Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA129


__ADS_3

"Ara bangun..."


Terdengar suara lirih menyebut namanya untuk bangun disertai dengan guncangan pada tubuh mungilnya.


Khey yang kantuknya menumpuk, memilih mengabaikan seruan tersebut.


"Ra... Ara...!!"


Guncangan pada tubuh mungil Khey terasa lebih kencang, bahkan seruan namanya terdengar tepat di samping telinganya.


Membuat Khey menggeliat, perlahan mengerjapkan kedua kelopak matanya.


"Apaan sih ganggu tidur Ara aja." Khey dengan mengucek mata.


"Bangun." seru seorang anak lelaki sebayanya yang duduk dalam ranjang yang sama dengan Khey.


Anak lelaki itu adalah Fabian.


"Ngapain bangun, ini masih jam dua belas malam." Khey dengan mata sayu setelah sesaat sebelumnya menoleh ke arah jam di dinding kamarnya.


Meskipun begitu Khey tetap mendudukkan dirinya, sejajar dengan Fabian.


"Anterin aku ke toilet, aku pengen pipis." bujuk Fabian.


"Ogah. Ke sana sendiri aja, Ara masih ngantuk." tolak gadis kecil itu.


"Aku kebelet ini Ra..." Fabian dengan menggerakkan tubuhnya tidak nyaman.


"Makanya cepetan ke toilet sana." Khey dengan mendorong tubuh Fabian agar turun dari ranjangnya.


"Temenin." Fabian masih memaku tubuhnya.


"Ogah. Ara ngantuk, kamu kan anak laki - laki masak ke toilet aja takut." Khey kekeh menolak karena kedua matanya enggan untuk terbuka lebar.


"Toilet di rumah kamu kan di luar, aku nggak berani sendiri." Aku Fabian.


"Takut sama apa, nggak ada hantun yang berani deketin rumah Ara. Sana pergi sendiri." gadis itu kecil itu dengan sok.


"Nggak mau, temenin." Fabian dengan menarik lengan tangan Khey. Namun gadis kecil yang selalu menyebut Fabian sebagai suaminya tersebut menepisnya. Memilih membaringkan tubuhnya kembali.


"Ra temenin aku." Fabian tetap berusaha.


"Nggak mau, anak laki - laki kok penakut. Gimana nanti bisa melindungi aku kalau menikah nanti." Khey dengan membelakangi Fabian.


"Siapa juga yang mau menikahi gadis bar bar enggak punya empati seperti kamu." Fabian bersidekap dada dengan kesal.

__ADS_1


Meski Khey mendengar kekesalan Fabian kecil, namun rasa kantuk yang mendominasi membuatnya enggan menuruti keinginan Fabian.


Bayangan kenangan masa kecil itu menari nari di pelupuk mata Khey. Membuat air mata Khey perlahan meluruh membasahi kedua pipinya.


"Kenapa gue nggak mengenali wajah kamu Bi..." jemari Khey mengusap lembut gambar pada bingkai foto di tangannya.


"Kenapa gue nggak ngeh sama sekali." Khey sesekali terisak haru.


"Padahal dulu gue yakin, gue bakal mengenali lo lebih dulu. Nyatanya gue enggak hiks..."


Beberapa saat memandangi gambar dirinya dengan Fabian saat kecil, Khey pun kembali meletakkan bingkai foto tersebut ke tempatnya semula.


Kedua tangannya menyusut bekas air mata yang telah membasahi wajahnya. Mengambil nafas dalam lalu beranjak dari sana.


Khey melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan untuk melanjutkan mencari Fabian.


Namun saat membalik tubuhnya hendak keluar, manik hitam Khey mendapati sepasang kaki menjuntai dari balik salah satu rak buku.


"Abi..." Desis Khey lirih saat mendapati tubuh suami tengilnya terlentang di atas ranjang dengan tubuh shirtless serta kedua matanya yang terpejam.


Sepertinya Fabian telah mengganti seragam sekolahnya. Suami Khey tersebut hanya mengenakan celana panjang denim yang tentu saja dengan robekan tepat di kedua lututnya.


Sepertinya hampir seluruh celana panjang Fabian memang seperti itu.


Khey berjalan perlahan mendekati ranjang. Dengan hati hati Khey mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Kenapa lo nggak pernah kasih tau gue siapa lo sebenarnya..." gumam lirih Khey sembari memandangi wajah tampan bak dewa yunani tersebut.


"Gue nggak nyangka lo bener bener jadi jodoh gue. Harapan gue buat jadi isteri lo terkabul Bi..." Khey mengiringi gumamannya dengan senyum tipis.


