Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA127


__ADS_3

"Kok ke sini?" Khey bertanya dengan memandang Fabian heran saat suaminya itu membelokkan mobilnya lalu berhenti di pinggiran taman kota.


"Maen bentar." jawab Fabian datar dengan mematikan mesin mobilnya. "Lo mau beli ice cream?" tawar Fabian kemudian.


Khey langsung mengangguk senang.


"Eh bentar." Fabian menginterupsi saat Khey hendak membuka pintu mobil.


"Kenapa?" Khey menoleh dengan tetap pada posisinya.


"Ngadep sini bentar." Fabian menarik bahu Khey agar menghadap kepadanya, namun Khey terlihat enggan.


"Mau ngapain?" Khey dengan waspada, membuat Fabian terkekeh kecil.


Fabian tahu apa yang ada di dalam otak isterinya. "Nggak usah nethink."


"Gimana gue nggak nethink, gue bangun tidur aja tau - tau leher gue pakek batik." Khey dengan menggerutu.


"Salah sendiri siapa suruh tidur kek kebo." Fabian dengan bercanda.


"Enak aja, gue nggak kek gitu."


"Nyatanya... Elo nggak nyadar kan kapan gue membatiknya." Fabian mengerling jenaka, membuat bibir Khey makin mengerucut.


"Udah nggak usah dibahas, lo mau ngapain sih?"


Fabian mendekatkan tubuhnya pada Khey, membuat gadis itu memundurkan tubuhnya.


"Nggak usah mulai deh." Khey menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Gue nggak minta jatah yang." Fabian menangkup bahu Khey agar mengahadap ke arahnya kemudian tangan Fabian bergerak membuka kancing baju atas Khey.


"Bi..." Khey menahan tangan sang suami. Namun Fabian tetap membuka kancing leher baju atas Khey.


"Gue cuma mau lepasin ini doang." Fabian segera menjauhkan tangannya setelah berhasil membuka kancing leher istrinya.


"Elo nggak gerah apa seharian kek gitu?" lanjut Fabian dengan menyusupkan surai hitam Khey ke sisi telinganya.


"Gara gara elo kan..." Khey dengan mengembalikan rambut hitamnya ke posisi semula.


"Udah nggak kentara kok yang..." Fabian.


Khey mengarahkan kaca spion dalam mobil ke wajahnya untuk memastikan.


Ternyata omongan Fabian benar. Tanda warna merah keunguan itu mulai memudar. Khey pun merapikan tatanan rambutnya, agar tetap menutupi bagian yang masih terstempel jelas.


Setelahnya kedua pasangan remaja itu menuruni mobil dari sisi masing - masing.


"Mana uangnya?" Khey dengan menyodorkan tangan di depan Fabian. Persis seperti seorang anak yang menodong kepada ayahnya.


Fabian menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada isterinya. Khey segera menerima, kemudian berlari menuju penjual ice cream yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Fabian memilih menuju kursi taman dan duduk di sana. Fabian kepikiran dengan ucapan Khey beberapa saat lalu, saat keduanya baru saja menaiki mobil.


"Elo ngerasa aneh nggak sih sama Alya saat di kantin tadi?"


Sebenarnya Fabian memang sedikit janggal dengan sikap sahabat Khey yang setaunya pendiam tersebut. Awalnya Fabian tak mau ambil pusing. Namun setelah Khey mengungkapkan kekhawatirannya, mau tak mau Fabian pun akhirnya berfikir.


"Nih es krim buat lo." Khey tetiba datang dengan menyodorkan salah satu tangan yang memegang es krim cone ke hadapan Fabian.


Fabian menggeleng. "Enggak. Elo aja."


"Beneran nggak mau? Ini enak banget tauk." Khey dengan menjilat es krim cone miliknya.


Fabian tetap menggeleng, membuat Khey akhirnya pasrah.


"Duduk yang, jangan berdiri kek gitu." Fabian menarik rok seragam sekolah isterinya.


Khey pun terduduk dengan sedikit terjerembab.


"Bian!" Khey kesal karena es krimnya mengenai pucuk hidungnya.


