Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA31


__ADS_3

Aaawww....


Tetiba Fabian berteriak cukup keras.


"Kok lo gigit gue sih Ra?" tanya Fabian spontan dengan memegang bibir bagian bawahnya dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Khey.


"Rasain... enak kan?!!" Khey mengejek sinis ke arah Fabian, tidak peduli dengan rasa sakit yang didera oleh suami tengilnya meskipun kedua matanya menangkap bercak merah pada bibir Fabian bagian bawah. Khey memilih mengabaikan untuk memberi Fabian tengil pelajaran.


"His... sakit tau." Fabian memajukan bibir bawahnya dengan mata yang menelisik ke bawah untuk melihat luka pada bibirnya, karena merasakan adanya jejak asin khas darah yang mengalir ke dalam mulutnya.


"Makannya jadi orang jangan nyosor seenak udel. Bibir gue tu cuma buat cowok yang gue cintai, asal lo tau! Dan elo gak berhak nyium gue karena gue gak cinta sama lo." ucap Khey sinis dengan memajukan kaki hendak meninggalkan balkon kamar. Karena Fabian menjauhkan tubuhnya, maka Khey bisa pergi dengan mudah.


Fabian meradang mendengar ucapan Khey. Cukup sudah dirinya menahan emosi dalam menghadapi cewek bar bar yang bergelar isterinya tersebut.


Fabian membalik tubuhnya, lalu...


Set,


Fabian mencekal pergelangan tangan Khey sehingga membuat tubuh ramping gadis itu sedikit tersendal ke belakang karena posisi Khey sudah di depan pintu kamar dan membelakangi Fabian.


Khey melotot ke arah Fabian yang mencekal tangannya.


"Lepas!" ucap Khey keras dengan nada tinggi.


Fabian tidak bereaksi, memandang Khey tajam dengan tanpa melepaskan cekalan tangannya.


"Lepasin Bi."


"Enggak." Fabian dingin.


"Lepasin atau gue teriak." Khey bertambah kesal.


"Teriak saja, silahkan... yang kenceng..." Fabian tetap dengan pendiriannya untuk tidak melepaskan tangan Khey.


Khey mengangkat tangannya yang dicekal oleh Fabian lalu menghempaskannya dengan keras, namun ternyata cekalan Fabian terlalu kuat hingga dirinya tidak bisa melepaskan cekalan Fabian.


"Bi... lepasin." seru Khey dengan berusaha menghempaskan tangan Fabian berulang, namun tetap saja gagal.


"Elo baik saja, gue gak suka apalagi elo yang main kasar kek gini. Gue gak sudi bibir gue dijamah oleh cowok gila kek elo!" seru Khey dengan memandang wajah Fabian sinis serta mengusap bibirnya dengan tangan yang terbebas.


Melihat aksi Khey yang seolah jijik dengan ciumannya, Fabian menarik tangan Khey dengan kuat, tubuh ramping itu kembali menabrak tubuh jangkung Fabian.


Dengan cepat Fabian memposisikan kedua tangannya pada bahu dan kaki Khey.

__ADS_1


Hap...


Fabian dengan mudah membopong tubuh ramping itu ala bridal style menuju kamar.


Meskipun Khey memukul dada bidangnya dan tidak berhenti meronta, hal itu tidak mengurungkan usaha Fabian membawa tubuh Khey ke dalam kamar.


Brukk.


Fabian menghempaskan tubuh Khey ke atas ranjang dengan kasar.


Auww...


"Sakit Bi!" Khey berseru dengan mengusap punggung hingga bokongnya.


"Elo bisa gak gak ngomongin pisah, gak ngeremehin ataupun gak nganggep gue sebagai suami lo?" ucap Fabian dengan mengeratkan gigi dan menatap tajam Khey yang setengah terduduk di ranjang.


Emosi Fabian sedang tinggi hingga membuat deru nafasnya naik turun dengan cepat. Bahkan Fabian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat untuk menahan diri agar dirinya tidak kelepasan hingga melakukan kekerasan pada isteri bar barnya.


Sungguh Fabian sangat berusaha menahan emosinya saat ini.


"Enggak! Enggak bisa karena gue gak akan pernah menerima pernikahan ini sebagai pernikahan yang sesungguhnya." Khey berteriak kencang tanpa peduli jika suaranya akan menghebohkan seluruh penghuni rumah. Khey tidak peduli toh keluarganya juga gak bakal peduli dengan suara hatinya.


Fabian menghirup oksigen banyak banyak lalu menghembuskannya dengan kuat, sungguh ucapan dan tingkah Khey sangat menguras kesabarannya.


"Bagaimanapun lo menolak pernikahan ini, gue gak bakalan melepaskan elo buat berpisah dari gue." Fabian terlihat menahan emosinya dengan kuat, kedua tangannya yang mengepal semakin mengerat hingga membuat buku bukunya memutih.


