagal karena Fabian memergokinya terlebih dahulu.
"Pulang sama gue." Fabian menarik tangan Khey seraya mengayunkan langkah menjauh dari toilet.
"Loh... loh Bi... gue kan dateng sama temen temen gue gimana bisa lo bawa pulang gue kek gini sih." Khey merengek dengan berusaha melepaskan tangannya dari Fabian.
Fabian terlihat mengabaikan rengekan Khey terlihat dari Fabian yang tetap menarik tangan Khey menuju jalan keluar gedung olah raga.
"Bi... temen temen gue gimana?" Khey berusaha menghentikan Fabian yang tetap membawanya keluar gedung.
"Elo tinggal telfon mereka, elo pulang lebih dulu." Fabian tetap bersikeras membawa Khey pulang bersamanya.
Sebenarnya Fabian mengajak Khey pulang bukan tanpa maksud, karena pada dasarnya Fabian tidak ingin jika Khey melihat keberadaan Doni di sana.
Bukannya Fabian cemburu jika Khey melihat Doni di sana akan tetapi Fabian tidak ingin membuat Khey sakit hati jika melihat Doni dengan gadis lain. Meski tanpa Fabian tahu jika Khey sempat memergoki keduanya, walaupun Khey belum sepenuhnya yakin jika yang dilihatnya itu adalah Doni kekasihnya.
"Tapi Bi..."
"Kenapa? Elo gak bawa hape? Gak ada pulsa buat nelfon?" Fabian merepet.
__ADS_1
"Bukan gitu."
"So?" Fabian menatap datar Khey dengan menghentikan langkah kakinya namun dengan tangan yang masih memegang pergelangan tangan Khey.
"Enggak..." Khey menggeleng. "Kita pulang." Khey tertunduk lesu.
"Good girl." Fabian datar lalu kembali menarik tangan Khey untuk menuju pintu keluar gedung olah raga. Kali ini Fabian menarik tangan Khey dengan lebih lembut tidak sekuat beberapa saat lalu.
"Kita naik apa Bi?" Khey bertanya sembari mengikuti langkah kaki Fabian.
"Naek motor lah, mau naik apalagi. Elo malu gue boncengin naek motor." tanpa sadar Fabian meninggikan suaranya.
"Enggak... bukan gitu. Gue cuma nanya. Gitu wae nyolot."
"Siapa yang nyolot?" Fabian menoleh ke arah Khey.
"Elo..."
"Kapan? Gue gak nyolot." Fabian
"Tadi barusan elo ngomongnya kek kesel gitu." Khey memberitahu.
"Enggak elo aja yang sensi." Fabian mengelak.
"Enggak... gue denger lo ngomongnya kek ketus kok, gue enggak budek ya..." Khey dengan menggerutu di belakang Fabian.
Pada saat beberapa langkah di depan motor matiknya Fabian mendapati sosok Doni terlihat sedang berdebat dengan seorang gadis yang terletak cukup jauh. Doni terlihat memaksa sang gadis untuk menaiki motor besarnya.
Fabian pun menghentikan langkahnya lalu dengan segera membalik badannya ke belakang, berusaha menutupi Khey agar tidak melihat hal itu.
Khey yang berjalan dengan menggerutu sambil menunduk pun menabrak tubuh jangkung Fabian.
"Elo apaan sih Bi, berhenti gak ngomong ngomong." Khey dengan mengusap keningnya.
"Sorry... gue lupa kunci motor gue dibawa Farell." Fabian dengan cepat menangkup bahu Khey dan membalikkan tubuh Khey untuk kembali berjalan menjauh agar tidak menyadari keberadaan Doni.
Khey yang tidak mengerti kondisi yang sebenarnya pun kembali berjalan ke arah yang dilewatinya tadi dengan tidak berhenti mendumel pada mulutnya.
Apalagi Khey berjalan dengan masih dalam tangkupan tangan Fabian pada kedua bahunya, bahkan Khey merasa Fabian sedikit mendorong tubuhnya agar segera pergi dari sana.
