Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA117


__ADS_3

"Ra... elo kenapa sih?"


Fabian menoleh sesaat pada Khey yang lebih memilih membuang pandangannya ke luar jendela kaca mobil.


Semenjak memasuki mobil saat pulang sekolah tadi, tidak ada satu katapun keluar dari mulut Khey.


Di samping tidak berucap kata, gadis itu menekuk wajahnya kesal.


"Gue nggak papa." sahut Khey datar. Masih saja memandangi bangunan bangunan di pinggir jalan yang seolah berjalan saat mereka lewati. Sepertinya itu lebih menarik daripada wajah tampan Fabian.


"Wajah lo kek kesel sama gue." Fabian yang semula fokus pada jalanan di depannya kembali menoleh ke arah Khey yang duduk di samping kirinya.


"Enggak ah, biasa aja." nada Khey terdengar lebih tinggi dari semula.


"Suara lo beda." lagi Fabian.


"Elo aja yang sensi." Khey berusaha menahan gemuruh di dadanya efek rasa cemburu yang menghinggapi hatinya.


Meski Khey mengelak tuduhan Fabian namun Fabian yakin kalau isteri bar barnya itu memang benar sedang kesal terhadap dirinya. Bian menangkap kemarahan dalam nada ucapan sang isteri.


Namun karena apa, Fabian tidak dapat menebak penyebab rasa marah itu hingga saat ini.


Huh!


Fabian menghembuskan nafas berat.


Perempuan memang susah dipahami.


Saat mereka berkata tidak biasanya adalah memiliki arti sebaliknya sedangkan ketika mereka berkata iya, belum tentu itu adalah yang sebenarnya.


Sepeka apapun, Fabian bukanlah cenayang. Jadi dia tak mampu menebak isi pikirin orang lain, meskipun itu adalah isterinya sendiri.


Fabian melambatkan laju kendaraannya karena lampu lalu lalu lintas menguning. Tak berapa lama kemudian akhirnya berhenti karena lampu merah telah menyala.


Fabian menopang lengan kanannya pada pintu mobil serta menggaruk belakang kepalanya yang sesungguhnya tidak gatal.


Dalam hati berfikir, bagaimana caranya dia bisa membuat isteri barbarnya itu kembali bersikap normal seperti saat berangkat sekolah tadi pagi.


Sesekali ekor matanya melirik Khey yang tetap setia memandang keluar jendela dengan bersidekap dada.


Cobak aja dia mau ngomong masalah yang sebenarnya, gue nggak perlu pusing kek gini... dalam batin Fabian bersuara.


Tin... tin... tiiinnn...


Fabian tersentak dari lamunannya saat terdengar bunyi klakson dari belakang mobilnya, tidak sabar. Rupanya lampu lalu lintas telah berubah menghijau, saatnya dia melajukan kendaraan roda empatnya kembali.


Kembali Fabian menoleh ke sisi kirinya, Khey masih betah dengan kebisuannya. Bahkan bunyi klakson yang berbunyi nyaring beberapa saat lalu sepertinya tidak mampu mengusiknya.

__ADS_1


Kruk... krucukk...


Tetiba perut Fabian berbunyi, pertanda lapar menyerang.


Iya... ya gue tadi nggak makan, batin Fabian mengingat jika saat istirahat tadi dirinya tidak jadi ke kantin untuk makan.


Guru pendamping saat olimpiade matematika di Bali kemarin tiba tiba memanggilnya. Mau tak mau Fabian pun segera menemuinya.


Sesampainya di ruang guru ternyata Fabian diminta untuk memberikan pendampingan pada anak anak kelas sepuluh yang hendak mengikuti olimpiade matematika antar SMU seluruh Yogyakarta.


Cukup lama dirinya berdiskusi dengan guru pendamping tersebut hingga jam istirahatnya pun terlewat.


Fabian hanya memakan sepotong kue serta meminum segelas teh hangat yang telah disediakan di sana untuk pengganjal perutnya. Dan itu tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori tubuhnya yang jangkung.


Sebenarnya Fabian bisa saja mampir ke kantin terlebih dahulu saat selesai dari ruang guru namun dia tidak mau ketinggalan mata pelajaran berikutnya. Apalagi sebentar lagi ujian kenaikan kelas.


Meski Fabian terlihat santai dan cuek dari luar, bahkan terkesan berandal dan Khey isterinya pun selalu berfikir negatif padanya namun pada kenyataannya Fabian sangatlah disiplin jika itu menyangkut pelajaran sekolah.


