
"Eh Nina kenalin ini..."
Belum selesai bunda Fabian berucap kata, Khey memotongnya.
"Kami sudah saling kenal kok Bun."
Bun... Nina membatin heran pada sebutan Khey untuk bunda Fabian.
Apa hubungan Khey dengan Fabian tanya Nina dalam hati. Mungkinkah mereka telah menjadi pasangan kekasih. Ah tidak mungkin, enggak mungkin secepat ini... elak Nina tetap dalam hati.
"Oh iya... kalian temen satu sekolah kan ya..." Bunda Fabian dengan tersenyum memandang Khey dan Nina silih berganti.
"Iya." Khey dan Nina hampir bersamaan.
Terlihat aura tidak menyenangkan pada raut wajah keduanya.
Khey jelous dengan anggapan bahwa Nina dan Fabian memiliki hubungan atau mungkin pernah berhubungan sebagai pasangan kekasih. Karena sedikit banyak Khey pernah mendengar rumor tentang hubungan kedekatan Nina dengan Fabian. Bahkan kejadian mereka berpelukan di sekolah beberapa saat lalu masih terngiang di telinga Khey.
Sedangkan Nina merasa jika Khey adalah musuh baginya karena bisa menggeser posisinya sebagai most wanted di sekolahnya.
Bagaimana pun Nina jujur mengakui jika Khey tak kalah cantik dari dirinya. Bahkan gadis di hadapannya tersebut telah berhasil membuat Doni sang ketua osis tampan di sekolahnya takluk. Padahal Nina juga pernah mengincar sang ketos tampan yang terkenal dingin dan sombong tersebut.
Dan kini ketika ada rumor bahwa Khey dan Doni telah putus, rumor kedekatan Khey dan Fabian pun telah sampai ke telinga Nina.
Hal itu membuat Nina tidak senang.
"Kalian satu angkatan kan? Satu kelas enggak?" tanya Bunda Fabian dengan tetap tersenyum meski beliau menangkap keanehan pada cara kedua gadis itu saling memandang.
"Iya satu angkatan, tapi nggak satu kelas bun." terang Khey dengan tanpa memperlihatkan keakraban pada Nina.
Lagi lagi Nina mengerutkan kening heran ketika Khey menyematkan kata bun pada saat berucap kata.
"Iya tante. Sebenarnya kita cuma saling tau aja nggak begitu saling kenal banget." Nina seolah mempertegas hubunganya dengan Khey yang tidak akur.
Namun untuk menutupi ketidaksukaannya dengan Khey, Nina tetap memperlihatkan senyum palsunya di depan bunda Fabian.
Berbeda dengan Khey yang apa adanya, tetap dengan wajah yang terlihat tidak menyukai kehadiran Nina.
Dan bunda Fabian dapat menangkap situasi itu, bagaimanapun beliau adalah seorang ibu yang selalu peduli dengan kondisi perkembangan anaknya. Dan Ara adalah menantunya sekarang itu berarti anaknya juga, menjadi tanggung jawabnya sekarang.
"Oh begitu." Bunda Fabian manggut manggut.
"Emm... bunda tinggal sebentar ya sayang, ada telfon penting." pamit Bunda Fabian pada Khey dan Nina. Kemudian beranjak menjauh setelah mendapatkan anggukan dari kedua gadis remaja yang tampak tidak akur tersebut.
"Apa hubungan lo sama bunda Fabian?" tanya Nina dengan sinis saat mereka hanya tinggal berdua saja.
"Bukan urusan lo!" Khey ketus.
"Hey cewek udik nggak usah sok kecantikan ya, apapun yang berhubungan dengan Fabian itu urusan gue!" Nina dengan geram.
"Nggak usah ngehalu..." Khey berusaha tetap santai tidak terpancing emosi. Meskipun dalam hatinya sangat ingin mencakar wajah Nina yang dandanannya seperti lenong, menurut Khey.
"Elo yang nggak usah ngehalu, keluarga gue sama keluarga Fabian itu udah kenal lama. Status kita jelas, level kita sama. Enggak kek elo, udik!" Nina dengan sarkas.
__ADS_1
"Heh... yang deket keluarga elo kan bukan elonya." Khey tetap duduk santai di tempatnya, namun memperlihatkan wajah sinis.
"Dasar cewek udik." Nina mengeram dengan mengepalkan tangannya. "Elo nggak usah kecentilan ya, Fabian itu milik gue."
Nina menunjuk dadanya saat berucap kata.
"Nggak usah ngaku ngaku lo, emangnya Fabian suka sama lo... enggak kan..." Khey dengan raut wajah mengejek, membuat Nina semakin kesal.
Gadis berambut ombre tersebut memanas lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Khey. Tangannya mengayun hendak menampar Khey.
Namun tiba tiba...
"Eh bunda, udah selesai telfonnya." Khey sedikit berseru.
