
"Dari mana lo jam segini baru pulang?" Khey bertanya pada Fabian di depan pintu kamar dengan bersidekap dada saat lelaki bergelar suaminya tersebut memasuki kamar dengan seragam sekolah masih melekat di badannya. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Bukannya Khey mulai perhatian pada Fabian, melainkan dirinya heran karena cowok tengil suaminya tersebut pulang cukup larut dengan masih memakai seragam sekolahnya.
Fabian yang sebenarnya sangat lelah, tetap memberikan senyum cerah pada Khey pada wajah kusutnya. Lalu menyerahkan tas punggungnya di depan dada Khey.
Khey yang bersidekap dada refleks menerima tas punggung Fabian yang ternyata cukup berat.
"Sorry yang... gue telat, banyak kerjaan yang harus gue selesain." ucap Fabian memberi alasan sembari mendaratkan bokongnya pada ranjang tidur mereka.
Cih... gaya... belagu... banyak kerjaan, anak sekolah bandel aja sok sokan sibuk banyak kerjaan. Khey membatin sinis.
"Hey jangan duduk di situ! Seragam lo kotor, ntar bawa kuman lagi." Tita dengan segera menarik tangan Fabian, namun sepertinya tenaganya gak sebanding. Terbukti dengan tubuh jangkung itu yang masih menempel pada ranjang.
"Bentar doang yang... lepas kaos kaki ini." suara Fabian terdengar lelah.
"Yang... yang... pale lo peyang! Gak usah sok deket deh." kesal Khey dengan menaruh tas punggung Fabian yang dirasanya cukup berat.
Apaan sih yang dibawanya sekolah? tanya hati Khey, karena memang tas Fabian tadi lumayan berat. Gak mungkin kan dia rajin lalu membawa buku lengkap ke sekolah, mengingat penampilannya yang berantakan dan terkesan nakal. Apalagi Khey merasa jika Fabian tengil itu selalu saja standby di kantin sekolah, seperti layaknya murid murid nakal yang enggan masuk kelas untuk menuntut ilmu.
Khey memandang Fabian yang sedang melepaskan kaos kakinya heran.
"Malam itu bukannya Fabian juga pulang malam masih dengan pakai seragam sekolah, terus hari ini dia juga pulang malam. Masih dengan berseragam pula, apa sih sebenernya yang dilakukan cowok tengil ini?" Khey bertanya tanya dalam hati penasaran.
"Ra... ra... Ara sayang hellow ...." Fabian mengibaskan tangan di depan wajah Khey yang terlihat memandangnya bingung.
"Apaan sih, dibilangin gak usah sayang - sayangan jugak. Lagian elo tu gak usah sok deket, pakek manggil gue Ara segala. Panggilan itu cuma dipakek sama orang orang terdekat gue." Khey menampik telapak tangan Fabian yang tak berhenti bergerak di depan wajahnya.
"Manggil sayang sama isteri sendiri masak gak boleh... Lagian gue kan orang terdekat lo jugak saat ini." Fabian tersenyum menggoda dengan memandang jaraknya dengan jarak Khey yang hanya beberapa jengkal saja.
"Elo tu dekat dalam jarak, bukan dalam hati gue." Khey memalingkankan wajahnya menghindar dari wajah tampan yang tersenyum mempesona tersebut. Khey tidak memungkiri jika setelah menikah senyuman Fabian seringkali membuatnya terpesona dan membuat degub jantungnya seakan menggila.
"Saat ini gue memang hanya dekat dalam jarak sama lo tapi tunggu sebentar lagi, gue juga bakal masuk dan menetap di dalam hati lo." ucap Fabian tepat di depan wajah Khey. Dengan tak lupa memberikan hembusan nafas hangat pada seluruh permukaan wajah sang isteri sebelum sesaat setelahnya berlalu menuju kamar mandi.
Hek.
Khey membeku sesaat, entah kenapa tubuhnya selalu saja tidak biasa saat dekat dengan Fabian sekarang. Seperti tersengat listrik. Apalagi saat kulit halusnya bersentuhan dengan kulit suami tengilnya. Membuat bulu halus di permukaan kulitnya meremang.
"Kenapa gue kek gini ya, apa yang salah sama tubuh gue? Gak mungkin kan gue tiba tiba suka sama si tengil itu? Gak ... gak mungkin." Gumam Khey menyadarkan dirinya dengan bergidik.
Beberapa waktu berlalu.
__ADS_1
Fabian keluar dari kamar mandi dengan tubuh lebih fresh dan wajah yang terlihat cerah.
Fabian hanya memakai celana pendek berbahan jins tanpa membungkus tubuh bagian atasnya. Membiarkan otot kekar serta perut sikspacknya terpampang sempurna.
