
Khey berjalan keluar gerbang rumah untuk menuju minimarket yang tidak jauh dari komplek perumahan keluarganya.
Di mana minimarket tersebut adalah tempat yang sering dipakainya untuk melakukan pertemuan ataupun sebagai tempat Doni menjemputnya jika mereka sedang ingin keluar rumah.
Pada dasarnya Khey dilarang pacaran oleh kedua orang tuanya. Namun karena Khey tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya, Khey melanggar larangan tersebut.
Maka dari itulah Khey berpacaran dengan Doni secara backstreet. Doni hanya diperbolehkan menjemput atau menemui Khey di luar rumah oleh Khayyara.
Setelah sampai di depan minimarket, ternyata Doni sudah menunggu Khey dengan bersandar pada pintu mobilnya.
"Hai ...!" Khey berseru menegur Doni yang terlihat menunduk dengan memainkan ponsel pintarnya.
Mendengar suara merdu kekasihnya, Doni mendongakkan kepala kemudian tersenyum manis.
"Udah nunggu lama?" tanya Khey pada sang pujaan hati.
Doni menggeleng.
"Selama apapun kalau nungguin bidadari secantik ini mah gue jabanin." Doni tersenyum dengan sorot mata berbinar sembari memandang penampilan modis Khey dari atas sampai bawah.
Blusshh ....
Semburat warna merah menghiasi pipi putih Khey.
"Cie ... cewek gue malu digombalin." Doni tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Apaan sich ... enggak ... siapa yang malu coba," Khey memalingkan wajahnya untuk menutupi pipi putihnya yang pastinya semakin memerah semerah tomat ceri.
"Udah ... gak usah ditutupi, gue suka kok lihat pipi lo yang memerah. Berasa pengin gigit aja." goda Doni.
"Enak aja main gigit, emang pipi gue bakpao apa." cicit Khey semakin menekuk wajahnya untuk menyembunyikan rona malunya, sembari mengencangkan pegangan tangannya pada tali tas selempangnya.
"Bukan ... yang bilang pipi lo bakpao siapa. Pipi lo tu kek apel Malang, kalau digigit bikin mulut jadi seger." Doni terkekeh.
"Ck ... Don udah, jangan godain mulu." Khey cemberut.
Doni semakin terkekeh, melihat Khey yang terlihat semakin berusaha menutupi malunya.
"Ya udah masuk gih, kita berangkat. Daripada kemaleman." Doni membukakan pintu sisi penumpang untuk Khey kemudian setelahnya dia memasuki mobil melalui sisi kemudi.
Doni pun perlahan meninggalkan pelataran minimarket dan menyusuri jalan raya yang sudah dipadati oleh kendaraan bermotor lainnya. Maklumlah malam minggu, jadi wajar kalau jalanan penuh bahkan banyak terjadi kemacetan.
"Mau makan dulu yang?" Doni bertanya setelah sesaat menyusuri jalan raya.
"Belum makan??" Khey menoleh ke arah Doni kekasihnya yang fokus menatap jalanan di depannya.
__ADS_1
"Udah sih ... tapi gak papakan kalau ke resto nyari menu yang ringan, anggep aja dinner berdua. Udah lama kita gak kencan kan, gue kangen sama lo ...." Doni tersenyum menatap Khey sekilas lalu kembali fokus pada jalan raya yang lumayan padat.
Khey tersenyum, perasaannya terasa melayang saat mendengar ungkapan kangen dari cowok tampan yang telah mengisi relung hatinya itu.
Walaupun Doni seringkali bersikap cuek dan dingin padanya, namun tak jarang Doni bersikap romantis bahkan seringkali mengungkapkan rasa cinta maupun rindu padanya secara terang - terangan di saat sedang berdua saja.
Setelah beberapa saat mengendarai mobil dengan diiringi senda gurau diantara keduanya, mobil Doni membelok pada sebuah restoran yang sedang booming saat ini.
"Belum pernah ke sini kan sayang?!" tanya Doni pada Khey kekasihnya.
"Belum." sahut Khey sembari memindai bangunan resto yang menampilkan kesan anak muda banget dari dalam mobil.
Doni membukakan pintu sisi penumpang, dimana Khey masih duduk terpana memandangi restoran yang memang belum pernah didatangi olehnya tersebut.