Sontak membuat Nina menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan Khey.
Sial...
Umpat hati Nina saat manik hitamnya mendapati bunda Fabian berjalan ke arah mereka.
Khey pun tersenyum penuh kemenangan. Rasain lo... ucap hati Khey.
"Sayang kita pulang ya?!" Bunda Fabian saat mendekati meja, dengan langkah terlihat terburu buru.
Khey pun segera beranjak, berjalan mendekati sang bunda mertua. "Kenapa bun, sepertinya ada sesuatu."
"Bunda ada tamu, udah nungguin bunda di toko."
"Nggak papa kan kita pulang sekarang?" tanya bunda Fabian dengan lembut pada anak menantunya.
"Nggak papa kok, udah selesai makan juga kan." Khey dengan menggelayut lengan tangan mertuanya layaknya anak perempuan yang bermanja pada ibu kandungnya sendiri.
Khey dengan sengaja menunjukkan pada Nina jika dirinya sangat dekat dengan bunda Fabian. Khey ingin membuati Nina panas.
"Nina maaf ya, tante pulang duluan. Enggak bisa nemenin kamu makan." pamit Bunda Fabian.
"Oh iya tante. Enggak papa kok, lain kali kita bisa makan bareng kan?!" Harap Nina dengan sok akrab. Gadis itu tak mau kalah dari Khey.
"Insyaa Allah." bunda Fabian dengan tersenyum ramah.
"Tante duluan ya... daaa...." Bunda Fabian melambaikan tangan pada Nina kemudian membalik tubuhnya berlalu meninggalkan restoran dengan sang menantu.
Khey yang sedari awal memiliki rencana untuk membuat Nina kepanasan pun memeluk pinggang bunda mertuanya, terlihat bergelayut manja sembari mengobrol saat berjalan keluar.
Nina kembali keheranan saat melihat interaksi Khey dan bunda Fabian yang terlihat begitu dekat.
Bahkan terlihat jelas di mata Nina jika interaksi mereka bak ibu dan anak yang sedang metime berdua.
"Gue musti cari informasi tentang cewek udik itu." Nina dengan mengepalkan telapak tangannya tanpa memutuskan pandangan dari Khey yang sesekali terlihat tersenyum asyik dengan bunda Fabian.
πππ
"Ara sama Nina nggak berhubungan baik ya?" Bunda Fabian memecah keheningan setelah beberapa saat mengendarai mobil keluar dati area parkiran restoran.
__ADS_1
Khey menganggukkan kepala perlahan, lebih baik jujur mengatakan isi hatinya.
"Kenapa?" Bunda Fabian.
"Entahlah bun..." Khey dengan menggedikkan bahu. Khey memang tidak tahu awal mulanya, namun sejak awal bertemu Khey merasa tidak nyaman saja berteman dengan Nina. Apalagi pandangan Nina padanya seperti musuh.
"Karena cowok?" selidik bunda.
Kening Khey mengerut, ekor matanya bergerak seolah mengingat.
"Enggak juga." Khey tidak yakin.
Khey memang sedikit cemburu saat mendengar rumor kedekatan Nina dengan Fabian namun untuk alasan Nina Khey tidak tahu pasti.
Bunda Fabian tersenyum tipis.
"Nina sama Abi temenan dari SD, tempat tinggal kakek Nina bersebelahan dengan tempat tinggal bunda. Sebelum orang tua Nina memiliki rumah sendiri, mereka tinggal di rumah kakeknya." terang bunda.
"Oh." Khey manggut manggut.
"Dulu Nina sama Abi sangat dekat, mereka sering main bareng. Kalau interaksi Abi sama Nina berlebihan, Ara tegur Abi biar tau batas. Kalian sudah menikah sekarang."
"Iya bun..."
"Mau pulang atau ikut bunda?"
"Pulang aja bun."
"Baiklah..."
Setelah beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya sampailah mereka di kediaman keluarga Khey.
"Maaf bunda nggak bisa mampir ya sayang, bunda sudah ditunggu soalnya."
"Nggak papa bun, makasih ya... Ara udah ngerepotin bunda." Khey dengan mencium punggung tangan sang mertua kemudian berpelukan sesaat.
"Bunda nggak merasa direpotin kok. Sering sering main ke rumah ya..." Bunda Fabian setelah keduanya merenggangkan pelukannya.
Khey mengangguk lalu keluar dari dalam mobil.
"Daaa bunda..." Khey dengan melambaikan tangan tersenyum.
Sepeninggal sang mertua, Khey pun berjalan menuju rumahnya.
Saat berada di depan pintu rumah, terdengar bunyi berisik yang memekakkan telinga dari dalam rumah.
Prang... prang...
Deg!
Tetiba dada Khey berdebar kencang, seketika telapak tangannya mendingin.
ππππ
__ADS_1