"Elo udah makan malem yang?" tanya Fabian sambil menggosok rambut hitamnya yang basah dengan handuk putih.
Khey yang sedari awal mendengar pintu kamar mandi terbuka seolah tak peduli dan memilih mengabaikan Fabian lebih memilih asyik mengutak atik ponsel pintarnya. Bahkan dirinya tak menyahuti pertanyaan Fabian, berpura - pura tidak mendengar.
Melihat Khey yang tidak bersuara bahkan terlihat asyik serta senyum senyum menatap ponsel pintarnya membuat Fabian berjalan mendekatinya. Berdiri di hadapan Khey yang duduk di tepi ranjang dengan pandangan menunduk fokus pada layar ponsel.
"Ra... elo udah makan belum?" tanya Fabian lembut dengan mengangkat dagu Khey sehingga membuat
gadis itu mendongak.
Khey membelalakkan mata saat melihat tubuh bagian atas Fabian yang terbuka tidak memakai baju.
"Bi, elo apaan sih... main telanjang dada di depan gue. Gak malu apa." Khey memalingkan wajahnya menghindar tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya.
Fabian tersenyum tipis, ide nakal mencuat dari otak tengilnya.
"Ngapain gue malu, di depan isteri gue sendiri. Bahkan kalau lo nyuruh gue telanjang di depan lo gue ikhlas kok." Fabian semakin merapatkan jarak dengan Khey.
Gugup... tentu saja! Khey sangat gugup sekarang.
Khey berusaha menahannya, namun sepertinya harum tubuh Fabian semakin menusuk tajam indera penciumannya. Khey memegang pinggiran ranjang kuat, tidak mau terbawa suasana.
Dan Fabian menyadari itu.
Fabian melempar handuk di tangannya pada ranjang.
Dengan tersenyum nakal, tangan Fabian membuka kancing celana pendeknya. Dan pergerakan tangan Fabian itu terdengar oleh telinga Khey. Karena jarak keduanya hanya beberapa centi saja.
"Elo gakpapa kan kalau gue telanjang sekarang, elo pasti penasaran kan sama punya gue." Lalu dengan sengaja hendak menurunkan resleting celananya.
Meskipun Khey memalingkan wajahnya namun indera pendengarannya menangkap pergerakan tangan Fabian. Apalagi kondisi kamar yang senyap tanpa suara, indera pendengaran Khey dapat memahami jika resleting celana pendek Fabian bergerak turun.
Degub jantung Khey memburu, seolah berlari saat otaknya menggambarkan keadaan yang tidak diinginkan olehnya saat ini.
Khey takut jika Fabian tengil akan menuntut hak dan melakukannya sekarang.
"Gue dengan senang hati lo Khey untuk melakukannya sekarang." Fabian kembali menggoda.
__ADS_1
Khey yang merasa sangat kesal dan takut jika adegan suami isteri itu akan terjadi saat ini, memutuskan membalikkan wajahnya kembali.
Sreet ... plek...
Posisi Fabian berdiri tepat di hadapan Khey, sedangkan posisi Khey duduk di tepi ranjang membuat wajahnya bersentuhan dengan perut sixspack Fabian, bahkan bibirnya tepat bersandar di atas pusar Fabian.
Rasa dingin yang menyegarkan menempel dan menusuk hidung mancung Khey. Sesaat aroma wangi sabun mandi Fabian membuat Khey terlena, memejamkan mata lalu menghirup dalam aroma wangi yang menguar dari tubuh suaminya.
Fabian tersenyum nakal, saat menunduk dan memandang Khey yang terlihat menikmati wangi tubuhnya.
"Kok jadi elo yang gak sabar sih Ra, kirain cuma gue doang yang pengen... taunya elo jugak."
Khey tersentak kaget mendengar ucapan Fabian, perlahan membuka mata. Kedua matanya membola, sangat terkejut saat menyadari apa yang telah dilakukannya.
Refleks kedua tangan Khey mendorong tubuh Fabian dengan keras, hingga tubuh jangkung tersebut terhuyung ke belakang.
"Cieee yang ketahuan mesum, malu nie yee... " Fabian tetap saja menggoda meski tubuhnya terhuyung.
"Enggak!! Ggue... ggue... gak sengaja." elak Khey gagap.
"Sampek merem melek gitu gak sengaja... bohong lo Khey..." Fabian menggoda dengan senyum mengejek.
"Udah ngaku aja... elo juga nikmati tubuh gue kan?!"
"Enggaaakkk!!" seru Khey kesal dengan melempar bantal pada tubuh Fabian.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1