Khey menelisik wajah tampan sang suami. Khey akui jika pengeran kecilnya itu tumbuh menjadi lelaki yang sempurna dengan ketampanan yang tidak terbantahkan lagi.


Kedua alis mata tebal bak ulat bulu itu menempel dengan rapi dan sempurna menghiasi wajah putih milik Fabian. Mungkin itu yang menyebabkan aura tegas pada wajahnya meski sikap suaminya itu selalu saja tengil. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, bulu matanya lumayan panjang dan juga lentik untuk ukuran laki laki.


Hidung mancung bak prosotan yang dibingkai oleh tulang rahang keras mampu menghasilkan cetakan yang luar biasa tampan.


Tangan Khey perlahan terulur, jemarinya menyusuri hidung mancung sang suami. Sudah dapat dipastikan jika lalat pun pasti akan terpeleset saat tanpa sengaja hinggap di pucuk perosotan patung bernyawa milik suaminya tersebut.


Sepertinya cowok yang diberinya sebutan tengil itu sangat lelah.


Nyatanya tubuh itu tidak sedikitpun bereaksi meski jari jemari Khey merayap, menyusuri hidung wajah hingga beberapa kali mengulang mengusap lembut rahang sang suami.


Khey menghentikan aksinya dengan menarik telapak tangannya. Telapak tangan itu berganti menangkup wajahnya dengan kedua manik hitam yang tidak bosan memandangi wajah tampan Fabian. Khey menikmati wajah tampan yang tengah tertidur lelap itu tanpa sedetik pun mau mangedipkan kelopak matanya.


Khey senyum senyum sendiri layaknya gadis yang sedang dimabuk cinta.

__ADS_1


Ah... beginilah rasanya dimabuk cinta...


Kembali Khey mengulurkan telapak tangannya, rasanya seperti ada kekuatan magnet besar yang menariknya untuk menyentuh wajah tampan suami tengilnya.


"Sikap lo sekarang beda banget sama sikap lo waktu kecil dulu." Khey dengan menggerakkan jemari menyusuri wajah tampan Fabian.


Memori Khey kembali ke masa lalu di mana Fabian kecil dulu selalu bersikap jutek kepadanya.


Dulu Fabian terkesan tidak suka pada Khey, lelaki yang tertidur lelap itu selalu saja jutek dan kesal saat Khey mendekatinya. Apalagi saat Khey menggelayut manja pada Fabian.


Namun sekarang semuanya berbeda, Fabian berubah menjadi tengil dan berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi memburu dan mencari perhatian Khey.


Senyum kembali terbit pada bibir tipis Khey, dengan salah satu tangan menopang dagu serta tangan satunya tidak berhenti menyusuri hidung mancung bak prosotan milik sang suami.


Set.


Tiba - tiba saja jemari Khey ditahan oleh tangan Fabian.


"Beraninya saat gue tidur ya..."


Suara serak Fabian terdengar dengan masih menutup kedua bola matanya. Khey pun tersentak kaget, tetiba jantungnya kembali tremor.


"Ganteng kan gue..." Fabian membuka mata dengan menghiasi senyum menggoda pada wajahnya.


"Narsis..." Khey pura pura mencebik untuk menutupi kegugupannya. Bukan hanya gugup karena godaan sang suami, namun lebih kepada rasa membuncah yang Khey tidak tahu bagaimana menggambarkan rasa di hatinya saat ini.


Mungkinkah karena dirinya telah mengetahui siapa sesungguhnya lelaki yang telah menikahinya tersebut. Entahlah, mungkin saja.


Cup


Fabian mengecup pucuk jemari milik Khey cukup lama, bahkan kedua mata Fabian pun mengatup saat melakukannya.


Membuat jantung Khey bertindak semakin kencang. Khey merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Aliran listrik seperti merayapi seluruh nadi di dalan tubunya. Meski Fabian hanya mencium pucuk jemarinya, namun reaksi tubuhnya seolah mendapatkan kecupan pada setiap inchi kulit luarnya.


Tangan Khey yang terbebas mendekap dada, mencoba merasakan debaran yang terasa semakin menggila.


"Kenapa?" Tanya Fabian dengan ikut menyentuh dada sang isteri.


"Hah... nggak papa kok." Khey dengan tersipu.


"Pipi lo merah..." Fabian dengan menatap lekat manik hitam Khey.


"Masa sih." Khey menarik tangannya dari Fabian, kemudian menangkup wajahnya yanh memang terasa menghangat.


Pastilah pipi Khey saat ini merah semaerah tomat ceri.

__ADS_1


"Iya... kek pengin gigit." Lagi Fabian menggoda dengan senyum tengilnya.


😍😍😍😍


__ADS_2