"Hehehe... lucu. Kek badut." Fabian tertawa kecil saat melihat pucuk hidung Khey.


"Enak aja badut."

__ADS_1


"Tapi tetep cantik kok." Fabian dengan menghapus es krim di pucuk hidung Khey dengan mulutnya.


Membuat Khey kaget, lalu menoleh ke sekeliling. Takut ada yang memperhatikan aksi Fabian.


"Bi jangan kek gitu. Ini di tempat umum." Khey masih dengan celingak celinguk.


"Nggak papa, udah sah jugak." Fabian dengan senyum tengilnya.


"Tapi kan kita masih pakek seragam sekolah Bi, malu." cicit Khey kemudian.


"Bukane malu itu kalau lagi nggak pakek baju yang..." Fabian berucap santai, sontak mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya.


"Aduh... duh... sakit yang..." Fabian meringis.


"Makanya mulutnya kalau ngomong pakek filter jangan asal njeplak aja. Lagi di luar jugak, mesum mulu perasaan." Khey dengan melepaskan cubitannya .


"Kalau lagi di dalam kamar, boleh mesum dong berarti?"


"Bian! Bisa diem nggak." Khey dengan geram.


"Iya iya diem nih." Fabian dengan melakukan gerakan mengunci pada mulutnya.


"Nah, gitu kan ayang makin ganteng." puji Khey tanpa sadar.


"Apa, ulang lagi coba panggilannya..." Fabian dengan berbinar.


"Ayyang mak.... ups..." Khey segera mengatup rapat mulutnya dan Fabian pun tersenyum lebar.


"Ih malu..." Fabian merangkul pinggang sang isteri seraya bergeser merapatkan tubuh keduanya.


Khey pun tersipu dibuatnya.


"Nggak usah malu gitu, gue suka kok panggilan barunya." Fabian dengan menatap lekat isterinya tak lupa dengan menyunggingkan senyum yang pastinya membuat siapapun meleleh saat melihatnya.


Pun begitu dengan Khey. Senyum itu selalu saja membuat jantung Khey memompa dengan cepat.


"Terpesona kan sama gue..." Fabian selalu saja menggoda. Tangannya mendorong es cone di tangan Khey ke mulut isterinya.


Membuat Khey terhenyak.


Khey pun segera membuka mulutnya, menjilati lelehan krim lembut cone ditangannya.


Slurrp...


Fabian menyeruput pucuk cone di tangan Khey saat gadis itu masih menikmati lelehan es krim di tangannya.


Membuat bibir mereka terlihat seakan berciuman, bahkan hidung mancung keduanya pun beradu.


"Bikin kaget aja sih..." Khey dengan menjauhkan wajahnya yang terasa seperti terbakar.


Entahlah meski Fabian sudah sering mencium bibirnya, namun tetap saja Khey merasakan sensasi berbeda tiap kali wajah suami tengilnya itu bersentuhan dengan anggota tubuhnya.


Apalagi saat ini mereka sedang berada di taman kota yang pastinya banyak pengunjung, Khey jadi salah tingkah dibuatnya.


"Wiih... wajah lo merah yang..." Fabian dengan menelisik, mengikuti arah pandangan Khey.


"Bi... jauhan dikit napa." Khey mendorong dada bidang Fabian dengan sikunya. Sembari menahan degub jantungnya yang meletup menggila.


"Kenapa emangnya?" Bukannya menjauhkan wajahnya Fabian malah makin mendekatkan wajahnya, gencar menggoda isterinya.


"Malu diliatin orang noh." Tunjuk Khey dengan dagu pada sekitar.


"Ngapain malu, mereka juga pada pacaran. Liat baek baek tuh." Fabian.


Khey pun menurut, memindai sekitar dan sialnya ternyata ucapan Fabian benar adanya.


Hampir semua pengunjung taman kota ini adalah pasangan remaja yang sepertinya benar berpacaran.


"Betul kan kata gue.?! Fabian dengan menarik tubuh Khey semakin merapat.


Khey pun mau tak mau menurut.


"Kenapa lo nggak ngomong jujur aja sama temen - temen lo?" tanya Fabian dengan satu tangan merangkul bahu Khey sedangkan satunya memainkan anak rambut isterinya.