Cit... set...


Fabian menghentikan mobilnya di depan sebuah warung tenda yang menjual siomay dan batagor di pinggir jalan. Lebih baik dia mengganjal perutnya terlebih dulu.


"Makan dulu yuk..." Fabian dengan melepas seatbelt dari tubuhnya.


"Gue nggak laper." Khey tanpa menoleh pada Fabian.


"Nggak ikut turun?" tawar Fabian dengan tetap bersabar dengan kelakuan isterinya.


"Baiklah. Gue turun." Fabian hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan Khey.


"Bang siomay satu ya." seru Fabian pada penjualnya sambil mendudukkan diri di bangku kayu panjang yang telah disediakan di sana.


"Pakek minum?" penjual itu dengan tersenyum ramah.


"Air mineral saja." jawab Fabian yang kemudian diangguki oleh penjualnya.


Tak berapa lama berselang datanglah segerombolan anak SMU perempuan dari sekolah lain yang juga hendak makan di sana.


Siswi yang kurang lebih berjumlah enam orang tersebut mengambil duduk di bangku seberang Fabian. Posisi mereka saling menghadap meski dengan jarak.


Mereka terlihat berebut tempat duduk tanpa ada yang mau mengambil posisi membelakangi Fabian.


Ketampanan Fabian yang di atas rata rata menarik perhatian para gadis tersebut. Mereka tidak berhenti memandangi Fabian dengan saling tersenyum senang dan berucap kata.


Para remaja SMU yang berjenis kelamin perempuan itu memandang Fabian memuja, mereka semua terpesona dengan ketampanan paras Fabian.


Fabian yang posisinya sedikit menunduk, mengarahkan pandangan pada ponsel pintarnya tidak menyadari hal itu.

__ADS_1


Gerombolan gadis remaja itu saling sikut dan saling dorong berusaha untuk menyapa Fabian.


Hingga akhirnya.


"Hai tampan!" seru salah seorang gadis yang memiliki paras lumayan cantik, memberanikan diri menyapa Fabian.


Fabian mengindahkan karena dia fokus memeriksa data permintaan serta hasil penjualan dealer mobil miliknya.


"Hai sombong amat sih..." salah satu gadis yang lain dan juga memiliki wajah rupawan ganti berseru dengan nada lebih menggoda.


Fabian tetap saja mengindahkan.


"Fabian!"


Terdengar suara lebih keras menyebut namanya, membuat Fabian pun mendongak.


Keningnya mengerut saat di depannya ada banyak gadis remaja yang memakai seragam SMU tersenyum bahkan mengerling nakal kepadanya.


Fabian memindai gadis - gadis di depannya dengan pandangan bingung. Dia merasa tidak mengenal satupun dari mereka. Namun dia mendengar ada yang menyebutkan namanya.


"Fabian kan?!"


Gadis yang semula memanggilnya berseru memastikan sembari tersenyum manis.


"Iya." Fabian masih bingung karena gadis itu mengetahui namanya.


"Itu."


Gadis yang semula memanggil tersebut menunjuk tubuhnya, tepatnya bagian dada sebelah kanan.


Fabian menunduk, mengikuti arah jari telunjuk gadis tersebut. Tak lama kemudian senyum manis tersungging pada wajah tampannya saat menyadari bahwa gadis itu mengetahui namanya dari nametag seragam sekolahnya.


Fabian pun mengarahkan pandangan pada para gadis, mengangguk ramah dan tetap saja menyertai dengan senyum manis pada wajah tampannya.


Para gadis di hadapan Fabian pun terlihat tersenyum senang, bahkan ada beberpa yang terlihat histeris. Layaknya seorang fans yang bertemu dengan idolanya.


Fabian hanya menggelengkan kepala dengan tersenyum tipis, melihat reaksi gadis - gadis di depannya.


"Ini mas pesenannya." sang penjual siomay menginterupsi sembari meletakkan sepiring siomay serta satu botol air mineral di hadapan Fabian.


"Makasih pak." ucap Fabian yang kemudian dibalas oleh penjual dengan jawaban "sama sama mas"


Fabian yang sejatinya memang ramah, tersenyum pada gerombolan gadis remaja di depannya dengan memberi tanda bahwa dia bakalan makan lebih dulu.


Hal itu tak luput dari penglihatan Khey.


Sial!!

__ADS_1


Umpat Khey dari dalam mobil.


😍😍😍😍


__ADS_2