Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA 156


__ADS_3

Khey yang saat ini sedang dikuasai emosi, mengayunkan kakinya dengan sangat lebar untuk menemui mamanya.


Meski matahari cukup terik namun Khey tetap melanjutkan langkah kakinya terlihat tidak sabar. Sesekali Khey menoleh ke belakang untuk memastikan jika Fabian tidak mengetahui kalau dia membelokkan tujuannya memasuki rumah sakit untuk menjenguk papanya.


"Kemana perginya mereka?" Lirih Khey dengan menoleh ke kanan dan ke kiri guna mencari keberadaan mamanya.


"Itu dia..." Khey dengan berlari kecil menyebrangi jalan raya saat ekor matanya menemukan sang mama yang masih bergelayut manda dengan lelaki yang dicurigai Khey sebagai selingkuhannya.


Bunyi klakson kendaraan bermotor saling bersahutan saat Khey menyebrangi jalan dengan tidak sabar.


Beruntung Khey bisa selamat hingga ke seberang jalan meski mendapatkan beberapa umpatan kesal dari para pengendara motor yang merasa terganggu akan aksinya.


"Ma! Mama!" Seru Khey dengan lantang hingga membuat sang mama terlihat menghentikan langkah kakinya. Kemudian menoleh ke belakang.


"Ara."


Mama Khey terlihat datar tanpa memperlihatkan wajah terkejut ataupun cemas melihat Khey di sana.


"Mas." Mama Maira dengan menahan lengan lelaki perlente yang digandengnya tanpa canggung.


Hal membuat Khey harus menahan nafas kesal dengan kedua tangan yang mengepal erat.


Lelaki perlente itu menoleh. "Siapa?" tanyanya pada mama Khey.


"Anak gadisku." Mama Maira dengan senyum santai memperkenalkan Khey tanpa beban.


Lagi hal itu membuat Khey semakin mengeratkan kepalan tangannya seraya mengetatkan rahang.


Dalam hati Khey sangat heran akan sikap mamanya. Bagaimana bisa dia tanpa canggung bahkan tanpa melepaskan rangkulan tangannya pada lelaki necis itu. Sungguh Khey sangat marah, namun berusaha ditahannya mengingat dirinya berada di muka umum.


"Oh, cantik."


Khey membola mendengarnya.


"Iyalah cantik, mamanya aja masih cantik kek gini." Nada bicara mama Khey terdengar genit. Dan itu mengundang tangan lelaki perlente itu untuk menoel pucuk dagunya.


Bukannya menepis atau risih, mama Khey malah terlihat senang.


"Ma!" Khey memilih mengabaikan lelaki tersebut. Memilih menatap lurus pada manik hitam mama Maira untuk menunjukkan protes dirinya. Dalam dadanya menahan gemuruh amarah saat ini.


"Mama nggak budek, nggak usah tereak." Mama Khey terlihat kesal.


"Papa masuk rumah sakit." seru Khey dengan sengaja. Sekuat hati menahan amarah yang telah mencapai pucuk ubunnya.


"Mama tau." Mama Maira terdengar remeh.


"Mama nggak nungguin?"

__ADS_1


"Nggak. Papamu itu cuma lelah, ntar juga langsung dipulangin."


Ucapan enteng mamanya membuat Khey mendelik. Tak habis pikir dengan sikap perempuan yang telah melahirkannya tersebut.


Khey memajukan langkah kakinya mendekat lalu mencekal salah satu lengan tangan sang mama dan menariknya. "Setidaknya mama harus berada di sisi papa saat ini."


"Mama nggak bisa." Mama Maira menepis kasar tangan Khey.


"Ma!" Khey berteriak hingga mengundang banyak pasang mata memperhatikannya.


"Ada kamu, ada Septi ada nenek juga. Mama lagi sibuk, nggak ada waktu, banyak kerjaan." Rentet mama Maira tanpa beban.


"Ayo mas, kita pergi." Mama Maira kembali menggelayuti lengan tangan lelaki di sampingnya untuk mengajaknya pergi.


Lelaki perlente yang sedari tadi hanya diam tak peduli pada perbedaan Khey dengan mamanya tersebut mengangguk mengiyakan. Membalik tubuhnya dan membawa mama Khey turut serta.


Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut lelaki tersebut untuk berpamitan dengan Khey atau sekedar mengulas senyum.


"Ma! Mama keterlaluan!" Teriak Khey dengan lantang.


Mama Maira dsn lelaki perlente tersebut seakan tak peduli dengan teriakan Khey. Keduanya berlalu meninggalkan Khey tanpa sedikit pun peduli.


"Ma! Mama!"