Beberapa saat berjalan kembali, Fabian mendekati sebuah mobil sedan yang tak jauh dari pintu keluar gedung olah raga. Fabian meraih sebuah kunci dari saku celana seragamnya lalu membuka pintu pada sisi penumpang.
Setelah pintu terbuka, Fabian segera mendorong tubuh Khey untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Khey duduk di dalam mobil dengan aman, Fabian berjalan memutari mobil lalu memasuki mobil dari sisi pengemudi.
"Mobil siapa Bi?" Khey bertanya bingung karena Fabian terlihat terburu buru, seperti ingin mengajaknya segera pergi dari sana.
"Mobil Farell." sahut Fabian cepat.
"Kok lo bisa bawa kuncinya?" Khey terlihat sangat ingin tahu kebenarannya.
"Bisa karena tadi gue markir di sini." sahut Fabian sekenanya. Sebenarnya Fabian tidak ingin berbasa basi dengan Khey karena dirinya tidak ingin jika tiba tiba saja Khey melihat keberadaan Doni di area parkir motor.
Fabian tidak ingin melukai hati isterinya, meskipun sebenarnya dia ingin Khey segera berpisah dari Doni kekasihnya. Fabian ingin Khey berpisah dari Doni dengan baik baik tanpa mengetahui Doni yang sesungguhnya. Fabian tidak ingin Khey melihat kebusukan Doni yang hanya akan membuat Khey tersakiti hatinya, Fabian tidak tega jika Khey berpisah dengan cara seperti itu. Bagaimanapun Fabian tahu rapuhnya hati Khey jika sampai hal itu terjadi.
__ADS_1
"Bi gue haus, beli minum tu..." Khey dengan memandang penjual minuman dingin yang mangkal di depan mobil yang mereka naiki.
"Harus sekarang?"
"Enggak taon depan." Khey ketus.
Fabian menghembuskan nafas kasar, namun akhirnya kembali turun dan membeli dua botol air mineral dingin.
Setelah membayar minuman dinginnya Fabian kembali menaiki mobil.
Krek...
Fabian membuka salah satu tutup botol air mineral dan memberikannya pada Khey.
"Nih..."
"Tanks." Khey dengan menerima air mineral pemberian Fabian dan meminumnya.
Fabian pun dengan segera menyalakan mesin mobil untuk segera keluar dari parkiran tanpa menyahut ucapan terima kasih dari Khey.
Saat Fabian memundurkan mobilnya dengan terburu buru membuat air mineral Khey tumpah hingga s3dikit membasahi seragam atas Khey.
"Bi ati ati dong... pelan aja kenapa sih kek diburu setan aja. Jadi basah kan..." Khey dengan wajah kesal memarahi Fabian yang menurutnya memundurkan mobil dengan grasak grusuk.
"Eh... sorry... gak sengaja." Fabian dengan segera menyodorkan tisu untuk Khey.
"Ck... gak usah buru buru ngapa sih Bi." Khey dengan meraih tisu untuk mengelap bajunya yang sedikit basah.
"Sorry... sorry gue gak sengaja beneran." Fnian dengan rasa bersalahnya.
"Basah kan...." Khey menggerutu kesal lalu membuang pandangan keluar jendela.
Hek...
Di saat yang sama manik mata Khey mendapati sosok Doni yang sedang memeluk seorang gadis di samping motor besarnya melalui kaca spion mobil.
Tubuh Khey menegang, kedua matanya tidak berhenti menatap spion mobil yang masih menampilkan dua remaja berbeda jenis berpelukan tersebut.
Sial...! Fabian mengumpat dalam hati saat ekor matanya mendapati Khey yang tetiba menegang. Fabian tahu penyebabnya karena dirinya pun dapat melihat kejadian tersebut dari kaca spion di sisi kanannya.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
__ADS_1
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»