Khey terlihat mendesah.

__ADS_1


"Gue masih nunggu waktu yang tepat." Khey dengan sesekali ******* lelehan krim pada cone di tangannya.


"Ntar keburu mereka tau duluan, malah bikin salah paham." Fabian mengingatkan.


"Selama lo nggak ngomong terus Farrel juga tutup mulut, gue yakin semuanya baik - baik aja." Khey kekeh menutupi hubungannya dengan Fabian.


"Apa gue kurang pantes buat lo, makanya lo nggak mau temen temen lo tau hubungan kita." Fabian terdengar serius.


Khey yang semula asyik membuka es cone keduanya, sejenak menghentikan kegiatannya.


"Elo ngomong apa sih Bi... Lo lebih dari sekedar pantes buat gue." Khey dengan sedikit ketus.


"Terus kenapa nggak jujur aja?"


Lagi Khey mendesah, melempar bungkus es krim pada tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk.


"Hubungan kita bukan sekedar pacaran Bi, kita ini menikah. Untuk itu gue butuh waktu yang tepat buat ngomong sama mereka." Khey.


"Yakin hanya itu alasan lo, bukan karena lo belum move on dari si ketos?"


"Bi ngomong apaan sih lo?!" Raut wajah Khey berubah kesal.


"Gue cuma pengen tau aja yang, nggak ada maksud lain." Fabian dengan senyum tersungging.


"Beneran cuma itu alasan gue. Dan lagi... lo nggak usah bawa bawa si brengsek itu." Khey sedikit menderu dengan bibir mengerucut.


Cup...


Fabian mengecup singkat bibir Khey. "Nggak usah manyun."


Pluk


Karena ulahnya mencium bibir Khey singkat, Khey menyodorkan pucuk es conenya ke mulut Fabian.


"Dibilangin jangan cium cium sembarangan jugak."


"Yah belepotan ini yang..." Fabian dengan memonyongkan bibir yang penuh lelehan krim.


"Rasain." Khey terkekeh kecil saat melihat Fabian sedikit kesal.


Cup...


Lagi Fabian mendaratkan mulutnya yang penuh krim ke mulut Khey. Kali ini bukan sekedar kecupan singkat melainkan Fabian sengaja membersihkan lelehan krim di mulutnya pada mulut Khey.


Eughmph... Khey menggerakkan kepala, agar Fabian melepaskan tautan bibirnya.


"Bian malu tauk." Khey menunduk.


"Nggak usah nunduk." Fabian mengusap bibir Khey yang sedikit basah karena ulahnya.


Khey tetap setia dengan posisinya tanpa berani mendongakkan kepala, Khey takut pandangan orang di sekitarnya.


Tangan kekar Fabian beralih menaikkan dagu Khey.


"Liat tuh, bahkan ada yang lebih parah dari kita. Belum tentu juga mereka udah sah kek kita." Pandangan Fabian memaku pada pasangan remaja yang berada tak jauh di depannya.


Khey pun mengikuti arah pandangan Fabian.


Hek...


Kerongkongan Khey terasa kelat saat manik hitamnya mendapati pasangan remaja berciuman. Bukan sekedar ciuman pipi biasa melainkan terlihat saling ******* bibir dengan santainya. Sepertinya ciuman itu telah berlangsung lama.


Bahkan pasangan remaja itu masih mengenakan seragam sekolah.


Bukan seragam SMU seperti dirinya dan Fabian melainkan seragam SMP. Kedua mata Khey pun membola saat menyadarinya.


"Kaget atau pengen?!" Menggoda Khey saat pandangan keduanya beradu.


"Apaan sih Bi, kaget tau... Mereka masih SMP, belum sepantasnya." Khey mendorong jauh wajah Fabian.


"Kalau SMA kek kita udah pantas?" Fabian.


"Kita kan udah nikah, mau SMP ataupun SMA boleh saja. Bahkan lebih dari sekedar ciuman sah sah saja kan..." Khey tanpa sadar.


"Kalau gitu kita pulang yuk... gue mau lanjut di rumah aja." Bisik Fabian tepat di telinga sang isteri.

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2