Bukan karena Khey tak mampu membayar makanan di restoran, melainkan dirinya memang jarang pergi keluar rumah selain dengan keluarga di saat mereka sedang berkumpul. Ataupun sesekali jalan bareng dengan sahabat dekatnya yaitu Rhea dan Alya.
"Elo gak turun yang?" Doni bertanya dengan kepala melongok masuk mobil.
"Eh ... bikin kaget aja sih." Khey tersentak kaget karena saat menoleh hampir saja pipinya menyentuh hidung mancung Doni.
"Habisnya elo bengong kek belum pernah diajak ke resto aja sih." Doni menarik kepalanya dan menegakkan tubuhnya kembali.
Doni mengangsurkan telapak tangannya. "Turun yuk." Khey pun meraihnya telapak tangan Doni dan keluar dari mobil.
"Wow." decak kagum keluar dari mulut Khey yang terpana melihat desain restoran yang cozy dan menggambarkan anak muda banget.
"Apaan sih yang ... kek gak pernah pergi ke tempat kek gini aja." Doni menggoyangkan lengan tangan Khey yang terlihat terpesona pada restoran yang mereka kunjungi.
Khey tersenyum simpul.
"Habisnya keren banget sih, instagramable banget. Baru ya ...?" Khey sedikit berbisik pada Doni.
Doni mengangguk mengiyakan.
"Kita ke atas aja, di sana bisa lihat pemandangan Jogja ... cakep banget." Doni menarik tangan Khey dengan lembut.
"Wooww ...." Khey semakin terpesona saat sudah sampai di atas balkon restoran paling atas.
Benar saja, ucapan Doni sang kekasih. Dari lantai atas mereka dapat melihat pemandangan Jogja yang luas dan menampakkan kelap - kelip lampu kota yang berwarna - warni. Bahkan banyaknya lampu mampu menyaingi banyaknya bintang yang berkelap - kelip di langit.
Restoran yang mereka datangi terdiri dari tiga lantai, empat lantai jika termasuk parkiran basement. Restoran tersebut memiliki desain yang berbeda pada tiap lantainya. Bisa dikatakan pemilik resto bertujuan memberikan kegunaan yang berbeda di setiap lantainya dan itu membuat pelanggan dengan berbagai kalangan betah berlama - lama mengunjungi resto tersebut.
"Elo suka?" Doni bertanya sesaat setelah mereka duduk pada kursi di balkon lantai tiga.
Khey mengangguk. "Banget"
__ADS_1
"Sudah ke sini sebelumnya?" Khey bertanya pada Doni dengan tidak berhenti mengagumi desain resto tersebut.
Glek.
Doni menelan ludahnya kelat, beruntung Khey tidak menyadarinya karena pandangan matanya masih asyik menjelajah restoran.
"Sudah ke sini sebelum sama gue?" Khey kembali bertanya karena Doni tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
"Iya ...." Doni mengangguk perlahan. Ada sedikit rasa sesal telah mengajak Khey ke tempat ini.
"Sama siapa?" Khey.
"Ehm ... sama anak - anak basket." Doni menjawab dengan mengusap belakang lehernya yang tetiba terasa dingin.
"Oh" Khey menganggukkan kepala berulang.
"Cepet pesen, ntar keburu malem." Doni mengalihkan pembicaraan agar Khey tidak terlalu banyak bertanya dengan menyodorkan buku menu pada Khey.
Khey meraih buku menu dari tangan Doni.
"Emm ... gue bingung milihnya, keknya semua menu enak deh." Khey mengerutkan kening bingung sambil memandangi buku menu yang menampilkan gambar yang terlihat menarik semua. Sepertinya semua menu mampu membuat lidah bergoyang tanpa henti saat menikmatinya.
"Ayang yang pilih aja, udah tahu kan menu yang enak apa ... kan udah pernah ke sini ... yang penting bukan menu berat." Khey kembali menyodorkan buku menu pada sang kekasih.
Doni mengangguk kemudian membunyikan bel yang berbentuk lonceng dari atas meja untuk memanggil pelayan restoran.
Seorang pelayan restoran yang berpenampilan rapi datang memenuhi panggilan Doni.
"Mas pesen yang ini sama ini ... dua ya." Doni menunjuk buku menu kemudian menyerahkan buku menu pada pelayan resto yang mengangguk mengiyakan pesanan Doni.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1