Khey berteriak seraya berlari cepat guna menyusul mamanya yang sudah memasuki mobil yang sepertinya milik lekaki perlente tersebut.


"Ma... buka!" Khey menggedor kaca jendela mobil dengan cukup keras.


Mama Khey tetap tidak menggubrisnya. Dengan tega malah menyuruh lelaki du sampingnya untuk segera menyalakan mesin kendaraan dan pergi dari sana.


"Mama..." Khey setengah berlari dengan air mata yang berderai membasahi pipi.


"Kenapa mana sejahat ini." Khey dengan bahu meluruh. Kedua matanya tak lepas dari memandangi mobil hitam mengkilat yang telah semakin menjauh dari hadapannya.


Flashback Off...


"Kamu sekarang sudah bersuami nak, kamu sudah memiliki tanggung jawab sendiri untuk suamimu. Nggak usah mencemaskan papa, ada bik Mun yang senantiasa membantu mengurusi papa jika mama tidak ada di rumah." papa Danu dengan mencoba tersenyum guna menutupi tingkah isterinya.


"Kalau ada apa apa sama papa gimana? Ara nggak mau ninggalin papa saat ini."


"Sayang... kamu nggak bisa seenaknya gitu ninggalin suamimu nak."


"Assalamualaikum..." Tetiba Fabian masuk ke dalam kamar rawat inap dengan wajah bingung.


"Walaikumsalam..."


Papa Danu dan Khey bersamaan, seraya memandang pintu kamar yang telah terbuka lebar.

__ADS_1


"Kenapa Ara mau ninggalin Abi pah?" tanya Fabian dengan kening mengerut karena dia merasa tidak ada masalah dengan Khey. Kenapa tiba tiba rungunya mendengar kalimat itu.


Beberapa saat lalu Fabian memang sempat mendengar kalimat terakhir papa mertuanya.


Raut wajah Khey pun terlihat panik, takut Fabian salah paham padanya.


"Enggak. Ara nggak ninggalin kamu Bi." Papa Danu dengan senyum dikulum.


"Tadi pas masuk, papa bilang?!"


"Duduk dulu, papa jelasin."


Fabian pun mengambil duduk sofabed yang berada tepat di samping bankar sang mertua. Membuat posisi dua lelaki berbeda usia itu duduk saling berhadapan.


"Karena papa hari ini sudah boleh pulang, Ara khawatir papa tidak ada yang ngurusin di rumah. Untuk itu dia mau tinggal sama papa. Maksudnya untuk merawat papa." Papa Danu membuka suara.


"Tapi papa menolaknya, bagaimanapun Ara sudah memiliki kamu sebagai suami yang harus diurusin. Jadi Ara nggak boleh seenaknya ninggalin kamu untuk pergi ke rumah papa." lanjut papa Danu.


Fabian pun menaik turunkan dagunya, tanda mulai memahami kisah sebenarnya. Namun Fabian belum mengucapkan sepatah katapun.


"Tapi Ara mau sama papa." Khey beranjak meninggalkan koper baju papa Danu karena telah selesai memasukkan barang barang milik papanya. Kemudian Khey memeluk papanya dengan manja.


Hal itu membuat papa Danu terkekeh kecil.


"Nggak malu sama Abi, kamu manja sama papa kek gini?" Papa Danu menggoda anak gadisnya.


"Biarin." Khey makin mengeratkan pelukan pada papanya. Dalam hati menahan berbagai rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.


"Enakan manja manjaan sama suami daripada sama papa, iya kan Bi?!"


Ucapan sang mertua spontan membuat Fabian menunduk malu. Tangan kanannya pun perlahan mengusap tengkuk leher yang tetiba terasa dingin.


"Papa apaan sih, nggak asyik." Khey melepas tubuhnya dari papa Danu. Tak dapat dipungkiri jika dirinya juga merasa malu akan ucapan papanya.


Khey salah tingkah dan beralih menyibukkan diri dengan membereskan beberapa barang di atas nakas, termasuk sisa obat obat yang dikonsumsi papanya selama di rumah sakit.


Papa Danu makin terkekeh melihat tingkah malu anak dan menantunya.


"Ya udah kita pulang sekarang." Papa Danu beranjak berdiri.


"Ara menginap di rumah ya pa?" Khey dengan raut wajah berharap.


"Ara... kamu sudah bersuami nak." Papa Danu kembali mengingatkan status Khey dengan menatapnya lekat.


Khey pun memberengut.


"Nggak papa pah, untuk beberapa hari ini Ara sama Abi biar menginap di rumah papa."

__ADS_1


😍😍😍😍


__ADS_2