Fabian yang sudah tidak dapat membendung emosinya langsung mendorong tubuh Khey hingga terlentang di atas ranjang. Dengan cepat, Fabian menindih tubuh ramping itu dengan kuat.


Khey terlihat meronta dengan tidak berhenti menggerak gerakkan kedua kakinya meskipun sangat sulit karena kedua kaki Fabian juga menguncinya.


Tidak berhenti di situ Fabian pun mengunci kedua tangan Khey ke atas kepala hingga Khey pun kesulitan untuk bergerak.


"Elo bilang tadi apa? Gak sudi gue mencium dan menjamah tubuh lo, iya kan...?! Lantas siapa yang lo pengen buat menjamah dan menikmati tubuh lo... Doni? Cowok brengsek itu... begitu?" Fabian memandang Khey dengan mata yang menusuk.


Dalam hati Khey sebenarnya merasa takut akan sikap dan pandangan mata Fabian yang penuh kemarahan padanya. Apalagi pandangan itu seakan tembus menusuk manik matanya hingga mampu membuat kedua bola matanya berdarah darah. Namun Khey tidak ingin menunjukkannya, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan suami tengil yang sikapnya sulit untuk ditebak saat ini.


Khey berusaha membalas pandangan mata Fabian dengan tatapan yang tak kalah tajam untuk menutupi rasa takut dan sisi lemahnya.


"Kalau gue bilang iya, mau apa lo? Marah, kesel atau..." belum sampai Khey menyelesaikan kata katanya Fabian telah berhasil membungkam mulut Khey dengan mulutnya.


Khey meronta sembari menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk menolak ciuman dari Fabian tengil. Namun tenaganya yang tidak sebanding dan Fabian yang mengunci serta menindih tubuhnya kuat, Khey tidak mampu menghindar.


Meskipun Khey meronta dengan sekuat tenaga, dirinya tidak mampu melepaskan mulutnya dari mulut Fabian yang mencium dan mencecap bibirnya dengan kasar.

__ADS_1


Beberapa saat meraup dan menjelajah rongga mulut gadis bar bar yang berstatus isterinya tersebut, Fabian merasakan nafas Khey tersengal. Efek dari Fabian yang mencecap dan meraupnya tanpa jeda.


Fabian pun melepaskan tautan bibirnya dengan kasar. Dengan deru nafas yang terengah, Fabian sedikit menegakkan tubuhnya.


Dengan segera melepaskan kaos hitam polosnya dan melemparkannya asal ke sembarang arah. Hingga menyisakan celana jins hitam panjang dengan banyak sobekan di lututnya.


Celana belel yang menjadi celana kebesaran Fabian tengil, karena setau Khey semua celana yang dimiliki eh bukan yang dipakai oleh suami tengilnya tersebut selalu saja celana belel penuh sobekan. Kecuali celana seragam sekolah tentunya.


Dan sebenarnya karena celana belel yang selalu menutupi tubuh bagian bawah Fabian tersebutlah yang membuat Fabian berpenampilan asal menurut Khey. Lalu khey memberi sebutan tengil pada Fabian.


Khey melihat penampilan asal Fabian itu semenjak sebelum menikah dengannya. Bahkan sejak dulu saat ada acara ekstrakurikuler di sekolahnya, Khey selalu melihat penampilan asal tersebut.


Khey membeku, sesaat terpesona saat mendapati tubuh bagian atas Fabian yang terbuka memperlihatkan perut sixpacknya.


Alih alih melepaskan diri dari kungkungan tubuh Fabian, Khey tanpa sadar memindai dan mengagumi patung bernyawa di atasnya tersebut.


Dibalik tubuh jangkung kerempengnya ternyata terdapat bentuk pahatan yang sempurna, bak patung dewa yunani. Bentuk tubuh atletis yang pastinya menjadi dambaan bagi setiap kaum hawa.


Khey meneguk salivanya dengan kelat, dan itu membuat salah satu sudut bibir Fabian terangkat memunculkan seringai tanpa Khey menyadarinya.


"Udah puas lo liatin tubuh gue?" tanya Fabian dengan senyum mengejek.


Hek...


Khey tercekat.


"Siapa yang liatin tubuh kerempeng lo." Khey mengalihkan wajahnya yang merona merah.


"Halah... gak usah bohong lo. Elo terpesona kan sama bentuk tubuh gue." Fabian mulai menggoda dengan seringai mesum di wajahnya.


"Enggak!! Bagusan juga punya cowok gue." ketus Khey dengan masih memalingkan wajahnya.


😍😍😍😍


My beloved readers, tengyu so much for :


Like πŸ‘πŸ»


Vote πŸ”–


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐


Komen πŸ’‹

__ADS_1


Tambahkan favorit ❀


Salam halu dari author yang narsis abishh πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»πŸ’ƒπŸ»


__ADS_2